Tutut, Siput Kecil Yang Bergizi

Tutut adalah sebutan yang diberikan oleh masyarakat pasundan kepada siput kecil yang sering ditemukan di pesawahan. Hewan kecil yang hidup di perairan dangkal berdasar lumpur dan ditumbuhi rerumputan ini merupakan hewan jenis moluska.
Tutut memiliki operculum, semacam penutup atau pelindung tubuhnya yang lunak untuk menyembunyikan diri di dalam cangkang. Hewan ini sering dikonsumsi karena dipercaya mengandung kandungan gizi yang tinggi. 
Dua kali dalam seminggu, ibu pedagang tutut lewat di depan rumah saya. Perempuan setengah baya itu menjual tutut yang telah diolah menjadi masakan dengan bumbu kuning.  Saya lebih memilih membeli tutut yang telah dimasak dibandingkan dengan yang belum dimasak. Proses memasaknya tidak gampang menurut saya.  Tutut harus direndam semalaman dan diganti airnya hingga 2-3 kali. Setelah direndam, cangkang tutut juga harus dibersihkan dari lumut. Ketika cangkang sudah bersih, bagian belakang cangkang tutut pun harus dipotong untuk mengeluarkan kotoran.  Proses yang memakan waktu tidak sebentar.
Sebagian orang beranggapan, makhluk kecil ini geli atau jijik untuk bisa dikonsumsi. Padahal kandungan gizinya cukup tinggi.  Menurut Positive Deviance Resource Centre, tutut memiliki protein yang kadarnya cukup tinggi dan rendah kolesterol. Tutut juga mengandung vitamin A dan E serta niacin juga folat.
Namun kita juga harus waspada, karena tutut atau keong sawah ini adalah inang dari beberapa penyakit parasit, hama yang hidup di pesawahan.  Kemungkinan tutut dapat menyimpan sisa pestisida di tubuhnya.
Makan tutut memiliki seni tersendiri. Ada yang menggunakan alat pencokel atau  menyeruput isi cangkang langsung menggunakan mulut.  Bumbu yang menggunakan berbagai macam rempah ini akan lebih terasa jika mengeluarkan isi tutut menggunakan mulut. Sensasinya lebih terasa, menurut saya..he..he.. Bagaimana dengan teman-teman, lebih enak mengkonsumsi tutut dengan cara bagaimana?
Olahan Tutut Sawah
Related Post :

3 comments:

  1. Wah aku belom pernah menyeruput Tutut ..kayaknya maknyuss ya, selain berkhasiat byk :)

    ReplyDelete
  2. Sama mak, aku juga suka makan tutut ga pake dicongkel. Diseruput-seruput langsung kaya gitu lebih berasa makannya. Kalo di daerahku tutut ini kadang juga dimasak bareng gulai pakis lho mak, syedap :d

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
.comment-content a {display: none;}