Apa susahnya, sih, jadi penulis? Teman-teman pernah mendengar ada yang mengatakan pertanyaan seperti itu? Akhir-akhir ini ada seorang teman yang mendapatkan pertanyaan semacam itu. Barangkali dia pikir, menulis itu hanya sekedar merangkaikan kata, membentuk suatu kalimat dan mengembangkannya menjadi beberapa paragraf. Selesai!

Apa Susahnya, Sih, Jadi Penulis?
Mencari Ide
Hmm ... dalam kenyataannya menulis bukan hanya sekedar merangkai kata-kata saja. Bagaimana bisa menyusun kata menjadi sebuah kalimat, kalau ide untuk merangkaikannya, tidak ada? Susah juga, kan?

Untuk beberapa penulis, mencari ide semudah menjentikkan ujung jari tangan. Namun ada juga yang mencari ide harus pergi ke ujung dunia, menyepi sendiri, semacam mencari ilham, loh! Atau ada yang mau mencari ide, harus riset, melakukan wawancara atau membuat sebuah percobaan. Ya ... bisa dibilang, tidak semua penulis bisa mendapatkan ide dengan mudah.

Menentukan Tokoh
Untuk penulis non fiksi, menentukan tokoh yang diceritakan dalam sebuah tulisan, perlu pendalaman karakter terlebih dahulu. Ini penting! Jangan sampai, misalnya: tokoh yang diceritakan berprofesi sebagai seorang dokter tapi tidak tahu prosedur pengobatan atau istilah medis yang seharusnya dimiliki profesi tersebut.

Begitu juga penulis yang ingin membuat cerita fabel, jenis hewan, cara hidup dan perilakunya pun harus benar-benar dikuasai. Lucu juga, kan, misalnya ada seekor tapir yang hidup di lingkungan hutan Pulau Jawa? 
Nah, menentukan tokoh juga perlu perhatian khusus.

Latar Belakang
Dalam sebuah tulisan atau cerita, perlu ada latar belakang yang menentukan kapan dan dimana kejadian yang diceritakan. Menentukan waktu dan tempat meskipun terlihat simple namun tetap harus digarap dengan baik. Latar belakang sebuah tulisan harus bisa mengangkat, menyajikan dan menghidupkan suasana. 

Alur/Plot
Yang juga harus diperhatikan adalah alur/plot yang ada dalam tulisan, dari awal hingga akhir. Nah, untuk bagian ini, penulis harus kerja ekstra, dong! Jangan sampai pembaca jadi bosan karena alur yang enggak jelas. Atau ending yang enggak nyambung dengan awal tulisan. 

Tulisan yang datar, tanpa ada kejutan atau konflik juga bisa membuat pembaca bosan dengan sebuah tulisan. Ada dua macam alur yang bisa dipilih oleh seorang penulis, ada plot maju, ada juga plot mundur. Dan itu semua menjadi  pilihan penulis yang disesuaikan dengan keinginan pembacanya.

Penutup
Apa jadinya sebuah tulisan bila tidak ada penutupnya? Pasti hambar, deh! Pembaca akan bingung membaca akhir sebuah tulisan. Maksudnya, menutup sebuah tulisan, haruslah diusahakan menimbulkan kesan tersendiri bagi pembacanya. Dan, itu butuh penggarapan yang apik.

Baca juga : Apa sih, asyiknya nulis di blog?

                                                                              *******
Setidaknya ide, penentuan tokoh, menetapkan latar belakang, membuat alur/plot dan membuat penutup merupakan sebagian printilan yang mesti diperhatikan oleh seorang penulis. Sebenarnya masih banyak yang perlu dijadikan perhatian, seperti bahasa yang digunakan, atau jenis tulisan yang akan dibuat dan hal penting lainnya.

Jadi, apa susahnya jadi penulis? Bisa bantu jawab? he he he ...

Komunitas Penulis Perempuan
Temu kangen Alumni Sekolah Perempuan (gambar milik Teh Santi Rosmala)



Liku-Liku Menulis Buku

Kemarin saya berkesempatan berkumpul dengan sesama penulis alumni Sekolah Perempuan. Kami semua pernah belajar seputar kepenulisan dan mendapat pendampingan selama 3 bulan. Dari sekian banyak peserta Sekolah Perempuan, tidak semuanya bisa menerbitkan buku. Ternyata, pendampingan juga tidak menjamin peserta bisa menerbitkan sebuah buku. Semua tergantung dari individunya masing-masing. Ilmu yang telah didapatkan selama sekolah, dipraktekkan atau hanya jadi catatan saja?

Ada seorang teman yang mengatakan, untuk menerbitkan sebuah buku, penulis bukan hanya membuat tulisan lalu menerbitkannya tapi perlu juga melakukan promosi. Nah, barulah sebuah buku bisa beredar, dikenal orang dan syukur-syukur bisa bermanfaat bagi orang lain yang membacanya.

Teman ... tidak semua penulis bisa menerbitkan karyanya dengan mudah. Banyak proses panjang yang mereka jalani untuk dapat membukukan karyanya. Butuh perjuangan, loh!

Terbentur Proyek Lain
Contohnya, saya sendiri, hehehe. Ketika mendapat pendampingan, ternyata saya juga belum bisa menerbitkan buku. Pasalnya, ketika dalam proses membuat buku, ada proyek dari sebuah penerbit yang membutuhkan buku anak. Saya ikut mengajukan proposal dalam proyek tersebut. Dan alhamdulillah, outline yang saya ajukan, sesuai dengan keinginan penerbit. 

Karena outline sudah terlihat jodohnya, tentu saja saya lebih mengutamakan menggarap yang sudah jelas nasibnya. Maka dengan berat hati, saya tinggalkan proyek buku non fiski tersebut. Saya fokus menulis buku anak yang diminta oleh penerbit. Dan sekarang saya bisa tersenyum puas, melihat buku saya ada di deretan buku anak di toko buku besar.

Baca juga : Mengenal Fakta Sains Dalam Al-Qur'an
 
Buku Anak Fakta Sains dalam Al Qur'an
Buku Anak : Mengenal Fakta Sains dalam Al-Qur'an
 
Lalu, bagaimana buku non fiksi saya? Sampai sekarang masih dalam bentuk draf, belum jadi-jadi. Deuuh... entah kapan saya bisa menyelesaikannya. Padahal alasan utama saya mengikuti Sekolah Perempuan adalah menerbitkan sebuah buku solo. Dan ternyata, prosesnya tidak semudah yang saya perkirakan.

Apalagi, kemudian saya mendapat kabar dari penerbit buku anak yang berbeda, bahwa outline saya sesuai dengan keinginan mereka. Wah ... terabaikan lagi, deh, buku non fiksi yang telah saya garap sekitar 70 persen itu. Kembali saya khusyu menggarap buku anak lagi hi hi hi ...
 
Buku Anak Seri Aku Sehat Seperti Rasulullah
Buku Seri Aku Sehat Seperti Rasulullah

Baca juga : Pentingnya Literasi Bagi Anak

Penerbit 
Tidak hanya saya, ada beberapa teman yang juga merasakan sulitnya menembus penerbit untuk menerbitkan buku. Di acara pertemuan yang dihadiri emak-emak kemarin, seorang teman bercerita, jika dia sudah berhasil menyelesaikan buku, hasil dari pendampingan selama 3 bulan tersebut. Namun, ternyata naskah yang telah selesai itu, tidak kunjung bisa diterbitkan. Kenapa?

Masalahnya bukan pada bukunya. Tetapi ada suatu hal yang terjadi dengan penerbitnya. Jadi ceritanya, teman saya ini sudah menemukan jodoh untuk bukunya. Ada penerbit yang sudah bersedia mempublikasikan naskah milik kawan saya itu. Namun setelah sekian lama, yang dinanti-nantikan tidak kunjung datang. Setelah dikonfirmasi, ternyata penerbit itu mengalami kebangkrutan. Dan tentu saja, tidak bisa menerbitkan naskah yang selama ini sudah dijanjikan. Duuh ...!

Lalu, bagaimana dengan kawan saya itu? Ternyata dia tidak menyerah. Naskah yang tidak jadi diterbitkan itu, diubahnya menjadi sebuah e-book, yang kemudian dipasarkan olehnya. Well ... Perjuangan banget, ya, jadi penulis ... hehehe...

Dicurangi Pihak Lain
Ada lagi pengalaman seorang penulis yang bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua. Salah satu kawan saya yang sangat produktif, sudah menerbitkan beberapa buah buku solo. Dari sekian naskah yang ditulis olehnya, tidak semuanya bisa mulus diterbitkan sesuai dengan keinginan.

Ada satu naskah yang telah selesai digarap olehnya, bisa menarik perhatian sebuah penerbit. Tentu saja, kabar tersebut sangat menggembirakan. Setelah terjadi kesepakatan, kawan saya pun mendapatkan sejumlah rupiah hasil dari naskah tersebut. Selanjutnya, kawan saya itu, tinggal menanti bukunya bisa segera  hadir di toko buku, dengan nama dia terpampang di cover buku.

Namun, kenyataan berkata lain. Setelah sekian lama dinantikan, ternyata kawan saya mendapatkan naskah buatannya terpampang di toko buku dengan nama orang lain. Nah, loh! Ya, yang terjadi buku itu memang terpampang di atas rak buku, tapi nama orang lain yang ada di sampul halaman depan naskah buatannya tersebut.

Tentu saja, pengalaman pahit yang dialami kawan saya, membuat kami yang mendengarnya menjadi tersentak. Dan kami pun hanya bisa menarik napas dan kemudian berjanji untuk lebih berhati-hati agar tidak ada yang mengalaminya lagi.

                                                                           *******

Dari semua kisah yang saya ceritakan, membuktikan jika proses menulis sebuah karya membutuhkan penggarapan yang panjang dan tidak mudah. Banyak liku-liku yang kami hadapi untuk menerbitkan sebuah buku yang apik.

Jadi, kalau ada yang bertanya, apa susahnya, sih, jadi penulis? Barangkali ada yang menjawab, ya, susah! Tetapi ada juga yang dengan riang menjawab, jika menulis itu menyenangkan dan tidak susah.

Rahasia Kesuksesan Penulis
Tidak semua orang mengalami kesulitan dalam menerbitkan karyanya. Buktinya, dari sekian kawan yang hadir dalam temu kangen Alumni Sekolah Perempuan, beberapa diantaranya telah sukses menelurkan karya bukunya. Bahkan ada yang bisa menerbitkan buku antologi sekitar 200 buku, loh! Keren, kan?

Dalam kenyataannya, usia pun tidak menjadi halangan untuk bisa menelurkan sebuah karya. Kawan saya, seorang dosen yang sudah memiliki cucu pun, bisa menelurkan puluhan buku dalam jangka waktu beberapa tahun saja.

Beliau membagikan rahasia kesuksesannya. Ada satu rahasianya. Konsisten menulis setiap hari. Kebiasaannya menulis setiap hari itu, tersimpan di alam bawah sadarnya. 

Sehingga dia merasa ada yang kurang jika dia belum menulis dalam satu hari. Terasa ada yang hilang, begitu kata beliau. Saya kira, itu merupakan kebiasaan yang patut dicontoh.
 
Pertemuan dengan sesama penulis yang berlangsung di markas Indscript kemarin, semakin memacu semangat kami untuk terus menulis dan menghasilkan karya baru. Apalagi melihat beberapa teman yang produktif, rasanya kami ingin bisa mengikuti jejak mereka. Begitu juga dengan saya, rasanya lebih bersemangat untuk menyelesaikan naskah non fiksi yang sekarang mulai berdebu di file laptop. Doakan saya, agar konsisten dan menyelesaikan naskah itu, ya ... Aamiin.

"Jika kau bukan anak raja, bukan pula ulama terkenal,
maka MENULISLAH." 
(Imam Gozali) 
 
Salam takzim