Mamah Mertuaku Seorang Pejuang Pendidikan

Kadang saya suka senyum sendiri kalau nonton sinetron dan film-film yang menampilkan kekejaman atau keangkuhan seorang mertua kepada menantunya. Karena, alhamdulillah  saya tidak mengalami kondisi seperti itu. Saya juga heran, kenapa tayangan semacam itu masih saja dipertontonkan. Padahal tidak semua mertua galak atau kejam seperti yang sering dilakonkan pesinetron itu. Yang dikhawatirkan, adegan itu akan membuat takut beberapa gadis untuk menikah. Memiliki mertua seperti itu? Mikir dua kali deh...! Barangkali nanti itu yang akan mereka pikirkan.
Padahal dalam kenyataannya tidak seperti itu. Mamah mertua saya contohnya. Beliau baik dan akrab dengan para menantunya. Bahkan, saya merasa seperti memiliki dua orang ibu. Ya, mamah seperti ibu kandung saya sendiri. 
Mamah Mertuaku Seorang Pejuang Pendidikan
Kami bebas bercerita, bahkan bercanda. Mamah bukan tipe mertua yang jaim. Oleh karena itu, saya bisa dekat dengan beliau. Membagi cerita, bagaimana kisah perjalanan hidupnya dulu. Lika-liku jalan hidup mamah begitu menginspirasi saya. Perjuangannya untuk menempuh pendidikan yang tinggi hingga akhirnya menjadi pendidik untuk kalangan mahasiswa, tidaklah mudah. Perjuangannya begitu berat.

Wanita yang melahirkan suami saya itu, harus menerima kenyataan yang tidak menyenangkan di masa kecilnya. Kenyataan yang membawanya terpisah dari ayah kandung beliau. Nenek dan kakek memutuskan berpisah ketika mamah masih kecil. Hidup berdua dengan nenek, membuat mamah menjadi sosok yang mandiri. Menjalani perekonomian yang sulit, hanya berdua dengan nenek. Keadaan itu tidak membuat mamah patah semangat. Beliau dengan tekad yang kuat menyelesaikan tahap demi tahap pendidikannya hingga ke bangku kuliah.
Yang membuat saya kagum, beliau tetap semangat meskipun harus berjalan kiloan meter untuk pergi ke sekolah. Untuk teman yang hafal daerah Bandung, mungkin bisa membayangkan jauhnya perjalanan yang harus ditempuh mamah untuk pergi ke sekolah. Mamah tinggal di Pagarsih, yang berada di Bandung Barat, berjalan kaki menuju sekolahnya di SMA 1 Bandung yang berada di Dago, Bandung Utara. Ketika mendengar cerita mamah lalu membayangkannya saja, duuh..saya merasakan kaki ini pegal dan letih.
Menjalani keseharian yang sederhana itu dengan tetap semangat, tanpa mengeluh. Makan dengan makanan yang sangat sederhana, memakai peralatan sekolah seadanya, bahkan mengandalkan cat celup untuk bisa memperbaharui seragam dan sepatu yang digunakan untuk sekolah. Semua harus dijalani oleh mamah untuk bisa tetap mengenyam bangku pendidikan. Berjuang untuk mendapatkan pendidikan yang baik.

Tahun demi tahun berlalu, akhirnya mamah bisa masuk perguruan tinggi ternama di Bandung. Beliau melanjutkan sekolahnya di Fakultas Pertanian Unpad. Oh ya...menurut cerita mamah, mantan Presiden Megawati Soekarno Putri juga ada bersamanya ketika di awal bangku perkuliahan. Dahulu, mamah sudah terbiasa melihat pasukan pengamanan yang begitu ketat, melindungi putri presiden saat itu. 
Oke...cukup intermezonya...Kembali lagi pada cerita mamah mertua saya ya... :)
Pada masa itu, di lingkungan rumah nenek, hanya mamah yang bisa mengenyam pendidikan setinggi itu. Keadaan masyarakat di sekitarnya saat itu masih banyak yang kesulitan. Lebih banyak fokus untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi, bagi nenek dan mamah, pendidikan merupakan hal yang penting. Oleh karenanya, kedua wanita hebat itu, berjuang berdua demi pendidikan yang setinggi-tingginya selain berjuang memenuhi kebutuhan pokok.
Tidak heran, ketika akhirnya masyarakat begitu menghormati mamah. Bahkan ada beberapa orang yang menyapa mamah dengan panggilan "ibu insinyur".
Perjuangan mamah patut saya beri acungan jempol. Apapun kondisinya, beliau tetap bersemangat sekolah. Kepedulian mamah dengan dunia pendidikan, mengantarkannya menjadi seorang dosen. Membagikan pengetahuan yang telah beliau peroleh kepada para mahasiswanya. Berharap generasi muda bangsa ini bisa lebih berpendidikan dan berakhlak baik.
Mengingatkan saya, pada sosok Ibu RA Kartini yang peduli dengan pendidikan kaum perempuan pada jamannya dahulu. Boleh kan, bila saya menganggap mamah mertua saya adalah "kartini" masa kini? Karena mereka sama-sama wanita yang perduli dengan pendidikan.

Terima kasih mamah. Dengan semangat belajar yang tinggi, dapat membekali mamah menjadi seorang ibu yang mendidik anak-anaknya dengan baik. Menjadikan suami saya seorang lelaki yang bertanggung jawab dengan keluarganya. Kasih sayang yang mamah berikan juga sangat berarti bagi keluarga saya. Sekali lagi, terima kasih Mamah.

15 comments:

  1. mamah mertuanya mbak nurul hebat banget...selamat hari kartini ya mbak buat wanita2 indonesia :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mbak..beliau menginspirasi saya. Selamat hari Kartini juga buat mbak Dwiiex'z

      Delete
  2. Hebat ya mbak. aku ga tahu musti cerita apa tentang mertua. 2 lebaran ini kami jarang ngobrol krn salah paham yg belum berhasil kuurai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh, mbak... sayang sekali ya, barangkali semua kesalahpahaman bisa terurai dengan melakukan komunikasi yang baik mbak..semoga lekas selesai kesalahpahamannya ya mbak :)

      Delete
  3. Benar bnget mbk saya g stuju sma film2 d tv tntang Ibu mertua dan Ibu Tiri,,,sedih klo nonton hmmm

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang yang di film malah lebih lebay dari kenyataannya ya mbak.. :)

      Delete
  4. Sosok yang tangguh dan memiliki segala kehebatan. Beruntungnya dirimu mbak memiliki mertua sehebat itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah mbak Tanty...saya bisa memiliki mamah mertua yang hebat :)

      Delete
  5. wah, bahagia na yang pny mamah mertua asyik. Semoga mamah mertua sehat selalu ya, Teh Nurul ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...aamiin..semoga mamah sehat selalu. makasih ya teh Uchi :)

      Delete
  6. itu jalan kaki dr pagarsih smpe kota bandung? widiiihhh...semangat membara memang efektif untuk menerjang segala hambatan ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya..dari Pagarsih sampai Dago, kebayang jauhnya kan...? :)

      Delete
  7. Hebat, ya mBak.
    Mbayangan jalan kaki segitu jauhnya. Coba anak kita jaman sekarang disuruh jalan. Ngeluh duluan deh.
    Beda generasi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuul mbak Tatit, jaman sekarang mana ada yang mau jalan sejauh itu. Yup..beda generasi ya .. :)

      Delete

.comment-content a {display: none;}