Friday, 29 November 2019

Blusukan ke Sudut Kota Bandung Mencari Tempat Makan Kesukaan Generasi Milenial

Ungkapan milenial kini seolah menjadi magnet untuk semua industri. Mulai industri fashion, barang elektronik, industri kreatif hingga rumah makan. Semua pelaku industri beramai-ramai menciptakan produk yang cocok dan disukai oleh generasi milenial. Generasi yang juga dikenal sebagai generasi Y termasuk kategori usia produktif yang haus pengalaman.

Kaum milenial identik dengan mereka yang bebas tidak terikat, suka berbagi, pekerja keras, melek teknologi dan kecanduan internet, serta komsumtif. Sayangnya generasi milenial juga identik sebagai golongan yang kurang beruntung. Kenapa? Mereka tidak beruntung dalam masalah ekonomi.
Diakui atau tidak, negara kita sedang menghadapi masalah pengangguran yang serius, krisis ekonomi yang berkepanjangan serta harga properti yang semakin tinggi.

tempat makan ala milenial di bandung

Alih-alih memikirkan solusinya, generasi milenial malah terjebak dalam gaya hidup konsumtif dan haus dengan pengalaman. Mereka rela mengocek dompet lebih dalam untuk gaya hidup dan mengejar pengalaman.

Salah satu kebiasaan yang sering terlihat, saat mereka senang kumpul-kumpul bersama teman di tempat asyik dan menyediakan makanan yang cocok dengan selera mereka.

Berbicara tentang tempat makan yang disukai generasi milenial, baru-baru ini saya menemukan sebuah rumah makan yang cukup familiar bagi milenial di Kota Bandung. Saya sendiri kurang tahu tempat tersebut alias kudet (kurang update).  Hehehe ...
Sungguh saya tidak menyangka ada rumah makan yang begitu nge-hits untuk kalangan milenial di tempat yang jauh dari kata menarik. Benar-benar di luar dugaan saya.

Penemuan itu bermula ketika saya beserta teman-teman penulis usai menghadiri ujian sertifikasi penulis nonfiksi. Usai menghadapi ketegangan saat mengikuti ujian, menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari asesor dan mengerjakan soal tertulis, kami sepakat untuk bersantai ria sambil ngobrol bareng dan makan siang. Makan siang kesorean, tepatnya. 😂

Awalnya kami bingung hendak makan di mana? Soalnya kami tidak memiliki waktu yang cukup. Hari sudah menjelang sore dan salah satu dari kami harus segera pulang ke Tasikmalaya menggunakan kereta api. As you know, tidak boleh terlambat kalau sudah pesan tiket kereta api, ya, kan?

Akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat makan di sekitar stasiun kereta api. Salah satu teman merekomendasikan sebuah rumah makan padang yang konon terkenal kelezatannya. Karena tidak ada usulan lain (lebih tepatnya bingung, karena kejar-kejaran dengan waktu dan perut keroncongan), akhirnya disepakati  untuk makan di rumah makan padang yang ada di sekitar stasiun kereta api Bandung.

Perlahan mobil yang dikendarai teman saya memasuki kawasan stasiun yang terlihat kumuh. Jalanan rusak yang hanya cukup untuk satu mobil, kami lalui dengan perasaan was-was. Di pinggir jalan sempit itu terlihat beberapa warung yang tutup. Hanya sebagian kecil yang buka. 

Suasana semakin mencekam saat kami lihat beberapa laki-laki yang bisa dikatakan mirip preman duduk-duduk di sudut belakang stasiun itu. Ada keraguan untuk memakirkan mobil di kawasan itu.

Salah  seorang teman, sampai berulang kali menanyakan kebenaran tempat makan yang hendak kami tuju. Sudut lain Kota Bandung yang kumuh dan terlihat cadas kini berada di hadapan kami. Lucu kalau diingat kembali. Bagaimana lima orang emak-emak yang mendadak ciut melihat kondisi di sana. Hanya satu orang saja yang terlihat santai. Iyess .... tentu saja, emak yang memberi rekomendasi.

Bagaimana mungkin kami akan makan di tempat seperti itu? Hingga tiba di lokasi tujuan, tidak satu pun dari kami yang protes. Turun dari mobil dan berjalan berdekatan, kami menuju tempat makan yang di maksud.
tempat makan ala milenial di bandung
Gambar milik Bunda Hani Widiatmoko
Dari luar tempat makan itu terlihat ramai. Kursi yang terletak di luar rumah makan itu, penuh dengan anak-anak muda yang sedang menikmati makanan khas minang tersebut. Beriringan kami masuk ke dalam warung nasi padang. Hanya ada beberapa kursi yang kosong. Agak sulit kami menemukan meja kosong yang bisa kami gunakan untuk 6 orang. Akhirnya kami duduk di meja terpisah. 3 orang di depan kasir, sisanya di bagian belakang.

Harapan ingin bersantai ria sambil makan dan ngobrol bareng, sirna sudah. 😁

Sepertinya tempat itu kurang cocok bagi emak-emak seperti kami yang menginginkan ngobrol santai di tempat yang adem, ditemani musik yang santai dengan makanan lezat.

Namun tidak bagi mereka yang lekat dengan sebutan milenial. Generasi muda itu kayaknya tidak keberatan dengan tempatnya yang berada di sudut tidak asri dan kurang resik. Mereka rela blusukan demi memuaskan keingintahuannya. Merasakan lezatnya sebuah panganan yang begitu nge-hits di kalangan mereka. Itulah milenial, yang ingin selalu menambah pengalaman dan mencoba semua yang kekinian.

Setelah kami mendapatkan tempat duduk masing-masing, tiba saatnya memesan menu. Sayang sekali, menu rendang yang menjadi khas dari rumah makan padang tidak bisa kami nikmati. Rendang dagingnya sudah habis. Akhirnya saya mencoba untuk merasakan rendang paru saja.

Tidak lama kemudian satu porsi nasi padang rendang paru tiba di hadapan saya. Melihat penampakan makanan di atas piring, membuat saya tertegun. Loh, kok? Saya melihat ke sebelah, rekan saya tampak sedang mengamati juga makanan di depannya. Apa yang teman lihat dari sepiring nasi padang ini?
tempat makan ala milenial di bandung
Gambar milik Bunda Hani Widiatmoko

Apakah ada yang beda dari panganan nasi padang biasanya? Coba perhatikan takaran nasinya dan bandingkan dengan besarnya sendok yang ada di sampingnya. Iyess ... porsi nasinya tidak seperti biasa. Nasi putihnya sekitar 5 sendok makan saja. Bagi emak yang ingin makan kenyang (baca; kelaperan), satu porsi nasi tersebut tentu saja di luar harapan. Hanya dalam hitungan menit, menu nasi padang rendang paru sudah habis tandas.

Ya..begitulah, dengan porsi nasi seperti itu, kami merasa tidak kenyang. Padahal kami masih ingin menikmati kelezatan rendang paru yang potongannya cukup besar. Bumbunya pun terasa nikmat. Kalau tidak ingat malu, ingin rasanya nyolekin bumbunya hingga piring tandas bersih, deh!
Oh iya, harga satu piring nasi padang rendang paru dihargai Rp. 26.000. Bagaimana, mahal atau murah? 

Berhubung sudah tidak ada lagi yang bisa membuat kami berlama-lama di sana, ditambah belum sholat ashar, kami pun bergegas meninggalkan tempat itu. Sesampainya di luar menuju parkiran, salah seorang kawan berbisik perlahan pada saya, "Kok gak berasa habis makan di rumah makan padang, ya?" 😂😂 wkwkwk ...

Sudah saya duga, akhirnya selama di perjalanan, menu yang baru saja kami santap, dibahas lagi. Kami sepakat jika rasa sepaket nasi padang di sana memang juara. Pantas saja ramai pengunjung. Selama menyantap hidangan, saya amati banyak pemuda-pemudi yang datang dan pergi silih berganti. Beberapa driver ojek online pun saya lihat mengantri di depan kasir untuk memesan. Setelah di rumah, saya iseng melihat aplikasi pemesanan makanan antar, dan ternyata Rumah Makan Malah Dicubo melayani pesanan online.

Mengenai porsi kami pun sepakat, jika ingin makan di tempat itu lagi, kami akan memesan dua porsi nasi. LOL. Mungkinkah kami termasuk golongan orang yang ingin makan kenyang? Tidak seperti mereka generasi milenial yang mencari pengalaman dengan blusukan ke tempat yang kurang nyaman asal bisa menikmati makanan lezat? Nasi dengan takaran kurang lebih 5 sendok, sudah cukup bagi mereka?

Satu hal lagi yang bisa kami ambil hikmahnya, sebaiknya tidak menilai sesuatu dari luarnya saja. Kami sempat sangsi dengan penampakan warung makan tersebut. Tapi ternyata di dalamnya penuh dengan orang-orang yang ingin menikmati lezatnya hidangan dan mengenyampingkan kenyamanan sebuah tempat makan.

Saya jadi berandai-andai, jika saja tempatnya diubah sedemikian rupa dengan desain yang kekinian, mungkinkah bisnis kuliner tersebut akan terus maju? Atau malah sebaliknya?
Tempat yang kurang nyaman seperti itu, sebenarnya cocok dengan mereka yang ingin serba cepat. Datang, makan, bayar, pergi!

Jika diberi tambahan fasilitas wifi gratis atau pojokan yang instagramable, barangkali kaum muda akan banyak yang betah berlama-lama di sana. Eh, tidak hanya kaum muda, emak macam kami pun pastinya lebih santai ngobrol bersama.

Entahlah, mungkin pemiliknya ingin menyajikan tempat makan yang serba praktis. Selesai makan, pengunjung akan pergi. Dengan begitu ada tempat kosong untuk pengunjung berikutnya, bukan?

Saya jadi ingin tahu, jika teman-teman ingin tempat makan yang seperti apa? Tempatnya nyaman dengan fasilitas lengkap dan bisa membuat kita betah lama-lama di sana. Atau menikmati makanan lezat di tempat yang sangat sederhana?
Apakah punya pengalaman menemukan tempat makan yang sederhana dengan menu lezat, juga? Sharing, yuuk!

                 Salam takzim


26 comments:

  1. Kalau bisa sih menunya enak dan tempatnya nyaman, ya. kalau ke tempat nongkrong yang instagramable tapi rasa hidangannya biasa aja, ya paling cuma sekali ke sana. Cuma buat foto hihihi..

    ReplyDelete
  2. Skarang makin banyak pilihan tempat makan milenial yang enak dan lezat serta tempatnya nyaman. duh udah lama ngak makan nasi padang, jadi pengennih :)

    ReplyDelete
  3. kalo aku tergantung visi misi *halahhh* ketika berburu destinasi kuliner itu Mba
    Kalo tujuannya supaya perut kenyang dgn makanan berkualitas, tentu aku pilih yg bener2 legend, dan bukan modal dekor Instagrammable dll

    Tapiiii kalo buat meeting dgn klien, ya aku cari kafe yg wifi kenceng, musik soft, ga banyak anak muda yg heboh jejeritan. Gitu sih

    ReplyDelete
  4. Nasi padangnya rasanya enak cuma porsinya kurang banyak ya mbak hehe. Biasanya memang porsi nasi dan lauk nasi padang itu banyak, apalagi kalau dibawa pulang.
    Tempat makan yang dicari kaum muda sekarang memang yang tempatnya kekinian ya, instagramable dan ada wifi :D

    ReplyDelete
  5. Kalau saya bisa memilih keduanya. Tetapi, yang paling malas itu antre makanan. Mau itu di resto kekinian atau warung yang sederhana sekalipun. Kalau udah harus pakai antre lama, kami lebih memilih mencari tempat makan lain

    ReplyDelete
  6. Rendang paru aku juga suka mbak, tapi emang sih nasinya sedikit itu di foto, kalau lagi laper mah mana cukup, heheheh..Aku juga pernah blsusukan nyari tempat makan di Bandung, untung dapet tempat yg enak, tapi gak rugi deh blusukan, karena bisa melihat suasana perumahan di Bandung, hehehe

    ReplyDelete
  7. aduhh tetehh... ikutan meringis lihat porsinya.

    kalo ke sana lagi, kudu pesen dibungkus aja teh. kalo di rm padang biasanya kan nasinya seabrek2 buat dibungkus dan seuprit kalo makan di tempat :D

    ReplyDelete
  8. Gak ada rendang daging, rendang paru pun jadi ya, bumbunya sam akan, Haduh aku jadi pingin makan nasi padang :)
    Tempatnay biasa aja tapi kalau makanannya enak pasi orang akan balik lagi ke sana ya, jangan lupa pesan 2 porsi hihihi

    ReplyDelete
  9. Waah belum pernah coba rencang paru nih mbak. Ternyata generasi millenial gak peduli tempatnya ya. Yang penting rasanya endesss. Btw kalau aku juga pesen dua porsi nasi kayaknya. Soalnya makanku banyak. Hahaha

    ReplyDelete
  10. Itu ukuranku Mbak..biasa warung Padang ngasih nasinya banyak, aku kekenyangan. Lebih baik segitu, pas itu porsiku hihihi
    Kalau lagi laper aku pilih yang masakannya lezat tapi sederhana gapapa. Kalau lagi butuh tempat buat ngobrol atau perlu WiFi #eh ya ke tempat yang fasilitas lengkap tapi rasa nomor dua hahaha

    ReplyDelete
  11. Tulisan"nya sangat menginspirasi sekali. Doakan saya biar bisa menginjakkan kaki di Bandung (:

    ReplyDelete
  12. nasi padangggggg, uwhhhh.. jadi lapar nih.. tp emg sih mbak, aku juga kurang suka kl tempat makan nggak adem, nggak bisa buat santai ngbrol... hhhh

    ReplyDelete
  13. Sepakat sih, kalo makan di warung nasi padang seporsi nasi itu kurangggg hahaha. Tapi ity kok dikit banget nasinya, jali di Batam dan Riau, dua centong nasi. 2x nasi itu mbk hehe

    ReplyDelete
  14. Hahaha, ada-ada saja, ya. Tapi kalau saya pasti akan begitu. Ya ngeri-ngeri juga kalau ada beberapa orang dengan body tampang preman, terus markir kendaraan di situ.

    Hmm, itu nasi padangnya ampun, lah kalau saya bakalan nambah nasi 1 atau 2 porsi lagi, wkwkwkwk. Generasi milenial memang begitu ya. Yang penting hitz, enak, tempatnya dimanapun, dijabanin. Beda ama kita lah ya, yang kalau mau makan harus mikir tempat nyaman, porsi banyak, rasa enak, dan tempat parkir luas. Haaa, itu saya kali ya. :D

    ReplyDelete
  15. Biasanya kalau restoran dengan segmen milenial dan anak muda suka berisik banget haha. Anak-anak muda ngobrolnya pakai stereo membuat kaum kolonial terpinggirkan. 😅

    ReplyDelete
  16. Ada, ada, mba!
    Rumah makan Banjar Mulia di kebun sayur, Balikpapan.
    Tempatnya sangat sederhana meski hot, bahahaha.

    Menu favorit sekeluarga "Pepes Patin"
    Masya Allah, pas menuliskan di sini, aku kudu meneguk liur duu, hihihi

    ReplyDelete
  17. Wkwkwk iya bener biasanya nasinya banyaaaaaak kenyanggg banget kalau nasi padang. ini dikit ya. Rendangnya 1 nasi 2 pas mbaa

    ReplyDelete
  18. Wah, ternyata kurang mengakomodasi takaran perut ya mak hehehee... iya, porsinya kok seuprit gitu ya. Mendingan tadi minta nambah nasi mak :)

    ReplyDelete
  19. Porsi dikiit bngeet ya lumayan mihil juga disini cuma 14 rb 🤣 tapi kalau enak pasti gak rugi y mba utk makan disana n dtg lg

    ReplyDelete
  20. Tempatnya kayak terpencil gitu ya. Lihat porsi yang di piring kayak bukan nasi padang. Sedikit banget. Aku setuju dah. Kurang kalau makan cuma seprsi kayak gitu hehe.

    ReplyDelete
  21. Kyknya kalau dibandingkan porsinya agak mihil yaa haha, tapi ya kalau menurut mbak dkk rendangnya rasanya juara yaaa udah pantes deh harga segitu mbak :D

    ReplyDelete
  22. Kalau aku sih sukanya yang rasanya enak, tempatnya nyaman dan murah! Penting banget itu. hehehe. Tp belakangan jarang nongkrong gitu sih, lebih sering pesan pakai ojol dan makan santai di rumah.

    ReplyDelete
  23. Kalau ramai biasanya enak. Kalau takaran saya dan suami sih begitu. Tapi porsi nasinya sedikit yaaa. Bisa buat yg lg diet. Tapi kalau saya yaa jelas masih lapar

    ReplyDelete
  24. Kalau aku sih tergantung situasi,pas zaman ngantor dulu, seringnya makan di belakang kantor, rumah makannya murah, walaupun suasananya berisik, panas dan nggak nyaman hihihi..

    ReplyDelete
  25. Wah,penulis nonfiksi juga ada sertifikasinya ya mbak? Wess, aku udah lama nih enggak nongkrong. Sejak lahiran sampai sekarang masih mendekam di rumah

    ReplyDelete
  26. Kalau saya suka tempat makan yang hidangannya lezat dan suasananya enak jadi betah berlama2 sambil ngobrol dan menikmati suasana..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf, untuk menghindari SPAM, komentarnya dimoderasi dulu, yaa ^~^