Mengejar sunrise di puncak bukit merupakan salah satu tujuan kami saat berwisata ke Bukit Moko. Setelah malam sebelumnya kami kemping di Puncak Bintang. Kami memilih menginap di atas bukit agar bisa melihat sunrise dari dataran tinggi Kota Bandung.
mengejar sunrise di patahan lembang bukit moko


Setelah malam sebelumnya kami berjalan-jalan di sekitar Bukit Moko, melihat bintang besar yang terlihat bersinar di atas bukit dan melihat city light yang menghiasi Kota Bandung, kami pergi tidur dalam tenda mempersiapkan diri untuk bangun lebih dini lagi.
Rencana kami sudah matang, setelah sholat subuh kami akan pergi menuju Puncak Bintang agar bisa melihat sunrise.

Keesokan harinya, alhamdulillah kami bangun tepat waktu. Saat adzan Subuh samar-samar terdengar dari arah pemukiman warga yang ada di kaki bukit, kami bersiap menunaikan kewajiban kami.

Usai sholat kami pun bersiap untuk melihat sunrise dari Puncak Bintang. Sudah terbayang dalam angan kami, betapa indahnya matahari terbit, dengan semburat jingga yang menghiasi langit, di antara pohon pinus yang tinggi menjulang.

Ketika melewati pos penjagaan, kami melihat dua orang bapak petugas sedang bersih-bersih di sekitar pos tempat pembelian tiket masuk itu. Sembari menyapa petugas, saya pun menanyakan tempat terbaik di Bukit Moko untuk menyapa matahari pagi hari.

Dengan ramah bapak petugas itu menunjuk ke arah kiri kami sambil menyebutkan nama tempat itu, Patahan Lembang. Sejenak kami tertegun. Loh, jadi untuk melihat sunrise bukan dari Puncak Bintang, toh?? Berarti perkiraan kami semalam, salah besar, guys wkwkwk...!

"Terus aja jalan luruus..! Nanti ada pertigaan, ambil jalan ke kiri. Jalan teruuus aja! Nanti dari atas bukit di dekat Patahan Lembang bisa terlihat sunrise dengan jelas. Jalan aja, sudah ada tanda menuju ke patahan," kata bapak tadi sambil tersenyum.
mengejar sunrise di patahan lembang bukit moko

Bergegas kami mengikuti arah yang ditunjuk oleh petugas. Sekitar 200 meter pertama, jalannya bagus, tertata paving blok dengan rapi. Sampai pertigaan, kami melihat papan arah. Dan benar saja, Patahan Lembang berada di sebelah kiri.

Namun ada satu rambu yang membuat kami tercekat. Di bawah tulisan Patahan Lembang tertulis angka yang mendadak jadi semakin jelas di suasana pagi yang masih sedikit gelap. 2 Km.

Haaah! Patahan Lembang masih 2 km lagi? Bukan masalah jaraknya. Namun waktu tempuh yang akan kami lalui. Dengan jalanan mendaki dan berbelok, mampukah kami mencapai Patahan Lembang untuk menikmati indahnya sunrise?

Padahal sebelumnya kami mengira akan melihat sunrise di Puncak Bintang. Dataran tertinggi di tempat berkemah yang bisa kami capai selambat-lambatnya 15 menit saja. Kini kami harus menempuh 2 km menuju patahan. Keraguan mulai menyusup di pikiran kami.

Rambu yang menunjukkan angka jarak tempuh, perlahan mulai mengecil. 1,4 km, lalu 1,2 km dan ketika kami sudah menyusuri 1 km perjalanan, sekitar Bukit Moko terlihat semakin jelas. Matahari semakin tinggi. Kami bisa melihat pohon-pohon kopi berjejer rapi di sepanjang jalan.

Semakin lama berjalan, melintasi jalanan mendaki, membuat paha dan betis belakang terasa pegal. Langkah saya mulai melambat. Anak-anak terlihat santai tanpa ada keluhan. Namun mereka memilih jalan perlahan mengimbangi langkah saya.

Kondisi seperti itu, mengingatkan saya kembali saat kami mendaki Gunung Ciremai. Anak-anak tetap berada di samping saya sambil terus menyemangati. Di sini saya merasa semakin tuiir hahaha...!!

Menyadari langit yang semakin terang, saya pun meminta suami untuk bergegas menuju atas bukit di Patahan Lembang. Jika mengikuti langkah saya, kami semua tidak akan bisa di melihat sunrise, gagal mengabadikan matahari terbit dengan kamera yang sengaja kami bawa.

Setelah meyakinkan anak-anak tetap bersama dengan saya, suami pun bergegas menuju Patahan Lembang. Saya dan anak-anak berjalan perlahan sambil menikmati udara segar yang melimpah di hutan pinus itu.

Sekitar 1,5 jam perjalanan, kami melihat kepala rumah tangga kami sedang asyik mengambil gambar dari sela pepohonan. Objek yang diambil pemandangan lembah bukit yang tertutupi oleh awan. Pemandangan yang indah. Kami berada di atas awan.
mengejar sunrise di patahan lembang bukit moko

Lokasi tersebut tepat 200 meter menuju Patahan Lembang. Sekilas kami lihat orang di atas bukit yang tampak sekecil jari kelingking. Di sekitarnya masih terlihat sisa semburat jingga matahari pagi. Kontur jalan menuju ke atas bukit terlihat mendaki.  Meskipun hanya 200 meter lagi, sepertinya waktu tempuh tidak akan sebentar. Sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 7.00.

Kami sadar, perjalanan mengejar sunrise kali ini, gagal. Matahari sudah semakin tinggi. Oleh karenanya kami memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan. Ayahnya anak-anak mengusulkan agar kami kembali ke tempat berkemah. Di sana kami bisa menikmati pemandangan yang tidak kalah indahnya.

Yup, meski kami gagal melihat sunrise, kami bisa menikmari keindahan sinar matahari yang masuk di antara celah pepohonan. Kabut yang menyelimuti bukit, membentuk garis tegas sinar matahari pagi.
mengejar sunrise di patahan lembang bukit moko

Kapok mengejar sunrise di Patahan Lembang Bukit Moko? Enggak lah! Kami justru belajar dari pengalaman kami yang gagal mengejar sunrise. Next time, kami akan berangkat lebih pagi lagi untuk menuju Patahan Lembang. Agar kami bisa menikmati indahnya sunrise di Bukit Moko.

Jadi jika teman-teman ingin melihat matahari terbit di Bukit Moko, langsung aja menuju Patahan Lembang ya ...  jangan ke Puncak Bintang. Dari lokasi Puncak Bintang mungkin bisa lihat matahari terbit, tapi tentunya tidak seindah sunrise di Patahan Lembang.

mengejar sunrise di patahan lembang bukit moko

Well, setelah sebelumnya saya menulis kisah kami saat berkemah di Bukit Moko, dan sekarang cerita tentang kegagalan kami mengejar sunrise, nantikan cerita saya selanjutnya saat kami menemukan kopi hasil kebun di sekitar Bukit Moko, ya...

         Salam takzim