Pergi ke negeri kayangan adalah impian saya sejak kecil. Berawal dari kegemaran membaca buku dongeng yang sebagian besar menceritakan putri atau bidadari dari kayangan, membuat saya berangan-angan bisa juga tinggal di negeri kayangan. 

Di dalam benak saya, di negeri kayangan itu semua serba indah. Pemandangan alamnya yang indah, orang-orangnya yang cantik dan tampan, tempat-tempat bagus yang menyedapkan pandangan mata, pokoknya nyaman untuk jadi tempat tinggal. Keindahan negeri kayangan yang tergambar seperti itu tertanam kuat di pikiran, membuat saya ingin segera bisa ke sana.

Seiring waktu, pemahaman tentang negeri kayangan yang dihuni oleh bidadari dan bidadara menjadi semakin samar. Namun diri ini masih tetap percaya dengan adanya negeri yang indah seperti kayangan. Keyakinan itu bertambah kuat saat mengetahui tentang keindahan Daratan Tinggi Dieng yang dikenal sebagai negeri kayangan. 

Negeri Kayangan Dieng

Jiwa kanak-kanak saya bersorak kegirangan, ketika mengetahui ternyata di negeri Indonesia tercinta juga ada tempat indah seperti kayangan. Saya setuju dengan penyebutan negeri kayangan yang diberikan pada dataran tinggi Dieng. Setidaknya ada dua hal yang mendukung pernyataan masyarakat tentang kawasan vulkanik aktif di Jawa Tengah tersebut sebagai negeri kayangan, yaitu:

  • Daratan Tinggi Dieng disebut sebagai negeri kayangan karena berada di tempat tinggi dengan pemandangannya yang indah. Sebagai keluarga pendaki gunung, saya dan keluarga selalu menyukai pemandangan indah dan memesona saat matahari terbit di puncak gunung.
  • Terdapat peninggalan bangunan suci yang dikaitkan dengan "tempat tinggal dewa"

Nah dari kedua fakta tersebut, saya bertambah yakin bahwa Dieng merupakan tempat yang tepat dikatakan sebagai negeri kayangan. Dataran tinggi dengan pemandangan indah dan peninggalan bangunan suci sebagai warisan budaya bangsa.

Keindahan Alam Dieng Yang Memesona

Daratan  Dieng, memiliki beberapa puncak yang menyediakan pemandangan terbaik sun rise. Puncak-puncak yang menyediakan spot terbaik untuk menikmati sun rise yaitu Puncak Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Prahu, Gunung Pakuwaja dan Gunung Sikunir. 

warisan-budaya-dieng
Puncak Gunung Sumbing (dokpri)

warisan-budaya-dieng
Puncak Sindoro dilihat dari Puncak Sumbing (dokpri)

Tidak hanya sebagai tempat terbaik melihat matahari terbit, Daratan Tinggi Dieng juga kawasan yang menyediakan pemandangan dari ketinggian sehingga kita bisa menikmati keindahan di atas awan. Sungguh pemandangan yang luar biasa indahnya. Sesuai dengan perumpamaan sebagai negeri kayangan yang berada di atas awan.

warisan-budaya-dieng

Ketika melihat pemandangan indah di daratan tinggi tersebut apakah yang ada di dalam pikiran teman-teman? Dengan semua keindahannya, wajar saja jika kawasan Dieng disebut sebagai negeri kayangan, bukan?

Warisan Budaya Negeri Kayangan Dieng

Selain memiliki pemandangan indah yang memanjakan mata, Daratan Tinggi Dieng juga menyimpan peninggalan bangunan suci yang dihubungkan dengan "tempat tinggal para dewa". Dikaitkan dengan nama Dieng yang berasal dari bahasa kawi, yaitu Di memiliki arti tempat atau gunung, dan kata Hyang bermakna dewa. Sehingga Dieng diartikan sebagai daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam.

Peninggalan bangunan suci di Dataran Tinggi Dieng yang dikaitkan dengan keberadaan dewa yakni terdapatnya komplek candi di sana.

Candi merupakan  bangunan suci sebagai sisa-sisa sarana ritual agama Budha dan Hindu di Indonesia. Bagi masyarakat India bangunan suci tersebut selalu dikaitkan dengan "tempat tinggal dewa".
Saya kira ini merupakan fakta kedua yang mendukung latar belakang sebutan Dieng sebagai negeri kayangan.

Di kawasan Dieng kita semua bisa melihat perjalanan sejarah Indonesia yang banyak meninggalkan warisan budaya. Keberadaan candi tidak hanya untuk disimak keindahan dan kemegahannya, tetapi kita juga bisa mencermati filosofi yang dimilikinya. Filosofi apa sajakah itu? Kita bisa mencermati arsitekturnya, ikonografinya maupun cerita reliefnya.

Di setiap candi yang pernah dikunjungi, cerita relief di dinding candi merupakan bagian yang paling menarik perhatian saya. Relief-relief tersebut seakan bercerita tentang kebesaran peradaban Indonesia klasik. Bagi saya pesona candi memang sangat luar biasa, pesonanya tidak lekang oleh waktu.

Komplek Candi Dieng

Di kawasan Dieng, candi-candi yang berdiri di sana merupakan sebuah kompleks candi peninggalan ajaran Hindu-Siwa. Komplek ini terletak di tanah datar tinggi Dieng dengan ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut.

Meskipun terdapat beberapa variasi, tetapi ada ciri umum candi-candi Dieng. Apa saja yang menjadi ciri umum candi di Dataran Tinggi Dieng? Ciri umum yang bisa kita lihat dari bentuk bangunan yang ada, yakni:

  • Candi Dieng termasuk memiliki gaya Klasik Tua yaitu gaya Mataram Kuno
  • Mempunyai 3 bagian candi yang terdiri dari kaki, tubuh dan atap. Secara keseluruhan terlihat tambun
  • Atap berlapis tiga
  • Perbingkaian candi terdiri dari pelipit rata dan padma, tidak ada bingkai bulat (kumuda)
  • Pintu dan relung candi dihiasi kala-makara tanpa rahang bawah serta berdenah bujur sangkar

Candi-candi Dieng tersebut letaknya tersebar, kecuali lima candi berkelompok yang dibatasi oleh pagar seperti Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Semar dan Candi Sembadra.

warisan-budaya-dieng

Selain itu di sebelah barat daya Bale Kambang, di kaki Bukit Panggonan terdapat pula Candi Gatotkaca, di sebelah utara dekat Bukit Prahu ada Candi Dwarawati dan di ujung selatan terdapat Candi Bima. 

Sebenarnya selain 8 candi tersebut, masih ada candi lainnya tetapi sebagian sudah hancur. Diperkirakan candi di Dieng berasal dari abad ke 8 - 10 Masehi, tetapi ada dugaan candi-candi tersebut lebih tua usianya.

Cagar Budaya yang Harus Dilestarikan

Sedih sekali kalau melihat sisa reruntuhan candi yang berserakan di kawasan candi. Padahal saya ingin melihat dan menikmati semua hasil karya keluhuran sistem pengetahuan dan sistem teknologi yang dibangun oleh nenek moyang kita. Belum lagi proses pembangunan candi yang memerlukan organisasi waktu dan tenaga kerja, bisa dipastikan semuanya dikerjakan secara gotong royong untuk mencapai tujuan bersama.

Namun saya juga maklum jika tidak mungkin para leluhur kita membuat candi-candi tersebut dari bahan yang awet sepanjang masa. Tentu ada keterbatasan kekuatannya. Oleh karena itu, penting sekali mengupayakan untuk mempertahankan keberadaan candi-candi tersebut. Apalagi candi merupakan benda cagar budaya yang harus dijaga kelestariannya. 

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2010 pasal 1 ayat 1, Cagar Budaya adalah warisan budaya bangsa bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Melestarikan cagar budaya bukan semata karena semua kebendaan tersebut merupakan warisan budaya bangsa saja. Namun keberadaan sebuah cagar budaya juga bisa memberikan nilai manfaat bagi masyarakat sekitar. Misalnya saja di kawasan candi, kita bisa melihat banyak masyarakat yang berjualan atau menawarkan jasanya kepada pengunjung. Bisa dikatakan keberadaan cagar budaya tersebut juga berpengaruh pada perekonomian masyarakat.

Oleh karena itu, semua kalangan masyarakat semestinya turut andil melestarikan warisan budaya sendiri untuk mendukung upaya-upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah. Apa saja yang bisa kita lakukan untuk melestarikan warisan budaya peninggalan leluhur?

  1. Jadikan cagar budaya sebagai tempat tujuan wisata. Keindahan alam dan peninggalan kebesaran peradaban Indonesia Klasik bisa dijadikan sebagai tempat tujuan wisata bersama keluarga.
  2. Menghayati kunjungan ke tempat wisata sebagai aktivitas yang bisa menambah wawasan dan kecintaan pada budaya bangsa.
  3. Mempelajari nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh pendahulu. Berdirinya sebuah candi tentunya tidak terlepas dari hasil kerja sama dari orang-orang yang membangunnya. Kita bisa mencontoh sikap gotong royong yang bertujuan untuk mencapai kepentingan bersama.
  4. Menghindari vandalisme yang dapat merusak cagar budaya yang menjadi warisan budaya bangsa.
  5. Menjadikan kawasan cagar budaya berdaya guna untuk kesejahteraan masyarakat. Perlu diadakan edukasi pada masyarakat untuk bisa berdaya guna seperti menjadi pemandu wisata, penjual souvenir atau menjadi penjaga keamanan kendaraan pengunjung.
  6. Di era teknologi informasi, generasi muda diharapkan bisa membuat kawasan cagar budaya menjadi lebih terkenal melalui media sosial. Selain itu, mereka juga bisa menciptakan aplikasi mengenai tempat-tempat cagar budaya sehingga gaungnya tersebar luas.

Dengan melestarikan warisan budaya bangsa diharapkan tidak hanya kita saja yang bisa menikmati keindahan cagar budaya yang masih tersisa. Namun anak cucu kita pun bisa menikmati keindahan alam serta warisan budaya seperti yang ada di Daratan Tinggi Dieng. Cukup sudah beberapa candi saja yang musnah dan rusak. Jangan sampai bertambah lagi candi yang hancur. Tugas kitalah sebagai masyarakat untuk meningkatkan kepedulian pada pelestarian cagar budaya.

Yuk, jaga warisan budaya bangsa dan nikmati keindahan alamnya yang memesona! Semoga tidak hanya saya yang bisa menikmati keindahan negeri kayangan. Namun generasi mendatang pun diharapkan bisa menikmati keindahannya dan warisan budaya di Negeri Kayangan Dieng.

Salam takzim

Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Dieng
IIDN. 2018. Aku & Cagar Budaya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Candi Indonesia seri Jawa. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan