“Wakaf tidak hanya sebatas 3M, yaitu masjid, madrasah dan makam saja. Penyaluran dana wakaf juga bisa digunakan untuk hal yang sangat produktif. Apa saja hal yang bisa diproduktifkan? Wakaf bisa jadi hal yang produktif seperti lahan perkebunan, sarana pendidikan, unit layanan kesehatan, pasar swalayan, peternakan dan lainnya.”
aset wakaf yang dikelola secara produktif oleh dompet dhuafa

Pengetahuan tentang penyaluran dana tersebut, baru saja saya dapatkan ketika mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa Jawa Barat. Alhamdulillah pemikiran saya jadi tercerahkan. Selama ini saya memang selalu berpikir jika wakaf itu hanya berkisar tentang masjid, madrasah dan makam saja. Ternyata wakaf bisa disalurkan pada hal lain yang bisa sangat produktif, sehingga manfaatnya semakin bernilai tinggi dan tentu saja bisa semakin luas.

Saat menghadiri acara “Wake Up Wakaf” yang diadakan di Kebun Indonesia Berdaya Subang tersebut, saya bersama rekan-rekan dari Blogger Bandung diberikan pengetahuan jika dari segi potensi, wakaf bisa dijadikan sebagai lahan investasi. Selain itu bisa juga diintegrasikan untuk keuangan sosial. Misalnya saja mendirikan sebuah bangunan di atas tanah wakaf yang sumber dananya berasal dari penghimpunan wakaf sukuk.

Kami blogger yang hadir diajak untuk membangkitkan kembali semangat berwakaf masyarakat Indonesia. Selama ini masyarakat masih terjebak dalam beberapa pemikiran mengenai wakaf. Mindset yang pertama, bahwa yang bisa menunaikan wakaf hanyalah orang yang berlimpah harta saja. Mindset kedua, pemikiran masyarakat juga berkisar pada besarnya bilangan wakaf yang harus dikeluarkan. Nah, dari kedua pemikiran tersebut, muncul mindset yang berikutnya untuk menunda wakaf dan lebih memilih untuk menunaikan ibadah yang wajib-wajib saja.

aset wakaf yang dikelola secara produktif oleh dompet dhuafa

Berwakaf Cukup Dengan  Rp. 10.000 Saja

Menurut Bapak Bobby P. Manulang, GM Wakaf Dompet Dhuafa, saat ini Dompet Dhuafa sudah memiliki Gerakan Sejuta Wakif yang berperan menggerakkan semua lapisan masyarakat untuk berwakaf. Hanya dengan Rp. 10.000 saja, setiap orang bisa menunaikan wakaf. Jika dilakukan oleh sejuta orang, uang sebesar Rp. 10.000 tersebut bisa menjadi 10 miliar. Nah, dana sebesar itu tentu bisa digunakan untuk mengelola aset wakaf menjadi lebih produktif lagi, bukan?

Sebenarnya wakaf yang ada di Indonesia masih memiliki kesenjangan antara pertumbuhan aset dengan pertumbuhan wakaf tunai. Banyak aset di negeri ini yang sebenarnya tidak memiliki dana yang cukup untuk biaya pembangunan dan memproduktifkannya. Dan melalui Dompet Dhuafa diharapkan kesenjangan tersebut bisa diatasi.

Memberdayakan Masyarakat dari Dana Wakaf

Selanjutnya kami mendapatkan penjelasan dari Bapak Kamaludin, Manajer Program Ekonomi, mengenai alasan yang melatarbelakangi Dompet Dhuafa mengelola kebun nanas dan buah naga sebagai aset produktif dari wakaf.
Menurut beliau, melihat potensi alam yang ada di Subang, harga nanas yang rendah dan tidak banyak petani nanas yang sejahtera serta tersedianya market pasar, membuat Dompet Dhuafa bergerak memanfaatkan dana wakaf di bidang ekonomi.

Dompet Dhuafa berusaha memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar Subang dengan cara melibatkan masyarakat dalam pengolahan nanas. Pabrik yang didirikan oleh Dompet Dhuafa menerima bahan setengah jadi dari masyarakat. Program Dompet Dhuafa yaitu memberdayakan petani nanas dan ibu-ibu pengupas kulit nanas karena pabrik menerima nanas dalam keadaan bersih serta rumah pengolahan nanas.


Dompet Dhuafa sendiri sudah berdiri sejak tahun 1993 untuk mengembangkan berbagai program berbasis wakaf produktif. Berkhidmat mengangkat harkat sosial masyarakat dhuafa dengan mendayagunakan zakat, infak, sedekah dan wakaf (ZISWAF) serta dana sosial lainnya baik dari individu, kelompok, maupun perusahaan.

Hingga saat ini Dompet Dhuafa telah menjaring pelayanan di 21 provinsi di Indonesia dan 5 layanan di mancanegara yaitu Hongkong, Australia, Jepang, Amerika Serikat dan Korea Selatan. Semua kegiatan tersebut terlaksana berkat dukungan dari lebih 100.000 donatur setia yang secara ekonomi telah mapan, profesional dan berpendidikan.

Di tahun pertama mengumpulkan donasi, telah terkumpul dana sekitar Rp. 80 juta. Hal ini membuat Dompet Dhuafa sebagai organisasi filantropi Islam yang bisa menghimpun dana masyarakat terbesar di Indonesia. Berkat dukungan dan kepercayaan masyarakat yang semakin berkembang, di tahun 2016 Dompet Dhuafa berhasil mengumpulkan dana sampai Rp. 318 milyar rupiah.

Satu hal yang menjadi unggulan Dompet Dhuafa yaitu dana yang terhimpun akan dikelola secara profesional. Dana tersebut tidak hanya disalurkan untuk program karitas semata, tetapi juga untuk program pemberdayaan masyarakat dhuafa agar mereka bisa berdaya. Sehingga surplus wakafnya digunakan untuk mauquf alaihi/penerima manfaat pada program pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sosial umum Dompet Dhuafa.

Lalu bagaimana penyaluran dana wakaf yang terhimpun di Dompet Dhuafa? Jadi dana wakaf yang terhimpun di sana akan dikelola secara produktif meliputi 4 pilar. Adapun 4 pilar yang dimaksud yaitu:

1. Bidang Ekonomi
Dana wakaf yang terkumpul dikelola secara produktif di kampung ternak yang ada di wilayah Kabupaten Bandung, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Sukabumi. Dompet Dhuafa memberikan bantuan modal dan pembinaan kepada peternak lokal di daerah tersebut. Hewan ternak yang berjumlah 175 ekor domba dan kambing tersebut nantinya akan disuplai untuk program Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa.

Dari pengelolaan tersebut berdampak menambah penghasilan peternak sekitar Rp. 500.000 hingga Rp. 700.000 setiap bulannya.

aset wakaf yang dikelola secara produktif oleh dompet dhuafa

Tidak hanya peternak, wakaf yang terhimpun juga dimanfaatkan untuk pendampingan pedagang keliling yang tersebar di Kota Bandung, Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, dan Kota Cimahi.  Masih di bidang ekonomi, wakaf dikelola oleh Dompet Dhuafa untuk bantuan lahan dan sarana prasarana pertanian serta pendampingan intensif bagi petani di Desa Cibodas, Kec. Lembang dan Kab. Bandung Barat.

Tanaman berupa sayuran seperti buncis, selada, timun dan sayuran lainnya akan dijual di supermarket dan sebagian lainnya untuk diekspor. Program yang melibatkan petani sayuran ini baru dimulai pada Bulan Desember 2018 yang lalu. 

2. Bidang Pendidikan
Pengelolaan wakaf di bidang pendidikan diwujudkan melalui sarana pendidikan seperti Bumi Pengembangan Insani, Sekolah Islam Al-Syukro Universal, Sekolah SMART Cibinong, Dompet Dhuafa University, Pesantren Hafidz Village, Khadijah Learning Center dan sarana pendidikan lainnya.

Sarana pendidikan lain yang dikelola dari dana wakaf yaitu Vocational Training  yang memberikan pelatihan kepada pemuda usia produktif. Adapun pelatihan yang telah diadakan yaitu pelatihan Pijat Refleksi, pelatihan Menjahit dan pelatihan Digital Marketing. Pelatihan ini menghasilkan peserta yang trampil dan mampu menambah penghasilan mereka sehari-hari.

3. Bidang Kesehatan
Sedangkan pengelolaan wakaf yang bergerak dalam bidang kesehatan diwujudkan untuk membangun Gerai Sehat Bandung, aksi layanan sehat dan pembangunan beberapa rumah sakit seperti RS. AKA Lampung, RSIA Sayyidah, RS. Mata AW, RS. Griya Medika, RS.Qatar Charity, Klinik Naura, RS. LK Riau dan rumah sakit yang masih dalam tahap pembangunan (RS. Haji Pasuruan dan RS. Hasyim Asyari).

Ada juga Aksi Layanan Sehat yang bergerak melakukan pengecekan kesehatan kepada masyarakat umum dan dhuafa secara gratis. Program ini dilaksanakan pada event-event tertentu baik yang diprakarsai oleh Dompet Dhuafa Jabar maupun hasil kerja sama dengan komunitas/instansi lainnya. Sepanjang tahun 2018, aktivitas ini telah dilaksanakan di Bandung, Garut, Cirebon dan Tasikmalaya.

4. Bidang Sosial
Di Bidang sosial, wakaf yang ada di Dompet Dhuafa dikelola dalam bentuk aksi kemanusiaan, kegiatan dakwah serta gerakan cepat tanggap bencana yang terjadi di Jawa Barat, dalam negeri dan luar negeri.

Beberapa sektor lainnya juga banyak dikembangkan oleh Dompet Dhuafa merupakan bangunan atas tanah wakaf dengan biaya dari wakaf uang.

Bagaimana cara berwakaf di Dompet Dhuafa? Apakah harus langsung di kantor Dompet Dhuafa atau bisa secara online? Alhamdulillah kini teknologi bisa membantu kita melakukan ibadah wakaf. Melalui website www. bawaberkah.com maka kita bisa langsung berwakaf dengan mudah dan praktis.

Berikut ini skema cara berdonasi wakaf di Dompet Dhuafa:

Setelah mendengarkan pemaparan program wakaf produktif Dompet Dhuafa dan pengenalan Kebun Indonesia Berdaya Subang, kami Blogger Bandung yang hadir diajak untuk melihat langsung aset produktif yang dikelola oleh Dompet Dhuafa.

Kami berkeliling menuju kebun buah naga dan nanas didampingi oleh salah satu perwakilan dari Dompet Dhuafa.  Dari pemaparan beliau saya jadi tahu perbedaan antara pohon buah naga berwarna putih dan yang berwarna merah.

Tidak hanya pohon buah naga, di lahan tersebut juga ditanam tumbuhan nanas. Saya lihat ada beberapa buah nanas yang masih muda dan berwarna hijau. Sayangnya tidak ada pohon buah naga yang berbuah. Padahal ingin rasanya bisa memetik langsung buah naga dari pohonnya. Pasti segar sekali rasanya, bukan?

Saat berkeliling saya juga melihat ada beberapa lahan kosong dengan beberapa tonggak beton. Sepertinya lahan tersebut dipersiapkan untuk tanaman buah naga.

aset wakaf yang dikelola secara produktif oleh dompet dhuafa

Ketika melewati sebuah lahan yang masih kosong, di sana saya melihat ada plang bertuliskan "Blok D : Buah Naga Putih dan Pepaya Kalina". Oh ... saya jadi tau, kalau aset wakaf produktif yang dikelola Dompet Dhuafa tidak hanya kebun buah naga dan nanas saja. Ada pepaya kalina, juga, loh!

Setelah mendapat penjelasan mengenai pengelolaan lahan kebun, saya dan teman-teman dari Blogger Bandung diajak melihat peternakan kambing. Peternakan ini juga merupakan aset produktif yang berasal dari wakaf yang terhimpun di Dompet Dhuafa.

Di peternakan tersebut terdapat dua kandang kambing yang besar dengan banyak kambing di dalamnya. Kandang yang berada di bagian depan merupakan kandang pembibitan. Di bagian belakangnya terdapat kandang penggemukan.

Di peternakan tersebut saya juga sempat melihat beberapa pekerja yang sedang mengolah pakan untuk kambing. Mereka sedang mengaduk bahan-bahan pakan seperti rumput, pelepah pisang, ampas tahu dan vitamin menjadi satu. Pakan tersebut bisa memenuhi persediaan makanan untuk ternak selama 3 hari. Sehingga para peternak tidak perlu pergi mencari rumput lagi. Praktis, ya!

Tidak hanya melihat lahan perkebunan dan peternakan kambing, kami juga diajak untuk melihat aset wakaf produktif lainnya. Kami diajak melihat Rumah Industri Pengolahan Nanas yang disebut RISIN.
aset wakaf yang dikelola secara produktif oleh dompet dhuafa

Rumah industri ini didirikan dari dana wakaf juga, loh! Dari lahannya, pembangunan gedung dan alat industrinya semua berasal dari dana wakaf. Gedung RISIN tersebut sebenarnya belum selesai dibangun. Rencananya akan diselesaikan hingga akhir tahun 2019.

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, pengelolaan aset yang berasal dari wakaf ini tetap melibatkan masyarakat sekitar. Sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan bagi mereka.

Bagaimana caranya Dompet Dhuafa membuat masyarakat terlibat dalam kegiatan tersebut? Nantinya dalam menyediakan bahan dasar, RISIN mengambil nanas segar yang sudah bersih. Yang bertugas membersihkan nanas dari kulitnya yaitu ibu-ibu yang ada di sekitar rumah industri. Dengan demikian, Dompet Dhuafa bisa menciptakan lapangan pekerjaan sehingga ibu-ibu tersebut  bisa mendapatkan penghasilan tambahan.

aset wakaf yang dikelola secara produktif oleh dompet dhuafa

Setelah seharian berkeliling di Kebun Indonesia Berdaya Subang dan Rumah Industri Pengolahan Nanas, saya bisa melihat bukti nyata hasil pengelolaan dana wakaf oleh Dompet Dhuafa. Semua wakaf yang terkumpul benar-benar dikelola secara produktif.

Tidak hanya memperkenalkan aset wakaf yang dikelola secara produktif kepada Blogger Bandung, Dompet Dhuafa juga menggandeng ulama dan mufti Indonesia untuk menyosialisasikan tentang wakaf kepada masyarakat. Memberi edukasi tentang wakaf, hukumnya, bentuknya hingga manfaatnya bagi wakif maupun maukuf alaih.

Semoga kolaborasi yang terjalin tersebut, bisa menggugah kesadaran masyarakat tentang wakaf dan terbangunnya ekosistem wakaf yang produktif. Aamiin Ya Rabbal'alaamiin

               Salam takzim