Showing posts with label Gaya Pengasuhan. Show all posts
Showing posts with label Gaya Pengasuhan. Show all posts

Monday, 7 September 2020

Hypno Parenting : Mendidik Anak dengan Mengoptimalkan Pikiran Bawah Sadar

Akhir Bulan Februari 2020 lalu, sekolah anak saya mengadakan seminar parenting dengan tema Hypnoparenting: Mendidik Anak dengan Mengoptimalkan Pikiran Bawah Sadar. Bahasan tentang pengasuhan anak ini diberikan oleh Dr. Yati Haryati M. Pd secara luwes dan enejik. Kami para orang tua murid yang hadir bisa dengan mudah memahami materi yang diberikan karena disertai dengan contoh kongkrit serta diselingi dengan canda tawa.

hypnoparenting-mendidik-anak

Di awal seminar, ibu berbusana merah muda tersebut mengingatkan pada kami bahwa tidak ada anak bermasalah. Semua kesalahan yang dilakukan oleh anak kita itu bukan salah anak kita, tetapi yang salah adalah program yang masuk ke pikiran anak kita.

Tuesday, 1 September 2020

Adik Kakak Bertengkar Melulu? Wajar, Itu Merupakan Proses Bersosialisasi

Sebenarnya wajar saja, jika kakak dan adik sering bertengkar. Bisa dipastikan hampir setiap kakak dan adik pernah bertengkar. Meskipun memiliki umur yang cukup jauh dan memiliki jenis kelamin yang tidak sama. Hal ini juga terjadi di keluarga saya. Usia kedua anak saya terpaut cukup jauh yaitu 5 tahun. Mereka memiliki jenis kelamin berbeda. Namun hingga besar, mereka tetap masih suka bertengkar. Bagaimana kita selaku orang tua menyikapi hal tersebut?

adik-kakak-bertengkar
Ketika masih kecil, anak-anak belum mengerti bagaimana caranya menyelesaikan masalah.

Seperti diungkapkan sebelumnya, hampir tidak ada kakak adik yang tidak pernah berantem. Ada yang itensitasnya tinggi tetapi ada juga yang jarang berantem atau ada juga yang hanya sekedar berselisih paham saja. Oh iya, katanya yang menentukan sering tidaknya adik kakak bertengkar ini, terutama adalah orang tuanya sendiri, loh!

Thursday, 27 August 2020

Mempersiapkan Anak Menyambut Kelahiran Adik Baru

Sebulan yang lalu, anggota keluarga kami bertambah. Lahirnya seorang bayi lelaki yang merupakan anak kedua dari adik bungsu saya. Anak pertamanya seorang gadis kecil yang cantik, lincah dan ceriwis. Anak kecil yang lagi gemes-gemesinnya, deh! 

Dulu, ketika mengetahui ibunya sedang mengandung, keponakan saya itu menanggapinya dengan riang. Dia membayangkan asyiknya memiliki adik bayi. Selama adik saya mengandung, keponakan bermata bulat itu sering kali menyium atau mengelus perut ibunya dengan riang serta begitu menantikan kelahiran adik barunya.

menyambut-kelahiran-adik-baru
Sun sayang untuk adik di dalam perut :))

Anak perempuan itu mengerti jika di dalam perut ibunya ada bayi yang kelak akan menjadi adiknya. Oleh karenanya dia sering mengajak mengobrol calon adiknya tersebut. Bahkan ketika sudah memasuki waktu melahirkan, keponakan saya mengajak calon adiknya untuk segera keluar dari perut ibu mereka. Saya dan semua orang yang ada di keluarga kami begitu yakin, jika gadis kecil itu sudah siap menerima kehadiran adik baru.

Monday, 8 June 2020

5 Cara Optimalisasi Gaya Belajar Anak Auditori

Seperti yang kita ketahui, setiap anak memiliki gaya belajarnya masing-masing. Gaya belajar sendiri merupakan cara belajar yang digunakan untuk mempermudah anak dalam mempelajari sesuatu. Salah satu ciri yang bisa kita perhatikan dari gaya belajar anak yaitu respon yang mereka berikan saat menerima informasi dengan metode belajar yag kita terapkan.

Secara umum, ada 3 gaya belajar yang dominan dimiliki oleh anak-anak yaitu, tipe visual, auditori dan kinestetik. Dalam beberapa postingan sebelumnya saya sudah menceritakan ciri anak dengan gaya belajar visual, gaya belajar auditori dan ciri anak dengan gaya belajar kinestetik. Kali ini saya ingin menuliskan bagaimana mengoptimalkan cara belajar anak dengan tipe auditori.

Monday, 26 August 2019

Kiat Berkomunikasi yang Efektif dengan Remaja

Bulan demi bulan datang silih berganti, tahun pun berganti. Tidak terasa kini saya sudah memasuki 17 tahun pernikahan dengan anak yang sudah beranjak remaja. Menghadapi anak remaja tentu saja tidak sama dengan saat mengasuh anak ketika masih kecil. Di usia belasan, anak sudah memiliki keinginan kuat untuk menjadi "diri sendiri", padahal biasanya anak sendiri belum merasa yakin dengan dirinya.

Bagi saya sebagai orang tua, anak masih saya anggap sebagai anak. Yang masih perlu dibimbing mengenai seputar tugas sekolah, pekerjaan rumah, cara dia bersikap atau berbicara. Di sisi lain, anak mulai ingin diakui bahwa dia bukanlah anak-anak lagi. Namun mereka belum siap dengan tanggung jawab sebagai orang dewasa, bukan?