Serangan Jantung Ketika Berolah Raga

Serangan Jantung Ketika Berolah Raga
"Mas Tri masuk rumah sakit..!" kata ibu saya di seberang telepon. "Masuk rumah sakit? Kenapa? Eh..sakit apa", tanya saya dengan sedikit bingung. Bagaimana tidak bingung, sepupu saya itu orangnya memiliki kebiasaan yang sehat dan gemar berolah raga. Terkena serangan jantung, begitu jelas ibu saya kemudian. Serangan jantung? Kenapa bisa? 

Saya ingat, dulu sejak masih di sekolah dasar, Mas Tri senang olah raga sepak bola dan basket. Tubuhnya tinggi, besar dan tegap. Saya masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar, ketika Mas Tri sudah duduk di kelas 6 sekolah dasar. Apabila ayah tidak bisa mengantarkan saya ke sekolah, Mas Tri-lah yang akhirnya menemani saya berangkat sekolah. Badan tinggi, besar dan kakinya yang panjang, sedikit menyusahkan saya yang berlari kecil menyeimbangkan langkah kakinya. 
Saat pulang sekolah, saya kerap harus menunggu kakak sepupu saya selesai bermain bola bersama teman-temannya. Bisa dikatakan, Mas Tri begitu gila olah raga. Kebiasaan ini berlanjut hingga dia menikah dan memiliki anak. Istrinya pernah bercerita, jika sepulangnya dari kantor, Mas Tri sering mengikuti olah raga bulu tangkis atau futsal. Bahkan kadang dalam hari yang sama, kedua olah raga itu bisa dia lakoni. Setelah bulu tangkis, dilanjutkan ke lapangan futsal untuk bertanding.
Kebiasaan olah raga berlebih inilah yang disinyalir mengakibatkan Mas Tri terkena serangan jantung. Usianya masih muda ketika itu. Seingat saya, masih di awal kepala empat. Wajar saja,  keluarga kami begitu kaget mendengar berita tentang penyakit yang di deritanya. Semuda itu, terkena serangan jantung?
Serangan jantung ternyata tidak memandang usia. Tua muda bisa saja terkena serangan jantung. Olah raga dianggap bisa menyehatkan badan kita. Namun ternyata, malah dapat membahayakan tubuh jika dilakukan secara berlebihan.
Olah raga terus menerus, dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan melebihi kemampuan tubuh bisa mengakibatkan berbagai dampak negatif bagi tubuh. Salah satunya bisa membuat jantung kita lemah. 
Hal ini pula yang di duga membuat Mas Tri terkena serangan jantung di usianya yang masih muda. Namun, ketika semuanya telah terjadi, kami sekeluarga tidak seratus persen menyalahkannya. Hobi berolahraga memang bagus untuk kesehatan, tapi memang harus dilakukan secara hati-hati. 
Kini, Mas Tri masih tetap bisa berolahraga, namun tentu saja dengan pengawasan yang ketat dari keluarga. Jam dan hari berolahraga dikurangi. Selain itu, kami juga menganjurkan Mas Tri melakukan terapi jantung. Sebuah langkah yang bisa membuat jantungnya terus sehat. Menurut istrinya, pria yang gila olah raga itu, kini mulai menyadari jika usianya yang sudah kepala empat tidak bisa sehebat dulu. Fisiknya tidak sekuat ketika dia masih muda. Selain menjaga pola makan, olah raga tidak berlebihan, anjuran untuk mendatangi klinik terapi jantung diharapkan bisa membuat kakak sepupu saya tetap sehat. Karena di klinik tersebut, akan diberikan terapi yang dapat membuat aliran darah menjadi lancar, darah juga akan bersih dari kuman dan penyakit.
Kemarin, kami sekeluarga sempat bertemu dengan Mas Tri. Alhamdulillah, keadaannya begitu baik. Sehat, ceria dan bugar. Berkaca dari pengalaman kakak sepupu saya, sudah seharusnya kita bisa menjaga pola hidup sehat. Mengkonsumsi makanan bernutrisi, cukup beristirahat dan berolah raga sesuai kemampuan tubuh. Hindari berolah raga terlalu berat dalam jangka waktu yang panjang. Mari sayangi jantung kita.
    "Tulisan ini diikutikan dalam Giveaway Terapi Ozon yang disponsori oleh 'Stanmed Center' Klinik Kesehatan dan Kecantikan"


1 comment:

  1. Yang berlebihan itu tidak bagus jadi teh nya

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
.comment-content a {display: none;}