Napak Tilas, Saksi Sejarah KAA

Sebulan belakangan ini, Kota Bandung begitu menyedot perhatian seluruh dunia. Bagaimana tidak, perhelatan menyambut 60 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) membuat pemerintah setempat melakukan perubahan besar-besaran. Perubahan yang banyak terlihat ada di sepanjang Jalan Asia Afrika. Wajah jalan bersejarah itu kini nampak banyak berubah. Sekilas mirip dengan kota-kota di Benua Eropa.
Perubahan yang saya lihat di Jalan Asia Afrika yaitu trotoarnya yang luas dan lega. Kini, trotoarnya terbuat dari marmer yang tidak licin sehinggan aman dan nyaman ketika berjalan-jalan di atasnya. Bangku-bangku panjang yang sengaja disediakan, dapat digunakan pengunjung untuk bersantai. 
Euforia warga Kota Bandung di Depan Gedung Merdeka
Eneh, nenek mertua saya, merupakan saksi yang masih bisa menceritakan keadaan KAA pada tahun 1955. Kebetulan Eneh bekerja tepat di samping Hotel Homan. Yang pada saat itu, dijadikan tempat menginap para delegasi negara-negara yang ikut serta dalam konferensi.
Berfoto dengan latar belakang Gedung Merdeka
Moment bersejarah ini, tentu saja memunculkan kembali  ingatan Eneh pada peristiwa 60 tahun yang silam. Bila bisa melihat acara peringatan peristiwa tersebut, pastinya Eneh sangat senang sekali.
Kebetulan cucu dan buyut beliau juga ikut dalam euforia peringatan KAA. Mengajak Eneh ke sana untuk napak tilas, disambut baik oleh Eneh.
Acara memperingati 60 th KAA ternyata belum selesai, meskipun para delegasi telah pulang ke negara mereka masing-masing. Masih ada parade yang mempertunjukkan berbagai kebudayaan dari negara Asia Afrika. Baik kebudayaan kontemporer maupun tradisonal. Asia African Carnival 2015 Parade ini merupakan hadiah bagi warga Bandung. Karena telah bersama-sama menyumbangkan tenaga untuk mempersiapkan acara tersebut. 
Perhatian warga Bandung menjadi terpusat di Jalan Asia Afrika. Banyak orang yang berkunjung ke tempat itu.Sengaja datang untuk berfoto-foto di depan Gedung Merdeka tempat konferensi dulu dilaksanakan.
Begitu pula dengan kami sekeluarga. Eneh dengan semangat bercerita ketika melewati beberapa tempat yang dikenalinya. Tempat bekerjanya, kini sudah rata dengan tanah. Sepertinya telah dijual oleh pemilik tempat kerja Eneh. Tempat kerja beliau dimiliki oleh seorang Warga Negara Belanda.
Ketika Konferensi Asia Afrika berlangsung, Eneh dan mamah dapat melihat langsung para delegasi dari negara lain saat itu. Yang terekam kuat dalam ingatan Eneh, kala itu masyarakat bisa melihat dari dekat para delegasi yang berjalan dari Hotel Homan menuju Gedung Merdeka. Eneh pun bercerita jika bisa melihat dari dekat, Jawaharlal Nehru yang kala itu berpakaian panjang berwarna putih. Badannya yang tinggi tegap tidak hentinya memberikan senyuman pada warga yang menonton kala itu.
Ingatan Eneh pada kejadian 60 tahun silam masih melekat dengan baik. Berjalan  di sepanjang Jalan Asia Afrika, sambil bercerita mengenai keadaan ketika Eneh masih muda.
Arus lalu lintas sedikit terhambat karena banyaknya masyarakat yang ada di Jalan Asia Afrika
Jembatan penyebrangan yang dipermak menjadi menyerupai sebuah bangunan
Alun-alun Kota Bandung penuh sesak dengan warga yang ingin menikmati rumput sintetisnya.

7 comments:

  1. wah eren mbak punya mertua yang bisa cerita masalah kaa, saya kapan yah punya mertua hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayoo Angki, segera punya mertua hi..hi..

      Delete
  2. Bandung JUARA ya mak. Melihat bandung yang sekarang ini, saya tiba tiba aja pengen jadi warga bandung juga. hehehe senangnya bisa mendengar cerita sejarah langsung dari sumbernya mak :)

    ReplyDelete
  3. sebenarnya pengin sekali ke Bandung, ingin merasakan suasana historisnya, sayang batal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayoo mbak... nanti dianter berkeliling deh.. :)

      Delete
  4. Wah...enak banget, napak tilas sambil diceritain! Nyesel deh, udah siap mau berkunjung, tp izin suami nggak turun. Hadeehhh!!

    ReplyDelete

.comment-content a {display: none;}