Tips Memilih Sekolah Menjelang Tahun Ajaran Baru

Tips Memilih Sekolah
Ayah bunda, tidak terasa sebentar lagi kita akan memasuki akhir semester genap ya..Tidak terasa waktu sangat cepat berlalu. Tiba-tiba saja, anak yang dulunya masih selalu berada dalam gendongan kita, kini harus mulai memasuki dunia pendidikan selanjutnya. Apakah ada diantara ayah bunda memiliki anak  yang baru mau masuk TK, SD atau SMP?
Memilih sekolah yang tepat, saat ini bukan hanya kewajiban utama orang tua saja. Anak pun memiliki hak untuk mendapatkan sekolah yang baik dan sesuai dengan keinginannya. Kedua hal tersebut harus berjalan dengan selaras. Agar nantinya tidak ada kejadian anak mogok tidak mau masuk sekolah karena tidak merasa nyaman dengan sekolahnya.
Jika boleh membandingkan dengan sistem pendidikan di Jepang, sistem pendidikan di Indonesia belum merata seperti di Jepang. Semua sekolah di Jepang, memiliki kualitas yang sama. Jadi orang tua tidak perlu jauh-jauh menyekolahkan anaknya di sekolah yang menurut mereka baik. Karena di sekolah terdekat kualitasnya sama dengan sekolah lainnya. Berbeda dengan keadaan kita di sini. Ada orang tua yang rela membiarkan anaknya menempuh jarak yang jauh untuk pergi ke sekolah. Semua itu demi mendapatkan masa depan yang terbaik untuk anak mereka.
Banyak pertimbangan yang harus diperhatikan dalam memilih sekolah yang berkualitas baik. Ada baiknya ayah dan bunda tidak hanya memperhatikan fasilitas sekolah yang ada, namun perhatikan pula hal-hal normatif lainnya. Berikut tips memilih sekolah menjelang tahun ajaran baru :

Memberi Pendidikan Karakter 
Karakter seorang anak tidak bisa dibentuk dalam hitungan waktu yang singkat. Memiliki karakter yang baik sangat dibutuhkan untuk membentuk moral anak. Hindari pendidikan yang hanya condong ke nilai akademis  yang membantu anak menjadi cerdas tapi sangat minim moralnya. Para pemerhati parenting juga setuju jika anak-anak lebih baik dibekali dengan rasa cinta lingkungan, dapat berbagi, memiliki rasa empati, toleransi, menjunjung kejujuran dan lain sebagainya. Ada tidaknya pendidikan karakter di sebuah sekolah, dapat dilihat dari kegiatan dan kurikulum yang diberlakukan oleh sekolah.
Role Model.
Guru dan teman-teman di sekolah merupakan contoh dekat yang akan ditiru oleh anak. Contoh baik yang dilakukan seorang guru dan adanya interaksi mengajak anak untuk menirunya, akan mempengaruhi perilaku dan sikap seorang anak. Contohnya membiasakan anak ketika sedang berjalan menemukan sampah, langsung memungutnya. Membiasakan mengingatkan teman yang melanggar peraturan sekolah merupakan role model yang baik untuk anak.
Mandiri dan Tangguh
Sekolah memiliki kegiatan yang dapat membuat anak menjadi lebih mandiri dan tangguh. Mengikuti kegiatan outbond dapat melatih anak menjadi lebih mandiri dan tangguh dalam menghadapi segala rintangan. Beberapa sekolah ada yang mengagendakan kegiatan seperti ini minimal setahun sekali. 
Mengembangkan Potensi 
Sekolah yang unggul bisa mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap anak. Seperti yang tertulis dalam web motivatorkreatif tentang 10 ciri sekolah unggul, sekolah yang baik, menerima siswa dengan berbagai karakter. Sekolah ini disebut sekolah Inklusi yaitu sekolah yang memiliki berbagai ragam kemampuan siswa atau sekolah multiple intelligence. Potensi anak yang terlihat selanjutnya akan dikembangkan dengan berbagai aktifitas yang mendukung.
Kooperatif dengan Orang Tua
Pendidikan yang diberlakukan oleh sekolah, tidak akan seratus persen berhasil tanpa keikutsertaan orang tua murid. Sekolah dan orang tua harus bersinergi saling mendukung program pendidikan yang diberlakukan. Ketika seorang anak diajarkan membuang sampah pada tempatnya, kebiasaan ini seharusnya diterapkan juga di rumah
Alat Penunjang
Pastikan semua alat-alat ataupun media yang tersedia adalah age-approprite untuk anak-anak. Agar anak terlatih untuk mengekplorasi lingkungan mereka yang kemudian akan membantu anak untuk menyerap pengetahuan tersebut, hingga dapat dijadikan bekal mereka bertumbuh.
Menyediakan program free trial class
Beberapa sekolah menyediakan program free trial class bagi calon siswanya. Hal ini dilakukan agar orang tua dan anak dapat melihat proses belajar mengajar yang diadakan. Sehingga anak bisa menentukan pilihannya, tertarik atau tidak bersekolah di sana. Orang tua pun tidak akan merasa dirugikan. Orang tua akan dirugikan bila telah membayar namun akhirnya anak mogok tidak mau masuk sekolah.
Untuk program free trial class ini, diberlakukan di Kiwikids Preschool & Kindergarten yang berdiri tahun 2004 dan Kiwi School (Primary – High School). Sekolah yang didirikan oleh Stefi Siera Ngangi ini menggunakan kurikulum international dalam proses belajar mengajarnya.

Seperti yang dikatakan oleh Stefi Siera Ngangi, memilih sebuah sekolah, layak tidaknya untuk seorang anak merupakan pilihan personal. Tapi yang menjadi fokus utama dalam menentukan pilihan adalah anak itu sendiri. Sebagai orang tua, sangatlah wajar untuk menentukan tempat yang terbaik untuk buah hati mereka, namun tetap harus dipastikan jika anak turut berperan dalam mengambil keputusan akhir.

Artikel Lainnya :
Cara Mengembangkan Bakat Anak Demi Kesuksesan Mereka 
Manfaat Ice Skating untuk Anak 
Cara Bijak Mengatasi Konflik Pada Anak 
Waspada Dengan Gejala Baby Blues
Bagaimana Menjadi Ibu Yang Menyenangkan? 

6 comments:

  1. Sebenernya, soal kurikulum juga bergantung sama kebutuhan anak juga, kurikulum internasional juga perlu dicermati, apakah sesuai dengan kebutuhan/potensi anak. TFS mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mak... kurikulum international juga harus dipertimbangkan, sesuai dengan kebutuhan anak apa tidak. Karena kurikulum kita juga ada yang sesuai dengan kebutuhan anak kita. Makasih kunjungannya Mak :)

      Delete
  2. aseg..dpt ilmu lg..tfs ya mak
    Bookmark dulu nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Mak...thanks udah berkunjung

      Delete
    2. Wah makasihh mba ilmunya, pas banget nih mau mengantar si sulung memasuki lingkungan sekolah baru :)

      Delete
    3. Alhamdulillah...semoga bermanfaat mbak :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
.comment-content a {display: none;}