Wana Wisata Lintas Hutan Indah (LHI) Jayagiri merupakan tempat wisata dengan nuansa alam yang berada di Lembang, Bandung. Tempat wisata LHI Jayagiri merupakan area hutan alami yang asri, memiliki udara yang masih segar, penuh dengan oksigen yang dapat kita hirup sepuasnya. Aaaah....segeer....
Sebagian besar area ini, merupakan hutan pinus dengan luas mencapai 7 hektar dan memiliki ketinggian 1. 450 meter di atas permukaan laut.

http://www.nurulfitri.com/2016/09/menembus-kelembapan-tebing-lumut.html
Gerbang Wana Wisata LHI Jayagiri

Tempat ini, berada di kaki Gunung Tangkuban Parahu, dengan suhu 18-29 derajat selsius, membuat daerah ini sangat cocok untuk membuat pikiran kita menjadi lebih fresh. Oh, ya, tiket masuk yang berlaku di tempat wisata ini, yaitu Rp 15.000/ orang dan harga tersebut, sudah termasuk asuransi kecelakaan diri selama pengunjung berada di dalam lokasi.
http://www.nurulfitri.com/2016/09/menembus-kelembapan-tebing-lumut.html
Tiket masuk
Tempat wisata ini dilengkapi kamar mandi serta toilet, namun tidak banyak, hanya terdapat dua kamar mandi. Bisa dibayangkan suasana di sana, pada pagi hari? Yup, antrian yang cukup panjang. Jadi dimaklum saja jika ada beberapa pendaki, lebih memilih mengeluarkan toksinnya di semak belukar dibandingkan harus mengantri dalam waktu yang lama. Hehehe...

Oh, iya, saya pergi bersama dengan anak dan suami berkemah di LHI Jayagiri, dalam rangka ulang tahun komunitas pendaki gunung.

Etapi, saya bukan anggota komunitas pendaki gunung, loh! Suami saya, yang menjadi anggotanya, sedangkan saya hanya penggembira saja ^-^. Anggota komunitas ini sudah sering mendaki gunung yang tinggi. Sedangkan saya, hanya sesekali ikut acara mereka, di saat ada kegiatan mendaki gunung yang tidak terlalu tinggi.

Pada acara tersebut, ada sebelas tenda yang didirikan untuk menampung anggota komunitas. Tentu saja, tidak semuanya tidur di dalam tenda. Beberapa diantara mereka yang tidur di luar dengan menggunakan slepping bed atau tidur bergantung menggunakan hammock. Mereka sih, sudah biasa tidur dengan cara begitu, kalau saya nggak bisa :), dingin sekalii...

http://www.nurulfitri.com/2016/09/menembus-kelembapan-tebing-lumut.html
Sebagian dari tenda peserta pendaki
Pagi harinya, sambil menikmati mentari pagi yang terasa hangat di tengah hawa gunung yang membuat badan menggigil, kami pun membuka perbekalan, dan makan seadanya. Setelah perut terisi, sebagian dari kami, tetap menghangatkan badan di sisa-sisa api unggun yang dinyalakan pada malam hari. Sisanya lebih memilih jalan-jalan pagi di sekitar tenda, atau bergantung menggunakan hammock.

Tidak hanya satu, ada 5 hammock yang kami gunakan untuk bergelantung di atas pohon. Saya hanya bisa mengira-ngira, pastinya pemandangan dari atas cukup bagus, namun juga mengerikan. Kenapa mengerikan? Tentu saja, bagi saya yang takut ketinggian, bergelantungan di tempat tinggi, sangat mengerikan hi...hi ... hi...
Tapi tidak bagi para pendaki gunung itu, dengan lincahnya mereka memasang hammock pada pohon yang tinggi dan dengan santai tidur di ketinggian.

http://www.nurulfitri.com/2016/09/menembus-kelembapan-tebing-lumut.html
Playing with hammock
Setelah puas bergelantungan, dan usai menyeruput kehangatan dari secangkir kopi atau coklat panas, kami pun mempersiapkan diri menuju tebing lumut.

Nah, teman-teman, selain tempat berkemah, di tempat wisata ini pengunjung juga bisa berpetualang menyusuri tebing lumut. Dari namanya saja, sudah bisa dibayangkan, bagaimana keadaan tempat tersebut, bukan?

Iya, di sisi lain dari LHI Jayagiri, terdapat tebing yang diselimuti oleh lumut. Saya belum pernah melihat tebing tersebut. Dan menurut suami saya, tempatnya bagus dan masih alami, karena masih jarang yang berkunjung ke sana.

Jarak antara tempat kami berkemah dengan tebing lumut sekitar setengah jam perjalanan. Dan semakin jauh berjalan, hawa dingin pun semakin terasa menusuk, menemani langkah yang menyusuri jalan ke dalam hutan yang masih rapat tersebut. 

Namun, di satu bagian jalan, saya sempat melihat keadaan jalanan yang tidak biasa. Seperti ada semacam jalur di tengah jalannya. Ternyata, itu merupakan lintasan sepeda motor yang juga sering mengadakan acara di Jayagiri. Sayang sekali, jalanan jadi rusak, agak sulit bagi kami, para pejalan kaki untuk melewatinya.

http://www.nurulfitri.com/2016/09/menembus-kelembapan-tebing-lumut.html
Jalan menuju Tebing Lumut

Semakin jauh melangkah, keadaan hutan semakin gelap karena tertutupi pepohonan yang besar. Hawa semakin dingin dan suasana pun terasa lebih hening. Gemelisir angin, sesekali terdengar mengiringi langkah kami. Aroma kelembapan pun kian menyeruak. Kami sadar, suasana seperti ini, sangat disukai oleh hewan melata, misalnya saja, ular. Oleh karena itu, kami lebih memilih berjalan dengan hati-hati sambil melihat ke arah bawah.

Bagi saya, ini perjalanan yang pertama kalinya ke Tebing Lumut. Namun bagi suami ini yang keduakalinya. Menurut cerita suami saya, di perjalanan yang pertama, suami beserta anak saya, sempat bertemu dengan anak ular. Hewan melata tersebut pertamanya hanya diam, lalu bergegas pergi ketika merasakan orang-orang yang berjalan di jalur tersebut.


http://www.nurulfitri.com/2016/09/menembus-kelembapan-tebing-lumut.html
Tebing Lumut Jayagiri
Setelah kurang lebih sejam, akhirnya saya mendengar suara beberapa teman yang telah berangkat terlebih dahulu. Dari arah saya, terlihat mereka berada di bawah dan sudah menyusuri tebing. Berada di kedalaman dengan lebar sekitar satu depa orang dewasa.

Bergegas saya menyusul ke bawah, menyusuri Tebing Lumut. Lembapnya udara di sana, semakin terasa. Saya tidak mengetahui di mana ujungnya tebing ini. Karena kami sepakat tidak terus berjalan menuju ke dalam. Semakin jauh berjalan, ruangan menjadi semakin sempit dan banyak ditumbuhi pepohonan. Cocok sekali, untuk dijadikan sarang ular, bukan?

Setelah puas mengambil beberapa foto untuk menambah koleksi kami menyusuri Tebing Lumut, kami pun kembali ke perkemahan. Sejenak beristirahat sambil berbincang-binsang santai. Bercanda ria sambil membahas rencana-rencana komunitas mereka untuk kedepannya.
http://www.nurulfitri.com/2016/09/menembus-kelembapan-tebing-lumut.html

Dan hari pun sudah semakin siang, ada sebagian anggota yang pamit untuk pulang duluan. Karena ada yang mau kerja pada sore harinya, atau harus pulang keluar kota. Dari anggota yang tersisa, kami pun bersama-sama pulang dengan menuruni gunung dengan speed yang lebih cepat dibandingkan ketika mendaki. Waktu mendaki kami tempuh sekitar 2 - 3 jam, namun pulangnya bisa kami tempuh dalam waktu 1,5 jam, saja.
 
http://www.nurulfitri.com/2016/09/menembus-kelembapan-tebing-lumut.html
Jalur pendakian Jayagiri
Selamat ulang tahun yang pertama, The Young Glove, semoga kalian semakin kompak selalu dan kebersamaan yang telah terjalin bisa semakin erat. Di usia yang masih muda, pastinya akan masih banyak rintangan untuk dihadapi. Semoga kalian tetap bersama untuk menghadapinya ya...

http://www.nurulfitri.com/2016/09/menembus-kelembapan-tebing-lumut.html