Cinta yang memerdekakan. Seringkali kita temui, dengan atas nama cinta kita akan berbuat apa saja yang menurut kita baik. Namun kadang kita juga lupa, orang yang kita cintai belum tentu merasakan jika itu baik.
http://www.nurulfitri.com/2016/03/cinta-yang-memerdekakan.html

Atas nama cinta pula, kadangkala orang tua menciptakan alur atau jalan yang harus ditempuh oleh anak. Karena cinta, orang tua mewajibkan sesuatu yang sebenarnya tidak disukai oleh anak. Yang ditakutkan, potensi anak malahan akan terkubur karena harapan-harapan dari orang tuanya. :((

Tapi, saya gak mau gitu, dong! Apa yang gak disukai anak, saya gak akan maksa. Kasian juga, kan? Anak terpaksa menurut pada orang tua padahal tidak sesuai dengan kata hatinya.

Saya percaya, jika cinta yang sehat yaitu cinta yang memerdekakan, bukan malah membuat anak merasa dipenjara. Dengan bebas melakukan yang dia sukai, semoga rasa percaya dirinya akan tumbuh, lebih inisiatif dan lebih terbuka dengan orang tua, terutama saya, ibunya.
      
Jadi, saat adek bilang mau berhenti les pelajaran berhitung, saya mencoba mendengarkan pendapatnya. Seingat saya, dulu dia ikut les yang satu ini, karena mengikuti kakaknya. Padahal kakaknya mengikuti les ini untuk menghadapi tes masuk SMP. Dan kakak, terlihat lebih santai mengikuti les ini karena menurut saya, kakak sudah cukup umur untuk memahami perlunya kegiatan itu demi kelulusannya.

Beberapa bulan kemudian, adek keliatan mulai jenuh dengan kegiatan di luar sekolahnya itu. Jika ada PR dari tempat lesnya, adek keliatan kurang bersemangat. Kadang urat leher saya sampai tegang, menyuruh anak bungsu saya itu untuk mengerjakan PR. 
Hu..hu..hu..kasian ya, anak saya :(( 
Etapi.. saya juga capek, dong! Siapa pun pasti sependapat, jika marah-marah sangat menguras tenaga dan pikiran.

Anak akan merasa tertekan dan stres setiap kali mendengar ibunya meminta dia mengerjakan PR dari tempat les. Begitu pula ibunya, bisa stres ketika melihat anaknya gak nurut.
Sampai sini, saya pun harus menyadari, jika tidak harus menjadi ibu yang sempurna. Menginginkan semua anak dan aktivitas di rumah sesuai dengan keinginan. Lebih baik, saya terus belajar untuk memperbaiki diri dan mulai mengikuti apa yang diinginkan oleh anak, asalkan sesuai dengan aturannya.
 
Di saat ibu dan anak bersikukuh dengan pendapatnya, suasana rumah pun bisa jadi kurang sehat. Well, alangkah baiknya jika suasana rumah dipenuhi dengan tawa canda seisi rumahnya, bukan?

Nah, gak mau melihat anak dan saya semakin stres, lebih baik saya tanyakan langsung ke anaknya, apa yang dia inginkan. Lesnya masih mau dilanjut atau gak? Dan ternyata, adek memang sudah ingin mengakhiri semua yang membebaninya itu. #weits bahasanya hi..hi..
"Di sekolah udah belajar, di tempat les harus belajar lagi, capek otaknya, Bu!"  kata adek. "Adek maunya ikut latihan futsal aja, ya. Boleh, kan, Bu?" katanya kemudian.
Mendengar hal itu, saya pun berdiskusi dengan ayahnya. Dan ternyata sang ayah pun tidak keberatan dengan keinginan anaknya. Menurut beliau, lebih baik, anak mengikuti sebuah kegiatan tambahan selain yang diajarkan sekolah. Atau mengikuti kegiatan, yang bisa mengasah bakat dan potensi anak.
Anak lelaki saya ini merupakan tipe kinestetik. Gaya belajarnya gak bisa diem, misalnya ketika membaca buku, kaki atau tangannya seringkali bergerak-gerak.
Mengikuti kegiatan futsal, saya harap bisa mengalihkan energi geraknya. Jadi, energinya bisa tersalurkan. Semoga.
 
http://www.nurulfitri.com/2016/03/cinta-yang-memerdekakan.html
Semangat menuju tempat berlatih futsal :)
Kami sepakat, jika potensi anak harus terus diasah, untuk mendampingi pelajaran di sekolahnya. Biarlah anak menjadi cerdas dan bukan hanya pintar. Berdasarkan pengalaman kami, banyak teman yang memiliki nilai tinggi sewaktu di sekolahnya, tidak menjadi siapa-siapa ketika dewasa. 
Sedangkan teman yang pandai bergaul, tekun, pantang menyerah serta dapat melihat peluang, bisa berhasil di masa tuanya. 

Keputusan kami, menjadi pintar itu memang perlu, namun sebaiknya diimbangi pula dengan sikap positif lainnya. Misalnya, memiliki keahlian, dapat bekerja sama dengan orang lain, jujur, pantang menyerah, pandai mencari peluang dan sikap positif lainnya. 

Percayalah, cinta itu saling menguatkan. Terkadang kita dapat menemukan keputusan yang terbaik atas dasar cinta. Jika menerapkan cinta yang memerdekakan, anak akan selalu ingin mencoba banyak hal tanpa takut dimarahi karena berbuat salah.
http://www.nurulfitri.com/2016/03/cinta-yang-memerdekakan.html
Persiapan untuk latihan futsal
Semoga ini pilihan yang terbaik dan adek bisa terus mengembangkan bakat serta hobinya ya... aamiin..aamiin..aamiin..