Mengenal Anak Jalanan Lebih Dekat

Sependek (karena hanya sedikit he..he..) pengetahuan saya, anak jalanan adalah sekumpulan anak-anak yang sehari-harinya ada di jalan raya. Mereka yang senang di jalan tanpa merasa takut terserempet kendaraan yang lalu lalang, mereka yang suka bergerombol dengan warna wajah, khas hasil paparan sinar matahari atau mereka yang terkadang dihindari oleh para pengemudi kendaraan.
Untuk sebagian orang, mereka dianggap sangat mengganggu. Terlebih jika ada yang dengan isengnya merusak cat mobil yang kebetulan berhenti di lampu merah. Hmm..Banyak kesan negatifnya ya..?
Namun, semua anggapan itu seketika berubah ketika saya
bisa dekat dengan mereka secara langsung. Dalam acara bakti sosial yang diselenggarakan oleh komunitas pendaki gunung The Young Glove, saya jadi tau, bagaimana mereka sebenarnya.
Bermula dari keikutsertaan saya dengan kegiatan komunitas Pak suami, yang ingin berbagi keceriaan dengan anak jalanan. Acara dengan tema "I scream for ice cream" ini, diadakan di Taman Balai Kota Bandung. Sesuai dengan temanya, kegiatan waktu itu, membagikan es krim untuk anak-anak jalanan yang ada di jalanan Kota Bandung.
Persiapan untuk berbagi es krim untuk anak jalanan
Pagi hari sekitar jam 9, para anggota komunitas yang turut mendukung acara ini, berkumpul di Taman Cikapayang-Dago. Setelah semuanya berkumpul, diadakan briefing terlebih dahulu. Para peserta ini, dibagi menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok membagikan es krim di jalur yang berbeda yaitu melalui  jalur Bandung Barat, Bandung Tengah dan Bandung Timur.
Setelah es krim habis dibagikan, semua peserta acara baksos ini berkumpul kembali di Taman Balai Kota Bandung. Dan sekitar satu jam kemudian, serombongan anak-anak jalanan datang beserta kakak pendampingnya. Saya melihat, dalam rombongan yang pertama ini, usia anak-anak itu sekitar 5 tahun - 12 tahun. 
Setelah berkenalan dengan kakak-kakak dari komunitas pendaki gunung, acara bermain bersama anak jalanan pun akhrnya dimulai. Banyak permainan yang diadakan waktu itu, bernyanyi bersama, main ular-ularan, membuat campuran warna dari cat hingga menggambar di atas kanvas.
Mencairkan cat untuk melukis bersama

Campur-campur warna cat

Gambar di kanvas dengan tangan

Bergandeng tangan, buat perlindungan, yuk!!

Kucingnya ngejar tikus dengan semangat!

Ayoo..! Kejar dan pecahkan balonnya..!
 Ketika acara sedang berlangsung, rombongan anak jalanan yang kedua datang. Saya lihat, anggota kelompok ini lebih sedikit dari yang pertama. Usia mereka pun lebih besar dari kelompok pertama, sekitar belasan tahun. Mungkin, karena  mereka merasa sudah besar, ketika acara bermain bersama dengan kakak-kakak The Young Glove, mereka tidak mau. Mereka lebih memilih duduk menonton yang sedang bermain.
Menikmati kue dan es krim

Saya lihat, anak-anak jalanan kelompok pertama berbeda dengan kelompok kedua. Faktor usia barangkali yang jadi penyebabnya.
Sekedar ingin tahu keadaan mereka sehari-hari, saya pun mencoba bertanya kepada kakak pendamping masing-masing kelompok. Dan dari pembicaraan itu, kini saya tahu bagaimana keseharian anak-anak jalanan itu. Bukan bermaksud membandingkan, tapi memang ternyata mereka berbeda satu dengan yang lain.

Kelompok pertama, mereka anak-anak jalanan yang sering menghabiskan waktunya sehari-hari di jalan, tapi mempunyai tempat tinggal untuk pulang di malam harinya. Mereka ini masih memiliki orang tua yang mata pencahariannya di jalanan, seperti tukang asongan, penjual koran atau menjual jasa membersihkan mobil. 
Saya hanya menduga, mungkin karena mereka masih memiliki orang tua, masih mendapat curahan kasih sayang dari orang tua, maka saya lihat mereka bisa lebih diarahkan ketika bermain bersama. 

Oh ya, ada sebuah kejadian yang bisa menjadi pelajaran bagi kami semua, dalam acara bakti sosial ini. Hanya ingin berbagi pengetahuan, seorang kakak memperlihatkan telepon genggamnya kepada seorang anak yang masih kecil. Tujuannya ingin berbagi pengetahuan bagaimana cara menggunakannya atau  mengambil sebuah gambar dari alat komunikasi ini, dan lain sebagainya.

Ternyata, hal ini tidak sesuai dengan didikan kakak-kakak pendampingnya. Karena sang pendamping, langsung meminta kakak tersebut untuk tidak memperlihatkan telepon genggamnya kepada anak jalanan tersebut.

"Lebih baik, anak-anak tidak mengenal handphone dulu, ini belum waktunya, mereka masih kecil. Takutnya, ada keinginan mereka untuk memilikinya. Kami khawatir, mereka terpacu mencari uang untuk dapat memiliki sebuah handphone." 

Begitu kurang lebih, perkataan kakak pendamping mereka. Betul juga ya..kalau mereka sudah mengenal barang itu, lalu ada keinginan untuk memiliki, mereka akan turun kejalan untuk mencari uang. Bisa dengan ngamen atau mengemis. Tidak baik buat anak-anak itu sendiri, bukan?
Wah..bagus juga didikan dari kakak-kakak itu.

Berbeda dengan kelompok kedua, yang beranggotakan anak belasan tahun ini. Mereka tidak mau ikut bermain bersama-sama, mereka agak susah diajak bergabung dengan teman-teman yang lainnya. Beberapa kali, saya melihat diantara mereka terlibat perkelahian. Saling tendang dan adu jotos karena memperebutkan sesuatu. Dan saya lihat, kebanyakan mereka berkelahi karena berebut makanan ringan. hiks...hiks..*tear..
Anak-anak ini, kehidupannya full ada di jalan. Malam hari mereka biasa berkumpul di rumah singgah yang ada di atap sebuah pasar. Menurut cerita kakak pendampingnya, anak-anak ini tidak diketahui asal-usulnya dengan pasti. Mereka datang dan pergi ke rumah singgah sesuka hati mereka. 

Hal ini pula yang menjadi kendala bagi para pendamping untuk mengurus atau memberi pengetahuan pada mereka. Mereka datang dari Tasikmalaya, Purwakarta atau kota lainnya menuju Kota Bandung dengan menumpang kereta api. 
Di rumah singgah para pendamping mencoba merangkul mereka agar bisa lebih baik lagi kehidupannya. Menyalurkan mereka dalam kegiatan-kegiatan yang bisa mendatangkan penghasilan. Namun setelah beberapa bulan, terkadang mereka pergi begitu saja tanpa memberitahu. Tentu saja, ini cukup merepotkan para pendamping yang secara sukarela menyalurkan tenaga, waktu dan pikirannya untuk kesejahteraan anak-anak jalanan.

Satu hal lagi yang baru saya tau. Kebiasaan mereka menghisap lem!
Menurut kakak pendamping, mereka memang sengaja menghirup lem tersebut. Apa alasan mereka melakukan itu?
Anak-anak jalanan itu menghisap lem untuk menghilangkan rasa lapar. Mereka tidak tau, apa yang akan mereka makan nanti ketika merasa lapar. Dapat makan satu kali saja, dalam sehari mereka sudah beruntung. Oleh karena itu mereka lebih memilih menghirup lem, agar mereka lupa dari rasa lapar. Duh...miris deh... :(  :(  :(  

Jangankan pendidikan, mereka hanya memikirkan apa yang akan mereka makan nanti jika lapar menyerang. Itu saja!
Jumlah mereka di luar masih banyak, mereka membutuhkan tangan-tangan yang dapat mengeluarkan mereka dari kondisi seperti itu. Semoga saja, semakin banyak para relawan dan para pendamping yang mau peduli dengan keadaan anak-anak jalanan ini.
Berbagi es krim

Makan es krim bersama kakak-kakak dari The Young Glove


15 comments:

  1. memang ngenes ya mba :( di usia segitu udh harus berjuang ngelawan kejamnya hidup. Aku ngebayangin anakku kalo harus hidup kyk gitu :( Semoga ga akan pernah... Tapi aku penasaran, sbnrnya lem apa sih mba yg mrk hirup? memang bau lem itu gimana ya? kok bisa bikin ketagihan toh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setau saya, mereka menghirup lem Ai*** mbak. Baunya menyengat, dan bisa membuat yang menghirupnya mabuk. Jadi semacam kayak narkoba kali ya...

      Delete
  2. Pengalaman seru ya mbak dan saya baru tahu kalau menghisap lem itu untuk menghilangkan rasa lapar, saya pikir selama ini fungsinya seperti drugs.. aduh salah deh! Thanks for sharing.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fungsinya memang seperti drugs mbak, tapi alasan mereka melakukan itu untuk menghilangkan rasa lapar.

      Delete
  3. Sedih bacanya Mbak. Harus banyak bersyukur ya kita. Semoga anak2 itu bisa mendapat hidup yg lebih baik nanti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mbak, kita harus banyak bersyukur kalau melihat mereka. Aamiin..semoga mereka bisa hidup lebih baik lagi

      Delete
  4. "Semoga saja, semakin banyak para relawan dan para pendamping yang mau peduli dengan keadaan anak-anak jalanan ini"

    Amin ya Robbal 'alamin...

    ReplyDelete
  5. miris ya, apalagi yang termasuk anak punk yg hidupnya di jalanan. mereka brutal banget dan sudha kriminal. Dan aku melihat ada juga anak perempuan di kelompok punk itu rasanya di hati tuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak..miris kalau ngeliat mereka yang brutal seperti itu :(

      Delete
  6. Dulu waktu masih aktif di salah satu LSM saya juga suka nongkrong2 bareng anak jalanan. Suka bacain mereka cerita nabi, ngobrol, dll. Duh jadi kangen :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah..mbak Rahmi termasuk pendamping juga ya.. Barakalloh mbak :)

      Delete
  7. kasiah mereka ya bu klo dibiarkan begitu saja..anak anak seperti ini harus bener-bener dididik, paling tidak dinas sosial kudu lebih memperhatikan seperti ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga banyak yang bisa memperhatikan mereka ya...termasuk dinas sosial-nya

      Delete
  8. Kalau dilihat-lihat anak jalanan itu lebih bahagia daripada anak-anak kota yang menghabiskan waktunya dengan gadget. Mereka tidak dapat merasakan kebahagian bermain bersama teman-teman. Apalagi permainan jadul yang dulu di mainkan oleh anak 90-an.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
.comment-content a {display: none;}