Mencari Kebahagiaan Dengan Cerita Lebaran Asyik

Apa yang paling membahagiakan di saat lebaran? Barangkali jawabannya, mudik. Ketika orang lain merasakan keseruan mudik untuk merayakan lebaran, saya merasa biasa menjalani perjalanan mudik. Mengapa? 

Pertama, ketika teman-teman yang lain mudik ke kampung halaman dengan pemandangan alam yang menakjubkan mata, saya justru pulang ke kota. Yup, orang tua dan mertua saya tinggal di Kota Bandung. Tempat yang semakin penuh oleh gedung-gedung tinggi.

Kedua, karena tujuan mudik saya, hanya sekitar 2 jam perjalanan saja. Kami sekeluarga tidak mengalami macet yang parah atau kendala lainnya. Alhamdulillah. 

Ketiga, saya dan keluarga, minimal dua minggu sekali, pulang untuk mengunjungi orang tua dan mertua.
http://www.nurulfitri.com/2016/07/mencari--kebahagiaan-dengan-ceria.html
Jalan yang lengang menuju Kota Bandung

Hampir dua minggu sekali menengok orang tua? Jadi gak kangen, dong? Yah, tetap aja, kangen. Apalagi rindu dengan keluarga besar yang tidak setiap bulan berkumpul. Bertemu dengan sanak saudara, memang sangat dinantikan ketika berlebaran. Bahagia rasanya, bisa menjalin silaturahim.

http://www.nurulfitri.com/2016/07/mencari--kebahagiaan-dengan-ceria.html
Tol dalam Kota Bandung pun sepi dari pengendara yang mau mudik

Untuk membuat orang tua bahagia, kami senantiasa menghadirkan cucu mereka untuk berlibur beberapa hari, lebih lama dari biasanya. Karena orang tua dan mertua tinggal di kota yang sama, maka kami pun bisa melakukan silaturahim dengan keluarga besar dalam satu hari. Oh, iya, selain ingin membahagiakan orang tua kami, membuat keponakan bahagia juga merupakan prioritas utama bagi saya dan suami.

Kenapa Sih Mengutamakan Keponakan?
Bermula dari cerita seorang sepupu yang satu waktu berkunjung ke rumah saya. Dia memiliki tekad, agar semua keponakan menganggap dirinya seorang paman yang baik.

"Aku tuh, gak mau, nanti kalo anak-anakmu udah besar trus yang diinget tentang pamannya, yaitu orang yang gak nepatin janji." kata sepupu saya dengan perlahan.

Jawaban sepupu saya itu terlontar menanggapi pertanyaan saya, yang penasaran, karena di sela-sela kesibukan pekerjaannya, masih mau mengajak anak lelaki saya untuk bermain di mall. 

"Aku udah pernah janji, maka harus kutepati. Kalo enggak, nanti kalau dia sudah besar, yang dia ingat, pamannya bukan orang yang baik. Aku ndak mau, lah!" ujarnya dengan gusar.

Senada dengan pernyataan sepupu saya tersebut, kami pun bertekad untuk bisa menjadi paman dan tante yang selalu diingat dengan baik oleh keponakan-keponakan kami. Salah satunya dengan selalu memberi mereka angpau di saat lebaran. Melihat wajah bahagia mereka ketika menerima angpau, dapat memunculkan kebahagiaan tersendiri bagi kami.

Berbagi Kebahagiaan dengan Keponakan Membuat Lebaran Menjadi Asyik

Kami memiliki keponakan sekitar 30 orang. Semua itu dari pihak keluarga besar saya digabungkan dengan keponakan dari keluarga besar suami. Kami selalu mengusahakan supaya bisa bertemu dengan semua keponakan di hari lebaran.
http://www.nurulfitri.com/2016/07/mencari--kebahagiaan-dengan-ceria.html
Keluarga besar suami, tanpa keluarga kakak pertama dan ketiga
Seperti kita ketahui, di saat lebaran, anak-anak mendadak menjadi hartawan, loh! He..he..he.. Karena pasca lebaran, uang mereka jadi bertambah banyak. Sepertinya dalam pikiran anak-anak, berlebaran identik dengan uang yang banyak. Sehingga mereka akan tampak semangat sekali, menyambut lebaran datang menjelang.


Mempersiapkan Angpau
Tidak ada yang paling membahagiakan selain memandang wajah-wajah ceria para keponakan ketika menerima angpau. Penuh sumringah sambil mengucapkan terima kasih dengan wajah ceria, merupakan pemandangan yang paling mengharukan.

Nah, untuk melihat semua itu, kami pun mempersiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari, loh! Kenapa harus jauh-jauh hari? Ya iya, lah, membagikan angpau kepada kurang lebih 30 orang keponakan itu, membutuhkan dana yang tidak sedikit, bukan?

Oleh karena itu, kami mempersiapkannya sekitar 10 bulan sebelum hari raya. Bukan apa-apa, dengan menyisihkan sedikit demi sedikit tidak akan terasa jika dibandingkan harus menyediakan sejumlah uang dalam waktu yang singkat. Terlebih, kami bukan pegawai. Jadi kami tidak mendapat THR, malah membayar THR untuk karyawan. Huft!

Berbeda dengan tahun-tahun pertama, beberapa tahun belakangan, kami mempersiapkan amplop yang menarik untuk acara pembagian angpau. Dengan melihat amplop yang lucu, saya lihat keponakan-keponakan terlihat senang. Meskipun isi di dalamnya, gak seberapa ya? he..he..he

Menurut Uwa (kakak mamah), cucunya senang sekali, saat membayangkan amplop bagus berisi angpau yang akan kami berikan. Mendengar cerita Uwa, tentu saja kami senang sekali. Setidaknya dengan melihat amplop yang unik dan lucu, kebahagiaan mereka bertambah.
http://www.nurulfitri.com/2016/07/mencari--kebahagiaan-dengan-ceria.html
Amplop yang unik dan lucu, sangat digemari oleh anak-anak

Suasana yang bisa buat senyum-senyum sendiri meski hari nan fitri telah usai. Bahagiaa..rasanya jika melihat ekspresi dari keponakan-keponakan ketika mendapat angpau. Gak akan terlupakan, deh!

"Tuuh, cucu-cucu Uwa mah, meni langsung seneng kalo liat ada mobil kalian. Semuanya langsung komentar, asyik, Emang sama Ateu udah dateng." Uwa bercerita pada saya sambil menahan geli.

Untuk diketahui, jika mau berkunjung ke rumah uwa, cucu dan anaknya harus melewati rumah orang tua kami dulu. Jadi saat para keponakan hendak berlebaran ke rumah nenek mereka (uwa), maka mereka bisa melihat keberadan mobil kami di depan rumah mamah.

Lebaran Semakin Asyik Dengan Berbagi Angpau
Allahu Akbar, Allahu Akbar, takbir berkumandang menyambut Hari Raya Idul Fitri. Ketika kami selesai menunaikan Shalat Ied Fitri, para keponakan (cucu Uwa) pun datang berkunjung ke rumah mamah. Nenek kami tinggal bersama mamah, jadi wajar saja jika semua keluarga berkumpul di rumah mamah. 

Selesai saling bermaaf-an, kami kemudian bersantap bersama. Sambil bersantap, kami pun berbincang-bincang melepas rasa kangen. Sesaat kemudian anak-anak terlihat tidak tenang, mereka mulai gelisah. Kapan angpau akan dibagikan, ya? Kira-kira itu, yang ada dalam pikiran mereka.

Nah...setelah selesai makan, saat yang dinantikan oleh anak-anak pun tiba. Dengan perlahan, saya mengambil tumpukan amplop kecil dari dalam tas. Dan tanpa diberi aba-aba, sontak para keponakan membuat barisan untuk mengantri di depan saya. Melihat hal itu, mamah, nenek, uwa dan sepupu saya menjadi tergelak. Betapa inisiatifnya anak-anak itu, ya..ha..ha..ha...
 
Setelah antrian anak-anak dengan wajah berbinar itu habis, kakak ipar saya pun bercerita. Di antara keponakannya, ada yang memiliki catatan khusus mengenai pembagian angpau ini. Anak tersebut membuat semacam tabel yang sederhana. Tertera nama pemberi angpau, jumlahnya dan kolom realisasi. Jumlah yang tertera, mengacu ada pemberian tahun sebelumnya. #halagh

Misalnya, paman A memberi angpau sejumlah a rupiah. Jika kemudian paman A memberi angpau sesuai dengan perkiraan, maka keponakan kami akan mencontreng pada kolom realisasi. Dan bila pada kenyataannya ada paman atau bibinya yang tidak memberi, maka dia akan mencoret nama pemberi dan memberi catatan pada kolom realisasi = tidak memberi.  
http://www.nurulfitri.com/2016/07/mencari--kebahagiaan-dengan-ceria.html
Tabel Penerimaan Angpau
Mendengar cerita kakak ipar saya, tentu saja membuat kami semua tertawa kembali. Begitu apik persiapan keponakan tersebut. Dan saya sendiri, memberi dua jempol pada kreatifitasnya. Manajemen keuangan yang baik...ha..ha..ha 


Well...Bahagia sekali bisa melihat binar kebahagian di wajah keponakan saya. Melihat mamah dan nenek tertawa geli dengan tingkah polah anak-anak pun, membuat saya menjadi terharu. Ah..begitu lepas tawa mereka. Alhamdulillah.

Itulah kebahagiaan yang hakiki. Tidak perlu susah untuk mencari kebahagiaan.
Sebenarnya kebahagiaan itu bisa kita ciptakan. Karena kebahagiaan ada dalam pikiran dan dalam diri kita. Meskipun bertemu dengan keluarga tetapi pikiran kita tidak menyenangkan, maka kebahagiaan tidak akan menghampiri.

Bahagia bisa kita temukan dalam diri melalui kenyamanan dan dengan cara membuat orang lain bahagia. Bertekad untuk memberi lebih banyak dan sedikit berharap. Selain itu, membuat orang lain bahagia bisa mendatangkan kebahagiaan pada diri sendiri.
Tengoklah ke dalam hati untuk mencari kebahagiaan. Temukan kebahagiaan dalam setiap langkah yang kita ambil.

Selain mendapatkan kebahagian di dalam keluarga besar, kita pun bisa berbagi kebahagiaan dengan teman-teman. Berkumpul bersama di tempat yang nyaman atau bersama-sama menghadiri acara yang bermanfaat.

Untuk menghadiri acara yang bermanfaat dan bisa menambah wawasan, nanti akan diadakan event dari Diaryhijaber.com. Bertempat di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, event yang bernama Hari Hijaber Nasional ini, akan dilaksanakan pada tanggal 07 Agustus 2016 – 08 Agustus 2016.

Nah, bersama kawan menghadiri acara yang bermanfaat, juga merupakan salah satu kegiatan yang membahagiakan, bukan?  



10 comments:

  1. Seru ya bagi-bagi angpau segala hahaa

    ReplyDelete
  2. Cerita Lebaran itu memang selalu membawa kebahagian dan kenangan tersendiir, yang paling terasa itu saat kumpul bersama keluarga besar ya mbak terus bisa bagi-bagi angpau. :)

    ReplyDelete
  3. angpaunya lucu2 :-D
    ga kepikiran buat nyatetin berapa2
    next perlu nih heheheh
    makasih Kakak.

    ReplyDelete
  4. Hahha
    Kreatif bangeet nyatet angpaunya dapat dari siapa saja dan buat apa saja. Top bangeet ;)

    ReplyDelete
  5. amplop angpaunya lucu2 mbaa...pasti makins eneng nih yg dpt angpau

    ReplyDelete
  6. hahaha ada tabel penerimaan angpau segala, kreatif nih anaknya :)
    Seneng ya kumpul dengan keluarga besar, pasti ramee. Aku juga biasanya nyempetin mudik paling nggak setahun 2 kali kalo anak-anak libur sekolah.

    ReplyDelete
  7. Yaampun itu ponakannya umur berapa Mba yang nyatetin pendapatan angpau? Hahaha, kreatif pisan. Terus itu yang nggak ngasih angpao ditagihin nggak sama dia?

    ReplyDelete
  8. Asyiknya mudik cuma 2 jam, kalo aku nyebrang pulau mbak, kalo naik pesawat 2 jam dan kalo vi darat 3 hari hehe

    ReplyDelete
  9. Angpau itu wajib ya, mba. Hehe. Kalo di keluarga besar yang ngasih juga pakdhe2, budhenya bagian masakin makanan enak. jadi tiap ketemu mereka ingetnya masakannya :D

    ReplyDelete
  10. Asyik juga ya mbak mudik hanya 2 jam, apalah daya saya mbak pulang mudik ke kampung menghabiskan waktu 30 jam lebih :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
.comment-content a {display: none;}