Negara peringkat 2 dunia penyumbang sampah plastik. Ya, saat ini, Indonesia merupakan negara peringkat nomor 2 di dunia yang menyumbangkan sampah plastik ke laut. Menghadapi kenyataan ini, tentu sangat mengkhawatirkan kita semua, bukan?
 
Bahkan berdasarkan data dari situs dietkantongplastik, setiap tahun orang Indonesia menggunakan 100 milyar kantong plastik untuk aktivitas sehari-hari. Kondisi ini sepertinya tidak bisa kita biarkan terus-menerus. Bagaimana kelangsungan hidup anak cucu kita nanti? Bagaimana jika tanah yang mereka pijak dipenuhi oleh sampah plastik?


Plastik Sulit Untuk Diuraikan
Bahan plastik dapat mengancam kelestarian alam sekitar karena plastik tidak mudah diuraikan oleh tanah. Untuk mengurai satu lembar plastik saja, membutuhkan waktu hingga puluhan tahun. Oleh sebab itu, di masa yang akan datang, tanah akan dipenuhi oleh sampah plastik yang terpendam dan tidak bisa diuraikan.

Sebagai negara peringkat 2 dunia penyumbang sampah plastik, pemerintah merasa perlu mengeluarkan kebijakan kantong plastik tidak gratis yang akan diujicobakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya untuk mengurangi penggunaan kantong plastik yang mencemari lingkungan.

Berbelanja dengan kantong plastik tidak gratis.
Kebijakan kantong plastik tidak gratis ini diberlakukan sejak tanggal 21 Februari 2016. Untuk yang berbelanja di toko modern seperti mini market, super market dan hyper market, diberlakukan penggunaan kantong plastik tidak gratis. Pembeli akan diberikan dua pilihan, membawa kantong belanja sendiri atau membayar kantong plastik yang telah disediakan.

Kebetulan pada hari itu, saya berbelanja di sebuah mini market. Ketika di kasir, petugas di sana bertanya, apakah saya membawa kantong belanja? Eh, sebelum saya menjawab, mbak kasir itu menerangkan jika kantong plastik yang akan digunakan untuk membawa barang-barang yang saya beli, diberi harga RP. 200,-. (harga ini belum fix, karena belum ada kesepakatan antara pemerintah dan asosiasi peritel)

Mbak kasir itu, menanyakan kesediaan saya. Sebenarnya saya gak terlalu kaget soal kantong plastik itu. Karena sebelumnya, pihak mini market pun telah membuat kantong plastik yang tipis dan "ramah lingkungan". Jadi, kantong  plastik tidak gratis pasti merupakan kelanjutan soal limbah plastik, bukan?

Tapi, berbeda tanggapan seorang bapak di sebelah saya. 
" Dua ratus rupiah ya? Wah..lumayan juga tuh! Kalo pengunjung mini market ini satu juta dalam sehari...mantaap, banyak sekali dong!" 
Saya tangkap nada ragu di pernyataan bapak tadi. Selanjutnya, bapak itu pun mempertanyakan akan berakhir dimana uang sebanyak itu. Hmmm, kayaknya bapak dengan badan besar itu, agak meragukan aliran uang yang nantinya akan terkumpul. Barangkali dia pebisnis, pengamat ekonomi atau pengamat politik? Entahlah :)

Sebenarnya dana itu untuk apa?
Dana yang terkumpul merupakan dana publik. Pemerintah mengharapkan pelaku ritel untuk bekerja sama dengan organisasi non pemerintah untuk kegiatan lingkungan pengelolaan sampah. 
Kegiatan ini, tentu saja memerlukan kejujuran pelaku ritel, ya? Semoga saja, semuanya amanah dan dana yang terkumpul dapat tersalurkan dengan baik.

Mengurangi limbah plastik
Selain mengurangi penggunaan kantong plastik dengan membawa tas belanja sendiri, kita juga dapat mengurangi limbah plastik dengan cara lain, diantaranya :
  • Mengumpulkan sampah plastik untuk di daur ulang dan dimanfaatkan.
  • Memberikan limbah plastik kepada pemulung untuk dijual dan didaur ulang.
  • Kurangi pembelian air minum dalam kemasan. Lebih baik, kita membawa air minum dari rumah saat hendak bepergian.
  • Mengurangi penggunaan plastik untuk membungkus makanan.
Membuat bunga dari limbah plastik
Tentu masih banyak cara lain yang dapat kita lakukan untuk mengurangi limbah plastik. Apakah teman-teman mau menambahkan?
Limbah plastik berkurang, lingkungan pun akan menjadi nyaman. Mencintai bumi dengan cara merawatnya merupakan warisan yang paling indah untuk anak cucu kita.