Kunci berkomunikasi yang positif. Pernah mengalami situasi seperti ini? Bersama dengan orang yang merokok di dalam angkutan, menghadapi anak yang merajuk minta dibelikan mainan baru, menunggu dalam antrian bersama dengan orang yang terus menerus menggoyangkan kakinya? Nah, apa yang sebaiknya dilakukan?
http://www.nurulfitri.com/2016/09/kunci-berkomunikasi-yang-positif.html
  • Menegur mereka dengan ketus atau marah-marah  (agresif)
  • Mengajak berbicara dengan lemah lembut, dihiasi senyum yang termanis dan mengatakan jika yang dilakukannya mengganggu kenyamanan kita (asertif)
  • Diam, enggan untuk memulai keributan, tapi menahan ketidaknyamanan (pasif)
Itu memang pilihan kita masing-masing. Bila kita mempraktekkan jalan yang pertama, bisa saja akan menimbulkan rasa tidak senang dari orang lain. Dengan cara yang kedua, barangkali kita akan mendapatkan win-win solution. Tidak ada yang tersinggung dan sama-sama menghargai. Dan bila melakukan cara yang ketiga, barangkali tidak akan ada yang tersinggung, tapi setidaknya ada yang makan ati, ngebatin sendiri, betul, kan? He he he..

Proses menyalurkan dan mendapatkan informasi untuk menghubungkan satu orang dengan orang lain dinamakan komunikasi. Komunikasi itu sendiri, bisa berupa verbal atau non verbal yang diharapkan dapat dimengerti oleh kedua belah pihak.

Melalui komunikasi, pesan atau perasaan seseorang dapat dimengerti oleh orang lain. Tentu saja, komunikasi akan lebih efektif apabila hal yang disampaikan oleh pemberi pesan diterima dengan baik oleh penerima pesan. Cara penyampaiannya pun sebisa mungkin tidak menyinggung perasaan si penerima pesan.

Sedangkan cara mengungkapkan apa yang kita pikirkan dan rasakan secara baik-baik, untuk menjaga dan menghargai perasaan orang lain, merupakan ciri dari komunikasi asertif. 
 
http://www.nurulfitri.com/2016/09/kunci-berkomunikasi-yang-positif.html

Dengan sering melakukan komunikasi asertif, maka hidup kita bisa selalu mengasyikan. Hal ini serupa dengan apa yang diungkapkan oleh Mak Inda Chakim dalam artikel terbarunya. Dalam tulisan tersebut, Ibunda Ken mengatakan bahwa, sekarang kita berada di dalam masa yang bebas untuk mengungkapkan perasaan kita terhadap siapa pun. Baik kepada yang lebih tua, lebih muda, pada rekan kerja, pada atasan atau kepada orang tua kita sekalipun.

Kunci berkomunikasi yang positif, menurut Anna Farida dalam Kulwap Keluarga Sehati, yaitu melakukannya dengan nada bicara yang netral, bahasa tubuh yang santai atau rileks, melakukan hal ini dalam waktu yang singkat dan cukup sekali saja. Jadi, tidak perlu diungkapkan secara berulang kali. 

Mengapa tidak perlu diungkapkan berkali-kali atau dalam waktu yang lama? Kalau menurut pengalaman, nih, kata-kata yang akan terlontar dari mulut akan melebar dan malah cenderung jadi ngomel-ngomel. Nah, kalau sudah begitu, komunikasinya akan menjadi agresif, bukannya asertif, dong! Hihihi...

Agar orang yang kita ajak komunikasi bisa merasa nyaman, lebih baik ketika menyampaikan sesuatu, lakukan dengan positif. Hindari kesan menyerang lawan bicara. 

Contohnya saja, ketika saya menghadapi anak sulung saya. Apalagi kini dia, sudah memasuki masa anak baru gede (ABG). Masa yang penuh imitasi. Ingin meniru apa yang terjadi di lingkungannya. 

Yup, jadi gini...suatu ketika, anak perempuan saya mengungkapkan keinginannya untuk ganti ponsel. Padahal ponsel yang dimilikinya tersebut masih baik-baik saja. Tidak rusak. Hanya gadis kecil saya itu, minta ponsel yang mendukung untuk digunakan merekam dan mendukung aktivitas lainnya yang berhubungan dengan kamera. Biasalah, untuk keperluan sosmednya. Elus dada...Hadooh..!:(

Bagaimana pun saya harus bisa berdialog dengan positif. Agar anak bisa diredam keinginan untuk mengganti ponselnya dan mengajari kakak tentang pentingnya berhemat, tanpa mencela keinginannya.

"Saat ini, ayah dan ibu sedang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kakak, kan, tahu jika plafon di teras depan sudah lapuk? Kita harus perbaiki, untuk menghindari bocor dimana-mana." Nanti jika tabungan kita telah cukup, baru kita beli ponsel yang kamu inginkan, ya..."

Mempraktekkan komunikasi asertif, juga bisa dilakukan saat melihat suami sedang merokok di ruang tamu. Berikut ini, ada contoh tiga kalimat yang berbeda di saat kita menanggapi situasi seperti itu.

"Ruangan tamu di rumah kita sempit, agar udara di dalam rumah tetap sehat untuk anak-anak, saya lebih suka jika udaranya tetap fresh." 

"Ayah, kalau habis mandi harum dan segar, deh! Ibu lebih suka jika setiap hari, ayah berpenampilan dengan aroma seperti ini."

"Merokok terus! Kapan mau berhenti, sih! Jadinya boros, kan?"

Nah, mari kita lihat, dari ketiga ungkapan tersebut, pasti akan menimbulkan reaksi yang berbeda. Kalimat pertama dan kedua merupakan contoh kalimat asertif. Katakan dengan santai, cukup sekali dan tanpa pengulangan. Dan tanpa sedikit pun menyinggung soal rokok!
Sedangkan untuk kalimat yang ketiga, tentu saja akan berbeda tanggapannya. Tidak perlu saya tuliskan, kita sama-sama tau, kan? :))

http://www.nurulfitri.com/2016/09/kunci-berkomunikasi-yang-positif.html
Bisa kita simpulkan, jika komunikasi asertif mengandung aspek permohonan maaf. Kita seolah-olah mengatakan, "Maaf pendapat saya, mungkin tidak sesuai dengan keinginanmu."

Dengan melakukan komunikasi yang positif maka lawan bicara tidak akan mudah tersinggung. Tidak merasa disalahkan. Bahkan cenderung digiring oleh kita untuk mengerti posisi kita, memahami dan mau menerima keadaan kita.

Alangkah indahnya dunia, apabila semua orang bisa melakukan komunikasi secara asertif. Kita biasakan untuk berkomunikasi yang baik, yuk! Selalu awali perkatan kita dengan : Saya lebih suka, jika.....

Semoga bermanfaat