Ketika Pekerjaan Mempertaruhkan Nyawa

Siapa yang tahu, berapa lama kita akan hidup? Tentu saja kita tidak pernah tahu kapan waktunya kita akan menghadap yang Maha Kuasa. Kadangkala kita lupa, bahwa kematian sewaktu-waktu akan datang menjelang. Kita baru akan tersadar akan hal itu, ketika mendengar salah seorang kenalan kita telah berpulang.

http://www.nurulfitri.com/2016/07/ketika-pekerjaan-mempertaruhkan-nyawa.html

Begitu pula dengan cerita adik saya, beberapa waktu yang lalu. Ketika saya dan adik-adik berkumpul di rumah orang tua di saat liburan Hari Raya Idul Fitri kemarin, adik perempuan saya bercerita tentang tetangga dekatnya. Kisah tentang pekerjaan mempertaruhkan nyawa seseorang.

Sebut saja Mas H, seorang lelaki paruh baya yang menurut adik saya memiliki paras yang ganteng. Perawakannya  bersih dan penampilannya yang rapi, menurut adik perempuan saya, sebenarnya kurang cocok dengan pekerjaannya sehari-hari sebagai pekerja bangunan.

“Mas H, itu tampangnya kegantengan, kalo harus jadi pekerja bangunan, Mbak..he..he.” kata adik saya dengan tertawa kecil, waktu itu. 


Ih, apa hubungannya antara tampang dengan pekerjaannya. Ya, gak, papa lah, pekerja bangunan yang tampangnya ganteng. Kan, lumayan buat diliat juga..ha..ha..ha.”  jawab saya, kemudian. Dan kami pun tertawa bersama.

Candaan kami, ternyata tidak berlanjut, hanya sampai saat itu saja, karena setelah itu adik saya bercerita mengenai kecelakaan yang menimpa lelaki yang senang berkebun tersebut. 

Sore itu, mendadak listrik di perumahan adik saya padam. Tidak ada hujan atau angin, tiba-tiba listrik di lingkungan rumah mereka tidak dapat menyala. Waktu itu, Mas H bermaksud membetulkan atap yang bocor di rumah sebelahnya.

Ketika pekerja bangunan itu, sedang berada di atas atap, tiba-tiba listrik menyala kembali. Saat itu, penghuni rumah yang berada di bawahnya mendengar suara benda jatuh di atas plafon rumah. Lingkungan di sekitar rumah adik saya, mendadak menjadi ramai. Karena menemukan Mas H, dalam keadaan setengah sadar dengan tangan yang terluka cukup parah. Di bawah lengannya, terdapat luka bakar akibat sengatan listrik.

Namun, jiwa lelaki yang masih memiliki dua anak balita tersebut harus menyerah. Luka bakar yang dideritanya membuat nyawanya tidak tertolong lagi. Semua tetangganya termasuk keluarga adik saya, merasa sangat kehilangan. Sosok yang ramah dan rajin menjaga kebersihan lingkungan perumahan mereka, kini telah tiada.

Adik ipar saya juga menambahkan, jika Mas H orangnya dermawan dan rajin ke mesjid. Semua merasa berduka, apalagi melihat anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Bahkan anak bungsu Mas H, belum genap berumur satu tahun.

Semua mengkhawatirkan keadaan keluarga kecil itu, sepeninggal Mas H. Bagaimana mereka akan meneruskan hidupnya? Bagaimana dengan biaya sekolah anak pertama, Mas H?

Apakah Mas H, memiliki asuransi?” Tanya saya, setelah mendengar cerita adik dan ipar.

Yah, mana ada, Mbak. Pekerja bangunan seperti Mas H, biasanya gak punya asuransi. Padahal kalau ada, lumayan juga, kan. Bisa membantu keluarganya.” Jawab adik saya dengan nada setengah menyesal.


“Nah, iya, kenapa yang memiliki asuransi itu, kebanyakan orang menengah ke atas ya? Seandainya pekerja bangunan lepas, seperti Mas H memiliki asuransi, keluarga yang ditinggalkan akan terbantu.” Lanjut saya, kemudian.

Kami semua menyayangkan hal itu. Padahal banyak asuransi yang dapat membantu dan memberikan manfaat perlindungan, misalnya astralife.co.id. (review post, refers to disclosure). Dengan asuransi, masyarakat selain diberikan manfaat perlindungan, juga bisa mendapatkan manfaat investasi dalam bentuk nilai dana.


Sudah seharusnya, pengetahuan tentang manfaat perlindungan jiwa ini diketahui oleh masyarakat luas. Tidak hanya untuk kalangan menengah ke atas saja. Tapi untuk pekerja yang memiliki resiko tinggi seperti Mas H, seharusnya sudah mendapatkan pengetahuan tentang manfaat asuransi.

Jadi, semua masyarakat dari lini terbawah hingga yang di atas, bisa merasakan manfaat perlindungan jiwa, memiliki investasi dalam bentuk nilai dana, bahkan manfaat bonus loyalitas sbesar 25% seperti yang ditawarkan oleh astralife.co.id.


Selain manfaat tersebut, kini banyak asuransi yang memberikan manfaat ketika tertanggung menderita penyakit kritis serta mendapat manfaat perawatan medis dan bedah. 

Semoga saja, peristiwa yang menimpa tetangga adik saya itu, bisa diambil hikmahnya oleh rekan-rekan kerja Mas H. Hingga bisa mempersiapkan segala sesuatu untuk masa depan mereka.


13 comments:

  1. Huhu jd sedih bacanya mbak :( ... Memang kesadaran dan kemampuan untuk memproteksi diri belum menyeluruh kesemua jenis pekerjaan ya mbak ... Semoga kedepannya lebih baik lagi ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mbak, semoga kedepannya bisa lebih baik lagi

      Delete
  2. Hmm sptnya komenku blm masuk ... Ikut prihatin dengan cerita mbak fitri ... Semoga kedepannya lebih baik ya ... Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah masuk, mbak...
      Iya semoga lebih bai..aamiin

      Delete
  3. Dl jg di kampungku pernah ada kasus lg kerja krn baju basah jd tersengat listrik. luka bakar parah bgt. Dr dlm diri memang kudu waspada. Pekerja kecil jrg bgt yg punya asuransi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus ada sosialisasi mungkin ya..supaya pekerja kecil juga bisa punya asuransi

      Delete
  4. Sayangnya di Negara kita masih sedikit yg melek asuransi ya mbak. Alfatihah utk mas H

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak masih sedikit ya melek asuransi

      Delete
  5. Hiks... semoga ke depan makin banyak yg melek asuransi yg mba.. biar semakin banyak yg terlindungi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...semoga banyak yang terlindungi ya mbak..

      Delete
  6. Dalam bekerja keselamatan adalah yang nomor 1, dan jangan menangani sesuatu yg bukan keahliannya.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
.comment-content a {display: none;}