Tragedi Kanjuruhan di Indonesia dan tragedi kerumunan Itaewon di Korea Selatan menjadi pengingat bahwa kepadatan massa dapat berubah menjadi situasi berbahaya dalam waktu singkat. Reuters mencatat tragedi Kanjuruhan pada 2022 menewaskan sedikitnya 125 orang dan melukai lebih dari 320 orang, sementara tragedi Itaewon pada tahun yang sama menewaskan 159 orang akibat desakan massa.
7 Protokol yang Wajib Diadakan untuk Konser Besar
Konser berskala besar membutuhkan protokol keamanan yang tidak hanya mengandalkan petugas di lapangan. Berikut tujuh protokol yang perlu dipersiapkan.
WHO memiliki All-Hazards Mass Gatherings Risk Assessment Tool yang dirancang untuk membantu penyelenggara dan otoritas mengidentifikasi bahaya, mengukur tingkat risiko, serta menentukan langkah mitigasi yang diperlukan sebelum acara berlangsung.
Artinya, keamanan seharusnya tidak baru dipikirkan ketika penonton sudah memenuhi venue. Risiko harus dipetakan sejak tahap perencanaan, termasuk menentukan perlengkapan pelindung dan kebutuhan petugas yang dapat dipersiapkan melalui toko alat safety sesuai jenis risiko di lokasi acara.
Karena itu, konser besar idealnya menggunakan CCTV, petugas pemantau kerumunan, serta sistem komunikasi untuk mengetahui perubahan kepadatan secara real-time.
Pemerintah Kota Seoul bahkan mengembangkan sistem pemantauan kerumunan menggunakan CCTV setelah tragedi Itaewon. Pada simulasi keselamatan 2023, otoritas menggunakan tiga tingkat kepadatan—Caution, Watch, dan Emergency—sebagai dasar untuk menentukan tindakan pengendalian massa.
Pedoman keselamatan stadion FIFA menekankan bahwa rute keluar dan evakuasi harus memungkinkan penonton meninggalkan lokasi secara aman, tidak terhambat, dan tanpa penundaan. Pintu darurat juga harus mudah dikenali serta tidak dikunci ketika penonton berada di dalam venue.
Prinsip ini relevan untuk konser karena kondisi venue dapat berubah drastis ketika ribuan orang bergerak secara bersamaan.
Informasi penting seperti perubahan jalur keluar, penghentian konser, lokasi insiden, atau instruksi evakuasi harus dapat disampaikan secara cepat kepada penonton. Selain pengumuman melalui pengeras suara dan layar, informasi dasar seperti titik kumpul atau jalur evakuasi juga dapat dicantumkan pada souvenir promosi tertentu yang dibagikan sebelum acara, selama desainnya tidak mengganggu fungsi informasi keselamatan.
FIFA juga memasukkan sistem public address, CCTV, serta sistem penyampaian pesan darurat sebagai bagian dari instalasi keselamatan yang perlu diuji sebelum acara.
WHO menekankan pentingnya kesiapan menghadapi kondisi darurat dan mass casualty dalam acara yang melibatkan kerumunan besar.
Jalur ambulans juga tidak boleh digunakan sebagai area parkir, antrean, atau bagian dari kerumunan. Akses tersebut harus tetap terbuka sehingga tenaga medis dapat bergerak ketika dibutuhkan.
Penyelenggara, pengelola venue, kepolisian, pemadam kebakaran, tenaga medis, dan pemerintah daerah perlu memiliki prosedur koordinasi yang disepakati sebelum acara.
Langkah serupa diterapkan Seoul setelah tragedi Itaewon. Dalam pengamanan acara dengan potensi kerumunan tinggi, pemerintah kota melibatkan otoritas distrik, polisi, dan pemadam kebakaran dalam perencanaan serta pengawasan bersama.
Karena itu, penyelenggara sebaiknya melakukan simulasi untuk beberapa kondisi, seperti kepadatan berlebihan, kebakaran, penonton pingsan, gangguan listrik, hingga kebutuhan evakuasi massal.
WHO pada panduan 2025 juga menekankan penggunaan simulation exercises dan After Action Reviews untuk membantu penyelenggara serta otoritas meningkatkan kesiapan dan pembelajaran setelah kegiatan.
Bahkan dalam penyelenggaraan konser besar terbaru di Seoul, pemerintah kota menerapkan phased entry and exit, pemantauan kepadatan, personel lapangan, kendaraan darurat, serta koordinasi real-time dengan polisi dan pemadam kebakaran. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengalaman dari tragedi kerumunan telah mendorong perubahan nyata dalam perencanaan acara berskala besar. Dengan protokol yang matang, penyelenggara tidak hanya menciptakan konser yang meriah, tetapi juga memastikan penonton dapat datang, menikmati acara, dan kembali pulang dengan aman.
1. Melakukan Penilaian Risiko Sebelum Konser
Protokol pertama adalah melakukan risk assessment sebelum acara berlangsung. Penyelenggara perlu mengidentifikasi berbagai kemungkinan bahaya, mulai dari kepadatan penonton, kapasitas venue, cuaca, akses transportasi, kondisi bangunan, hingga potensi keadaan medis darurat.WHO memiliki All-Hazards Mass Gatherings Risk Assessment Tool yang dirancang untuk membantu penyelenggara dan otoritas mengidentifikasi bahaya, mengukur tingkat risiko, serta menentukan langkah mitigasi yang diperlukan sebelum acara berlangsung.
Artinya, keamanan seharusnya tidak baru dipikirkan ketika penonton sudah memenuhi venue. Risiko harus dipetakan sejak tahap perencanaan, termasuk menentukan perlengkapan pelindung dan kebutuhan petugas yang dapat dipersiapkan melalui toko alat safety sesuai jenis risiko di lokasi acara.
2. Memantau Kepadatan Massa Secara Real-Time
Jumlah penonton bukan satu-satunya indikator keamanan. Distribusi massa juga penting. Area tertentu seperti pintu masuk, lorong, tangga, pagar pembatas, dan jalur keluar dapat mengalami kepadatan jauh lebih tinggi dibanding area lainnya.Karena itu, konser besar idealnya menggunakan CCTV, petugas pemantau kerumunan, serta sistem komunikasi untuk mengetahui perubahan kepadatan secara real-time.
Pemerintah Kota Seoul bahkan mengembangkan sistem pemantauan kerumunan menggunakan CCTV setelah tragedi Itaewon. Pada simulasi keselamatan 2023, otoritas menggunakan tiga tingkat kepadatan—Caution, Watch, dan Emergency—sebagai dasar untuk menentukan tindakan pengendalian massa.
3. Memastikan Jalur Evakuasi Tidak Terhambat
Jalur keluar tidak boleh sekadar tersedia di denah. Jalur tersebut harus mudah ditemukan, memiliki kapasitas memadai, bebas dari penghalang, dan dapat digunakan ketika keadaan darurat terjadi.Pedoman keselamatan stadion FIFA menekankan bahwa rute keluar dan evakuasi harus memungkinkan penonton meninggalkan lokasi secara aman, tidak terhambat, dan tanpa penundaan. Pintu darurat juga harus mudah dikenali serta tidak dikunci ketika penonton berada di dalam venue.
Prinsip ini relevan untuk konser karena kondisi venue dapat berubah drastis ketika ribuan orang bergerak secara bersamaan.
4. Menyiapkan Sistem Komunikasi Darurat
Ketika terjadi keadaan darurat, informasi yang salah atau terlambat dapat memperburuk kepanikan. Karena itu, penyelenggara harus memiliki sistem komunikasi yang terintegrasi antara petugas keamanan, panitia, tenaga medis, pemadam kebakaran, kepolisian, dan pihak venue.Informasi penting seperti perubahan jalur keluar, penghentian konser, lokasi insiden, atau instruksi evakuasi harus dapat disampaikan secara cepat kepada penonton. Selain pengumuman melalui pengeras suara dan layar, informasi dasar seperti titik kumpul atau jalur evakuasi juga dapat dicantumkan pada souvenir promosi tertentu yang dibagikan sebelum acara, selama desainnya tidak mengganggu fungsi informasi keselamatan.
FIFA juga memasukkan sistem public address, CCTV, serta sistem penyampaian pesan darurat sebagai bagian dari instalasi keselamatan yang perlu diuji sebelum acara.
5. Menyediakan Tim Medis dan Jalur Akses Darurat
Konser dengan jumlah penonton besar harus memiliki fasilitas medis yang sebanding dengan tingkat risikonya. Pos kesehatan, ambulans, tenaga medis, dan jalur khusus kendaraan darurat perlu disiapkan sebelum penonton datang.WHO menekankan pentingnya kesiapan menghadapi kondisi darurat dan mass casualty dalam acara yang melibatkan kerumunan besar.
Jalur ambulans juga tidak boleh digunakan sebagai area parkir, antrean, atau bagian dari kerumunan. Akses tersebut harus tetap terbuka sehingga tenaga medis dapat bergerak ketika dibutuhkan.
6. Menetapkan Komando Keamanan yang Jelas
Keamanan konser tidak dapat berjalan optimal jika setiap pihak bekerja sendiri. Harus ada struktur komando yang jelas untuk menentukan siapa yang mengambil keputusan ketika terjadi kondisi darurat.Penyelenggara, pengelola venue, kepolisian, pemadam kebakaran, tenaga medis, dan pemerintah daerah perlu memiliki prosedur koordinasi yang disepakati sebelum acara.
Langkah serupa diterapkan Seoul setelah tragedi Itaewon. Dalam pengamanan acara dengan potensi kerumunan tinggi, pemerintah kota melibatkan otoritas distrik, polisi, dan pemadam kebakaran dalam perencanaan serta pengawasan bersama.
7. Melakukan Simulasi Sebelum Hari-H
Protokol keamanan tidak cukup hanya ditulis dalam dokumen. Petugas perlu mengetahui apa yang harus dilakukan ketika terjadi skenario nyata.Karena itu, penyelenggara sebaiknya melakukan simulasi untuk beberapa kondisi, seperti kepadatan berlebihan, kebakaran, penonton pingsan, gangguan listrik, hingga kebutuhan evakuasi massal.
WHO pada panduan 2025 juga menekankan penggunaan simulation exercises dan After Action Reviews untuk membantu penyelenggara serta otoritas meningkatkan kesiapan dan pembelajaran setelah kegiatan.
Keselamatan Harus Menjadi Prioritas Utama
Tragedi Kanjuruhan dan Itaewon menunjukkan bahwa risiko dalam kerumunan besar tidak boleh diremehkan. Keselamatan konser bukan hanya mengenai jumlah personel keamanan, tetapi bagaimana seluruh sistem—mulai dari penilaian risiko, pengawasan massa, jalur evakuasi, komunikasi, layanan medis, koordinasi, hingga simulasi—bekerja sebagai satu kesatuan.Bahkan dalam penyelenggaraan konser besar terbaru di Seoul, pemerintah kota menerapkan phased entry and exit, pemantauan kepadatan, personel lapangan, kendaraan darurat, serta koordinasi real-time dengan polisi dan pemadam kebakaran. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengalaman dari tragedi kerumunan telah mendorong perubahan nyata dalam perencanaan acara berskala besar. Dengan protokol yang matang, penyelenggara tidak hanya menciptakan konser yang meriah, tetapi juga memastikan penonton dapat datang, menikmati acara, dan kembali pulang dengan aman.
Salam takzim




0 Comments
Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf, untuk menghindari SPAM, komentarnya dimoderasi dulu, yaa ^~^