Kisah Celana Batik di Pertunjukkan Seni Akhir Tahun Ajaran Sekolah

Setiap akhir tahun, di sekolah anak saya selalu di adakan pentas seni yang menampilkan atraksi dari semua murid. Bagaimana dengan teman-teman? Apakah anak-anak tampil dalam sebuah pertunjukkan untuk menghibur orang tua sebelum pembagian raport?
Kalau saya, sih, senang sekali melihat anak saya tampil di atas panggung. Di samping untuk mengambil manfaatnya seperti melatih keberanian mereka dan mengasah rasa percaya diri, saya juga senang melihat ekspresi wajah anak-anak.
Pernah menemukan wajah anak yang terlihat kaku ketika manggung? Terlihat malu dan mau menangis? Atau wajah-wajah bingung karena lupa gerakan?
Hi..hi..lucu banget kan? Oleh karena itu, saya senang sekali melihat anak-anak beraksi di atas panggung. Lucu-lucu :)



Namun, dibalik kemeriahan acara tersebut, tentu saja tidak terlepas dari campur tangan para guru dan orang tua. Guru yang melatih anak untuk dapat beraksi di atas panggung dan orang tua yang turut membantu menyediakan perlengkapan untuk naik panggung. 
Tidak terkecuali saya. Karena anak lelaki saya tergabung dalam grup penari layaknya abang-abang dari Jakarta, kami selaku orang tua diminta bantuannya untuk menyediakan celana batik untuk pentas.
Di kota kami, celana batik seperti itu jarang tersedia. Bisa dihitung dengan jari, toko yang menyediakan pakaian bercorak batik. Oleh karena itu, kami agak kesulitan untuk menyediakannya.
Saya sampai gempor, deh, karena berkeliling ria di pertokoan yang ada. Celana batik untuk ukuran anak 8 tahun ternyata sulit saya temukan. Padahal celana itu akan dipakai esok lusanya. Rasanya tidak mungkin untuk sekedar membeli sebuah celana batik, kita harus pergi ke luar kota. Duuh.. pengeluaran biaya untuk pergi ke sana, perlu dipertimbangkan dong..
Akhirnya, dari pada tidak ada sama sekali, saya beli saja celana ukuran dewasa. Nanti dipermak aja di tukang jahit, pikir saya kala itu.
Ternyata bukan hanya dipermak, tapi harus dirubah total. Tuh, lihat saja, ukurannya jauh bangeet, kan? He..he...


Akhirnya, anak bungsu saya pun bisa manggung dengan celana batiknya. Dan ketika acara berlangsung, para emak yang menyaksikan atraksi anaknya bertukar cerita masing-masing ketika mencari celana batik untuk anak-anaknya.
Ternyata, beberapa emak sempat kebingungan cari celana batik juga. Dan diantaranya akhirnya sama dengan saya, permak celana dari ukuran dewasa ke ukuran anak. Saya tidak sendiri..sodara-sodara... ha..ha..
"Saya kehabisan Bunda, gak nemu celana batik ukuran dewasa apalagi ukuran anak-anak." kata seorang teman setelah anak-anak turun dari atas panggung.
"Duh, kehabisan ya? Terus itu yang dipake anak Bunda dari mana?" tanya saya sambil menunjuk anaknya.
Sambil tersipu-sipu malu, teman saya berbisik, "Saya buat celana batik itu dari baju daster..hi..hi.."
Mendengar itu, saya gak bisa menahan tawa, kami pun tertawa bersama. Membayangkan dua hari kebelakang yang penuh perjuangan.. :D
Apapun akan dilakukan oleh para emak untuk anak-anaknya. Memang harus kreatif.
Gak ada celana yang seukuran dengan anaknya, rombak yang ada. 
Atau, seperti teman saya itu, rela merubah dasternya menjadi celana batik untuk manggung anaknya. 
Beruntung yang telah memiliki baju tidur dengan corak batik di rumahnya. Tinggal pake celananya aja, deh. Gak akan ada yang tahu kalo yang digunakan untuk atraksi di atas panggung adalah baju tidur..he..he..
Tamu yang hadir dan menikmati pertunjukan, pastinya tidak tahu. Ada perjuangan tersendiri untuk bisa menghadirkan celana batik di acara perpisahan kemarin. Alhamdulillah acara pentas seni kemarin, berjalan dengan lancar. Itu yang terpenting. :)

Artikel Lainnya :
Manfaat Bermain Ice Skating Untuk Anak
Tips Memilih Sekolah Menjelang Tahun Ajaran Baru
Mengajarkan Anak Bersahabat Dengan AlamCara Cermat Mengajarkan Anak Gemar Menabung
Manfaat Memancing Ikan Saat Mengisi Liburan


21 comments:

  1. Celingukan nyari kolom blog, dimana kah mak ? salam kenal ya mak... :)

    ReplyDelete
  2. Salam kenal juga Mak.. ada kok, disamping kanan Mak :)

    ReplyDelete
  3. Wah, bikin celana dari daster. hihi.


    Gak ada follow (join this site) ya Mak.
    Okey aku folllow G+ nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, yang dimaksud Mak Irma dan Mak Uwien tuh kolom "join this site" ya? Kirain sama dengan G+..hi..hi.. makasih masukannya Mak-mak

      Delete
  4. Hidup akan terus berlanjut, #eh nyasar. Sukses terus untuk kegiatannya

    ReplyDelete
  5. ehehhehe.. kalau ibu itu adaa aja idenya yaa..


    btw follbek ya maak.. http://mutheas.blogpsot.com

    ReplyDelete
  6. .sip ^_^...hi..hi..sampe permak2...kreatif juga mak. komen balik ya

    ReplyDelete
  7. Salam kenal mak, done ya. #KEB

    ReplyDelete
  8. sudah di follow mak, follback blog saya ya http://republiknindy.blogspot.com/ #KEB

    ReplyDelete
  9. hallo mak, udah aku follow yaaa... folbek yaa mak di www.vitawirapraja.com #KEB GFC ke 25

    ReplyDelete
  10. Kadang kreatifitas diperlukan dalam menghadapi anak-anak ya mba... Nggak ada bahan, daster pun jadi.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
.comment-content a {display: none;}