Sebenarnya wajar saja, jika kakak dan adik sering bertengkar. Bisa dipastikan hampir setiap kakak dan adik pernah bertengkar. Meskipun memiliki umur yang cukup jauh dan memiliki jenis kelamin yang tidak sama. Hal ini juga terjadi di keluarga saya. Usia kedua anak saya terpaut cukup jauh yaitu 5 tahun. Mereka memiliki jenis kelamin berbeda. Namun hingga besar, mereka tetap masih suka bertengkar. Bagaimana kita selaku orang tua menyikapi hal tersebut?

adik-kakak-bertengkar
Ketika masih kecil, anak-anak belum mengerti bagaimana caranya menyelesaikan masalah.

Seperti diungkapkan sebelumnya, hampir tidak ada kakak adik yang tidak pernah berantem. Ada yang itensitasnya tinggi tetapi ada juga yang jarang berantem atau ada juga yang hanya sekedar berselisih paham saja. Oh iya, katanya yang menentukan sering tidaknya adik kakak bertengkar ini, terutama adalah orang tuanya sendiri, loh!

Pertengkaran adik kakak di sebuah keluarga besar kemungkinan dipengaruhi dari kehidupan orang tuanya. Jika orang tua hidup dalam suasana serba "panas" maka besar kemungkinan pertengkaran adik kakak akan sering muncul. Sebaliknya jika suasana dalam keluarga kondusif dan selalu demokrasi dalam membahas sesuatu masalah, biasanya pertengkaran antara adik dan kakak akan lebih jarang muncul.

Perseteruan yang muncul lebih disebabkan karena belum berkembangnya kemampuan bersosialisasi pada anak. Contohnya anak kurang memahami perasaan orang lain, bagaimana sikap mengalah atau cara berkompromi dengan saudaranya atau orang lain. Ketika social skill anak belum terasah, dia akan memiliki angggapan jika semua masalah hanya bisa diselesaikan dengan cara bertengkar.

Itulah alasan yang perlu diperhatikan oleh orang tua, untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasi buah hati. Orang tua bertugas untuk mengajarkan atau mengasah social skill anak dengan membuka wawasan pada anak bahwa ada banyak pilihan alternatif dalam menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, seiring pertambahan usia anak, pertengkaran akan berkurang dan mereda dengan sendirinya. 

Serupa dengan yang terjadi di keluarga saya, ketika anak-anak masih kecil, hampir setiap hari mereka bertengkar. Sejak pagi hari saat bangun tidur hingga malam menjelang mereka hendak tidur. Hak yang diributkan sebenarnya hal yang sepele. Wait ... wait ... sepelee? Nah, itu anggapan kita yang sudah jadi orang tua. Belum tentu sepemahaman dengan anak, bukan?

Keriuhan di pagi hari yang kerap terjadi ketika anak-anak masih kecil yaitu saat mereka hendak mandi pagi. Kedua anak saya berebutan ingin mandi terlebih dahulu. Ujung-ujungnya mereka ribut di depan kamar mandi. Selalu ramai menjelang waktunya mandi.

Seiring dengan waktu, mereka mulai bisa mengatur waktu dan situasi. Muncul kesepakatan di antara keduanya. Yang pertama bangun, dialah yang berhak untuk mandi duluan. Atau jika salah satu dari mereka memiliki alasan penting untuk mandi duluan, saudaranya akan mengalah untuk mandi belakangan.

Peran Orang Tua Melerai Adik Kakak Bertengkar

Semua orang tentunya tidak akan merasa nyaman jika di dalam keluarganya selalu ribut, ada yang bertengkar. Adik kakak bertengkar melulu, bisa membuat anggota keluarga yang lain merasa kurang nyaman. Bahkan bisa saja mengganggu produktivitas di dalam keluarga. Jadi, adik kakak bertengkar itu, tetap harus diatasi, dong! Setuju?

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk melerai adik kakak yang bersiteru. Namun sebelumnya sebagai orang tua, kita juga mesti intropeksi diri dulu. Jangan-jangan justru sikap orang tua yang menjadi faktor pemicu pertengkaran adik dan kakak. Misalnya saja orang tua suka menyalahkan orang lain termasuk pada pasangannya sendiri. Kebiasaan menyalahkan orang lain itulah yang bisa ditiru oleh anak-anak. Meski kebiasaan tersebut dilakukan tanpa sengaja.


Anak memang memiliki kecenderungan untuk selalu meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Termasuk kebiasaan orang tuanya. Setiap kali bertengkar, anak jadi suka menyalahkan orang lain. 

Ketika adik kakak bertengkar, orang tua hendaknya menjadi penengah yang adil dan bijaksana. Seperti dalam beberapa bacaan yang pernah saya pelajari, ada yang perlu dilakukan orang tua, yaitu:

  • Minta anak-anak untuk duduk tenang. Beri anak kesempatan untuk meredakan emosinya. Lalu kemudian tanyakan pada anak-anak, apa yang terjadi dan alasan yang menyebabkan mereka bertengkar.
  • Beri kesempatan pada anak untuk memutuskan siapa yang hendak berbicara duluan. Sebaiknya tidak meminta kakak yang duluan berbicara, nanti adik akan merasa "mentang-mentang dia kakak, dia yang harus duluan" atau sebaliknya. Si kecil merasa yang harus mengalah.
  • Arahkan anak untuk menjadi pendengar yang baik. Hindari kebiasaan memotong pembicaraan orang lain. Jangan izinkan kakak memotong pembicaraan adik, begitu juga sebaliknya.
  • Selain mengajari agar anak tidak memotong pembicaraan pihak lain, orang tua juga tidak boleh memotong pembicaraan anak-anaknya. Lebih baik ingatkan mereka dengan suara lembut, supaya anak-anak juga bisa menjaga volume dan nada suaranya setip kali mulai melibatkan emosi.
  • Bantu anak untuk memperhatikan dan mencatat setiap pokok-pokok pertengkaran sehingga mereka tidak saling menyalahkan.
  • Minta anak belajar mengungkapkan perasaannya atau mencatat setiap hal yang bisa jadi pemicu pertengkaran agar mereka tidak saling menyalahkan.
  • Setelahnya, minta adik kakak untuk mengemukakan apa saja yang mereka inginkan. Hal tersebut bisa membantu mereka memecahkan masalah.
  • Dorong anak untuk memilih pemecahan yang terbaik bagi mereka. Lakukan dengan cara berkompromi.
  • Bila sudah mencapai kata sepakat, bantu anak untuk bisa saling memaafkan dengan jiwa besar, biarkan mereka melakukannya secara spontan.

Pada dasarnya setiap individu termasuk anak-anak memiliki kebutuhan untuk mendapat kekuasaan. Sebentar ... sebentar, tapi bukan kekuasaan yang sesungguhnya yak :) Kekuasaan di sini artinya lebih ingin memperlihatkan posisinya sebagai kakak, berlindung sebagai di balik usianya yang lebih tua. 

Selain itu, anak juga butuh perhatian orang tua. Mereka akan berusaha untuk mendapatkan perhatian orang tua meski harus dilakukan melalui pertengkaran. Ada beberapa anak yang berusaha keras mendapatkan perhatian dengan membuat keonaran berharap mendapat perhatian dari orang tuanya. Mereka hendak menunjukkan, melalui pertengkaran adik kakak, orang tua menyadari kehadiran anak-anaknya di rumah. Bukan malah sibuk dengan pekerjaan rumah.

Semakin besar, anak-anak mengerti bagaimana menyelesaikan suatu masalah.

Meski bagaimanapun, pertengkaran adik kakak masih dianggap wajar selama tidak membahayakan. Dianggap wajar karena merupakan proses bersosialisasi di antara mereka. Bimbing anak untuk sama-sama belajar bersosialisasi, mengerti keadaan orang lain, belajar menghargai dan dari pihak orang tua juga mesti terus melakukan intropeksi agar bisa menjadi contoh yang baik bagi anak mereka.

Lalu bagaimana dengan ayah bunda semua, apakah anak-anak juga sering bertengkar?

                 Salam takzim