Pertama kali mengenal roti dari Orange Bakery, ketika saya menghadiri sebuah acara di Wahana Bakti Pos Bandung. Kala itu, pemilik usaha roti dengan slogan "Your Reliable Partner on Bread Product" ini, menjadi salah satu sponsor acara milad Indscript. Sebagai bagian dari komunitas Ibu-ibu Doyan Bisnis (IIDB) dan Emak Pintar Bandung (EPB) yang dinaungi oleh Indscript, Teh Eli Kamaliah memberikan beberapa roti buatannya, untuk dijadikan door price dalam acara ulang tahun Indscript Creative. 


http://www.nurulfitri.com/2017/11/kisah-dibalik-kelembutan-orange-bakery.html
Roti Buaya - Orange Bakery
Sayang sekali, waktu itu saya tidak berkesempatan mendapatkan hadiah saat bagi-bagi door price roti berbentuk buaya kecil. Hanya bisa memandang teman-teman lain yang bisa mendapatkannya. Dari bentuknya, mengingatkan saya pada makanan khas orang betawi. Kalau tidak salah sajian roti berbentuk buaya itu, menjadi menu utama jika ada perayaan besar. Bagaimana dengan rasanya, ya?


Baca juga : Learning, Action, and The Power of Giving di Milad Indscript

Pada sore harinya, grup WhatsApp Emak-emak Pintar Bandung ramai membahas keseruan acara dari pagi hingga siangnya. Tidak ketinggalan komentar yang merasa bersyukur karena mendapatkan beraneka barang yang bisa dibawa pulang. Selain isi goodie bag yang banyak, peserta yang mendapatkan door price roti dari Orange Bakery pun mengungkapkan rasa puas karena sudah menikmati rasanya. Semua bilang, rotinya enak! Duuh ... saya semakin penasaran, dong!

Kebetulan, ketika pulang dari acara milad Indscript, saya menggunakan transportasi yang sama dengan pemilik Orange Bakery tersebut. Selama di perjalanan, kami pun banyak bertukar cerita, termasuk keberadaan tempat tinggal kami yang ternyata tidak berjauhan. 

Terus terang saya kagum dengan cerita seputar kegiatannya mengelola usaha roti. Dari kisah ibu dari dua orang anak ini, diketahui ternyata produknya diperuntukkan bagi kalangan menengah ke atas. Produk rotinya tersebut dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan rumah makan dan cafe-cafe yang ada di Kota Bandung dan sekitarnya.

Well ... saya bisa menduga-duga di kisaran berapa harga rotinya. Dan saya yakin, semua itu disesuaikan dengan kualitas barang yang dihasilkan oleh usahanya. 

Setelah sekian minggu, akhirnya saya berkesempatan berkunjung ke tempat Teh Eli dengan membawa serta anak lelaki saya. Yang saya bayangkan, ketika bertemu dengan pemilik Orange Bakery ini, saya akan berada di rumah yang produktif, dengan anaknya yang masih kecil. Saya kira, selama saya ngobrol asyik dengan Teh Eli, anak saya bisa bermain dengan anak pemilik usaha roti itu.

Ternyata ketika saya berkunjung ke Perum Bumi Orange, tempat kami akan bertemu, yang saya lihat sama sekali di luar dugaan. Nyatanya saya berada di sebuah rumah dengan mesin pengolah roti dan oven besar di dalamnya. Tidak ada sama sekali, kegiatan sebuah rumah dengan tingkah laku anak kecil di dalamnya. Hehehe...

Oalaah ... ternyata saya berada di sebuah rumah produksi. Di rumah itu, ada Teh Eli beserta karyawannya yang sedang mengolah roti. Semerbak wangi dari olahan roti yang sedang dibakar, begitu menggoda, dan membuat perut saya berbunyi pelan. #tutupmuka

Kami berdua pun melanjutkan perbincangan kami seputar usaha yang sedang dirintis oleh Teh Eli, kegiatan menulis yang sedang saya lakukan dan obrolan seputar bisnis online. Kami saling bertukar pikiran, berbagi pengalaman dan saling belajar. Kami sadar, berbisnis tidak bisa lepas dari kegiatan menulis untuk mempromosikan produk dan penulis pun harus bisa berkembang serta memiliki penghasilan dari hasil tulisannya.

Baca juga : Penulis Harus Dapat Berbisnis, Pebisnis Perlu Bisa Menulis

Usaha roti yang menurut Teh Eli masih kecil ini, ternyata merupakan usaha lanjutan (kalau boleh saya bilang, usaha warisan) dari seorang chef yang juga tetangga di rumahnya. Dulu, sekitar dua setengah tahun yang lalu, keluarga Teh Eli berkenalan dengan seorang chef yang mempunyai usaha pabrik roti.

Selain kesibukannya mengelola pabrik roti, chef tersebut juga harus mengajar di sebuah akademi tataboga di Kota Bandung. Kerepotannya inilah yang membuat chef tersebut mengajak keluarga Teh Eli, untuk bekerja sama mengelola usaha pabrik roti. 

Jika Teh Eli mengatakan usaha pabrik rotinya masih terbilang kecil, tapi tidak begitu kalau menurut saya. Di dalam pabriknya, selain penuh dengan alat untuk memproduksi roti, saya juga melihat sebuah oven tiga susun yang berukuran besar. Sebesar lemari pakaian tiga pintu. Dan saya perkirakan harganya lebih dari dua puluh lima juta. Nah, peralatan selengkap itu, bukan termasuk golongan usaha kecil, bukan? 

Ternyata  kerja sama dua kenalan tersebut, tidak bisa berjalan lebih lama. Kesibukan sang chef membuat dia menyerahkan semua usahanya untuk diteruskan dan dikelola oleh keluarga Teh Eli. Dan akhirnya Orange Bakery pun berpindah kepemilikan. Dari resep masakan hingga peralatannya diserahkan pada kawan saya itu. Alhamdulillah, pesanan terus berdatangan dan pabrik rotinya semakin berkembang. Wah, saya salut, deh, dengan perempuan yang bisa mengurus bisnisnya dengan baik, tanpa mengesampingkan urusan rumah tangganya. Usaha jalan, anak-anaknya pun terurus dengan baik.

Baca juga : Perempuan Bergerak Statis? Bukan Zamannya Lagi, Loh!

Hingga sekarang, Teh Eli memproduksi rotinya berdasarkan pesanan klien yang sudah dirintis oleh chef kenalannya. Bisa dibilang, tinggal meneruskan pesanan langganan. Kebanyakan langganan chef tersebut berasal dari pemilik rumah makan dan cafe. Ketika ditanya apakah roti produksinya dijual di warung-warung terdekat? Perempuan berjilbab panjang ini mengatakan, bahwa harga rotinya tidak bisa bersaing dengan roti yang ada di warung. Harganya tidak bisa menutupi biaya bahan dan produksi.

Wajar saja sih, karena memang roti dari Orange Bakery rasanya lembut dengan rasa manis yang pas di lidah. Begitu disobek, tekstur rotinya terlihat halus. Kebetulan saya sudah merasakan roti tawar dan roti sobek produk Orange Bakery ini. 

Tahukah teman, enggak memakan waktu lama, dua bungkus roti itu, ludes dinikmati oleh kami sekeluarga. Bahkan roti tawarnya enaak, meskipun tanpa tambahan selai apapun, loh!

http://www.nurulfitri.com/2017/11/kisah-dibalik-kelembutan-orange-bakery.html
Roti Sobek - Orange Bakery

http://www.nurulfitri.com/2017/11/kisah-dibalik-kelembutan-orange-bakery.html
Roti Aneka Rasa - Orange Bakery
Selain roti tawar dan roti sobek, Orange Bakery juga menyediakan roti rasa dengan pilihan yang beragam. Ada rasa coklat, keju, coklat keju, coklat kacang, coklat pisang, stroberry dan rasa blueberry.
Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau, yaitu dengan harga dari dua ribu rupiah hingga seratus lima puluh ribu rupiah.

http://www.nurulfitri.com/2017/11/kisah-dibalik-kelembutan-orange-bakery.html
Roti tawar ori - Orange Bakery

http://www.nurulfitri.com/2017/11/kisah-dibalik-kelembutan-orange-bakery.html
Roti Tawar Rainbow - Orange Bakery

http://www.nurulfitri.com/2017/11/kisah-dibalik-kelembutan-orange-bakery.html
Roti Tawar Leopard - Orange Bakery
Terus terang, saya ketagihan dengan rasa rotinya yang lembut dan enak itu.  Anak sulung saya, yang kurang begitu suka dengan roti, ketika diberi produknya Orange Bakery, terlihat menikmatinya hingga tandas. 
Barangkali teman-teman ada yang mau berkunjung ke pabriknya dan sekaligus membeli roti di sana, bisa mendatangi tempatnya di Perum Bumi Orange Blok E5-15, Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Dijamin enggak nyesel, deh! Rotinya memang nikmat!
Salam takzim