reposisi koperasi di era generasi milenial
sumber : .instagram praja.misgroup

"Bu, ini hasil analisis penilaian karir berdasarkan kepribadian punya kakak," kata anak sulung saya sambil menyerahkan selembar kertas yang menampilkan sebuah diagram batang.
Tulisan di kertas itu menginformasikan jika anak saya memiliki kecenderungan memilih karir dengan prioritas Tipe Enterprising, Tipe Artistic dan Tipe Investigative. Selaku orang tua, saya semestinya melakukan follow up terkait pilihan profesi yang akan dipilih oleh anak. Tidak hanya sekedar menanggapi dan memberi perhatian, tetapi juga harus bisa mengarahkan dan membimbing hingga cita-cita anak bisa tercapai.

Tidak mudah membersamai anak yang sudah mulai beranjak dewasa tersebut. Di usia belasan dia pasti punya keinginan untuk menjadi "diri sendiri", padahal dia sendiri belum yakin dengan dirinya. Memiliki anak remaja, mengharuskan saya untuk bisa membimbingnya melalui komunikasi yang sehat. Komunikasi yang membuat saya dan anak saling merasa nyaman menyampaikan isi hati, baik yang manis ataupun yang pedas.

Terutama mengenai pilihan karir untuk masa depannya. Ketika anak saya memilih untuk bisa jadi seorang enterpreneur, saya dan suami dengan senang hati mendukungnya. Anak perempuan saya itu berpendapat jika menjadi pebisnis, dia tidak perlu mencari-cari pekerjaan tetapi justru menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain.
Oh, oke! Keinginannya itu memang sama dengan pilihan ayahnya sendiri. Jadi wajar saja, jika ada istilah "buah apel tidak akan jatuh jauh dari pohonnya".

Namun, kondisi dan permasalahan yang akan dihadapi oleh sulung saya itu, tentu saja tidak sama dengan apa yang dihadapi oleh ayahnya. Kini zaman sudah bergerak dengan cepat. Semua serba digital. Jika boleh membandingkan, hidup di zaman dulu rasanya lebih mudah. Sedangkan anak remaja saya hari ini akan mengalami masalah yang kompleks, karena kini dia hidup di tengah serbuan berbagai media sosial, gadget, dan arus informasi yang masif dan nyaris tak terbatas. Yes, dia merupakan bagian dari generasi milenial.

Milenial merupakan generasi yang lahir pada kisaran tahun 1980-2000 atau disebut juga dengan istilah generasi Y. Milenial memiliki populasi mencapai 90 juta orang atau lebih dari sepertiga jumlah penduduk Indonesia. Generasi ini identik dengan kelompok melek teknologi, sangat tergantung pada internet, suka dengan petualangan, cerdas dan kerja keras, bebas dan tidak terikat, suka berbagi tetapi juga identik dengan boros alias konsumtif.

Anak saya yang termasuk generasi milenial juga menghadapi masalah pengangguran yang lebih tinggi, krisis ekonomi yang masih berlangsung dan pendapatan yang tidak setara. Sayangnya dalam kondisi seperti itu, generasi milenial justru terjebak dalam gaya hidup konsumtif dan haus dengan pengalaman. Nah, tugas saya sebagai orang tua harus bisa memberikan pengertian pada anak agar tidak ikut arus gaya hidup konsumtif, bukan?

reposisi koperasi di era generasi milenial

Oleh karena itu, ketika anak saya memilih untuk menjadi enterpreneur alias sebagai pelaku usaha, saya sangat mendukung. Terlebih di era ini pemerintah sedang konsen pada percepatan pelaksanaan sasaran dan prioritas pembangunan yang salah satunya fokus pada dimensi pembangunan, strategi pemerataan dan kewilayahan yang meliputi penyediaan tenaga kerja, peningkatan produktivitas usaha mikro dan kecil, penguatan koperasi serta pengembangan kewirausahaan.

Untuk mendorong pertumbuhan wirausaha di Indonesia, pemerintah berusaha menstimulasi dan memberi kemudahan bagi generasi milenial untuk membuat dan membangun bisnis atau usaha. Langkah yang diambil pemerintah yaitu membantu mengembangkan usaha milenial yang sudah ada, dengan cara membantu dalam usaha pemasaran dan memberikan pinjaman sebagai tambahan modal.

"Kakak udah kebayang sih, mau usaha apa. Tapi perlu modal yang enggak sedikit, deh!" kata anak sulung saya.
"Kabarnya sekarang salah satu fokus pemerintah mendorong pembentukan usaha baru, loh," ujar saya.
Putri saya terdiam menunggu kelanjutannya.
"Iya, pemerintah sedang giat-giatnya mendukung wirausaha baru dengan memberikan pelatihan dan ketrampilan usaha, memudahkan dalam pemberian izin usaha baru dan juga memberikan pinjaman sebagai modal dengan bunga ringan," lanjut saya.
"Oh, asyik juga ya," katanya dengan nada riang. "Eh, gimana caranya, Bu?"
Saya memberikan beberapa alternatif yang bisa dilakukan untuk bisa mendapatkan pelatihan sekaligus pinjaman modal, salah satunya bisa didapatkan di badan usaha pemerintah yang kegiatannya mendukung usaha masyarakat, seperti koperasi. Mendengar kata koperasi, kening dia mendadak berkerut, ada sesuatu yang dipikirkannya.

Sejurus kemudian anak perempuan itu mengutarakan sedikit pengetahuannya tentang koperasi. Yang diketahui oleh anak saya, koperasi merupakan tempat simpan pinjam uang dan tempat jual beli alat tulis kantor saja. Duuh ... pengetahuannya tentang koperasi ternyata sesempit itu. #emak elus dada.


Terlepas dari sedikitnya pengetahuan tentang koperasi, sebagai bagian dari generasi milenial, anak saya sangat menyambut baik kebijakan dan aturan pemerintah yang mendukung generasi muda untuk mau membuka usaha di Indonesia.


Keberadaan badan usaha asli Indonesia yaitu koperasi, menunjukan peningkatan kualitas dalam 5 tahun terakhir. Pada tahun 2014 kontribusi koperasi hanya sebesar 1,71% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional dan pada tahun 2018 meningkat menjadi 5,1%

Koperasi merupakan badan usaha yang memiliki peranan penting untuk kesejateraan anggotanya dan semaksimal mungkin memberikan kontribusi bagi masyarakat di sekitarnya. Ada pun peranan koperasi bagi masyarakat diantaranya:
  1. Mengembangkan Kegiatan Usaha Masyarakat
  2. Meningkatkan Pendapatan Anggota
  3. Mengurangi Tingkat Pengangguran.
Selain itu, peran koperasi dalam mengembangkan kegiatan usaha masyarakat, mendatangkan manfaat juga bagi pelaku usaha termasuk yang baru memulai usaha. Ada 3 manfaat yang bisa diperoleh bagi pelaku usaha yang bergabung dengan koperasi. Pertama, akses memperoleh modal usaha. Kedua, kesempatan mendapatkan pelatihan dan yang ketiga bisa menumbuhkan semangat serta etos kerja.


reposisi koperasi di era generasi milenial
sumber : .instagram praja.misgroup

Sebagai badan usaha pemerintah yang bisa mendukung kegiatan usaha masyarakat, koperasi kini dalam fase menghadapi tantangan reposisi.
Well, memang seharusnya bisa menyesuaikan dengan zaman, bukan?
Rully Indrawan selaku Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM mengatakan bahwa memanfaatkan teknologi digital merupakan model bisnis kekinian yang banyak dilakukan oleh kalangan milenial. Jadi, salah satu terobosan koperasi di Industri 4.0 yaitu menyediakan layanan online dengan teknologi digital.

Agar bersinergi dengan tepat bersama generasi milenial, fungsi koperasi tidak bisa seperti dulu. Koperasi harus mampu eksis menjawab tantangan di era digital, zamannya generasi milenial berperan aktif di dalamnya. Kini fungsi koperasi harus mampu memenuhi kebutuhan generasi milenial secara cepat. Kebutuhan seperti pembelian barang, peminjaman modal, dan pelayanan kepada anggota yang dilakukan secara online.

reposisi koperasi di era generasi milenial
Namun untuk menjadi badan usaha yang tetap eksis mengikuti zaman, bisa diterima oleh kalangan milenial, dan memajukan perekonomian Indonesia, koperasi menghadapi 3 tantangan besar. Tantangan koperasi di era digital yaitu:
  • Meminimalisir stigma negatif tentang koperasi
  • Mempersiapkan koperasi berbasis teknologi
  • Mendukung jalannya bisnis online dengan sistem koperasi.
Untuk mengatasi ketiga tantangan tersebut ada berbagai cara yang bisa dilakukan antara lain memperbanyak berita positif yang edukatif dan informatif mengenai koperasi di media digital agar bisa meminimalisir pandangan negatif terhadap koperasi.
Selain itu, memanfaatkan teknologi digital sebagai model bisnis kekinian yang digemari oleh generasi milenial menjadi salah satu cara agar koperasi bisa tetap eksis. Sedangkan pengembangan usaha koperasi berbasis teknologi untuk mendukung jalannya berbagai macam bisnis online dengan sistem koperasi juga merupakan cara untuk menghadapi tantangan di era digital.


Nah, agar bisa bertahan dan tetap eksis di era Industri 4.0 ini, koperasi harus memiliki website atau aplikasi yang bisa melancarkan semua transaksi dan memudahkan anggotanya berinteraksi. Dan hadirnya Sistem Digital Transaksi Indonesia menjadi solusi bagi koperasi di Indonesia untuk menghadapi berbagai tantangan yang ada.

Apa sih, Sistem Digital Transaksi Indonesia (SDTI) itu?

SDTI merupakan aplikasi koperasi yang akan memudahkan dan melakukan transaksi online di mana saja dan kapan saja. Teknologi ini dapat mendukung koperasi agar berkembang dan memiliki potensi untuk maju serta mempermudah pengelola dan anggotanya melakukan pencatatan atas segala transaksi. SDTI juga mampu memberikan kemudahan fasilitas bagi para anggotanya untuk mengakses akun simpanan dan pinjaman yang dimiliki dan melakukan transaksi atas simpanan atau pinjaman anggotanya.
reposisi koperasi di era generasi milenial
sumber : .instagram praja.misgroup

Hadirnya Digital Cooperative sebagai produk SDTI, bisa menjadi solusi yang tepat untuk membuat koperasi bisa terus eksis dan digandrungi generasi milenial. Aplikasi Digital Cooperative ini sangat mudah, aman, hemat, cepat, terpercaya dan tidak ribet digunakan. Apalagi semua transaksi yang ada di Digital Cooperative bisa diproses pada hari yang sama. Cocok sekali dengan kepribadian para milenial ya, kan? Termasuk anak saya, tentunya hehehe

Penggunaan sistem serba digital membuat golongan milenial lebih familiar dengan koperasi, mengingat generasi milenial suka dengan yang serba cepat dan instan. Koperasi pun bisa menjadi badan usaha yang digandrungi oleh kaum milenial. Dan anak muda pun bisa dengan leluasa memulai usaha dan mengembangkan bisnisnya bersama koperasi.
 
Sehingga dengan bermunculannya usaha-usaha baru maka sumber pertumbuhan ekonomi pun akan mampu menyumbang pendapatan nasional atau Produk Domestik Bruto (PDB) negara kita.
Jadi, masyarakat sejahtera dan negara pun makmur sentosa.
      
                 Salam takzim




Sumber: 

https://www.kemenpppa.go.id/lib/uploads/list/9acde-buku-profil-generasi-milenia.pdf
https://multiinti.com/sistim-digital-transaksi-indonesia