Membangun Keluarga dengan Cinta Terencana

Membangun keluarga dengan cinta terencana. Siapa yang suka bernostalgia? Bernostalgia tentang semua hal yang tidak akan pernah dilupakan? Tentu saja banyak hal yang tersimpan di memori pikiran kita yang sewaktu-waktu akan teringat kembali. Baik itu hal yang menyenangkan atau yang bisa membuat kita sedih dan bahkan bisa terbawa perasaan. 

Saya pun suka bernostagia. Terutama bernostagia tentang kejadian-kejadian yang sangat spesial. Seperti ingatan pada kenangan yang tidak akan pernah terlupakan saat bersama keluarga mendaki gunung dengan ketinggian 3078 mdpl. Ya, kenangan kami sekeluarga mendaki Gunung Ciremai di awal tahun ini.

Kenangan Tak Terlupakan di Gunung Ciremai

Mendaki Gunung Ciremai sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat, tidak semudah membalikkan tangan. Butuh usaha yang maksimal. Terutama bagi saya yang jarang pergi mendaki dan memasuki usia yang tidak muda lagi. Sedangkan pak suami sering mendaki gunung. Saat mendaki bersama keluarga, itu adalah pendakian yang ketiga kalinya bagi kepala keluarga kami.

membangun kelarga dengan cinta terencana

Waktu itu, kami mendaki gunung di saat yang kurang tepat. Ketika hendak mencapai puncak, gunung yang berada di daerah Kuningan dan Majalengka tersebut diselimuti kabut yang tebal. Angin yang cukup kencang menandakan bahwa di kawasan tersebut sedang ada badai di puncaknya. 

Menembus badai, jalan di jalan yang terjal dan mendaki, membuat langkah kami tertatih-tatih. Saya sendiri hampir menyerah dan tidak akan melanjutkan perjalanan. Tetapi dukungan dari suami dan anak-anak, membuat saya akhirnya bisa mencapai puncak. 
membangun kelarga dengan cinta terencana
Kabut tebal dan angin kencang menuju puncak Gunung Ciremai
Saya masih ingat betul, bagaimana anak-anak memutuskan untuk balik lagi ke bawah demi menyemangati ibunya. Mereka rela terlambat sampai ke puncak, demi menunggu ibunya. Kalau ingat kejadian itu, perasaan saya bertambah haru. Betapa perhatiannya mereka, bukan?

Hmm ... lalu kalau mendaki sesulit itu, kenapa harus pergi ke gunung bersama keluarga? Kenapa enggak, pergi sendiri aja, sih?
Barangkali itu pertanyaan yang muncul di benak orang lain ketika kami menceritakan suka dukanya mendaki gunung.

Membangun Keluarga dengan Cinta Terencana

Bagi saya dan suami, pergi bersama dengan seluruh anggota keluarga merupakan hal yang wajib. Bagi kami, keluarga merupakan unit terkecil yang memiliki fungsi utama membina karakter generasi muda, seperti anak-anak kami. 

Di dalam keluargalah kami bisa mengarahkan anak-anak pada hal-hal penting yang harus mereka miliki sebagai bekal terjun di dalam masyarakat. Semua itu merupakan bagian dari rencana kami saat membangun rumah tangga. Rencana yang disusun di awal pernikahan kami.

Kalau boleh, saya akan sedikit bercerita tentang rencana kami di awal pernikahan. Waktu itu kami memutuskan untuk menikah di usia 26 tahun. Saat yang menurut kami cukup tepat, karena saya dan pasangan sudah selesai menjalani studi dan telah memiliki penghasilan masing-masing. Kami sadar untuk membangun keluarga harus dengan cinta terencana.

Cinta yang kami miliki, bukan hanya untuk senangnya saja, tapi harus siap dengan realita yang akan dihadapi dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Karena menikah itu kita harus siap secara emosional, finansial dan siap juga dari segi kesehatan. Selain itu, dalam menjalani pernikahan, kami berusaha untuk bisa saling membantu, agar bisa merencanakan masa depan bersama.

Ketika akhirnya dikarunia buah hati pun, kami harus mempersiapkan rencana selanjutnya demi masa depan mereka. Setahun setelah ijab kabul, kami dikaruniai seorang putri. Selang lima tahun kemudian, rencana untuk menambah momongan pun terwujud dengan kelahiran putra kami. Saya dan suami merasa bahagia dengan kehadiran dua orang anak dengan jarak kelahiran 5 tahun, di pernikahan kami.

8 Fungsi Keluarga

Memiliki buah hati, kami pun harus bersiap untuk menyongsong masa depannya. Kami harus mendidik mereka menjadi pribadi yang baik dan bisa bersosialisasi dengan baik di masyarakat. Hal ini sesuai dengan 8 fungsi keluarga yang telah dicanangkan oleh BKKBN. 


membangun kelarga dengan cinta terencana
Sumber gambar : bkkbnofficial
Adapun yang  dimaksud delapan fungsi keluarga yaitu :

👪Fungsi keagamaan. Keluarga adalah tempat anak belajar mengenai ilmu agama dan norma-norma yang ada di dalamnya. Oleh karenanya, kami berusaha sedini mungkin memperkenalkan norma agama pada anak-anak dengan mengajak mereka melakukan ibadah harian. Tentu saja kami mengajak dengan cara memberi contoh. 

👪Fungsi sosial budaya. Dalam tumbuh kembangnya, keluarga berperan mengajarkan anak bersosialisasi dengan baik dan mewariskan nilai budaya dengan memberi pemahaman akan pengetahuan dan nilai-nilainya.

👪 Fungsi melindungi. Dalam tahap perkembangannya, anak membutuhkan rasa aman, kasih sayang, dan simpati dari orang lain. Selain itu, keluarga juga berperan sebagai tempat mengadu, mengakui kesalahan-kesalahan dan tempat berlindung.

👪 Fungsi cinta kasih. Keluarga adalah sumber cinta dan kasih. Sedangkan cinta dan kasih sayang adalah pilar utama untuk membentuk kepribadian seseorang. Dengan kasih sayang yang melimpah, diharapkan dapat mendampingi tumbuh kembang anak-anak. 

👪Fungsi reproduksi, sarana untuk melangsungkan kehidupan dengan mempunyai keturunan. Dengan menikah dan memiliki keturunan, dapat membuat kehidupan tetap berlangsung 


👪 Fungsi sosialisasi dan pendidikan. Untuk mempersiapkan kematangan anak terjun dalam kehidupan bermasyarakat, perlu adanya upaya untuk membentuk kepribadiannya yang baik dari saat ini hingga untuk masa depannya. Dan kami yakin, jika di dalam keluargalah pembentukan kepribadian dimulai.

👪 Fungsi ekonomi , keluarga sebaiknya memenuhi kebutuhan finansial seluruh anggota keluarga baik untuk sandang, pangan dan papan.

👪Fungsi pembinaan lingkungan Semua tingkah laku bermula dari apa yang dilakukan dan sering dilakukan oleh keluarga. Anak atau anggota keluarga adalah cerminan bagaimana ia bisa menerapkan kesesuaiannya terhadap lingkungan.

Dari 8 fungsi keluarga tersebut, pengasuhan anak merupakan modal utama bagi orang tua. Jika terdapat salah asuh dari orang tua maka akan berdampak buruk bagi masa depan anak-anak. Bisa berdampak buruk bagi tumbuh kembang mereka di masa depan.


membangun kelarga dengan cinta terencana

Keluarga adalah Harta yang Paling Berarti

Pengasuhan erat kaitannya dengan memberikan perhatian, waktu dan dukungan untuk memenuhi semua kebutuhan mereka mulai dari kebutuhan fisik, mental dan sosial. Dengan mengajak anak-anak berlibur bersama pun, kami berusaha memberikan waktu untuk saling berinteraksi di dalam keluarga. Tidak hanya waktu khusus untuk anak-anak, kami juga memberikan perhatian atas kebutuhan mereka untuk refreshing. Agar mereka merasa bahagia dan tidak jenuh menjalani rutinitas sehari-hari, bukan?

Salah satunya dengan mengajak anak berpetualang mendaki gunung tertinggi di Jawa Barat seperti beberapa waktu lalu. Kami berharap, dengan pergi ke gunung, mereka bisa belajar mencintai alam dan lingkungan di sekitarnya. Di dalam perjalanan pun, tidak lupa kami mengajak anak-anak berbincang sambil menyisipkan pengetahuan tentang alam atau norma-norma yang harus dilakukan untuk menjaga kelestariannya.

Semoga dengan melakukan perjalanan pendakian tersebut, rencana kami untuk membentuk kepribadian anak-anak bisa terealisasikan dengan baik. Karena bagi kami anak-anak merupakan amanat dari Allah yang harus diasuh dengan baik. Dan keluarga adalah harta yang paling berarti dan di atas segalanya.

25 comments:

  1. Bener banget. Membangun keluarga gak cukup cinta aja, ya. Tapi kudu cinta yang terencana. Di zaman kayak sekarang mah, kalo gak direncanakan, susah buat survive. daya kompetisi semakin tinggi. Semoga anak-anak muda yang kebelet nikah bisa merencanakan hidup dengan baik.

    ReplyDelete
  2. Saya termasuk penganut cinta terencana. Karena segala sesuatu yang direncanakan dengan baik pasti hasilnya akan berbeda jika dibiarkan bablas tanpa perencanaan yang jelas. Dan sejak berkeluarga memang perencanaan jangka panjang dibutuhkan agar anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa siap menjalankan kewajibannya.

    ReplyDelete
  3. Segala sesuatu yang direncanakan itu hasilnya akan maksimal yah mba, meskipun keputusan akhir ada pada Maha Pemilik Kehidupan, semoga kita semua mampu menciptakan keluarga yang penuh cinta yah mba. Aamiin

    ReplyDelete
  4. Waah, tulisan yang bagus nih bagiku yang masih belum berkeluarga. Bisa dijadikan panduan terutama saat berencana akan membina keluarga kelak. Ya, semoga aja ada yang mau berkomitmen kelak untuk membangun bersama-sama. Amin.

    ReplyDelete
  5. Wah salut buat Teh Nurul, mengajak anak-anak main ke alam tuh nggak mudah loh. Jaman now getooo.. hehe.. keep up the good work ya Teh!

    ReplyDelete
  6. Aww, sweet banget. Lengkap ilmunya. Lengkap fungsi keluarga yaa 🤗🤗

    ReplyDelete
  7. Seru banget ya teh, bisa mengajak anak refreshing sambil menikmati alam. Memang anak² butuh suasana baru untuk mereka belajar, dengan berpergian seperti ini juga mereka bisa belajar banyak hal. Semoga lbh banyak keluarga muda yang dapat melakukan hal ini, bukan hanya menyuguhi anak dgn gadget atau mall 😊

    ReplyDelete
  8. Membangun pondasi kuat dalam keluarga pasti tantangan setiap orang tua ya Teteh. Duh pe-er banget buat kami. Thank you sharingnya ya Teh Nurul

    ReplyDelete
  9. Istilah baru nih mbak Nurul, cinta terencana. Bukan hanya menikmati cinta tapi juga merencanakan kehidupan yang lebih baik dg orang2 yang dicintai ya. Aku setuju sekali. Apalagi dg 8 fungsi keluarga di atas, semoga keluarga Indonesia bisa memungsikan komunitas terkecil dlm khidupan ini sesuai dg anjuran BKKBN tsb.

    ReplyDelete
  10. wah kereen...aku belum pernah mengajak anak-anak pergi ke gunung...
    setuju mbak, berkeluarga berarti memasuki situasi yang kompleks, perlu perencanaan agar tidak terkejut saat menjalaninya nanti, sehingga keluarga tetap harmonis...

    ReplyDelete
  11. Ya Allah anak2nya so sweet banget, gitu pasti banget ibunya meleleh. Keren juga sekeluarga punya hobi mendaki

    ReplyDelete
  12. Iya mbak, membangun keluarga gak bisa dengan modal cinta aja harus bener2 direncanakan.Rencana kaopan punya anak dan brp anak jg. Jgn easy going ngikutin ombak :D
    Saya dan suami jg lbh suka pergi ma anak2 kemana2, kalau gk ajak anak2 rasanya ada aja yg kurang hehehe.

    ReplyDelete
  13. Keren banget mbak mendaki sekeluarga gitu 😍. Aku juga ada rencana jika anak sudah agak besar, kami mau mengajaknya mendaki.
    Ia benar banget, menikah itu harus siap secara emosi dan butuh perencanaan.

    ReplyDelete
  14. Keluarga itu bukan sekadar ada di situ doang ya. Tapi punya fungsi keseharian. Makanya penting banget punya keluarga yang bahagia lahir dan batin.

    ReplyDelete
  15. Setuju, setidknya kita buat rencana dan persiapan sebelum nikah sehingga mau punya anak pun siap, gak pakai drama. Ingin juga ngajak ke gunung bareng2 keluarga. Tp blm bisa....

    ReplyDelete
  16. Wah, pelajaran berharga banget buatku yang kaya udah pengen nikah tapi masih takut. Heheh

    Seru banget ya ndaki gunung bareng keluarga.

    ReplyDelete
  17. Menikah dan berkeluarga memang harus siap dengan suka dukanya ya, Mbak. Enggak senangnya saja, tapi juga harus siap jika sewaktu-waktu menderita. Hehe. Tapi semoga deritanya hanya lewat sebentar2 saja :)

    ReplyDelete
  18. Wah seru ya, bisa mendaki bersama keluarga. Emang kegiatan kek gini, bs saling support dan mempererat hubungan keluarga ya :)

    ReplyDelete
  19. Senang banget kalau anak-anak sudah agak besar ya Mbak. Bisa diajak jalan-jalan. mereka juga support system utama pada roda rumah tangga kita.

    Setuju banget dengan 8 rencana keluarga di atas. Selamat berjuang dan menemani keluarga dalam berproses, Mbak

    ReplyDelete
  20. Y Allah beneran itu naik gunung bareng anak-anak? Keren banget lah. Cinta terencana itu memang penting banget ya, karena pernikahan untuk selamanya

    ReplyDelete
  21. Jadi kangen rumah hihi, memang sih ya kak daridulu kata2 keluarga adalah pembelajaran pertama itu benar adanya, penting sekali apalagi ttg cinta, norma, dkk

    ReplyDelete
  22. Aku berencana punya 4 anak mbak. Hihihi. Meski gak sesuai sama anjuran penerintah sih, tapi aku selalu merencanakan dengan matang setiap kehamilan ku karena takut juga susah susah nafkahinnya

    ReplyDelete
  23. Aku paliiing takut sama mendaki gunung.
    Engga tau kenapa, apa mungkin karena terbiasa dengan kehidupan perkotaan yang serba praktis yaa, teh?

    Jadi kalau mau olahraga, yaa ke fitness centre.
    Huhuu...gak sehat banget.

    ReplyDelete
  24. Wah, ternyata utk mempunyai keluarga harus dg cinta terencana ya

    Serunya bisa kompak semuanya.

    ReplyDelete
  25. Saya juga suka liburan keluarga. Minimal setahun sekali pergi bareng-bareng.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf, karena banyaknya SPAM, maka komentarnya saya moderasi dulu. ^~^

.comment-content a {display: none;}