Ungkapan milenial kini seolah menjadi magnet untuk semua industri. Mulai industri fashion, barang elektronik, industri kreatif hingga rumah makan. Semua pelaku industri beramai-ramai menciptakan produk yang cocok dan disukai oleh generasi milenial. Generasi yang juga dikenal sebagai generasi Y termasuk kategori usia produktif yang haus pengalaman.

Kaum milenial identik dengan mereka yang bebas tidak terikat, suka berbagi, pekerja keras, melek teknologi dan kecanduan internet, serta komsumtif. Sayangnya generasi milenial juga identik sebagai golongan yang kurang beruntung. Kenapa? Mereka tidak beruntung dalam masalah ekonomi.
Diakui atau tidak, negara kita sedang menghadapi masalah pengangguran yang serius, krisis ekonomi yang berkepanjangan serta harga properti yang semakin tinggi.

Tempat makan ala milenial di bandung

Alih-alih memikirkan solusinya, generasi milenial malah terjebak dalam gaya hidup konsumtif dan haus dengan pengalaman. Mereka rela mengocek dompet lebih dalam untuk gaya hidup dan mengejar pengalaman.

Salah satu kebiasaan yang sering terlihat, saat mereka senang kumpul-kumpul bersama teman di tempat asyik dan menyediakan makanan yang cocok dengan selera mereka.

Berbicara tentang tempat makan yang disukai generasi milenial, baru-baru ini saya menemukan sebuah rumah makan yang cukup familiar bagi milenial di Kota Bandung. Saya sendiri kurang tahu tempat tersebut alias kudet (kurang update).  Hehehe ...
Sungguh saya tidak menyangka ada rumah makan yang begitu nge-hits untuk kalangan milenial di tempat yang jauh dari kata menarik. Benar-benar di luar dugaan saya.

Penemuan itu bermula ketika saya beserta teman-teman penulis usai menghadiri ujian sertifikasi penulis nonfiksi. Usai menghadapi ketegangan saat mengikuti ujian, menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari asesor dan mengerjakan soal tertulis, kami sepakat untuk bersantai ria sambil ngobrol bareng dan makan siang. Makan siang kesorean, tepatnya. 😂

Awalnya kami bingung hendak makan di mana? Soalnya kami tidak memiliki waktu yang cukup. Hari sudah menjelang sore dan salah satu dari kami harus segera pulang ke Tasikmalaya menggunakan kereta api. As you know, tidak boleh terlambat kalau sudah pesan tiket kereta api, ya, kan?

Akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat makan di sekitar stasiun kereta api. Salah satu teman merekomendasikan sebuah rumah makan padang yang konon terkenal kelezatannya. Karena tidak ada usulan lain (lebih tepatnya bingung, karena kejar-kejaran dengan waktu dan perut keroncongan), akhirnya disepakati  untuk makan di rumah makan padang yang ada di sekitar stasiun kereta api Bandung.

Perlahan mobil yang dikendarai teman saya memasuki kawasan stasiun yang terlihat kumuh. Jalanan rusak yang hanya cukup untuk satu mobil, kami lalui dengan perasaan was-was. Di pinggir jalan sempit itu terlihat beberapa warung yang tutup. Hanya sebagian kecil yang buka. 

Suasana semakin mencekam saat kami lihat beberapa laki-laki yang bisa dikatakan mirip preman duduk-duduk di sudut belakang stasiun itu. Ada keraguan untuk memakirkan mobil di kawasan itu.

Salah  seorang teman, sampai berulang kali menanyakan kebenaran tempat makan yang hendak kami tuju. Sudut lain Kota Bandung yang kumuh dan terlihat cadas kini berada di hadapan kami. Lucu kalau diingat kembali. Bagaimana lima orang emak-emak yang mendadak ciut melihat kondisi di sana. Hanya satu orang saja yang terlihat santai. Iyess .... tentu saja, emak yang memberi rekomendasi.

Bagaimana mungkin kami akan makan di tempat seperti itu? Hingga tiba di lokasi tujuan, tidak satu pun dari kami yang protes. Turun dari mobil dan berjalan berdekatan, kami menuju tempat makan yang di maksud.
Tempat makan favorit milenial Bandung
Gambar milik Bunda Hani Widiatmoko
 
Dari luar tempat makan itu terlihat ramai. Kursi yang terletak di luar rumah makan itu, penuh dengan anak-anak muda yang sedang menikmati makanan khas minang tersebut. Beriringan kami masuk ke dalam warung nasi padang. Hanya ada beberapa kursi yang kosong. Agak sulit kami menemukan meja kosong yang bisa kami gunakan untuk 6 orang. Akhirnya kami duduk di meja terpisah. 3 orang di depan kasir, sisanya di bagian belakang.

Harapan ingin bersantai ria sambil makan dan ngobrol bareng, sirna sudah. 😁

Sepertinya tempat itu kurang cocok bagi emak-emak seperti kami yang menginginkan ngobrol santai di tempat yang adem, ditemani musik yang santai dengan makanan lezat.

Namun tidak bagi mereka yang lekat dengan sebutan milenial. Generasi muda itu kayaknya tidak keberatan dengan tempatnya yang berada di sudut tidak asri dan kurang resik. Mereka rela blusukan demi memuaskan keingintahuannya. Merasakan lezatnya sebuah panganan yang begitu nge-hits di kalangan mereka. Itulah milenial, yang ingin selalu menambah pengalaman dan mencoba semua yang kekinian.

Setelah kami mendapatkan tempat duduk masing-masing, tiba saatnya memesan menu. Sayang sekali, menu rendang yang menjadi khas dari rumah makan padang tidak bisa kami nikmati. Rendang dagingnya sudah habis. Akhirnya saya mencoba untuk merasakan rendang paru saja.

Tidak lama kemudian satu porsi nasi padang rendang paru tiba di hadapan saya. Melihat penampakan makanan di atas piring, membuat saya tertegun. Loh, kok? Saya melihat ke sebelah, rekan saya tampak sedang mengamati juga makanan di depannya. Apa yang teman lihat dari sepiring nasi padang ini?

Nasi Padang favorit milenial Bandung
Gambar milik Bunda Hani Widiatmoko

Apakah ada yang beda dari panganan nasi padang biasanya? Coba perhatikan takaran nasinya dan bandingkan dengan besarnya sendok yang ada di sampingnya. Iyess ... porsi nasinya tidak seperti biasa. Nasi putihnya sekitar 5 sendok makan saja. Bagi emak yang ingin makan kenyang (baca; kelaperan), satu porsi nasi tersebut tentu saja di luar harapan. Hanya dalam hitungan menit, menu nasi padang rendang paru sudah habis tandas.

Ya..begitulah, dengan porsi nasi seperti itu, kami merasa tidak kenyang. Padahal kami masih ingin menikmati kelezatan rendang paru yang potongannya cukup besar. Bumbunya pun terasa nikmat. Kalau tidak ingat malu, ingin rasanya nyolekin bumbunya hingga piring tandas bersih, deh!
Oh iya, harga satu piring nasi padang rendang paru dihargai Rp. 26.000. Bagaimana, mahal atau murah? 

Berhubung sudah tidak ada lagi yang bisa membuat kami berlama-lama di sana, ditambah belum sholat ashar, kami pun bergegas meninggalkan tempat itu. Sesampainya di luar menuju parkiran, salah seorang kawan berbisik perlahan pada saya, "Kok gak berasa habis makan di rumah makan padang, ya?" 😂😂 wkwkwk ...

Sudah saya duga, akhirnya selama di perjalanan, menu yang baru saja kami santap, dibahas lagi. Kami sepakat jika rasa sepaket nasi padang di sana memang juara. Pantas saja ramai pengunjung. Selama menyantap hidangan, saya amati banyak pemuda-pemudi yang datang dan pergi silih berganti. Beberapa driver ojek online pun saya lihat mengantri di depan kasir untuk memesan. Setelah di rumah, saya iseng melihat aplikasi pemesanan makanan antar, dan ternyata Rumah Makan Malah Dicubo melayani pesanan online.

Mengenai porsi kami pun sepakat, jika ingin makan di tempat itu lagi, kami akan memesan dua porsi nasi. LOL. Mungkinkah kami termasuk golongan orang yang ingin makan kenyang? Tidak seperti mereka generasi milenial yang mencari pengalaman dengan blusukan ke tempat yang kurang nyaman asal bisa menikmati makanan lezat? Nasi dengan takaran kurang lebih 5 sendok, sudah cukup bagi mereka?

Satu hal lagi yang bisa kami ambil hikmahnya, sebaiknya tidak menilai sesuatu dari luarnya saja. Kami sempat sangsi dengan penampakan warung makan tersebut. Tapi ternyata di dalamnya penuh dengan orang-orang yang ingin menikmati lezatnya hidangan dan mengenyampingkan kenyamanan sebuah tempat makan.

Saya jadi berandai-andai, jika saja tempatnya diubah sedemikian rupa dengan desain yang kekinian, mungkinkah bisnis kuliner tersebut akan terus maju? Atau malah sebaliknya?
Tempat yang kurang nyaman seperti itu, sebenarnya cocok dengan mereka yang ingin serba cepat. Datang, makan, bayar, pergi!

Jika diberi tambahan fasilitas wifi gratis atau pojokan yang instagramable, barangkali kaum muda akan banyak yang betah berlama-lama di sana. Eh, tidak hanya kaum muda, emak macam kami pun pastinya lebih santai ngobrol bersama.

Entahlah, mungkin pemiliknya ingin menyajikan tempat makan yang serba praktis. Selesai makan, pengunjung akan pergi. Dengan begitu ada tempat kosong untuk pengunjung berikutnya, bukan?

Saya jadi ingin tahu, jika teman-teman ingin tempat makan yang seperti apa? Tempatnya nyaman dengan fasilitas lengkap dan bisa membuat kita betah lama-lama di sana. Atau menikmati makanan lezat di tempat yang sangat sederhana?
Apakah punya pengalaman menemukan tempat makan yang sederhana dengan menu lezat, juga? Sharing, yuuk!

Salam takzim