Dia Bilang, Saya Ibu Yang Tegaan!

Ada yang bilang, saya ibu yang tegaan! Serius, ada yang bilang seperti itu. Orangnya enggak jauh, ibu-ibu yang sering berinteraksi di lingkungan perumahan. Kenapa ibu yang sudah bercucu itu, menganggap saya ibu yang tegaan?
http://www.nurulfitri.com/2017/08/dia-bilang-saya-ibu-yang-tegaan.html

Semua itu, berawal ketika kenalan saya, sebut saja Bu Melati, melihat anak bungsu saya melintas di depan rumahnya. Bu Melati menyapa anak saya yang sedang mengayuh sepeda. Dia menanyakan kemana tujuan anak saya pergi. Dengan riang, anak lelaki itu menjawab, jika dia disuruh oleh ibunya untuk membeli beberapa bumbu dapur.

Dan ketika bertemu dengan saya, Bu Melati langsung mengkonfirmasi keterangan dari anak lelaki saya. Tentu saja, saya mengiyakan jawaban buah hati kesayangan.

"Iya, Bu ..., saya suruh Ikal beli bumbu dapur. Tadi mau masak, eh ...bumbunya habis." kata saya mencoba menerangkan.
"Duh ...meni bageur budak teh (red: baik sekali, anaknya). Ari eneng meni tega ya, nyuruh anak belanja sendiri ke warung." seru Bu Melati sambil tertawa.
Saya hanya tersenyum mendengar perkataan ibu yang memiliki barisan gigi yang masih bagus diusianya tersebut.

Helloooo...! Plis, deh! Bu! Saya hanya menyuruh anak beli ke warung yang dekat, loh! Hanya berjarak sekitar 100 meter. Bukan warung yang jauh dan ada di luar kota. Hihihi...

Terus terang, pemikiran saya dan Bu Melati tentang pengasuhan anak memang kadang berbeda pendapat. Bu Melati bercerita, ketika anak-anaknya masih kecil, dia tidak pernah menyuruh anaknya pergi ke warung. Dia enggak tega, melihat anaknya pergi sendiri, untuk membeli sesuatu. Ya, sih, dampaknya terlihat kok, ketika anak-anaknya sudah besar.

Padahal, ada beberapa tujuan ketika saya meminta anak-anak membantu saya membeli sesuatu di warung dekat rumah. Tujuannya, saya ingin melatih buah hati saya menghadapi lingkungan di luar rumah, selain meringankan pekerjaan saya. Apa yang saya harapkan ketika anak saya mengikuti permintaan ibunya untuk berbelanja ke warung?

Berani
Saya mengharapkan anak-anak bisa lebih berani. Tanpa ibunya, mereka diharapkan bisa berani pergi sendiri keluar dari rumah. Tentu saja, saya batasi jarak yang akan mereka tempuh. Bila terlalu jauh, sebagai ibunya, saya juga akan merasa khawatir.

Tanggung Jawab
Memiliki anak yang bertanggung jawab, tentunya menjadi harapan bagi semua orangtua. Begitu pula dengan saya. Bangga dan bahagianya, apabila sepulangnya mereka dari warung, membawa barang yang sesuai dengan pesanan. Dan mereka pun belajar bertanggung jawab, melaporkan uang yang masih tersisa di tangan mereka. 

Sebenarnya, sisa uang untuk berbelanja, seringkali tidak sesuai dengan perhitungan saya. Karena biasanya mereka meminta sebagian uang sisa berbelanja untuk membeli jajanan kesukaan mereka. Hadeww... toh, namanya juga anak-anak! Jika kejadiannya seperti itu, kesempatan saya untuk memberi mereka nasihat. Dan setelah itu, biasanya anak-anak akan meminta izin untuk menggunakan sisa uang belanja untuk jajan mereka, sebelum berangkat ke warung.

Belajar Berkomunikasi
Ketika melakukan transaksi di warung, anak-anak belajar untuk berkomunikasi dengan orang lain, selain anggota keluarganya. Mereka belajar mengungkapkan keinginan mereka untuk membeli barang yang mereka butuhkan. Harapan saya, anak-anak bisa berkomunikasi dengan baik, meskipun tidak didampingi oleh orangtuanya.

Belajar Berhitung Menggunakan Uang
Dengan berbelanja ke warung, anak-anak bisa mengerti nilai tukar uang. Bila sekian rupiah yang digunakan untuk belanja, maka mereka perlu mengetahui berapa uang kembalian yang mesti mereka terima. Semoga saja, dengan mengerti nilai tukar uang, mereka akan terhindar dari hal-hal yang berhubungan dengan penipuan.

See ... sebenarnya saya tidak sekedar meminta anak-anak membantu belanja di warung dekat rumah kami. Tapi ada tujuannya, meskipun dengan begitu muncul anggapan yang mengatakan, saya ibu yang tegaan!

Perbedaan pendapat antara saya dan Bu Melati, tidak hanya tentang menyuruh anak berbelanja ke warung saja. Soal keterlibatan anak-anak di dapur pun, kami memiliki perbedaan pendapat.

Bu Melati adalah seorang tenaga medis. Kebersihan di dalam rumah beliau, merupakan prioritas yang utama baginya. Dia tidak pernah mau melibatkan anak-anaknya untuk beraktivitas di dapur. Bu Melati mengaku keberatan bila anak-anak masak di dapurnya. 

"Pasti berantakan. Bahan makanan berceceran di sana-sini, belum perabotan yang mereka gunakan. Anak-anak pasti kurang bersih ketika mencucinya." kata Bu Melati mengungkapkan alasannya.

Terus terang, saya tidak sependapat. Bukan berarti saya tidak menyukai kebersihan. Bukan begitu! Saya juga senang jika melihat semua ruangan di rumah, dalam keadaan bersih. Tapi saya juga ingin anak saya menyalurkan keingintahuan mereka. Membiarkan mereka mencoba sesuatu yang baru. 

Oleh karena itu, saya tidak keberatan kalau anak-anak beraktivitas di dapur. Si sulung, sekarang sudah bisa memasak nasi goreng, seblak dan yang paling akhir ini, dia mencoba membuat sate taichan yang lagi ngetrend itu. Dan bagaimana hasilnya? Enak!
Lalu, bagaimana dengan si bungsu? Anak lelaki saya itu, juga sudah bisa buat telor dadar kesukaannya. 

Mau tahu, penampakan dapur setelah mereka selesai masak? Waduuh, berantakan, deh! Bumbu yang berceceran, cipratan minyak goreng yang menodai kompor dan lantai serta semua perabotan yang digunakan, ditinggalkan dalam keadaan kotor di tempat cuci piring.

Kalau sudah begitu, siapa lagi, kalau bukan ibunya yang membereskan. Tapi saya dan suami sepakat dalam hal ini. Membiarkan anak-anak mandiri melakukan sesuatu, yang sekiranya sudah bisa mereka tangani dengan baik.

Jadi, benarkah saya ibu yang tegaan? Iya! Saya memang tegaan ... hihihi... tapi semoga dibalik semua itu, mereka sudah terlatih melakukan kebutuhan mereka dan mampu lebih mandiri lagi.

Apalagi munculnya berita yang memprihatinkan akhir-akhir ini di daerah yang tidak jauh dari rumah kami. Diberitakan ada kakak beradik yang bunuh diri usai ditinggal pergi oleh bundanya. Meninggalnya sang bunda, membuat anak-anak itu linglung dan tidak bisa berbuat apa-apa. Memprihatinkan, bukan?

Jika membicarakan usia, kita tidak pernah ada yang tahu. Entah sampai kapan, saya bisa mendampingi anak-anak. Oleh karena itu, lebih baik saya didik mereka untuk bisa lebih mandiri. Mengerjakan apa yang bisa mereka lakukan utuk hidupnya. Dengan begitu, mereka akan terbiasa pada saatnya nanti. Semoga!

Artikel Lainnya :
Tahap Pengasuhan Anak Yang Positif
Mendidik Anak Agar Berprestasi
Belajar dengan Metode Active Learning
Melanjutkan Pendidikan, Kenapa Tidak?

46 comments:

  1. Saya setuju... Saya juga melibatkan anak batita supaya bantu beresin baju yg disetrika... Walaupun jdi berantakan lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berani berkorban setrikaan ksusut lagi, demi anak-anak ya...

      Delete
  2. Saya setuju mbak ... tapi orang tua emang begitu jangankan orang lain, orang tua sendiripun kadang begitu

    ReplyDelete
  3. waaaaahh, emang ada yang komplen ya mba nurul, saya serinngg suruh anak belanja ke warung, nitip pulsa, garam dll,, jika saya yang pergi malah banyak pengeluarannyahe he he

    ReplyDelete
  4. Pola pengasuhan mbak Nurul mirip dengan pola asuh kami. Kami membiarkan si K melakukan apa-apa sendiri. Termasuk makan sendiri, minum sendiri di usianya yang baru 17 bulan. Jangan nanya gimana bercecerannya. Wkwkwkwk.

    Pertentangan paling kentara saat aku pulang ke kampung, disini anak dimanjakan bangettt. Apalagi anak laki-laki. Aku sering gemes sendiri. Ibunya rempong di dapur bla bla bla, anak-anaknya asik tiduran nonton tv. Bisa ditebak bagaimana nanti saat menjadi suami. 😢

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu, anak laki-laki kerap gak dilibatkan dengan kegiatan rumah tangga ya...padahal mereka harus belajar juga.

      Delete
  5. Akh juga sering begini. Padahal mah kita melatih mereka untuk mandiri agar kelak ketika kita tiada dia bisa survive

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak...mereka harus bisa survive kalau kita sudah gak ada..

      Delete
  6. Toss mbak... anak ku yang kelas satu SD pun sudah bisa goreng telur sendiri. Telur jatuh dan pecah dilantai? udah sering kalo itu mah hihihi...
    Rumah kotor kan bisa dibersihkan lagi....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi iya, Mbak..rumah kotor bisa dibersihkan lagi. Yang penting anak-anak bisa lebih mandiri ya...

      Delete
  7. Mendidik anak untuk belajar mandiri hal yang baik. Kalau kata iklan "Berani Kotor itu Baik" dengan mencoba anak-anak bisa belajar banyak hal dan berkreasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belajar melakukan sesuatu tanpa merasa takut, ya...

      Delete
  8. Terus terang ortu saya berada dalam posisi yg sama dengan Ibu Melati ini. Tidak tegaan orangnya. Bahkan ketika mereka harus berpergian saja, mereka minta supaya aku beli makanan di luar saja. Padahal, untuk masak pun sebenarnya aku sudah bisa.

    Sebagai orang tua kelak, aku mulai sadar bahwa melibatkan anak tentang house chores sejak dini pun sudah mengajarkan anak untuk menjadi mandiri dan percaya diri kelak.

    Ya, saya ingin kembali menjadi anak dan terlibat dalam segalanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum terlambat untuk bisa mandiri dan terlibat dalam segalanya, bukan?

      Delete
  9. Ibu-ibu kompleks plis deh, dimana aja sama. Hihihi.
    Masuk telinga kiri keluar telinga kanan aja lah mbak :p

    ReplyDelete
  10. Wah emang bener ya, dgn gitu bs melatih anak utk berkomunikasi dgn org lain. Trus melatih untuk berani juga ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mas...semoga mereka bisa lebih mandiri :)

      Delete
  11. Gak usyaaah didengerin ah mbak celotehannya bu Melati, saya dulu disuruh emak beli bumbu dapur seneng-seneng aja tuh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi iya Mbak .... anak lelaki saya, juga seneng-seneng aja tuh :))

      Delete
  12. Aku dari kecil udah dibiasain mandiri seperti cuci baju sendiri. Kotor bersih terserah itu tanggung jawab pribadi

    Sekarang sama ponakan diajak nyuci baju atau piring, kadang tak ajak masak2 kan biar dia terbiasa. Kalau pergi ke warung msh diantar soalnya baru 5 tahun. Jalanan ramai euy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah...Keponakan Jiah beruntung punya tante yang mendidiknya untuk lebih mandiri.

      Delete
  13. biasanya anak paling males disuruh tuh bener banget saya juga begitu haha. Akan tetapi, di didik dari kecil disuruh keluar beli sesuatu itu perlu banget buat melatih keberanian dan berkomunikasi dengan orang lain. Sehingga, kalo udah besar nanti si anak tidak canggung lagi dan menjadi anak yang pemberani

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak saya kalau dateng malesnya juga susah kalau disuruh hihihi

      Delete
  14. wah mgkn hanya beda cara asuh anak saja ya mba. Sisi lain mendidik anak jd dewasa tp sisi lain harus diperhatikan jg kawasannya aman ga buat anak kecil tanpa asuh org tua saat diluar rmh. kl di tmpat saya blom brani, krn maraknya penculikan anak. kl anak udah gede gpp misal sdh kelas 4/5 sd. tp heda org tua beda cara didik ga bs di komplen jg haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mbak...pola asuh saya dan Bu Melati, memang beda. Tapi beliau suka komplen hihihi
      Anak saya juga udah kelas 4 SD waktu saya suruh beli ke warung. Udah cukup besar, bukan?

      Delete
  15. bener banget ini mak
    anak harus diajakarkan berani
    diajarkan berinteraksi dengan lingkungan di luar rumah misalnya tetangga
    saya harus belajar ini
    secara belum bisa lepas dari anak
    belom pernah biarkan dia main sendiri meski di teras sendiri
    harus dipantau terus
    maklum anak baru 5 tahun
    saya terlalu parno gitu hiks
    makasih sharingnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Umur 5 tahun memang masih kecil Mbak...masih butuh pengawasan

      Delete
  16. Antara ibu tegaan dan ibu yang sante kek di pante beda tipis mbak...


    Jadi biar kan anjing mengonggong, kita shopping aja #eh

    ReplyDelete
  17. Setuju banget sich mba anak-anak perlu diajari, asal tetap dalam oengawasan kita Ya. Suoaya saat dewasa dia juga peka terhadap sekitar, itu melatih kepekaan juga

    ReplyDelete
  18. Anak2 juga mulai kuajarin buang sampah sendiri ke bak sampah depan rumah. Tapi tetep diawasin. Pas masak juga ngrecokin tapi gpp lha, niatnya bagus kan, membantu ortu. Moga2 sampe besar kelak selalu mau ngebantuin aamiin :D

    ReplyDelete
  19. Setuju Mbak, faktanya sih ya memang hrusnya seorg ibu tegaan ke anak. Tapi tegaan disini dalam konteks wajar sebagai bentuk didikan. Bukan tegaan mengasingkan anak di hutan biar mandiri. Wkwwkk kalo itu mah kelewatan ya Mba. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah iya..kalau diasingkan ke hutan mah tegaan ya hihihi

      Delete
  20. hahaahaahaha ibu itu tega sekali mengomentari anak org lain.. et dah capek deh. padahal ya pola pengasuhan anak itu ya urusan keluarga si anak masing masing. untung bkn tetangga aku nih si ibu wakkaakak.. habis dah kalau tetanggaan mah aku

    ReplyDelete
  21. Tegaan naon sih aduh ibu meni riweuh pisan. Setau aku emang hal itu uda biasa dilakukan di luar negeri karena bisa mengajarkan anak banyak hal. Kurang gaul itu ibu-ibu rumpis teh da.

    ReplyDelete
  22. Hihihi, tenang Bu, yang tahu anak kita itu ya anak kita bukan orang lain, jadi woles aja kalau ada orang lain yang rempong

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya Kang...yang tau memang emaknya sendiri ya...hihihi

      Delete
  23. iya setuju
    sejak kecil saya disuruh-suruh ibu pergi ke warung, dll. saya faham kalau hal itu adalah hal mulia, yaitu membantu ibu
    hmmm dampaknya kerasa banget sampe sekarang, berani menghadapi orang dengan santun (inshaa ALlah)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, didikan bunda dampaknya baik ya...

      Delete

.comment-content a {display: none;}