Makmurnya Pengemis di Negeri Ini

Pembicaraan soal pengemis di negeri ini, sepertinya tidak ada habisnya. Bagaimana cara mereka mencari nafkah dengan bergantung dari belas kasih orang lain. Namun, kita tidak pernah tahu, mana pengemis yang memang benar-benar butuh untuk diberi, mana pula pengemis yang hanya berpura-pura untuk dikasihani.
Beberapa waktu yang lalu, saya bersama kedua sahabat mengunjungi teman yang sedang sakit. Ketika asyik berbincang-bincang, datang seorang pengemis dengan badan yang tegap dan sedikit gempal.
Meminta kami untuk memberinya sedikit uang. Tidak ada seorang pun dari kami yang memberinya uang. Maaf, bukan kami pelit atau tidak perduli. Tapi perawakan bapak yang sehat dan bugar itu, sepertinya tidak harus kami kasihani. Bukankah dia masih cukup kuat untuk bisa berusaha mencari nafkah dengan jalan yang lebih mulia?
Perbincangan kami menjadi teralihkan. Yang sebelumnya membicarakan penyakit yang diderita oleh teman kami, beralih membahas para pengemis yang ada di kota kami.
Teman saya, A menceritakan sepasang pengemis yang selalu ada di persimpangan. Seorang kakek tua yang selalu mendorong-dorong istrinya yang duduk di kursi roda.  
"Ternyata, sepasang pengemis yang suka bawa kursi roda itu, tinggalnya di kontrakan yang ada di dekat terminal itu loh!" ujar A memulai ceritanya. "Dan kata para tetangga, sepasang pengemis itu banyak uangnya. Buktinya, sering  memberikan pinjaman dengan bunga yang gak sedikit kepada para tetangganya. Yah, bisa dibilang seperti bank keliling gitu... Berarti penghasilan mereka lumayan kan?"
Berbeda dengan cerita teman saya, B. Masih di kota kami, namun di persimpangan jalan yang lain. Kami memang cukup sering melihat seorang pengemis laki-laki paruh baya yang meminta belas kasihan dari orang-orang yang berhenti di lampu merah.
"Kemarin saya beli soto untuk makan siang anak saya, eh saya lihat pengemis itu sedang asyik menghitung penghasilannya. Yang buat saya sebel, itu uang yang berlembar-lembar, dia kibar-kibarkan. Tanpa rasa malu, mengacungkan lembaran uang itu di hadapan para pengguna jalan yang sedang berhenti di lampu merah. Ih, perasaan gak perlu gitu juga kalii ya..." seru B menambahkan.
Yang cukup menggelikan, cerita C, teman saya yang sedang kami tengok karena sakit. Usahanya berdagang baju dan jilbab  membuat dia dan suaminya sepakat untuk selalu menyisihkan sebagian dari penghasilan untuk disedekahkan. Kebetulan, GOR di kota kami setiap hari minggu diadakan pasar dadakan. C dan suaminya selalu ikut berdagang di sana. 
"Saya selalu berusaha untuk menyisihkan sedikit dari hasil penjualan, untuk diberikan kepada pengemis yang ada di GOR. Suatu hari, sewaktu pengunjung sudah mulai sepi, saya pergi menuju kumpulan pedagang sayuran, bermaksud untuk membeli lauk pauk sebagai teman makan nasi. Saat itu, saya berniat membeli ikan pindang. Selain bergizi dan banyak mengandung protein, ikan pindang juga tidak terlalu mahal. Cocok untuk ibu-ibu yang doyan ngirit..ha..ha..ha... " tawa C sambil menutup mukanya.
"Lagi asyik tawar menawar dengan tukang ikan pindang, saya mendengar percakapan seseorang dengan pedagang ayam yang ada di sebelah. Orang itu bermaksud membeli ayam 2 kilogram. Tanpa sengaja, saya melihat ke arah sang pembeli. Haaah.. yang beli ayam 2 kilogram itu, ternyata pengemis yang tadi. Uang yang saya maksudkan untuk bersedekah, dia gunakan untuk membeli ayam. Gak tanggung-tanggung, 2 kilo boo..! Lah, saya yang ngasih uang, hanya beli ikan pindang saja untuk makan siang.." kata temen saya kemudian. 
Spontan saja, kami semua tertawa. Membayangkan kejadian yang menggelikan itu. Lebih makmur pengemis itu ternyata..hi..hi..Menikmati santap siang dengan ayam.
Itulah mengapa, kami agak sungkan untuk memberikan sebagian penghasilan kami kepada pengemis. Apalagi jika pengemis yang datang terlihat masih segar dan kuat. Lebih baik kami sisihkan penghasilan kami pada panti asuhan yang jelas kepengurusannya. 
Bagaimana dengan teman-teman? Lebih baik memberi sedekah pada siapa?

13 comments:

  1. iya ya jadi suka bingung. niat kita sedekah tapi ternyata sebeenarnya mereka itu mampu untuk bekerja...kalo saya biasanya ke mesjid..jelas pengeluarannya karena ada anak yatim yang jadi santri alquran dan dibiayai mesjid, jelas panitianya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, kalau ke mesjid memang jelas kepengurusan sedekahnya ya mbak. Setuju deh !

      Delete
    2. iy baiknya di masjid, kan itu buat tabungan akhirat kita ya : )

      Delete
  2. aku pernah ketemu pengemis aku kasih nasi bungkus ga mau, mintanya uang hehe

    ReplyDelete
  3. Sering aku perhatikan, di jalannan, para pengemis itu bersih, sehat dan kadang kuperhatikan juga mukanya, sangat bersih, terawat. Hehehe

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  5. kalo lagi pengen ngasih pengemis aku ngasih aja...mereka pasti punya alasan kenapa gitu

    ReplyDelete
  6. aku jarang ngasih kalau ke pengemis

    ReplyDelete
  7. Islam mengajarkan kepada kita untuk memberi dan memberi, terutama kepada orang yang membutuhkan, apalagi sampai mengemis. Tapi, Islam tidak mengajarkan untuk meminta, kecuali sudah sangat terpaksa. Nah, bila mengemis sudah menjadi profesi, tentu ini sangat tidak diajarkan.

    ReplyDelete
  8. sudah jadi rahasia umum kok mbak...kalo anak pengemis di Indonesia yang kaya raya..hadewww :(

    ReplyDelete
  9. aku jarang ngasih sih hehe...
    mendingan buat sedekah dimesjid atau ngisi kencleng...

    ReplyDelete
  10. Mending disedekahin ke masjid, kalau ragu buat ngasih pengemis di jalanan. Udah pasti tersalurkan kalau sedekah di masjid :)

    ReplyDelete
  11. iya tuh, serem banget.
    Baru tau kalau penghasilan mereka itu gede banget, dulu pernah baca berita. disitu dikatakan bahwa penghasilannya itu sehari bisa mencapai 2 jt

    ReplyDelete

.comment-content a {display: none;}