Jalur Penyangga Kehidupan : Curug Ciomas Maribaya - Bandung

"Selamat Datang Di Jalur Penyangga Kehidupan" merupakan sapaan yang ada di papan interprestasi di kawasan Curug Ciomas Maribaya. Air Terjun Ciomas berada di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang merupakan jalur penyangga kehidupan masyarakat sekitar. Bahkan Hutan Raya di sebelah utara Kota Bandung ini, dipercaya sebagai penyangga kehidupan masyarakat Pulau Jawa-Bali serta untuk masyarakat Indonesia. Jadi, tidak hanya untuk masyarakat sekitarnya, loh!

http://www.nurulfitri.com/2017/01/curug-ciomas-maribaya-bandung.html
Curug Ciomas Maribaya-Bandung
Lalu, bagaimana hutan ini, dikatakan sebagai penyangga kehidupan manusia? Karena di dalam Taman Hutan Raya (Tahura) terdapat flora, fauna, bentang alam dan fitur geologi yang dapat mendukung kehidupan manusia secara langsung maupun tidak langsung.

Ada 8 tempat yang termasuk ke dalam Jalur Penyangga Kehidupan di Taman Hutan Raya. Delapan tempat itu adalah Curug Ciomas, Curug Lalay, Batu Batik, Curug Kidang, Penangkaran Rusa, Curug Koleang, Goa Belanda dan Goa Jepang.

Minggu lalu, saya dan keluarga berjalan santai menyusuri jalur penyangga kehidupan yang ada di Maribaya tersebut, tepatnya ke Curug Ciomas. Mencari ketenangan, menghirup udara dengan oksigen yang berlimpah, memandang kehijauan deretan pepohonan yang beragam serta suara serangga khas hutan rapat.

Sebelum saya ceritakan apa saja yang bisa dinikmati sepanjang jalur penyangga kehidupan ini, saya akan ceritakan fasilitas yang ada di sana.
Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi, tidak perlu khawatir mengenai tempat parkir yang ada di kawasan curug ini. Tempat parkirnya cukup luas. 

Dan untuk pengunjung yang hendak melakukan ibadah shalat, mesjid yang berada di sebelah lapangan parkir, cukup nyaman untuk digunakan.
Kamar mandi dan tempat mengambil air wudhunya pun cukup terpelihara. Enggak percuma, deh, kita bayar uang kebersihan. Karena ibu penjaganya rajin membersihkan toilet dan tempat wudhu.
http://www.nurulfitri.com/2017/01/curug-ciomas-maribaya-bandung.html
Fasilitas toilet tersebut dapat ditemukan sebelum pintu gerbang memasuki jalur Curug Ciomas. Saya sarankan, sebelum melakukan perjalanan menyusuri jalur ini, sebaiknya menggunakan sarana tersebut. Karena di sepanjang perjalanan, tidak tersedia tempat untuk membuang sisa residu tubuh kita. ^_^

Jalur penyangga kehidupan di sana, lumayan terawat dengan baik. Sepanjang jalan, terdapat sisa semen yang cukup nyaman untuk dilewati. Meskipun, saya tidak menemukan jalan yang masih utuh, tetapi setidaknya ada batu atau semen untuk tempat berpijak.

http://www.nurulfitri.com/2017/01/curug-ciomas-maribaya-bandung.html

Berjalan menuju kawasan air terjun, kita bisa menemukan aneka flora yang beragam. Dari pepohonan jenis perdu, jenis kayu keras hingga tanaman menjalar, semua ada. Oh iya, seperti hawa pengunungan pada umumnya, hutan ini berhawa dingin. Enggak terlalu dingin, sih. Tapi percaya, deh, rasanya sejuk, paru-paru terasa penuh, segaar...! 

Setelah menempuh perjalanan sekitar 900 meter, pengunjung bisa beristirahat, melepas penat di rumah panggung yang ada di sebelah kiri jalan. Kami sekeluarga memutuskan tidak beristirahat di sana. Karena lokasi Curug Ciomas hanya berjarak 100 meter lagi. Jadi, kami lebih memilih beristirahat di sekitar air terjun saja.

http://www.nurulfitri.com/2017/01/curug-ciomas-maribaya-bandung.html
Rumah panggung
Di depan rumah panggung, terdapat pangkalan ojek dengan menggunakan seragam hijau. Pengunjung yang merasa lelah untuk berjalan menuju lokasi, bisa menggunakan sarana tersebut. Eh, iya, pangkalan ojeknya tidak hanya di area dekat air terjun saja, di pintu masuk pun sudah tersedia para pengemudi ojek yang bersedia mengantarkan pengunjung ke lokasi yang hendak dituju.

Di sebelah pangkalan ojek terdapat jalan menurun ke arah kiri. Curug Ciomas Maribaya berada sekitar 100 meter dari pangkalan ojek. Untuk menuju air terjun, ada anak tangga yang terbuat dari susunan bebatuan. Jadi, enggak perlu khawatir terpeleset ketika menuruni posisi tanah yang miring. Dan di sepanjang jalan menurun tersebut ditanami bunga berwarna kuning kecil yang begitu indah untuk dinikmati.

Ketika menuruni anak tangga, deru suara air terjun sudah semakin jelas. Dan benar saja, di anak tangga terakhir terlihat air terjun yang menuju ke bawah. Berbeda dengan air terjun yang biasa dikunjungi dari bawah jatuhnya air, di Tahura, pengunjung justru melihat air terjun dari arah jatuhnya.

http://www.nurulfitri.com/2017/01/curug-ciomas-maribaya-bandung.html

Tepat di atas air terjun, terdapat jembatan kayu yang hanya cukup untuk dua orang saja. Saya lihat, jembatannya sudah mulai rapuh. Jadi teringat peristiwa runtuhnya jembatan di daerah wisata beberapa waktu yang lalu. Untuk mengantisipasi, pengelola memasang tanda peringatan yang memberitahukan jumlah penyeberang sebaiknya tidak lebih dari lima orang.

Untuk tiba di ujung jembatan, saya dan keluarga menunggu hingga tidak ada seorang pun di atas jembatan. Setelah dirasa aman, baru kami menyeberang menuju area wisata Curug Ciomas. Namun, saya lihat beberapa pengunjung menyeberangi jembatan melebihi jumlah yang dianjurkan. Entahlah, mereka tidak membaca peringatan tersebut atau tidak peduli. Entah ...

http://www.nurulfitri.com/2017/01/curug-ciomas-maribaya-bandung.html
Sebenarnya, jembatan penyeberangan di tempat ini, ada dua. Yang satu terbuat dari kayu yang sudah mulai ada lubang di sana-sini, dan yang satunya lagi terbuat dari beton. Seandainya kami mengetahui ada dua jembatan sejak pertama kali, sepertinya kami akan memilih menyeberang melalui jembatan beton, deh! Tidak perlu terlalu menguji adrenalin.

Curug Ciomas Maribaya berbentuk dua air terjun yang bertingkat. Tingkat yang pertama ada di bawah jembatan kayu, sedangkan yang kedua berada di bawah jembatan beton. Karena akhir-akhir ini curah hujan membasahi kawasan Tahura setiap sore hari, warna sungai pun berubah agak coklat.

Sangat disayangkan, tepat di bawah jembatan beton, saya melihat banyak botol plastik bekas minuman. Sehingga air terjun ini tidak terlihat bersih.


http://www.nurulfitri.com/2017/01/curug-ciomas-maribaya-bandung.html
Tumpukan botol plastik yang seperti buih
Di ujung jembatan terdapat taman yang cukup luas. Di atasnya terdapat bukit-bukit kecil yang bisa digunakan untuk bercengkrama. Deretan warung kecil omenyediakan beranera ragam makanan dan segelas minuman hangat seperti kopi. 


http://www.nurulfitri.com/2017/01/curug-ciomas-maribaya-bandung.html

Untuk pengunjung yang berusia kanak-kanak, kawasan Curug Ciomas menyediakan pula arena bermain dengan hiasan warna-warni. Alangkah menyenangkannya, ketika orang dewasa duduk di baawah pohon pinus sambil melihat ke arah air terjun, anak-anak bisa bermain dengan riang gembira.

Teman-teman, ada yang tertarik menikmatinya, juga? Ada beberapa tips yang mesti diperhatikan :


  1. Siapkan fisik. Karena perjalanan menyusuri Jalur Penyangga Kehidupan ini yang terjauh, bisa mencapai hingga 5 km.
  2. Persiapkan air minum untuk diperjalanan.
  3. Gunakan pakaian yang nyaman dan menyerap keringat. Sepatu yang digunakan pun harus yang nyaman untuk berjalan di jalur berbatu serta turun-naik.
  4. Boleh membawa bekal makanan secukupnya. Tapi, bila memberatkan di tempat wisata ini ada juga warung-warung yang menyediakan makanan dan minuman.

Ada lagi yang mau menambahkan? Yuk, sharing dan silakan berkunjung ke Maribaya-Bandung, ya.... 

http://www.nurulfitri.com/2017/01/curug-ciomas-maribaya-bandung.html
Artikel Terkait :

Berlibur di Maribaya Natural Hotspring Resort-Lembang
Wisata Hutan Pinus Cikole-Lembang
Wisata De' Ranch Lembang
Pesona Kawah Putih-Ciwidey
7 Tempat Wisata di Bandung Yang Menarik Untuk Dikunjungi

68 comments:

  1. Sayang banget botol plastiknya, bener2 mengganggu pemandangan. Semoga kesadaran pengunjungnya untuk jaga kebersihan makin bagus ke depannya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mbak, gemes deh liatnya. Masih ada yang iseng mengotori alam :(

      Delete
  2. Wah aku belum pernah ke Maribaya yang ini. Kmaren nyasarnya ke Maribaya Hot Spring. Padahal ini yang awalnya, yang dari jaman dulu. Dan pasti lebih ramah dompet.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Loh..kita samaan Mbak hihihi. Sebelum ke Curug Ciomas, saya juga nyasar ke Maribaya Natural HotSpring Resort. Tempatnya hanya berjarak sekitar 200 meter aja ya...jadi salah masuk ^_^

      Delete
    2. Waktu itu emang penasaran sama Hot Spring nya sih. Bukan nyasar. Tapi emang pikir udah jadi satu sama Maribaya yang ini.
      Baru bulan lalu pas ke The Lodge liat lagi kalo ternyata ada jalan beda buat ke Curug Ciomas

      Delete
  3. Tempatnya keren, ya? Aku suka wisata alam seperti ini.

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. Bener-bener masih alami Mbak, banyak pohon-pohon tingginya

      Delete
  5. Aku pengen ke sana. :D Medannya gampang ditrmpuh kan ya?

    ReplyDelete
  6. Perjuangan wisata alam ya begitu ya mba hahahhaa
    tapi kalo udah ketemu tempatnya, sejuk nyenengin gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rela berlelah-lelah untuk melihat pemandangan yang luar biasa Mbak :)

      Delete
  7. Waahh... dingin yah? Kudu bawa sweater nih kalau ke sini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di curugnya dingin Mas, tapi kalau jalan menuju lokasi dengan memakai sweater kayaknya jadi panas hihihi...

      Delete
  8. ini bukan lodge maribaya itu kan yah ?

    Berarti air terjunnya nggak terlalu tinggi yaa.. lucu baru kali ini lho saya liat ada wisata air terjun yang lihatnya dari atas :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan Mbak, Lodge Maribaya masih sekitar 5 km lagi dari Curug Ciomas.

      Delete
  9. Jadi bisa dilalui roda empat ya mbak? Tapi sayang banget ada sampahnya ya mbak, pdhl wajah paling depan curug ya mbk. Moga pengelola dan pemerintahnya aware ttg masalah ini. TFS :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau untuk roda empat, gak bisa Mbak. Roda dua juga hanya sampai 100 meter dari pintu gerbang. Kalau gak kuat, ada ojek yang mengantar sampai lokasi.

      Delete
  10. aduh kalo kebelet pipis pas udah lewatin toilet bisa bikin wc dadakan nih hihii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duuh...kayaknya harus nyumput di belakang rumput hihihi...😁

      Delete
  11. justru punya sensasi lain jika menyebrang dipenuhi adrenalin mbak, hehe..
    suasananya bagus banget ya, meskipun sayang banget sampah botolnya banyak :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya lebih memilih menyeberang dengan nyaman, Mbak 😁

      Delete
  12. Sebagai mantan penghuni bogor selama 4 tahun kayaknya aku blom pernah maen ke sini mb huhu
    Aku baru tau yang curug kawasan gunung salak endah duank
    Wah berarti sebelum naik ke atas, kudu setor pipis dulu ya, mengingat toilet ga tersedia banyak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Nit, lebih baik setor dulu. Daripada ribet 😁

      Delete
  13. nama curug nya seperti nama artis ciomas :)

    ReplyDelete
  14. Seetelah baca tulisan mba saya langsung colek2 suami kapan nih kita main wisata alam :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayuk Mbak, direncanain ke sana, bagus pemandangannya loh!

      Delete
  15. Tempatnya kayaknya seger banget. Cocok buat yang sehari-hari berkutat sama debu jalanan

    ReplyDelete
  16. Yahhhh... ada botol plastiknya. Semoga pengunjung sadar dan memang tersedia tempat sampah yang cukup banyak. Aku ngebayangin segarnya udara disini. Bahagiaaaaaa beneeerre

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, seandainya pengunjung sadar kebersihan, kayaknya gak akan ada sampah di dalam air ya...

      Delete
  17. sesuatu yg bagus pasti ada aja yg ngotorin deh. kzl.

    ReplyDelete
  18. curugnya gitu doang mbak?

    kalo mau main di air terjun yang jernih, di Bogor banyak mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya,gitu doang. Gak terlalu tinggi. Kalau mau, bisa menjelajahi 7 tempat lagi, di sepanjang jalur

      Delete
  19. Ada tukang ojeknya juga, berati siapa saja bisa kesana ya. Kalau ga kuat jalan bisa naik ojek. :)

    Itu jembatan kayu mending dibuang aja kali ya kalau ndak diperbaiki. Khan bahaya kalau pengunjungnya ga memperdulikan papan peringatan gitu. Ngeri bayanginnya :)



    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya setuju, lebih baik jembatan yang rawan itu, dihilangkan saja ya...

      Delete
  20. Aku jadi rindu saat masih sekolah dulu suka main ke tempat-tempat semacam ini. Menyegarkan. Sayang e sayang, tiap hari kok rasa-rasanya harus duduk terpaku menghadap laptop. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Laptopnya di bawa keluar Mas, ngetik di alam bebas...kayaknya seru kan?

      Delete
    2. Laptopnya di bawa keluar Mas, ngetik di alam bebas...kayaknya seru kan?

      Delete
  21. Selalu mupeng dg wisata alam Bandung. Alami dan asri sekali seperti curug ciomas ini. Btw, kondisi jembatannya mengerikan sekali ya Mbak. Bikin was2 apalagi kalau anak2 sampai berlarian di sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duuh..ngebayangin anak-anak lari-lari di sana.. Serem...
      Saya lihat kalo anak-anak lewatnya ke jembatan yg beton Mbak. Jadi aman 😊

      Delete
    2. Duuh..ngebayangin anak-anak lari-lari di sana.. Serem...
      Saya lihat kalo anak-anak lewatnya ke jembatan yg beton Mbak. Jadi aman 😊

      Delete
  22. Kayaknya kmrn baru temen ada yg posting foto ini, jalur penyangga kehidupan. Sering dipakai latihan TNI juga ya Mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau gak salah, TNI latihan di bagian lain gunung Mbak

      Delete
  23. jadi kangen tempat ini mbak, dahulu sekitar 2014 kalau gak salah. ke sini jalan2 kaki keliling Tahura. haaa... capek, lama, tapi puas. karena tempatnya cantik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba ke sana lagi Mas, siapa tau ada yang berubah lebih bagus hehehe 😁

      Delete
  24. Menarik nih Mbak, bikin acara gathering bareng temen-temen lama di tempat seger kayak curug gini. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya...kayaknya seruu, kumpul-kumpul di sana ya...😁

      Delete
    2. Iya...kayaknya seruu, kumpul-kumpul di sana ya...😁

      Delete
  25. wah serasa nostalgia bacanya...

    ReplyDelete
  26. Baru baca kata curug aja kayaknya udah segar sekali *o*/
    Selama ke Bandung, aku belum pernah coba main ke Curug disana.. kalaupun ke Curug yaaa di daerah Bogor aja :')
    Btw disana coba 'nyebur' ngga kak? Atau memang ngga boleh? Penasaran hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduuh..gak boleh nyebur Mbak...airnya lumayan deras. Takutnya terbawa terjun ke bawah

      Delete
  27. Enaknyaaa..
    Aku belum pernah ke Curug, teh.

    Kalo pas musim ujan gini, jadi aga menakutkan yaa...apalagi bawa 2 bocil.

    Kami baru sampai ke Tahura yang di Dago itu doank...
    ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari Tahura yang di Dago, terus jalan sampai Maribaya Teh Lendy...Jaraknya kurang lebih 5 km

      Delete
  28. Duuuh ini mah lokasi yang cocok banget sama jiwa petualang saya. Seneng sama curug, taman, hutan, apalagi sambil kemping. Aih semoga bisa main ke sini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo mbak Lina, main ke sini. Kita ketemuan yuuk..!

      Delete
  29. Nah ini dia tempat yang cocok untuk mendapatkan refreshing. Pas banget deh kalo ke Bandung sepertinya harus mampir nih... Nice sharing mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus mampir Mas...adem tempatnya :)

      Delete
    2. Soalnya saya suka banget ke pegunungan, dingin dingin gimana gituh, ketimbang ke laut, panas, hehehe

      Delete
  30. Waah tempatnya asyik... Ngeri juga ya lewat jembatan kayu hihihi. Aku lebih pilih jembatan beton deh...

    ReplyDelete
  31. Aku lho suka banget cerita teman2 ttg curug. Adem gitu bawaannya. Dr yg hijau sampai air terjun yg seger

    ReplyDelete
  32. Buang sampah di mana aja memang menjadi polemik di hampir semua tempat wisata di Bandung. Bandung? Sebentar, aku kok ndak tahu yaa ada curug di Maribaya.

    ampun deh, gagal sebagai orang Bandung ini mah.

    ReplyDelete
  33. untuk mencapai curugnya butuh perjuangan kayaknya

    ReplyDelete

.comment-content a {display: none;}