Apa Susahnya, Sih, Jadi Penulis?

Apa susahnya, sih, jadi penulis? Teman-teman pernah mendengar ada yang mengatakan pertanyaan seperti itu? Akhir-akhir ini ada seorang teman yang mendapatkan pertanyaan semacam itu. Barangkali dia pikir, menulis itu hanya sekedar merangkaikan kata, membentuk suatu kalimat dan mengembangkannya menjadi beberapa paragraf. Selesai!

http://www.nurulfitri.com/2017/10/apa-susahnya-sih-jadi-penulis.html
Mencari Ide
Hmm ... dalam kenyataannya menulis bukan hanya sekedar merangkai kata-kata saja. Bagaimana bisa menyusun kata menjadi sebuah kalimat, kalau ide untuk merangkaikannya, tidak ada? Susah juga, kan?

Untuk beberapa penulis, mencari ide semudah menjentikkan ujung jari tangan. Namun ada juga yang mencari ide harus pergi ke ujung dunia, menyepi sendiri, semacam mencari ilham, loh! Atau ada yang mau mencari ide, harus riset, melakukan wawancara atau membuat sebuah percobaan. Ya ... bisa dibilang, tidak semua penulis bisa mendapatkan ide dengan mudah.

Menentukan Tokoh
Untuk penulis non fiksi, menentukan tokoh yang diceritakan dalam sebuah tulisan, perlu pendalaman karakter terlebih dahulu. Ini penting! Jangan sampai, misalnya: tokoh yang diceritakan berprofesi sebagai seorang dokter tapi tidak tahu prosedur pengobatan atau istilah medis yang seharusnya dimiliki profesi tersebut.

Begitu juga penulis yang ingin membuat cerita fabel, jenis hewan, cara hidup dan perilakunya pun harus benar-benar dikuasai. Lucu juga, kan, misalnya ada seekor tapir yang hidup di lingkungan hutan Pulau Jawa? 
Nah, menentukan tokoh juga perlu perhatian khusus.

Latar Belakang
Dalam sebuah tulisan atau cerita, perlu ada latar belakang yang menentukan kapan dan dimana kejadian yang diceritakan. Menentukan waktu dan tempat meskipun terlihat simple namun tetap harus digarap dengan baik. Latar belakang sebuah tulisan harus bisa mengangkat, menyajikan dan menghidupkan suasana. 

Alur/Plot
Yang juga harus diperhatikan adalah alur/plot yang ada dalam tulisan, dari awal hingga akhir. Nah, untuk bagian ini, penulis harus kerja ekstra, dong! Jangan sampai pembaca jadi bosan karena alur yang enggak jelas. Atau ending yang enggak nyambung dengan awal tulisan. 

Tulisan yang datar, tanpa ada kejutan atau konflik juga bisa membuat pembaca bosan dengan sebuah tulisan. Ada dua macam alur yang bisa dipilih oleh seorang penulis, ada plot maju, ada juga plot mundur. Dan itu semua menjadi  pilihan penulis yang disesuaikan dengan keinginan pembacanya.

Penutup
Apa jadinya sebuah tulisan bila tidak ada penutupnya? Pasti hambar, deh! Pembaca akan bingung membaca akhir sebuah tulisan. Maksudnya, menutup sebuah tulisan, haruslah diusahakan menimbulkan kesan tersendiri bagi pembacanya. Dan, itu butuh penggarapan yang apik.

Baca juga : Apa sih, asyiknya nulis di blog?

                                                                              *******
Setidaknya ide, penentuan tokoh, menetapkan latar belakang, membuat alur/plot dan membuat penutup merupakan sebagian printilan yang mesti diperhatikan oleh seorang penulis. Sebenarnya masih banyak yang perlu dijadikan perhatian, seperti bahasa yang digunakan, atau jenis tulisan yang akan dibuat dan hal penting lainnya.

Jadi, apa susahnya jadi penulis? Bisa bantu jawab? he he he ...

http://www.nurulfitri.com/2017/10/apa-susahnya-sih-jadi-penulis.html
Temu kangen Alumni Sekolah Perempuan (gambar milik Teh Santi Rosmala)

Liku-Liku Menulis Buku
Kemarin saya berkesempatan berkumpul dengan sesama penulis alumni Sekolah Perempuan. Kami semua pernah belajar seputar kepenulisan dan mendapat pendampingan selama 3 bulan. Dari sekian banyak peserta Sekolah Perempuan, tidak semuanya bisa menerbitkan buku. Ternyata, pendampingan juga tidak menjamin peserta bisa menerbitkan sebuah buku. Semua tergantung dari individunya masing-masing. Ilmu yang telah didapatkan selama sekolah, dipraktekkan atau hanya jadi catatan saja?

Ada seorang teman yang mengatakan, untuk menerbitkan sebuah buku, penulis bukan hanya membuat tulisan lalu menerbitkannya tapi perlu juga melakukan promosi. Nah, barulah sebuah buku bisa beredar, dikenal orang dan syukur-syukur bisa bermanfaat bagi orang lain yang membacanya.

Teman ... tidak semua penulis bisa menerbitkan karyanya dengan mudah. Banyak proses panjang yang mereka jalani untuk dapat membukukan karyanya. Butuh perjuangan, loh!

Terbentur Proyek Lain
Contohnya, saya sendiri, hehehe. Ketika mendapat pendampingan, ternyata saya juga belum bisa menerbitkan buku. Pasalnya, ketika dalam proses membuat buku, ada proyek dari sebuah penerbit yang membutuhkan buku anak. Saya ikut mengajukan proposal dalam proyek tersebut. Dan alhamdulillah, outline yang saya ajukan, sesuai dengan keinginan penerbit. 

Karena outline sudah terlihat jodohnya, tentu saja saya lebih mengutamakan menggarap yang sudah jelas nasibnya. Maka dengan berat hati, saya tinggalkan proyek buku non fiski tersebut. Saya fokus menulis buku anak yang diminta oleh penerbit. Dan sekarang saya bisa tersenyum puas, melihat buku saya ada di deretan buku anak di toko buku besar.

Baca juga : Mengenal Fakta Sains Dalam Al-Qur'an
http://www.nurulfitri.com/2017/10/apa-susahnya-sih-jadi-penulis.html
Buku Anak : Mengenal Fakta Sains dalam Al-Qur'an
Lalu, bagaimana buku non fiksi saya? Sampai sekarang masih dalam bentuk draf, belum jadi-jadi. Deuuh... entah kapan saya bisa menyelesaikannya. Padahal alasan utama saya mengikuti Sekolah Perempuan adalah menerbitkan sebuah buku solo. Dan ternyata, prosesnya tidak semudah yang saya perkirakan.

Apalagi, kemudian saya mendapat kabar dari penerbit buku anak yang berbeda, bahwa outline saya sesuai dengan keinginan mereka. Wah ... terabaikan lagi, deh, buku non fiksi yang telah saya garap sekitar 70 persen itu. Kembali saya khusyu menggarap buku anak lagi hi hi hi ...
http://www.nurulfitri.com/2017/10/apa-susahnya-sih-jadi-penulis.html
Buku Seri Aku Sehat Seperti Rasulullah

Baca juga : Pentingnya Literasi Bagi Anak

Penerbit 
Tidak hanya saya, ada beberapa teman yang juga merasakan sulitnya menembus penerbit untuk menerbitkan buku. Di acara pertemuan yang dihadiri emak-emak kemarin, seorang teman bercerita, jika dia sudah berhasil menyelesaikan buku, hasil dari pendampingan selama 3 bulan tersebut. Namun, ternyata naskah yang telah selesai itu, tidak kunjung bisa diterbitkan. Kenapa?

Masalahnya bukan pada bukunya. Tetapi ada suatu hal yang terjadi dengan penerbitnya. Jadi ceritanya, teman saya ini sudah menemukan jodoh untuk bukunya. Ada penerbit yang sudah bersedia mempublikasikan naskah milik kawan saya itu. Namun setelah sekian lama, yang dinanti-nantikan tidak kunjung datang. Setelah dikonfirmasi, ternyata penerbit itu mengalami kebangkrutan. Dan tentu saja, tidak bisa menerbitkan naskah yang selama ini sudah dijanjikan. Duuh ...!

Lalu, bagaimana dengan kawan saya itu? Ternyata dia tidak menyerah. Naskah yang tidak jadi diterbitkan itu, diubahnya menjadi sebuah e-book, yang kemudian dipasarkan olehnya. Well ... Perjuangan banget, ya, jadi penulis ... hehehe...

Dicurangi Pihak Lain
Ada lagi pengalaman seorang penulis yang bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua. Salah satu kawan saya yang sangat produktif, sudah menerbitkan beberapa buah buku solo. Dari sekian naskah yang ditulis olehnya, tidak semuanya bisa mulus diterbitkan sesuai dengan keinginan.

Ada satu naskah yang telah selesai digarap olehnya, bisa menarik perhatian sebuah penerbit. Tentu saja, kabar tersebut sangat menggembirakan. Setelah terjadi kesepakatan, kawan saya pun mendapatkan sejumlah rupiah hasil dari naskah tersebut. Selanjutnya, kawan saya itu, tinggal menanti bukunya bisa segera  hadir di toko buku, dengan nama dia terpampang di cover buku.

Namun, kenyataan berkata lain. Setelah sekian lama dinantikan, ternyata kawan saya mendapatkan naskah buatannya terpampang di toko buku dengan nama orang lain. Nah, loh! Ya, yang terjadi buku itu memang terpampang di atas rak buku, tapi nama orang lain yang ada di sampul halaman depan naskah buatannya tersebut.

Tentu saja, pengalaman pahit yang dialami kawan saya, membuat kami yang mendengarnya menjadi tersentak. Dan kami pun hanya bisa menarik napas dan kemudian berjanji untuk lebih berhati-hati agar tidak ada yang mengalaminya lagi.

                                                                           *******

Dari semua kisah yang saya ceritakan, membuktikan jika proses menulis sebuah karya membutuhkan penggarapan yang panjang dan tidak mudah. Banyak liku-liku yang kami hadapi untuk menerbitkan sebuah buku yang apik.

Jadi, kalau ada yang bertanya, apa susahnya, sih, jadi penulis? Barangkali ada yang menjawab, ya, susah! Tetapi ada juga yang dengan riang menjawab, jika menulis itu menyenangkan dan tidak susah.

Rahasia Kesuksesan Penulis
Tidak semua orang mengalami kesulitan dalam menerbitkan karyanya. Buktinya, dari sekian kawan yang hadir dalam temu kangen Alumni Sekolah Perempuan, beberapa diantaranya telah sukses menelurkan karya bukunya. Bahkan ada yang bisa menerbitkan buku antologi sekitar 200 buku, loh! Keren, kan?

Dalam kenyataannya, usia pun tidak menjadi halangan untuk bisa menelurkan sebuah karya. Kawan saya, seorang dosen yang sudah memiliki cucu pun, bisa menelurkan puluhan buku dalam jangka waktu beberapa tahun saja.

Beliau membagikan rahasia kesuksesannya. Ada satu rahasianya. Konsisten menulis setiap hari. Kebiasaannya menulis setiap hari itu, tersimpan di alam bawah sadarnya. 

Sehingga dia merasa ada yang kurang jika dia belum menulis dalam satu hari. Terasa ada yang hilang, begitu kata beliau. Saya kira, itu merupakan kebiasaan yang patut dicontoh.
 
Pertemuan dengan sesama penulis yang berlangsung di markas Indscript kemarin, semakin memacu semangat kami untuk terus menulis dan menghasilkan karya baru. Apalagi melihat beberapa teman yang produktif, rasanya kami ingin bisa mengikuti jejak mereka. Begitu juga dengan saya, rasanya lebih bersemangat untuk menyelesaikan naskah non fiksi yang sekarang mulai berdebu di file laptop. Doakan saya, agar konsisten dan menyelesaikan naskah itu, ya ... Aamiin.

"Jika kau bukan anak raja, bukan pula ulama terkenal,
maka MENULISLAH." 
(Imam Gozali)

63 comments:

  1. tertatih-tatih mbak nurul nulisny.hiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo Mbak...kalau sudah rutin, dibiasakan, enggak akan tertatih-tatih lagi,loh!

      Delete
  2. Jadi ingat kata mas ippho saat jumpapenulis kemarin. Awali dengan otak kanan, menulis saja apapun selama tentag kebaikan, selanjutnya baru ditata, baru atur strategi.

    Terima kasih sharingnya mba Nurul..

    ReplyDelete
  3. Keren! Mbak Nurul hebat! Semoga tetap semangat dan makin sukses nulisnya..
    Terima kasih sharingnya..bermanfaat sekali!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ...semoga kita semua tetap semangat ya..

      Delete
  4. Belum lagi kalau pas nulis kena writer's block di tengah jalan. :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, ini yang paling ditakutkan, writer's block :(

      Delete
  5. Ternyata ada juga pengalaman kaya gitu ya, Mbak? :( Kebayang susahnya bikin sebuah naskah, lha kok pas terbit terpajang dengan nama orang lain. :(

    ReplyDelete
  6. Sekadar menulis mudah dilakukan. Tapi, untuk jadi penulis, butuh mental yang luar biasa. :'D

    ReplyDelete
  7. Waw perjuangan banget ya bun klo ingin jadi penulis. Tp memang, ya. Untuk menjadi apapun yg sukses kita, butuh perjuangan. Klo saya sendiri baru banget belajar menulisnya. Wah seneng bisa berkenalan dengan bunda yg udah bnyak nulis buku. Smga suatu hari nanti saya bisa mengikuti jejaknya. Klo sekarang, mau belajar pelan2 dulu 😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apapun memang membutuhkan perjuangan ya, Mbak. Pelan-pelan saja dulu, yang penting konsisten ya..

      Delete
  8. Sya belum bisa menulis fiksi mba...

    ReplyDelete
  9. Saya sika nulis novel, tapi hanya di draft word aja Mbak Nurul hihi..suka ngawur plotnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan hanya di simpan aja Mbak, coba minimal dikirimkan ke teman, untuk diminta pendapatnya.

      Delete
  10. bagi saya ngeblog adalah sarana untuk latihan menulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaa ... saya juga berlatih menulis di blog

      Delete
  11. Tak mudah jadi penulis...teman saya malah ketipu penerbit abal-abal mbak. uang tak dapat karya pun melayang. Saya pengen jugalah jadi punlis hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Allah, semoga temannya gak kapok untuk menulis, ya, Mbak

      Delete
  12. Sepertinya akan terbayar perjuangannya pada saat bukunya terbit ya kak, aku sih banyak ide buat nulis tapi buat ngembanginnya itu susah banget. Karena rasa malas sih pastinya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo Ky, idenya di tuangkan dalam bentuk tulisan. Pasti Oky, bisa, deh!

      Delete
  13. Mba Nurul biasa nulis buku apa aja? Kebetulan 2018 besok, tempatku banyak mau nerbitin buku2 anak umum dan islami. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Noni di penerbitan ya? Asiik .. bisa dong! *kedip-kedip

      Delete
  14. luar biasa nih perjuangan jadi penulis. nanti mau saya terapkan lagi ke buku berikutnya yang saya tulis. Tapi biasanya yang jadi masalah saya sekarang adalah konsistensi waktu dan deadline tulisan berakhir. maunya banyak tapi kadang klo lagi males bisa dianggurin berapa lama gitu.

    ReplyDelete
  15. Hebat sekali Mbak, boleh tahu judul bukunya apa saja yang udah terbit? Baru tahu juga kalau ada modus kecurangan dalam penerbitan buku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah... Kang Ali atuuh, yang hebat mah. Karyanya udah ratusan ya, kan? Menjura ..pada cikgu.

      Saya buku anak baru dua, Kang. Itu yang ada fotonya : Mengenal Sains dalam Al-Qur'an dan Buku Seri Aku Sehat Seperti Rasulullah.

      Delete
  16. wuaw, ternyata segitunya ya jadi penulis buku dan memperjuangkannya
    novelku mangkrak nih di laptop
    lebih suka ngebloh, hahaha


    mbak nuruuuul, bukunya kereeeeeen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngeblog juga bisa bermanfaat ya, Mbak. Ayo dong, terbitkan novelnya.

      Delete
  17. Zaman masih kerja di penerbitan, tahu banget perjuangan penulis untuk menghasilkan karya gak gampang. Belum lagi masalah royalti ya mbak, eh udah ditambahin masalah modus curang kaya gitu ya mbak..

    Tetap semangat berkarya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah..Mbak Sally yang lebih paham ya...
      Semoga penulis-penulisnya tetap semangat ya, Mbak

      Delete
  18. wah selamat ya Mbak udah terbit lagi bukunya. salut deh. kalau masalah ku ada di ga sabaran nulis buku. maunya kayak blog, satu artikel langsung posting. hmm gimana nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga kadang gitu, Mbak. Lebih senang di blog,karena langsung bisa posting he he he

      Delete
  19. jadi penulis pasti penuh lika liku ya mbak, jangankan penulis buku, nulis blog saja ada...saja ceritanya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak...semua penulis, penulis buku atau blogger, tetap ada liku-likunya

      Delete
  20. Jadi penulis memang tak mudah, perlu komitmen tinggi untuk menghadapi setiap tantangan yang mungkin saja terjadi. Banyak drama yang menguras emosi yang bisa terjadi, tapi teruslah berkarya. Siapa tahu buku yang dibuat akan bermanfaat bagi masyarakat, hal yang kita tahu belum tentu orang lain tahu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Koh, butuh perjuangan. Tapi jadi semangat kalau ingat karya kita bisa aja bermanfaat untuk orang lain.

      Delete
  21. Jadi ingat likaliku menerbitkan buku beberapa waktu lalu. Ini masih menjadi whislist saya nih mbakk
    Dan yess menulis itu gampang tapi menulis yang baik itu susahh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo Kak Ajen, tuntaskan bukunya...ditunggu, ya :)

      Delete
  22. Wahhh keren juga nih mba Nurul sudah menerbitkan banyak buku anak.. semoga nanti buku non fiksi yang sudah 70% prosesnya bisa segera terbit ya mba.. oh iya mungkin untuk menghindari kecurangan dari penerbit, lebih baik jangan menerima uang dulu sebelum bukunys benar2 dirilis dengan nama kita mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin .. semoga buku yang baru 70% itu bisa segera saya selesaikan. Terima kasih Mas Tomi.
      Benar juga ya, jangan terima uang dulu sebelum buku kita benar-benar dirilis.

      Delete
  23. Kalau cuma nulis artikel pendek sih ITS ok..
    Tapi kalau penulis adalah penulis novel..agak berat aku hehehehe..

    Harus punya cerita klimaksnya..dan pinter membawa mainin emosi orang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak ... penulis fiksi butuh kemampuan mendalami perasaan.

      Delete
  24. menjadi penulis itu ternyata butuh perjuanganya ya mulai dari ide, konsep, kemudian mencari penerbit yang bisa di ajak kerjasama. sungguh perjuangan sekali mbak ini.

    inspired lah bagi aku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Butuh perjuangan, tapi kalau dijalani dengan hati senang, akan indah pada waktunya, Mas :)

      Delete
  25. Aku lagi trauma, Mbak Nurul, karena pernah bukuku diterbitkan, tapi sampai sekarang ga ada kabar royalti dsbnya. Rasanya tuh... Hiks, mau mulai nulis buku lagi kok takut. Hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nulis lagi, Mbak Widi. Semoga kali ini tidak mengecewakan. Untuk soal royalti coba tanyakan terus, Mbak. Itu kan udah haknya Mbak Widi.

      Delete
  26. Wihii salu mba nurul keren. Saya masih niat aja. Memang tak sulit yang sulig cari waktunya. Semoga ada masanya bisa ikut jejak mba nurul. :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau anak-anaksudah besar, pasti Mbak Ira bisa, deh! Lebih banyak waktu yang bisa digunakan, Mbak :)

      Delete
  27. Proses bikin buku itu masyaAllah Mbak. Dan ada lika-liku yang harus dilalui. Tapi gak nyangka kok lebih rumit bagi beberapa teman penulis ya. Terutama yg dicurangi itu. Hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, saya juga sampai speechless begitu dengar ceritanya. :(

      Delete
  28. Menjadi penulis terutama penulis buku ternyata banyak ya suka dukanya. Pengen juga deh nulis buku solo.
    Soal ditipu itu memang dialami jg oleh bbrp tmn, tapi semoga gak kapok bikin penulis tetep menulis ya mbak.
    TFS sudah berbagi cerita lika-liku penulis buku :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo Mbak April, nulis buku solo. Di tunggu, ya...
      Bener, semoga gak pada kapok ya..

      Delete
  29. Wiih manteb banget nih mba. Udh bisa jadi penulis buku. Tapi, kayanya menjadi seorang penulis rada susah ya dalam mencari sebuah ide dan mau dibawa kemana buku tersebut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Susah di awalnya aja Dik, nanti kalau udah ketemu misinya, biasanya lebih lancar.

      Delete
  30. Menjadi penulis itu susah, nulis biasa aja diblog udah susah gimana nulis buku. Sebenernya yang bikiin susah itu adalah soulnya. Nulis tanpa soul itu gampang, yang susah membangun soul penulis di tulisan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Teh Dewi, membangun soul itu yang agak berat.

      Delete
  31. Yupp.. kadang kita hanya tau suksesnya aja padahal jalan menuju itu sangat berliku..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua jalan menuju sukses,memang berliku ya... tapi orang yang sabar bisa sampai ke titik sukses :)

      Delete
  32. Keren mbak, semangatnya sudah nular ke saya

    ReplyDelete

.comment-content a {display: none;}