Inilah 5 Bahasa Cinta Yang Mempererat Hubungan Orangtua dengan Buah Hati

Setiap anak memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi oleh orangtuanya. Ada kebutuhan fisik dan juga kebutuhan psikis. Untuk kebutuhan fisik, pada umumnya orangtua sudah tahu apa saja kebutuhan anak yang perlu dipenuhi. Namun yang terpenting, yaitu memenuhi kebutuhan psikis buah hati, dengan mengisi tangki cinta anak dengan bahasa cinta.

http://www.nurulfitri.com/2018/01/5-bahasa-cinta.html

Anak yang memiliki tangki cinta yang penuh, dapat dilihat dari tingkah lakunya sehari-hari. Jika anak memiliki tangki cinta yang maksimal, dia akan terlihat penuh semangat, merasa bahagia, mudah diajak kerja sama dan mudah diarahkan.
Orangtua manapun, termasuk saya, pasti menginginkan anak yang memiliki tangki cinta maksimal. Begitu juga dengan adik kedua saya, dia akan berusaha mempererat hubungannya dengan buah hati semata wayangnya. 

Tangki cinta yang dimiliki oleh keponakan saya yang masih berusia 1,5 tahun itu, selalu berusaha untuk dipenuhi dengan maksimal. And, it's works! Saya lihat, anak perempuan bermata bulat itu, selalu terlihat ceria. Lucunya lagi, anak balita itu senang bersih-bersih rumah. Jika dia melihat ada tumpahan air, dengan segera diambilnya kain bersih untuk mengeringkan. Untuk ukuran anak di bawah 3 tahun, keponakan saya itu terlihat terampil saat diajak kerja sama mengeringkan tumpahan air.

Kedua hal tersebut, mencerminkan jika anak adik saya memiliki tangki cinta yang maksimal.

Tangki Cinta Yang Mudah Bocor
Mengapa saya bisa menyimpulkan jika keponakan saya itu, memiliki tangki cinta yang maksimal? Karena apabila tangki cinta seorang anak itu kosong atau tidak penuh, maka dia akan mudah rewel dan menjengkelkan. Anak terlihat memiliki perasaan yang tidak diterima, memendam amarah di hatinya, kerap membangkang pada perkataan orangtuanya dan tidak berani mengambil keputusan serta selalu merasa takut gagal.

Lalu, apakah ada kemungkinan tangki cinta anak berkurang? Tentu saja. Karena sifat tangki cinta itu, mudah sekali bocor. Nah, dalam kondisi seperti apa, tangki cinta tersebut bisa bocor? Wadah cinta tersebut akan berkurang isinya, saat orangtua memarahi anak, memperlakukannya dengan tidak sopan, melontarkan kata-kata yang menjatuhkan semangat anak dan merasa direndahkan.

Bahasa Cinta Yang Mempererat Hubungan Orangtua dengan Buah Hati

Untuk memenuhi tangki cinta anak, orangtua perlu memenuhi bahan bakarnya dengan bahasa cinta. Semua orangtua ingin anaknya terlihat ceria tanpa direpotkan dengan kerewelannya, bukan? Menurut Buku The Winning Children, ada 5 bahasa cinta yang dapat mempererat hubungan orangtua dengan buah hatinya, yaitu :

1. Kata-kata yang mendukung
Kata-kata yang dilontarkan oleh orangtua bisa diibaratkan pisau bermata dua. Di satu sisi bisa membantu komunikasi antara anak dan orangtuanya, tapi di lain sisi bisa mencelakai kita. 

Melalui kata-kata, anak bisa merasa dicintai atau malah bisa membuat mereka merasa dibenci atau diabaikan oleh orangtuanya.
Oleh karena itu, sebaiknya kita berikan anak kata-kata pendukung yang penuh kasih, berupa kata pujian yang tepat, kata yang memberikan dorongan yang membesarkan hati serta kata-kata yang membimbing.

Untuk urusan memberikan pujian pada anak, terus terang saya yang lebih banyak berperan. Suami saya termasuk pria yang jarang sekali, memberikan pujian. Dan ini, berlaku pula untuk istrinya. Jarang banget dia memuji istrinya hihihi ... lah, kok, malah curhat! ^~^

Mohon abaikan kalimat terakhir di paragraf sebelumnya, ya ... :)) 
Saya termasuk seorang ibu yang senang memuji anak, terutama jika mereka telah melakukan sesuatu yang positif. Tujuannya, agar mereka tahu, kalau saya sangat menghargai keberhasilan mereka, dan berharap semua pujian tersebut bisa menjadi penyemangat anak-anak, untuk selalu berusaha melakukan hal positif lainnya.

2. Berikan hadiah
Bahasa cinta bisa saja berupa hadiah. Namun sebagai orangtua kita perlu selalu mengingatkan anak untuk menghargai semua hadiah yang diberikan. Bukan dinilai mahal atau murahnya, tetapi menghargainya sebagai tanda ungkapan cinta. 

Memberikan hadiah, sebenarnya tidak sepenuhnya bisa berdampak positif. Sebagai orangtua selayaknya kita perlu berpikir panjang sebelum memberikan hadiah pada anak. Jangan sampai, disalahgunakan oleh anak kita.

Menurut Mr. Irwan SGM, ada beberapa hal yang berkaitan dengan penyalahgunaan pemberian hadiah kepada anak. Contohnya saja, memberikan hadiah dengan tujuan, anak kita mengikuti hal yang kita inginkan. Atau terlalu sering memberikan hadiah, sehingga makna pemberian tersebut menjadi berkurang.

Saya jadi teringat dengan tetangga saya. Dia seorang anak yang sering mendapatkan hadiah dari orangtuanya. Setiap orangtuanya hendak pergi bekerja, anaknya selalu dihibur dengan hadiah. Akibatnya, anak itu merasa sudah terbiasa dengan pemberian barang-barang itu. Ibunya kerap mengeluh pada saya, karena anaknya tidak peduli dengan hadiah yang telah diberikan kepadanya. Ternyata, memberikan anak limpahan hadiah, tidak menjamin anak akan merasa senang, bukan?

3. Melayani dengan Ikhlas
Siapa yang sering melayani semua keperluan anak? Anak yang dimaksud di sini, anak yang sudah besar, loh, ya ...
Saya tipe ibu yang senang melayani anak, tentu saja ketika mereka belum bisa melakukannya. Saat anak sudah besar, saya lebih memilih melayani sesuatu yang tidak bisa mereka lakukan atau sesuatu yang bisa membahayakan keselamatan anak-anak. 

Saat anak sudah mampu, saya ajari mereka untuk melayani dirinya sendiri dan kemudian diajarkan agar bisa melayani orang lain. Tujuannya, supaya anak bisa lebih dewasa dan mampu memberikan cintanya kepada sesama.

Yang dapat membuat situasi salah persepsi tentang melayani anak yaitu saat orangtua  melayani anak, agar pekerjaan bisa cepat selesai. Jika anak yang mengerjakan, kita harus menunggunya berlama-lama. 
http://www.nurulfitri.com/2018/01/5-bahasa-cinta.html
Bermain bersama saudara sepupu saat liburan
Saya jadi teringat pada keponakan saya yang telah diceritakan sebelumnya. Ibunya yang merupakan adik saya itu, selalu menanti dengan sabar, ketika anak balitanya mengelap lantai yang basah dengan kain kering. Dia biarkan anaknya menyelesaikan pekerjaan tersebut. 

Well ... di lain sisi, ada juga orangtua yang melayani anaknya untuk menebus rasa bersalah karena tidak bisa menyediakan waktunya untuk bercengkerama dengan buah hatinya. Hal ini bisa dijadikan contoh mengenai persepsi yang salah tentang melayani buah hati.

Sebenarnya waktu terbaik untuk melayani anak, adalah ketika mereka benar-benar mengalami kesulitan melakukan sesuatu. Anak-anak yang terpenuhi tangki cintanya dengan cara dilayani, akan terkenang pada bantuan orangtuanya saat mereka kesulitan melakukan sesuatu.

4. Sentuhan cinta secara fisik
Nah ... untuk bahasa cinta yang satu ini, saya teringat pada pengalaman masa kecil. Sampai sekarang, saya masih ingat saat bapak selalu mengusap kepala saya. Karena merasakan dampak positifnya, maka saya pun melakukan hal yang sama pada anak-anak saya. Sesering mungkin, saya memberikan mereka pelukan atau sekedar tepukan di pundak mereka.

Apalagi untuk anak lelaki saya. Hah... anak laki-laki diberikan sentuhan fisik? Apakah bisa menghambatnya menjadi sosok yang tegar? Ternyata, menurut riset para pakar, laki-laki yang tegar secara emosional pada umumnya mendapat banyak sentuhan fisik saat masih kanak-kanak. Anak lelaki yang kurang mendapatkan sentuhan fisik semasa masa kecilnya, akan tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang egois, suka melakukan kekerasan fisik dan mudah tersinggung jika berbicara dengan orang lain.

Ketika anak lelaki bertumbuh semakin besar, sentuhan yang diberikan tentu saja berbeda saat mereka masih kecil. Saat anak mulai beranjak remaja, sentuhan cinta bisa diberikan dengan cara bergulat, berpelukan kasar, atau saling tos. Sehingga anak tidak malu atau menolak ketika orangtua ingin memberi sentuhan cinta.

5. Waktu yang berkualitas
Yang dimaksud waktu yang berkualitas di sini, berarti fokus memberikan perhatian pada anak. Ketika anak masih balita, waktu berkualitas bisa dirasakan lebih sering. Namun seiring bertumbuhnya mereka, butuh perjuangan untuk menciptakan waktu berkualitas bersama orangtua.

Berbicara tentang waktu yang berkualitas, ada 3 kegiatan yang bisa menciptakan waktu berkualitas. Pertama, membacakan dongeng atau berbincang menjelang anak tidur. Kegiatan ini, bisa membentuk ikatan emosi dengan anak. Kedua, ngobrol santai hanya berdua dengan anak saling berbagi perasaan dan pikiran. Dan yang ketiga, melakukan kegiatan yang bersama, seperti berkemah, makan bersama atau sekedar membersihkan rumah bersama-sama.

Apalagi ketika anak sedang tidak sehat. Kehadiran orangtua ketika mendampinginya merupakan waktu berkualitas yang bisa selalu dikenang oleh anak. 

Seperti halnya ketika keponakan saya yang terserang demam ketika menikmati liburan kemarin. Keceriaannya mendadak hilang. Anak perempuan mungil yang biasanya berjalan ke sana ke mari sambil mengoceh, tiba-tiba murung dan enggan melakukan aktivitas apapun juga. 

Ketika diperiksa, ternyata keponakan saya mengalami demam. Suhu tubuhnya naik. Dia pun terlihat lemas dengan mata yang sendu. Kami semua khawatir, karena apabila ada salah satu anggota yang sakit, maka liburan  pun akan ditunda. Untuk mencegah anaknya mengalami demam, adik saya pun memberi buah hatinya Tempra Syrup. Seiring dengan tema Tempra yaitu "One Thousand Smile", adik saya berharap buah hatinya bisa kembali ceria tanpa diganggu oleh demam.

http://www.nurulfitri.com/2018/01/5-bahasa-cinta.html
Selalu sedia Tempra Syrup di lemari antara mainannya
Setelah memberinya obat, adik saya berusaha untuk selalu mendampingi putrinya. Dia yakin, jika anak yang kurang sehat, akan merasa dihargai dan merasa nyaman, ketika bunda selalu ada di sampingnya.

Kebetulan sekali, tempra syrup sangat disukai oleh keponakan saya. Rasa anggurnya membuat anak bermata bulat itu menikmatinya tanpa ada penolakan yang berarti. Sangat cocok digunakan untuk anak berusia 1-6 tahun. Dan yang sangat menggembirakan, keponakan saya bisa kembali ceria tanpa merasakan demam.

Ternyata tempra mengandung paracetamol yang berfungsi sebagai antipiretika di pusat pengaturan suhu di otak dan analgetika dengan meningkatkan ambang batas sakit. Selain itu, tempra aman di lambung dan penggunaannya pun mudah karena bisa langsung diminum tanpa dikocok terlebih dahulu, larut 100%. Obat berukuran 30 ml ini, dilengkapi gelas takar dengan dosis yang tepat dan tidak menimbulkan over dosis atau pun kurang dosis.

Selain memberikan obat penurun demam, adik saya selalu setia mendampingi buah hatinya. Karena mendampingi anak saat mereka sedang sakit, bisa dijadikan momen penting untuk menciptakan waktu yang berkualitas. Kami selalu berharap, tangki cinta keponakan saya bisa terus diisi oleh orangtuanya. Agar anak kecil itu bisa kembali ceria dan menghabiskan waktu liburan bersama keluarga kembali.


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra
























5 comments:

  1. Betul, waktu yang berkualitas dengan anak itu perlu sekali

    ReplyDelete
  2. sehat sehat selalu bunda dan keluarga :)

    ReplyDelete
  3. Aku selalu berikan kata kata yang mendukung biar anak anak termotivasi mba

    ReplyDelete
  4. Tetap memberi kasih sayang terhadap anak. Karena kassih sayang kepada anak adalah kinci sebuah keberhasilan dalam mendidik anak di dalam keluarga

    ReplyDelete
  5. Hmm... nice. Mayan buat bahan parenting aku nanti mbk... arigatou :D

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf, karena banyaknya SPAM, maka komentarnya saya moderasi dulu. ^~^

.comment-content a {display: none;}