Bisakah Penulis Pemula Menembus Penerbit Besar?

Bisakah Penulis Pemula Menembus Penerbit Besar? Tentu saja, BISA! Buktinya telah saya saksikan sendiri ketika menyusuri linimasa media sosial facebook  kemarin, pada Hari Senin, 20 November 2017.

Terus terang, saya baper lihat video langsung yang ditayangkan di facebook milik founder Indscript. Kenapa baper? Iya, sih, melihat satu persatu alumni Sekolah Perempuan yang sudah bisa menerbitkan buku perdana mereka ... hiks! ... hiks!
http://www.nurulfitri.com/2017/11/penulis-pemula-menembus-penerbit-besar.html

Ternyata ada beragam cerita, dibalik terbitnya karya penulis pemula tersebut di penerbit besar. Untuk bisa menerbitkan buku di penerbit besar, dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu yang terjadi, bukan mereka tidak dapat menyelesaikan tulisan naskahnya. Mereka sudah menyelesaikan naskah, tetapi bukunya tak kunjung terbit juga, atau diterbitkan dalam jangka waktu yang lama. Loh, kenapa begitu?

Jadi, begini, ada beberapa faktor yang membuat naskah buku yang sudah selesai tapi tidak kunjung terbit, diantaranya :

Pertama, ada kendala finansial di dalam tubuh penerbit. Tidak semua penerbit memiliki kondisi keuangan yang sehat. Ada suatu kondisi ketika penerbit tidak bisa menerbitkan buku yang telah disepakati, karena minimnya keuangan. Akibatnya, naskah yang telah disepakati untuk diterbitkan pun, gagal dikeluarkan.

Kedua, naskah diselesaikan pada momentum yang tidak tepat. Contohnya, buku dengan tema Ramadhan, naskahnya selesai ketika bulan suci tersebut telah lewat. Dan biasanya, naskah tersebut tidak bisa segera diterbitkan. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi pada naskah tersebut. Naskah disimpan hingga Bulan Ramadhan berikutnya atau naskah tersebut di revisi dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada saat itu.

Nah, bisa dikatakan, naskah tersebut bukannya tidak bisa menembus penerbit besar, tetapi ada beberapa faktor yang membuat buku agak lambat diterbitkan.

Kondisi seperti itu, biasanya berdampak pada psikologis penulis pemula. Menurut chef editor Indscript, yaitu Chika Ananda, biasanya penulis akan mengalami suatu syndrom. Wah, syndrom apakah itu? Pada umumnya syndrom yang menyerang penulis pemula, adalah terpaku menunggu naskah tanpa melakukan hal yang lain. 

Menurut mojang Bandung ini, sebaiknya penulis tidak selalu mengingat-ingat naskah pertamanya terus.  Biarkan dia menemukan jodohnya sendiri. Setelah selesai, kirimkan naskah, lalu lupakan! Teruslah menulis dan hasilkan karya selanjutnya. Penulis sebaiknya bisa lebih bersabar, karena Indscript sebagai agen naskah, akan terus berusaha mencari penerbit yang sesuai dengan tema buku yang kita tuliskan.

Sebagai editor, Chika juga mengapresiasi penulis yang terus menanyakan kabar naskah yang telah dibuatnya. Menghadapi penulis yang berulang kali menanyakan kabar naskahnya, membuat dia lebih bersemangat mencarikan penerbit yang cocok dengan naskah penulis tersebut. Namun menurut saya, sebaiknya penulis jangan selalu bolak-balik menanyakan, nantinya bisa membuat editornya merasa jengah, bukan?

Selain membahas penulis pemula yang bisa menembus penerbit besar, video berdurasi sekitar 21 menit ini juga menceritakan seorang penulis yang menerbitkan buku di usianya yang tidak muda lagi. 

Dari 5 buku yang baru diterbitkan melalui Indscript Creative, ada karya seorang dokter, lulusan Universitas Padjadjaran yang telah berhasil menyelesaikan naskahnya di usia 72 tahun. Bersama rekannya, beliau menuliskan pengalaman ketika menjawab seputar kesehatan.

Hal ini membuktikan, jika untuk menulis sebuah buku itu, tidak memandang usia. Tua, muda, laki-laki atau pun perempuan, pasti bisa menerbitkan sebuah buku. Asalkan ada kemauan. Itu, intinya!

Hmm ... sepertinya saya harus menonyor diri sendiri, "Ayo, Nurul! Mana kemauanmu untuk menyelesaikan naskah, tugas dari Sekolah Perempuan?" ^~^

Kesimpulannya, jangan patah semangat jika naskah kita belum diterbitkan. Bisa saja dia sedang menjalani proses yang tidak mudah. Biarkan dia mencari jalannya, dan sebaiknya kita pun terus berkarya menghasilkan tulisan yang bemanfaat. Seperti 5 penulis buku yang telah berhasil menembus penerbit besar tadi, yang menyerahkan karyanya pada Indscript untuk dicarikan jodohnya.

18 comments:

  1. Semangattt.. Yang membedakan pemula dan non-pemula itu cuma pengalaman sepak-terjang nego2nya aja kok.. Kalau kualitas, banyak juga penulis pemula yg lebih bagus dibanding yg udah lama. :D

    ReplyDelete
  2. Ayo mba nurul.. Lanjutin sampe bukunya bs terbit di penerbit mayor. Pasti bisa.. Semangattt

    ReplyDelete
  3. Semangat mbak Nurul hihihi, aku jg punya keinginan punya buku, cukup satu tapi jadi legenda, dianalisis dimana2, makanyabkayanya butuh waktu juga seperti contoh di atas. Ayo sama2 semangat :D

    ReplyDelete
  4. semangat terus buat para penulis yang ingin bukunya diterbitkan oleh penerbit mayor, salut dengan Indcsript yang terus menjembatani antara penulis dan penerbit

    ReplyDelete
  5. Aku dari dulu pengen nulis buku dan malas mulu buat nulisnya..
    Terima kasih tulisannya mengingatkan kembali pada cita2 masa lampau

    ReplyDelete
  6. Senangnya apabila ide yang kita punya dan tuangkan bisa dibaca dan menginspirasi orang lain di luar lingkaran pertemanan kita.

    ReplyDelete
  7. wah, bisa ditiru dan ditularkan ini caraya mba, terima kash banget ulasannya, sangat membantu

    ReplyDelete
  8. Bagusnya gitu ya
    .nulis terus.. gak nungguin berita yg udah dikirim.., kalo gak di terima masih banyak tulisan yg lain gak down duluan..males..

    ReplyDelete
  9. Aku kepingin bngate mbak Nurul, ajari aku. duh, outline buku yang mau aku tulis belum juga aku kerjakan, gimana mau bisa tembus penerbit mayor? #tepukjidat

    ReplyDelete
  10. Tulis, selesaikan, kirim, lupakan
    Aku inget banget ada temen yg ngirim naskah ke penerbit ini itu gak cocok2. Tp akhirnya ketemu jg jodohnya

    ReplyDelete
  11. Ngga ada bedanya sih penulis pemula atau penulis lama (menurut saya) selama tulisannya sesuai dengan penerbit dan ada editor yang cocok hatinya biasanya akan mulus jalannya. Saya sendiri sudah merasakannya dan lancar jaya kak. hehehehe

    ReplyDelete
  12. Asik banget kalo suka nulis. Bisa jadi buku gitu ya.
    Aku mah apa, nulis by mood doang. 😆

    ReplyDelete
  13. jadi keinget impian masa lalu, nerbitin buku di penerbit mayor. baca postingan ini jadi pengen nulis naskah lagi. tulis, kirim, lupakan :D

    ReplyDelete
  14. baca judul tulisan ini mupeng banget sih mba, aku mupeng pengen nerbitin buku, suer deh

    ReplyDelete
  15. Mungkin mimpi setiap penulis indi, bukunya bisa dilirik kemudian diterbitkan penerbit besar ya. Apa lagi kalau sampai go international dan diterjemahkan di semua negara. Ih keren jika seperti itu! Ayo semangat!!!

    ReplyDelete
  16. Ayoo mbak nurul, ditunggu bukunya nih.. Aiih aku termasuk yang kagum loj sama profesi penulis.. Menurutku mereka ini nggak kalah cerdas dibanding para dokter. Haahaah nah kalau gitu ayoo ditunggu nih bukunya

    ReplyDelete
  17. Di era teknologi digital ini semua kebutuhan ada. Mba ingin menelurkan sebuah buku? Itu juga ada. Mba bisa bikin e-book sendiri via platform tertentu.

    ReplyDelete
  18. aku jadi tertarik untuk nulis buku juga nih mba, tapi sama sekali gak punya pengalaman nulis buku bisanya cuma nulis di blog aja hihi.. itu berarti aku termasuk penulis pemula kali ya mba *maksa 😅

    ReplyDelete

.comment-content a {display: none;}