Kewajiban saya sebagai orang tua adalah memenuhi semua kebutuhan anak. Baik berupa kebutuhan secara fisik maupun kebutuhan psikis anak. Dengan terpenuhinya semua kebutuhan anak, saya yakin tumbuh kembang anak akan maksimal. Sebagian besar orang tua paham betul kebutuhan fisik anak yang harus dipenuhi. Namun, untuk kebutuhan psikisnya terkadang terlewatkan karena terlalu sibuk fokus dengan kebutuhan fisiknya.
penuhi kebutuhan psikis anak dengan mengisi tangki cintanya


Inilah Akibatnya Jika Kebutuhan Psikis Anak Tidak Terpenuhi

Berbicara tentang perkembangan psikis anak, setiap orang tua seharusnya bisa pemenuhan kebutuhan psikis anak yang utama seperti mengisi tangki cinta anak. 

Tangki cinta sendiri merupakan metafora yang akan digunakan untuk memperjelas makna cinta dan manfaatnya untuk menciptakan keluarga yang harmonis (The Winning Children- 2014:41)
Ibarat kendaraan yang memiliki tangki untuk bahan bakar, tangki cinta pada anak yang terisi penuh akan membuat anak merasa bahagia dan mampu melakukan segala aktivitasnya dengan baik. Bahkan bisa menciptakan anak yang berprestasi.

Selain itu, tangki cinta juga bisa mengalami kebocoran. Apaa ... bocor? Bagaimana bisa? Tentu saja bisa. Tangki cinta itu memiliki sifat yang mudah sekali bocor, loh! Saat kita memarahi anak, memperlakukannya dengan tidak sopan, atau memberikan kata-kata yang menjatuhkan semangat, dapat membuat tangki cintanya mudah habis. Jika tangki cintanya habis, siap-siap saja menghadapi perilaku yang tidak menyenangkan dari anak, deh!

Tangki cinta pada anak, memiliki dua wadah. Wadah yang harus diisi oleh ayah dan ibunya. Yang menjadi kewajiban ayah dalam mengasuh anak tidak bisa diwakilkan oleh ibu, begitu juga sebaliknya. Kesimpulannya, ayah dan ibu harus kompak menjalankan tugas dan kewajibannya masing-masing untuk membuat anak bahagia.
penuhi kebutuhan psikis anak dengan mengisi tangki cintanya

Anak yang tangki cintanya terpenuhi bisa dilihat dari tingkah lakunya sehari-hari. Dengan pemenuhan cinta yang maksimal anak akan terlihat:
  • merasa bahagia dan terlihat semangat dalam perilaku kesehariannya.
  • mudah untuk diajak kerja sama, seperti mengerjakan tugas  dan kewajibannya di rumah
  • anak mudah diarahkan untuk mencapai potensi dirinya
Lalu bagaimana jika tangki cinta seorang anak kosong karena bocor? Perilaku anak yang sudah bocor tangki cintanya akan menunjukkan perilaku yang tidak baik, diantaranya:

1. Rewel dan menjengkelkan
Perilaku  anak yang menjengkelkan dan sering rewel menunjukkan jika dia butuh perhatian. Anak ingin tangki cintanya diisi oleh orang tuanya. Untuk mengungkapkan keinginan untuk diperhatikan dan merasa dicintai, anak tidak memiliki kosa kata yang baik.
Berbeda dengan orang dewasa yang sudah bisa mengungkapkan keinginannya dengan ungkapan kata-kata yang baik dan pantas. Anak seringkali mengikuti dorongan perasaannya saja. 

Jika anak merasa nyaman, dia akan menunjukkan sikap yang manis dan menyenangkan. Berbeda ketika dia butuh perhatian dan cinta dari orang tuanya, dia akan berperilaku menjengkelkan dan rewel. Setelah tangki cintanya penuh, biasanya anak akan mudah untuk diajak kerja sama.

2. Merasa tidak diterima
Perasaan tidak diterima biasanya muncul karena tidak mendapatkan perhatian, meskipun dia sudah memintanya. Jika kejadian ini berlangsung terus menerus maka akan berakibat fatal.

Saya pernah melihat anak yang sedang rewel dan dibiarkan begitu saja oleh orang tuanya. Mungkin harapan orang tua tersebut, si anak akan mengakhiri perbuatannya ketika tidak mendapatkan perhatian. Orang tua berharap anak akan diam dan masalah pun selesai. Namun ternyata sikap seperti itu memunculkan perasaan merasa tidak diterima pada diri anak, loh! Tidak menyelesaikan masalah, bukan?

3. Memendam amarah di dalam hati
Ketika perasaan merasa tidak diterima berlanjut, apa yang akan terjadi? Jika perasaan tersebut dibiarkan, akan memantik kemarahan dalam diri anak. Anak akan merasa jengkel pada dirinya sendiri karena merasa tidak mampu untuk menarik perhatian orang tuanya.

Rasa jengkel yang dialami oleh seorang anak dapat berpengaruh pada pembentukan harga dirinya yang rendah. Hal ini bisa berpengaruh pada prestasi anak dan mengganggu sosialisasi pergaulannya.

Anak yang memiliki harga diri rendah cenderung mencari perhatian orang tuanya dengan cara yang tidak baik. Pada tahap ini, semestinya orang tua sudah mengerti apa yang dibutuhkan oleh anaknya. Saat anak membutuhkan perhatian, cepat beri tanggapan dengan memenuhi kebutuhannya. Sedikit demi sedikit sikap anak akan berubah menjadi lebih baik lagi.

4. Tidak mau menuruti perkataan orang tuanya
Anak yang tidak menuruti perkataan orang tuanya menunjukkan jika dia butuh perhatian dari kedua orang tuanya. Jika seorang anak berada dalam keadaan yang penuh cinta, orang tua menerapkan disiplin sekeras apapun akan ditanggapi oleh dia dengan positif.
Oleh karena itu, jika ingin menerapkan disiplin pada anak semestinya orang tua memberikan kasih sayang pada anak dan selalu memberikan kata-kata positif pada mereka. Kata-kata positif yang diberikan oleh orang tua dapat membuat mental anak lebih baik lagi, seperti yang tersebut dalam tulisan Mbak Dian Restu Agustina tentang Dampak Kata-kata Positif untuk Anak.

5. Anak tak berani mengambil keputusan dan merasa takut gagal
Perasaan takut mengambil keputusan dan takut gagal merupakan bentuk dari harga diri yang tak berharga. Merasa tidak berharga, juga merupakan akibat dari harga diri yang rendah. Perasaan rendah diri ini terbentuk dari proses kemarahan diri yang tidak mampu menarik perhatian orang tuanya.

Gejala-gejala perilaku yang tidak menyenangkan dari anak tersebut, merupakan tanda jika kebutuhan psikisnya tidak terpenuhi dengan baik. Anak butuh perhatian dan kasih sayang yang berlimpah dari orang tuanya untuk menunjang perkembangan psikis anak yang maksimal.

Penuhi Kebutuhan Psikis Anak dengan 5 Bahasa Cinta

Untuk memenuhi kebutuhan psikis anak, kita bisa memberikannya bahasa cinta baik yang diberikan oleh ayah ataupun ibunya. Seperti yang kita ketahui, kewajiban ayah tidak bisa diwakilkan, bukan? Begitu juga dengan kewajiban ibu. Keduanya harus kompak memberikan cinta pada anak. Ada 5 macam bahasa cinta yang bisa kita berikan pada anak.


1. Kata-kata yang Mendukung
Kata-kata yang kita ucapkan diibaratkan sebuah pisau bermata dua. Di satu sisi, bisa membantu tetapi di sisi lain bisa mencelakakan kita. Melalui kata-kata kita bisa membuat seorang anak merasa dicintai, atau bisa juga membuat mereka merasa dibenci dan diabaikan.
Untuk memenuhi tangki cinta anak, orang tua bisa memberikan kata-kata pendukung yang meliputi kata-kata yang penuh kasih sayang, kata pujian yang tepat dan mendukung, kata-kata dorongan yang membesarkan hati anak, dan kata-kata yang dapat membimbing anak.

2. Memberikan Hadiah
Orang tua perlu mengajarkan pada anak untuk menghargai semua hadiah sebagai ungkapan kasih sayang, bukan menilai dari murah atau mahalnya hadiah tersebut. Pemberian hadiah bisa memiliki makna ungkapan cinta yang tulus dari sang pemberi. 

Namun orang tua juga perlu bersikap hati-hati ketika memberikan hadiah pada anaknya. Jangan sampai pemberian hadiah tersebut berpotensi merusak anak. Pemberian bagaimana yang dapat merusak anak? Pemberian akan berdampak tidak baik, ketika orang tua ingin menyelesaikan sebuah masalah, mengambil jalan pintas dengan memberikan hadiah pada anak.

Contoh kasus yang bisa dikaitkan dengan penyalahgunaan pemberian hadiah pada anak seperti:
  • Ketika anak mau melakukan hal yang diperintahkan oleh orang tua, diberikanlah hadiah sebagai imbalannya
  • Memberikan hadiah dengan mudah, tanpa melihat apakah anak membutuhkan barang tersebut ataukah memiliki dampak positif pada perkembangan anak?
  • Menghadiahi anak terlalu sering sehingga anak kurang memaknai pemberian dari orang tuanya tersebut.
  • Memberikan hadiah yang berlebihan sebagai kompensasi ketidakhadiran orang tua bersama anak.
3. Melayani dengan Ikhlas
Orang tua yang memberikan pelayanan pada anaknya, perlu menanamkan pada diri, bahwa pelayanan tersebut merupakan ungkapan tanda cinta. Melayani anak pada hal-hal yang benar-benar belum mampu dilakukan sendiri oleh anak. 

Jangan sampai kita melayani anak karena menganggap anak tidak akan mampu. Atau melayani untuk menebus rasa bersalah karena tidak bisa meluangkan cukup waktu dengan anak. Hindari pula melayani anak karena ingin pekerjaan cepat selesai, karena jika anak yang mengerjakan sendiri akan memerlukan waktu yang lama.

Jadi ... ketika melayani anak, semestinya orang tua membantu anak melakukan segala sesuatu yang ia belum mampu melakukannya. Orang tua memberikan contoh dengan melayani anak hingga dia mampu, kemudian mengajari agar dia bisa melayani dirinya sendiri. 

4. Memberikan Sentuhan Fisik 
Pada umumnya sentuhan fisik diberikan pada anak-anak yang masih berusia balita. Mereka kerap mendapatkan sentuhan berlimpah seperti dicium, dipeluk dan digendong. Semakin mereka besar, biasanya sentuhan fisik dari orang tua mulai berkurang. Terutama bagi orang tua yang bahasa cintanya bukan sentuhan fisik, pastinya akan merasa risih melakukan sentuhan pada anaknya.
Lalu bagaimana jika anak-anak sudah besar? Tentunya mereka akan merasa risih jika dipeluk atau dicium orang tuanya terutama di muka umum, bukan?
Well ... untuk anak yang sudah besar, sentuhan fisik pada anak laki-laki bisa dilakukan dengan mengelus rambutnya, berpelukan kasar, bergulat, saling tos atau melakukan permainan seperti basket, sepak bola dan permainan lainnya.

Sedangkan untuk anak perempuan bisa dilakukan ibu dengan cara membelai lembut pundak anaknya yang sedang jengkel sepulang dari sekolah. Atau pijatan di kaki anak lelaki yang dilakukan oleh ayahnya seusai anak melakukan latihan basket.

5. Waktu yang Berkualitas
Yang dimaksud dengan waktu berkualitas yaitu saat orang tua memberikan perhatian pada anak tanpa terpecah oleh kegiatan lain. Saat anak masih bayi, orang tua akan fokus memperhatikan anaknya saat menyusui atau memandikan. Berbeda ketika anak-anak sudah semakin besar. Dibutuhkan pengorbanan yang besar dari orang tua untuk memberikan waktu yang berkualitas pada anak.

Terkadang orang tua mengira lebih mudah memberikan hadiah dan sentuhan fisik daripada meluangkan waktunya. Namun, jika anak lebih menginginkan waktu bersama orang tua, tentu saja tidak bisa kita hindari, bukan?

Untuk mendapatkan perhatian dan banyak waktu dari orang tuanya anak kerap berperilaku yang dianggap "nakal" oleh orang tua. Padahal itu hanya ungkapan anak agar bisa mendapatkan perhatian dari orang tuanya.
penuhi kebutuhan psikis anak dengan mengisi tangki cintanya

Kebutuhan psikis anak dapat terpenuhi dengan waktu yang berkualitas bersama orang tua. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk menciptakan waktu yang berkualitas yaitu saat membacakan dongeng, berbincang sebelum tidur, kegiatan berdua bersama anak seperti makan bersama, berkemah bersama atau sekedar mencuci kendaraan bersama. Kebersamaan tersebut akan lebih berkualitas dengan melakukan komunikasi yang positif antara orang tua dan anak.

Kelima bahasa cinta tersebut berpengaruh penting pada perkembangan psikis anak. Limpahan kasih sayang diberikan orang tua tentu bisa membuat tangki cinta anak menjadi penuh, sehingga menciptakan anak yang selalu terlihat bahagia dan berprestasi.

Bagaimana dengan teman-teman? Tentu sudah memenuhi kebutuhan psikis anak-anaknya, bukan? Bertukar pikiran, yuk!
              Salam takzim

Postingan ini dibuat untuk menanggapi trigger dari collab Pasukan Blogger JA kelompok 1 oleh dianrestuagustina,com.  Tanggapan lain juga ditulis oleh damaraisyah.com dan meirida.my.id