Festival Kaulinan Barudak Sunda

Orang tua mana yang tidak senang, ketika mendapati anaknya bisa mengikuti perkembangan sesuai zamannya? Hampir semua orang tua senang, saat menemukan anak mereka bisa bersinergi dengan teknologi yang makin berkembang belakangan ini. Seolah lupa dengan asyiknya bereksplorasi dan menikmati keseruan permainan tradisional, yang kerap dilakukan oleh orang tua mereka pada zaman dahulu kala.

Kedekatan anak dengan canggihnya teknologi, di sisi lain membuat orang tua merasa kehilangan waktu untuk berinteraksi dengan buah hatinya. Sedangkan anak-anak sudah terlanjur asyik dengan dunia mereka yang serba digital.

Pada akhirnya perkembangan sosialisasi anak-anak, setidaknya akan menemui beberapa hambatan. Anak-anak lebih asyik berkomunikasi dengan teman yang berada jauh di daerah lain melalui sosial media, dibandingkan dengan teman-teman sepermainannya di rumah atau pun di sekolah.

Miris, bukan? Akibat teknologi yang melaju dengan pesat, anak-anak pun semakin asyik dengan keseruan di dunia maya.

Keadaan ini, membuat para guru dan komite persatuan orang tua siswa di sekolah anak saya, merasa perlu menyelenggarakan acara yang bisa mengalihkan perhatian anak-anak dari gawai mereka. Berhenti sejenak dari keasyikan dunia maya.

Salah satu cara untuk menyeimbangkan interaksi anak dengan dunia maya dan dunia nyata, pihak sekolah dan komite orang tua murid mengadakan Festival Kaulinan Barudak Sunda. Dalam acara ini, anak-anak diperkenalkan dengan permainan tradisional khas daerah Sunda.


Kaulinan Barudak Sunda

Di dalam acara yang diselenggarakan di sekolah tersebut, anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok. Usia mereka disesuaikan dengan jenis permainan yang akan dimainkan.

Untuk anak yang lebih besar, seperti kelas 4, kelas 5, dan kelas 6, mereka diperkenalkan dengan permainan yang membutuhkan keseimbangan tubuh dan keberanian. Sedangkan untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3, memainkan kaulinan yang memiliki sedikit resiko . Lalu, apa saja permainan tradisonal yang ada di acara Festival Kaulinan Barudak Sunda tersebut?

Permainan Egrang
Egrang merupakan permainan berjalan menggunakan alat yang terbuat dari bambu. Agar dapat berjalan tegak di atas bambu, pemainnya membutuhkan keseimbangan dan tenaga yang tidak sedikit. Oleh karena itu, permainan ini  sebenarnya cocok dimainkan oleh anak-anak dengan minimal usia 7 tahun ke atas.


http://www.nurulfitri.com/2018/01/festival-kaulinan-barudak-sunda.html
Permainan Egrang
Permainan egrang ini sebaiknya dilakukan di tempat yang datar dan tidak terdapat lubang. Alhamdulillah, di sekolah anak saya, sudah menggunakan paving block, sehingga cukup aman saat melakukan permainan tersebut.
Saat memainkannya, dipilih 5 orang peserta untuk berlomba berjalan menggunakan egrang. Yang tiba di garis finish terlebih dahulu, itulah yang dianggap sebagai pemenang.

Permainan Sorodot Gaplok
Kaulinan barudak Sunda kedua yang diperkenalkan kepada murid-murid SDIT Insan Teladan yaitu, permainan sorodot gaplok. Permainan tradisional yang satu ini, menggunakan batu sebagai alat permainannya.

Ada yang mengartikan sorodot gaplok menjadi dua buah kata. Sorodot yang berarti meluncur dan gaplok yang berarti tamparan. Jadi permainan sorodot gaplok adalah permainan meluncurkan batu yang diarahkan pada batu lainnya, sehingga menimbulkan bunyi "plok", seperti bunyi tamparan.

http://www.nurulfitri.com/2018/01/festival-kaulinan-barudak-sunda.html
Permainan Sorodot Gaplok

Permainan ini biasanya dilakukan berkelompok. Secara bergantian, peserta berdiri di belakang garis start, kemudian membawa batu di atas punggung kaki, lalu melemparkannya ke arah batu yang berada di garis finish.

Batu yang digunakan biasanya berbentuk pipih dan ringan. Tujuannya agar lebih mudah dibawa dan diarahkan untuk diadu dengan batu yang dipasang berdiri tegak di garis finish.

Bermain sorodot gaplok melatih anak-anak untuk bekerja sama dalam kelompok. Selain itu juga mengasah konsentrasi, melatih ketangkasan dan menumbuhkan jiwa kreatifitas anak-anak.

Bermain Dam-daman
Permainan tradisional tidak hanya dilakukan di luar ruangan, ada juga kaulinan yang dilakukan di dalam ruangan, salah satunya dam-daman.
Dam-daman hampir mirip dengan catur, menggunakan pion yang digerakkan sesuai dengan pola yang telah dibuat. Bedanya, dam-daman tidak mengenal skak mat dan semua poin dapat bergerak maju, mundur, serong dan ke samping. 

Cara bermainnya, pemain saling makan pion lawannya. Strategi yang sering digunakan yaitu mengumpan salah satu pion yang dimiliki untuk dapat banyak memakan pion lawan. Saat diberi umpan, maka lawan akan memakan dengan cara melompati pion musuhnya. Dan peserta yang kalah yaitu peserta yang telah habis pionnya.

http://www.nurulfitri.com/2018/01/festival-kaulinan-barudak-sunda.html

Permainan Kelom Batok
Untuk memainkan kelom batok, peserta diharuskan untuk mengatur keseimbangan dan memiliki ketahanan tubuh. Kelom atau pijakan yang digunakan, terbuat dari tempurung kelapa yang dibelah menjadi dua bagian. Di bagian tengah tempurung, dipasang tali dan digunakan sebagai pegangan oleh peserta. 

Cara bermainnya, tidak jauh dengan permainan egrang. Peserta berlomba-lomba terlebih dahulu mencapai garis finish. Bedanya, kelom batok selain tumpuannya pada kaki (pijakan) pemain juga bertumpu pada tangan (pegangan tali). Tali yang dipasang, selain dijadikan pegangan, juga berguna untuk mengatur kendali turun naiknya kaki.

http://www.nurulfitri.com/2018/01/festival-kaulinan-barudak-sunda.html
Kelom Batok

Pemain kelom batok diuji ketangkasannya, diuji fisiknya dan melatih strategi yang digunakan. Hal menarik dari permainan ini, selain melatih keseimbangan dan konsentrasi, yaitu suara yang ditimbulkan oleh batok kelapa. Suaranya bisa menimbulkan nada nyaring yang harmonis.

Permainan Perepet Jengkol
Apabila kaulinan barudak Sunda yang lain menggunakan alat sebagai bagian dari permainan, tapi tidak pada perepet jengkol. Permainan ini hanya menggunakan kaki peserta yang saling dikaitkan.

Pemain berdiri saling membelakangi, dan mengaitkan salah satu kakinya dengan anggota kelompoknya. Peserta juga harus saling berpegangan tangan untuk menjaga keseimbangan. Setelah kaki peserta saling terkait, mereka pun melakukan gerakan berputar sambil meloncat dengan salah satu kakinya. 

http://www.nurulfitri.com/2018/01/festival-kaulinan-barudak-sunda.html
Perepet jengkol
Permainan Oray-oray-an
Oray-orayan merupakan permainan tradisional yang melibatkan banyak peserta. Tidak menggunakan alat, tetapi membutuhkan kekompakkan dari masing-masing kelompok. 

Peserta berbaris sambil memegang pundak kawannya, sehingga membentuk barisan yang panjang dan melingkar seperti ular.
Kaulinan ini dilakukan secara berkelompok. Peserta yang berada paling depan, berperan sebagai kepala ular. Dia bertugas mengambil orang terakhir yang berada di ujung barisan lawannya.
Bagi kelompok yang banyak kehilangan anggotanya, dianggap sebagai kelompok yang kalah.


http://www.nurulfitri.com/2018/01/festival-kaulinan-barudak-sunda.html
Permainan Oray-orayan
Sebenarnya, masih banyak lagi permainan tradisonal yang berasal dari Jawa Barat. Dan tentu saja, tidak kalah seru dari permainan yang ada di dunia maya. Bahkan anak bisa dilatih lebih cakap bersosialisasi, dan menumbuhkan ketangkasan, serta konsentrasi mereka.

Senang sekali bisa melihat anak-anak tertawa ceria ketika melakukan kaulinan. Akhirnya mereka bisa terlepas sejenak dari keasyikan bermain dengan game online. Semoga, tahun depan, Festival Kaulinan Barudak Sunda ini, bisa digelar kembali. Selain memperkenalkan budaya Sunda pada anak-anak, festival kaulinan ini bisa melestarikan warisan dari nenek moyang.

Teman-teman, ada yang pernah memainkan kaulinan tradisional saat masih kecil? Cerita, yuuk!!

26 comments:

  1. jaman digital gini para guru dan orangtua memang musti kreatif ya supaya anak-anak nggak terlalu asik dengan dunia maya.

    betewe aku jadi pengen maen kelom batok, dulu waktu kecil sering main permainan itu :)

    ReplyDelete
  2. Asik kalau permainan seru ini dikenalkan ke anak-anak, mereka jadi beraktifitas fisik dan cinta dengan olahraga tradisonal. Dari sebanyak permainan di atas aku awalnya cuma tahu dengan egrang lho ehheheeee

    ReplyDelete
  3. Kayaknya seru ya, permainannya. Selama di SD, anak2 saya hanya dikasi materi belajar Basa Sunda. Nggak pernah dikenalin kaulinan yang beragam itu.

    ReplyDelete
  4. Jadi inget masa kecil deh saya. Permainan bala asin, takadal dll. Itu sama dg olahraga bagi anak, krn aktif bergerak & baik bagi motorik & pertumbuhan anak

    ReplyDelete
  5. waaah itu semua permainan yang saya mainkan saat masih kecil, sekarang udah jarang anak-anak main itu di pekarangan rumah karena lahan sudah makin sempit, anak-anak pun sudah jarang main ke luar rumah kayak zaman dulu

    ReplyDelete
  6. Tiga permaiban diatas saridot gaplokm oeay-orayan, parepet jengkol permaibanku waktu masih kecil jadi iingin main lagi, kangen bandung

    ReplyDelete
  7. Yaaampuun seru banget ya festivalnya. Aku jadi berasa nostalgia jaman kecil dulu baca ini. Beberapa permainan di situ dulu pernah kumainkan bersama teman-teman. Kenangan masa kecil yang aku ingat itu salah satunya aku pernah merasa tertawa bahagia banget hanya berkumpul dan memainkan berbagai permainan sederhana bersama teman-teman biasanya sepulang sekolah sampai sore.


    Aku pun kadang miris liat anak-anak jaman sekarang udah sibuk sendiri sama gadgetnya, bener-bener serba digital. Minim interaksi sesama teman seusianya, tapi memang begitulah eranya.
    Nah, festival kayak gini bisa memberikan warna yang baru buat anak-anak jaman now dan memperkenalkan sesuatu hal baru yang seru buat mereka. Semoga terus diselenggarakan secara rutin ya, Mbak festival kayak gini.

    ReplyDelete
  8. Waaaaah aku ngeliatnya ikutan asyik banget tuh mbak. Jadi inget masa kecil di SD juga suka ikut lomba2 permainan semacam itu tapi pas cuma Agustusan doang sih, hadiahnya pun receh kaya roti atau jajanan hihi. Tapi emang lebih bagus kalau diadain acara permainan anak tersendiri seperti itu ya, mengasyikan.

    ReplyDelete
  9. Eventnya bagus sekali Mbak, patut ditiru oleh sekolah lain. Zaman saya kecil, permainan seperti ini masih ada, tapi sekarang sudah hilang. Anak-anak banyak yang hilang dalam dunia mereka sendiri-sendiri.

    ReplyDelete
  10. Waa bagus ini. Anak -anak zaman sekarang memang harus dikenalin sama mainan yang begini. Biar gak main hp mulu

    ReplyDelete
  11. Anakku di sekolah juga ada Mbak permainan-permainan itu..Mirip sih cuma beda nama kalau di Betawi. Bahkan untuk muatan lokal karena Betawi enggak ada bahasa daerah yang khusus jadi pelajaran Bahasa Daerah itu kalau di Jakarta PLBJ, Pendidikan Lingkungan dan Budaya Jakarta. Yang dipelajari diantaranya:permainan, makanan dan tempat wisata Jakarta.

    ReplyDelete
  12. Egrang atau Enggrang ya mba itu aslinya. Kalau di sunda, egrang ya nyebutnya. Eh kaulinan itu apa? Permainan ya mba tapi bahasa sunda?

    ReplyDelete
  13. Pasti deneng banget ini anak anak bisa bermain begini. Hakekatnya permainan tradisional bisa m3mbuat interaksi semakin bagus dengan lingkungannya plus bisa bersentuhan langaung d3ngan alam nih. Daripada terpaku terus ama gadget. Mantep feativalnya

    ReplyDelete
  14. Kelom Batok, pas kecil kan gak pernah ketemu mainan ini. Lalu ada acara odolan yg liatin permainan tradisional. Kukira itu batok ditepuk2kin kaya di Upin Ipin. Ternyata buat jalan, hahaha

    Buat ular2 ran, sampai gedhe kadang jg msh main. Seingatku pas di MAN main jg

    Seneng kalau ada kegiatan gini. Anak2 jaman sekarang tetep bs main permainan tradisional

    ReplyDelete
  15. festival yang kayak gini yang harus digalakkan di seluruh daerah di inonesia. terkadang sedih liat anak-anak yang seharusnya bahagia eksplorasi di luar malah cuma diem dirumah main gadget doank. MKuncul lah generasi yang anti-sosial dan berbadan lemah.

    ReplyDelete
  16. Sepertinya asyik juga yah kak kembali bernostalgia dengan permainan zaman dahulu kala. Ada main egrang, main sarodot gaplok, main dam-daman, main oray-orayan. Enak sepertinya jika dikenalkan kembali ke anak-anak zaman sekarang. Permainan tradisional memang selain menghabiskan waktu luang, ada manfaat juga loh buat kecerdasan dan tubuh.

    Wait, main dam-daman itu kok gayanya kayak mirip halma ya? Hmmm.

    ReplyDelete
  17. Orang tua harus aktif ngajak anak main di kuar ya, Mbak. Biar gak kecanduan gadget, anak juga tau permainan tradisional yang ada.

    ReplyDelete
  18. Seruuuu banget sekolahnya yaa Teh Nurul, seimbang antara gadget dan ihnteraksi dengan lingkungan yaa Teh

    ReplyDelete
  19. Seru banget ya mbak. Untung masih ada Festival kaulinan sunda di zaman sekarang. Senang banget ya, melihat anak-anak yang pada aktif bermain. Semoga sehat terus dan makin aktif bergerak ya.

    ReplyDelete
  20. Kaulinan sunda yg bkin penasaran itu pas main egrang, soalnya dulu sempet belajar yang pendeknya tapi penasaran sama egrang yg lebih tingginya

    ReplyDelete
  21. wah nostalgia banget aku mba, dulu waktu kecil aku suka banget main perepet jengkol wkwkwk kalo gak sampe jatoh semua tuh gak puas rasanya hihi

    ReplyDelete
  22. seruuuu yaaa...
    di jaman sekarang ini, mereka generasi penerus memang harus tahu mainan mainan jadul jaman dulu, hihihi

    eggrang, dam-daman, sorodot gaplok di tempatku namanya engklek, eh bener nggak si? cara mainnya hampir sama cuma namanya aja yang beda. hehehehhe

    ReplyDelete
  23. Keren ini..acara bagus banget cocok dan sesuai..dengan penentu dipulihkan sendiri..

    ReplyDelete
  24. Jadi mengingat masa kecil dulu suka main egrang :D

    ReplyDelete
  25. Aku suka main egrang waktu kecil, wkwk. Seru sih :D

    ReplyDelete
  26. Dari semua permainan di atas, aku cuma pernah main egrang doang. Huhuhu. Mungkin karena beda daerah juga kali ya jadi permainan yang laen gaada di kampungku.

    Oiya acara begini memang harus rutin dibikin sekolah, biar anak anak bisa bener bener ngerasain apa artinya main dan nikmarnya main sama temen2nya. Apalagi sekarang udah zamannya serba teknologi

    ReplyDelete

.comment-content a {display: none;}