Cara menumbuhkan kemandirian anak tidak terlepas dari pola asuh yang dilakukan oleh orang tua. Kemandirian yang dimaksud adalah kemampuan yang positif dari anak ketika menghadapi kebutuhan dan tantangan yang ada dalam kehidupannya. Baik dalam keadaan yang biasa maupun diluar kebiasaan.
 
http://www.nurulfitri.com/2016/04/cara-menumbuhkan-kemandirian-anak.html
Sulitkah menumbuhkan sikap agar anak mandiri? Semua itu tergantung dari kebiasaan, pendidikan yang didapat oleh anak dan pengalaman yang secara langsung dialami oleh anak.

 

Dididik Untuk Mandiri

Saya jadi teringat ketika mendampingi si bungsu ekstra kulikuler renang dari sekolahnya. Kala itu di tengah-tengah latihan, ade minta uang kepada saya untuk dibelikan jasuke (baca: jagung susu keju). Saya yang kala itu sedang asyik ngobrol dengan salah satu orang tua teman ade, otomatis menghentikan percakapan. 

Hal ini terpaksa saya lakukan. Karena kuping saya akan sakit jika tidak mendengarkan panggilan ade. Ya iyalah, anak laki-laki saya itu, kalau panggilan atau perkataannya tidak didengar, akan terus mengulang dengan meninggikan suaranya sampai saya memberi perhatian padanya. Dia akan terus memangil saya, tanpa perduli saya sedang berbincang dengan siapa. *hadooh-tepokjidat.

Eh, kembali lagi pada permintaannya untuk beli jasuke, ya. Setelah menerima uang dari saya, jagoan kecil itu pun langsung melesat pergi mendatangi abang penjual jagung manis itu. Dan ibu muda di sebelah saya pun, bengong.

" Loh, itu Ikal beli jagung sendiri, Bu? Tidak minta diantar, ya?"
 
Saya tersenyum mengiyakan. Dia seperti kakaknya, jawab saya kemudian. Mereka bisa pergi sendiri untuk beli sesuatu yang mereka perlukan. Tanpa kami antar, cukup diawasi dari kejauhan saja. Lalu teman saya itu pun bercerita, jika anaknya tidak mau bila harus pergi seorang diri. Contohnya saja, ketika anaknya ingin membeli jasuke seperti anak lelaki saya, ibunya pun harus menghentikan perbincangan untuk menemani putri kecilnya itu.
 
http://www.nurulfitri.com/2016/04/cara-menumbuhkan-kemandirian-anak.html

Bukan bermaksud "tega-tegaan", tapi saya selaku orang tua inginnya, sih, melihat persiapan anak ketika suatu saat nanti dia jauh dari orang tuanya. Melatih anak untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu, dia juga akan belajar bagaimana mempergunakan uang yang dimilikinya. Berapa harga barang yang dibeli dan apabila ada sisa, berapa kembaliannya? Anak perlu dilatih untuk itu. Jika tidak, mungkin saja suatu saat nanti dia akan bertemu orang yang tidak baik, dan menipunya.

Teman saya itu, hanya manggut-manggut saja mendengarkan cerita saya. Dia berterus terang jika agak meragukan kesiapan anaknya untuk lebih mandiri. Tentu saja saya berpesan kepada ibu muda beranak dua itu, jika semua itu memerlukan proses, tidak bisa dihasilkan dengan instan. Kita harus melampaui beberapa tahap dan memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk menumbuhkan kemandirian anak.

Saya tidak menampik, untuk melatih kemandirian anak, perlu perjuangan yang luar biasa. Misalnya saja, ketika anak tidak bisa cepat memakai baju seragamnya, sedangkan waktu, kan, berjalan terus. Bisa-bisa anak akan terlambat pergi ke sekolah. Nah, di saat inilah orang tua perlu melatih kesabaran. Biarkan anak menyelesaikan memakai seragamnya sendiri. Tapi terkadang orang tua menjadi tidak sabar. Mereka akan langsung membantu anak untuk berpakaian, memilih anaknya selesai lebih cepat dengan bantuan orang tuanya, daripada anak mereka terlambat ke sekolah. 

Kalau sudah begitu, kapan anak bisa mandiri? Sebaiknya, biarkan saja dia menyelesaikan aktivitasnya itu. Jika terlambat, dia mungkin akan dihukum. Setidaknya anak akan belajar memahami sebab akibat. Dia dihukum, karena terlambat. Terlambat pun karena dia tidak bisa cepat memakai seragam atau terlambat bangun atau karena sebab yang lainnya. 

Melatih Kemandirian Anak dari Pengalaman

Sebenarnya saya juga berkaca pada pengalaman seorang teman di majelis ta'lim. Ibu yang sudah memiliki seorang cucu tersebut, kini jarang mengikuti ta'lim. Dan ketika saya menanyakan ketidakhadirannya, ibu itu bercerita jika harus tinggal bersama keluarga anaknya di luar kota. Menurut beliau, anaknya belum bisa memasak dan cucunya sangat aktif, sehingga ibu yang selalu menggunakan jilbab panjang itu harus membantu memasak untuk keluarga anaknya.

Beliau juga agak menyesal, karena tidak pernah memperbolehkan anaknya untuk beraktivitas di dapur. Malas jika harus membereskan ceceran dan kotoran yang mengotori dapur jika anak-anaknya masak sendiri, begitu kata beliau.

http://www.nurulfitri.com/2016/04/cara-menumbuhkan-kemandirian-anak.html

Wah, saya sih, gak keberatan jika anak-anak senang masak sendiri. Buktinya si sulung udah jago masak nasi goreng dan membuat kue yang sederhana sedangkan adiknya untuk urusan sekedar buat telor dadar, dia sudah bisa!

Tapiii...ya, begitu! Dapur saya akan terlihat berantakan, ceceran makanan di sana-sini. Semua peralatan dapur yang telah digunakan, berantakan di wastafel. Termasuk ceceran minyak di samping kompor, sudah biasa tercipta di dapur saya, jika anak-anak bereksperimen di dapur. Yah, sabar aja, deh! Bagian emaknya yang bersih-bersih. He..he..    

Yang penting, mereka sudah memiliki pengalaman menyiapkan makanan untuk mereka sendiri. Hmmm...Enak, dong! Ibunya gak perlu masak, lagi? Ya, gak juga kalii.. Mereka kan, masih anak-anak. Masih ada kok, saat-saat mereka ingin dilayani, ingin dimanja dan diperhatikan. Bereksperimen di dapur, kerap mereka lakukan di hari libur atau ketika ingin ngemil di sore hari, sepulang mereka sekolah saja.

Orang Tua Menjadi Teladan

Sudah naluri seorang anak, untuk meniru apapun yang dilakukan oleh orang tuanya. Jika melihat salah satu orang tuanya selalu ingin dilayani, bukan tidak mungkin, anak pun akan berlaku demikian. 

Misalnya saja, selalu melihat ayah mereka berteriak untuk dibuatkan kopi, mereka pun akan berteriak ketika hendak meminta sesuatu. Sebaiknya, dibuat kesepakatan dari kedua orang tua. Ayah berusaha meminta dengan kata penuh kelembutan pada istrinya untuk dibuatkan kopi. Atau mencontohkan pada anak, jika hanya sekedar membuat kopi, ayah pun bisa diandalkan. 

Bagaimana jika latar belakang suami istri berbeda pola asuhnya? Tidak perlu dipermasalahkan. Buatlah komitmen dari orang tua. Pendidikan seperti apa yang akan dianut oleh keluarga mereka? Buat kesepakatan untuk saling mendukung, bagaimana pola asuh yang akan diterapkan pada anak.

Anak remaja baru belajar untuk mandiri, mungkinkah? 

Lalu, bagaimana jika anak telah terlanjur memasuki masa abege atau anak baru gede? Apakah selaku orang tua, bisa merubah sifatnya agar lebih mandiri?
Menurut Bu Elia Daryati pada sebuah sesi di Kuliah WhatsApp Keluarga Sehati, tidak ada kata terlambat untuk perubahan. Untuk menumbuhkan kemandirian anak yang remaja, dibutuhkan pembiasaan. Dari kebiasaan tersebut, maka akan terbentuk kemandirian.

Pada tahap seperti ini, perlu dberi pengertian pada anak, mengenai pentingnya kemandirian. Manfaat yang akan dia peroleh jika bisa lebih mandiri, tanpa selalu bergantung pada orang lain. Sehingga akan tercipta kesadaran pada dirinya untuk berubah. Jika kesadarannya begitu kuat serta didukung pula oleh lingkungannya, bukan tidak mungkin, anak akan lebih mandiri dari sebelumnya.
 
http://www.nurulfitri.com/2016/04/cara-menumbuhkan-kemandirian-anak.html

Jadi, kemandirian anak akan teruji ketika mereka jauh dari orang tua, dalam jangka waktu yang lama atau sebentar. Oleh karena itu, anak perlu diajarkan lebih mandiri dalam menjaga kesehatannya, waspada dalam segala situasi dan mandiri dalam mengelola uang yang dimilikinya. Saya yakin kunci utama melatih kemandirian, yaitu dengan berkomunikasi dengan anak dan disiplin untuk menjalankannya.

Nah, bagaimana dengan teman-teman? Apa yang dilakukan untuk menumbuhkan kemandirian anak?
 
Salam takzim