Menumbuhkan Keberanian Anak Menghadapi Bullying Dengan 4 Langkah

Tidak seperti biasanya, anak bungsu saya pulang dari sekolah dengan wajah kusut. Biasanya dia akan bercerita panjang lebar mengenai kejadian-kejadian yang dialaminya sepanjang hari di sekolah. Namun kala itu, dia pulang dengan tidak bersemangat.

Selama ini, di sekolahnya ada beberapa anak yang menindas anak lainnya. Sekelompok anak laki-laki yang merasa lebih berkuasa dari murid di kelasnya.

http://www.nurulfitri.com/2017/08/menumbuhkan-keberanian-anak-menghadapi-bullying.html

Dan ternyata kali ini, dia yang menjadi sasaran sekumpulan anak tadi. Situasi yang terjadi yaitu, kalau anak saya enggak ikut perintah si A, maka dia akan di UB yang merupakan akronim dari "ulah baturan" (red : jangan ditemani).
Biasanya dia hanya melihat teman yang lain di UB, tapi kini anak saya menjadi sasarannya. Padahal hanya gara-gara, anak saya bermain dengan teman yang lain selain kelompok si A.

http://www.nurulfitri.com/2017/08/menumbuhkan-keberanian-anak-menghadapi-bullying.html
Siapa pun pasti tidak suka, merasa takut dan sedih jika mendapat perundungan dari orang lain. Dan saya enggak bisa membiarkan anak saya merasa tertindas. Bisa saja saya membicarakan hal inni dengan wali kelasnya. Dengan harapan si penindas diberi nasehat untuk mengubah sikapnya. 

Namun saya juga harus mendidik anak saya, mempersiapkan dia untuk menghadapi lingkungan di sekitarnya. Ya ... saya harus menumbuhkan keberanian anak menghadapi bullying dari temannya. Maka saya melakukan beberapa langkah untuk menghilangkan rasa takut si bungsu dengan cara :

1. Menjadi Sahabat Anak
Sewaktu-waktu, tidak  ada salahnya kita memposisikan diri sebagai sahabat anak kita. Tempatkan diri kita sebagai tempat untuk dia bercerita dan mengadu. Sampaikan pada anak, bahwa kita akan selalu ada, seandainya dia ingin menceritakan segala sesuatu yang dialaminya sepanjang hari ini. Pembicaraan yang terbuka akan membuat anak merasa nyaman dan tenang.


http://www.nurulfitri.com/2017/08/menumbuhkan-keberanian-anak-menghadapi-bullying.html

2. Mengajarkan Untuk Berani
Jika ada temannya yang bersikap tidak baik, ajarkan anak untuk tidak peduli. Namun apabila ada temannya yang mencoba menindas, ajarkan pada anak untuk berani mempertahankan dirinya. Katakan "tidak" jika ada yang mengajaknya berperilaku tidak baik.

Tentu saja, menumbuhkan keberanian anak menghadapi bullying dari temannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses yang panjang dan kesabaran dari orangtua. Setidaknya kita bisa membuat anak-anak merasa jika orangtuanya akan mendukung mereka dalam situasi apapun.

3. Meminta Bantuan
Beri pengertian pada anak, jika mengadu berbeda dengan melaporkan. Mengadu biasanya bertujuan agar si penindas mendapatkan hukuman. Dan biasanya anak-anak yang mengadu dijuluki "tukang ngadu". 

Sedangkan melapor, bertujuan agar anak yang menindas mendapatkan pertolongan dan peringatan. Pasti ada yang melatarbelakangi perilaku yang tidak baik dari si penindas.

Jika anak kita tidak bisa menolong sendirian, maka suruh dia untuk mengajak teman-temannya yang lain untuk menolong si penindas. 

4. Mengajari dan Melatih Menyelesaikan Konflik
Sebaiknya anak diberi latihan untuk menyelesaian konflik sejak dini. Agar nantinya dia sudah siap dan terbiasa menghadapi masalah dengan mengontrol emosinya.
Dampingi dan temani anak ketika menghadapi sebuah masalah yang membutuhkan kontrol . 

Keempat langkah untuk menumbuhkan keberanian anak menghadapi perundungan memang perlu penanganan yang lebih serius dan penuh empati. Membentuk karakter anak, perlu kesabaran dan perhatian yang lebih. 

Dan saat anak berusaha membangkitkan keberaniannya, yang perlu dilakukan oleh orangtua adalah memberikan dukungan atau penguatan. Sehingga anak bisa benar-benar berani.

Daan ... sebagai orangtua, kita perlu menyadari hal tersebut dan memupuk kesabaran sebanyak yang kita miliki, bukan? Ayah bunda, punya stok kesabaran berapa banyak? #eh ^_^

Sebenarnya perundungan melibatkan beberapa pihak, ada pihak penindas, pihak tertindas dan penonton. Iya, dari sekian kasus perundungan, kerap kita lihat ada beberapa penonton yang hanya bisa melihat dan diam saja.
Sebagai penonton, anak tidak bisa berbuat banyak saat ada teman yang mengalami perundungan. Mungkin ada keinginan untuk membantu tapi takut dan akhirnya memilih untuk diam. 

Banyak anak yang merasa malu, kecewa dan merasa tidak bermanfaat karena hanya bisa menyaksikan perundungan terjadi di depan matanya. Oleh karena itu, sebaiknya kita mengajari anak untuk tidak hanya jadi penonton. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa anak-anak kita lakukan yaitu :

Berhenti Jadi Penonton
Ketika ada orang lain yang ditindas, ajari anak untuk tidak jadi penonton. Atau hindari ikut mentertawakan. Perundungan bukan gurauan atau tontonan. Itu merupakan perilaku yang serius. Bisa dikatakan penindas itu mencari perhatian, maka lebih baik ajari anak untuk tidak berikan perhatiannya. 
Bisa saja kita sarankan anak kita untuk menjauh dari tempat itu dan mengacuhkan pelaku perundungan.

Alihkan Perhatian
Saat melihat teman ditindas, ajari anak untuk mengalihkan perhatian si penindas. Tujuannya agar penindasan tidak berlangsung terus dan membubarkan penonton di sekelilingnya. 

Banyak cara untuk mengalihkan perhatiannya, bisa dengan mengalihkan perhatian perundung dengan berteriak memanggil gurunya. Atau memanggil teman yang sedang di-bully untuk menjauh dari tempat kejadian. Dengan begitu, tidak saja perhatian penindas yang teralihkan, perhatian penonton pun bisa segera teralihkan.

Berteman Dengan Para Korban
Dalam beberapa kasus, si penindas tidak hanya melakukan perundungan pada satu anak saja. Saya lebih menyarankan pada anak untuk berteman dengan teman-teman yang menjadi korban bullying. Dengan begitu, mereka tidak akan merasa sendiri. Anak saya juga mengajak temannya yang lain untuk main bersama. 

Setidaknya ini lebih baik daripada melakukan balas dendam. Mencoba membalas akan membuat rantai perilaku tidak baik ini, sukar terputus. Lagi pula, bisa anak balas dendam, maka anak akan memposisikan dirinya sebagai penindas juga, bukan?

Menghibur Tertindas
Ajari anak untuk mengungkapkan perasaannya pada teman yang tertindas. Mengatakan jika dia sedih melihat perundungan yang terjadi. Setidaknya, anak yang tertindas mengetahui jika anak kita berada di pihaknya.

Dengan semua cara tersebut diharapkan anak bisa lebih berani menghadapi bullying. Dan tidak hanya menonton ketika ada orang lain yang diberlakukan sewenang-wenang. Semoga saja perilaku yang tidak baik ini, bisa hilang dan tidak berlanjut seperti mata rantai.
http://www.nurulfitri.com/2017/08/menumbuhkan-keberanian-anak-menghadapi-bullying.html

Perilaku generasi muda yang baik tentunya berpengaruh pada kemajuan bangsa ini, bukan? Yuk, mari dukung anak-anak kita menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan membanggakan negeri ini.

Tulisan ini dibuat untuk menanggapi postingan Nia K. Haryanto di website KEB tentang Waspadai Bullying Pada Anak
#KEBlogging Collab

Artikel Lainnya :

34 comments:

  1. Anakku sering diejek kawannya tapi anakku yg cowok juga sering ejek kawannya, kalau itu bukan bully yaa? Tapi pernah anakku yang cewek bibirnya ampe berdarah waktu tk besoknya aku tanya kenapa bikin anakku luka, jawavan anak itu nggak sengaja, yang lngsung aku nasehatin anak itu hati2 kalau bermain coba kalo kamu yg bibirnya berdarah mau apa nggak?, kebetulan anak itu juga terkenal plng bandel di kelasnya

    ReplyDelete
  2. Sedihnyaaaaa
    Mengingat kalo aku juga pernah dibully sama teman2 yang ber-genk hanya karena aku mengusulkan pendapat dan pendapatku ditolak oleh teman2 lain. Harusnya kan gak ada dendam2an ya. Toh juga pendapatku ditolak. Lah kok malah dibully, disindir-sindir, diancam. Kepikiran terus, nangis. Terus aku cerita ke ibu, ibu bilang kalo aku harus minta maaf dulu meski aku gak salah. Alhamdulillah cukup 3 hari aja aku sedihnya dan kepikiran parah waktu itu

    Dari situ aku ngerasa, bahwa peran orang tua sanga berarti banget

    ReplyDelete
  3. Nah ini yang lagi aku praktekin sama anakku, mendekatkan diri sama mereka

    ReplyDelete
  4. Anak kecil sekarang kok ya udah berkelompok-keompok gitu sih. Perasaan aku dulu waktu kecil nggak ada genk-genk gitu deh. Jadi kepikiran keponakanku yang masih sekolah SD, semoga mereka nggak ngalamin hal demikian.

    ReplyDelete
  5. Anak tentunya perlu dibimbing oleh orang tua untuk menghadapi bullying. Jika dibiarkan saja tentunya berdampak kurang baik di masa depan, apalagi saat ini marak kasus bullying.

    ReplyDelete
  6. Naah ini penting banget, Mak. Jaman sekarang, anak memang harus "mandiri" dalam hal berjuang. Bagus-bagus artikelnya, Mbak Nurul. :)

    ReplyDelete
  7. mantab nih postingan mbak, memang anak-anak harus diajarkan cara menghadapi bulling. kalau mereka berani orang juga tidak akan bully mereka

    ReplyDelete
  8. Nah setuju banget tuch kalau ada yg tertindah kita perhatikan. Takutnya malah dia bener2 stress khan kasihan dia

    ReplyDelete
  9. Semoga banyak orang tua yg memahami karakter dn kebutuhan anak. Bully saat ini "cenderung" di besar2an.

    ReplyDelete
  10. anak sy perempuan umur 6 thn sekarang TK
    dia pernah cerita di mobil jemputan ada yg nakal dan ngejek ngejek
    sy suruh lawan atau lapor ummi/gurunya
    anak memang harus diajarkan berani
    supaya tidak ditindas

    ReplyDelete
  11. kita sebagai orang tua harus sangatlah dekat dengannya. Jadikan, anak kita sebagai sahabat bukan hanya sekedar ayah dan ibu atau sekedar orang tua. Terus, ajarkan juga moral yang baik dan bagus. supaya besarnya nanti anak kita tidak suka untuk membully orang atau bisa mengelak kalo dia dibully atau semacamnya.

    ReplyDelete
  12. Dulu pernah ngerasain rasanya di bully. Ga enak banget. Bully bener2 pembunuhan karakter. Alhamdulillah saya bisa melewatinya walau pernah sempet galau jd ingin pindah sekolah. Makasih banyak untuk tipsnya Mbak. Tipsnya bakalan bermanfaat bgt untuk mendidik anak widya di masa depan suatu hari nanti. :D

    ReplyDelete
  13. emang agak susah sih mengajari anak untuk melawan bullying, tapi selama orang tua telaten dan memberi tahukan batasan yang jelas antara bullying atau bukan dan bagaimana cara menghadapinya insyaallah anak-anak akan mampu menghadapinya tanpa harus melibatkan orang tua.

    ReplyDelete
  14. Soal bullying ini beneran nyebelin dan bikin kesel. Aku pengen ngajarin anakku yg cowok untuk bales, jangan diem aja. Lah yang ngebully cewek gimana mau bales? Di rumah gak diajarin ngebales ke cewek. Masa harus ibunya yang ngadepin....

    ReplyDelete
  15. Lamgkah2 menghadapi bullying yg oke banget.

    Jaman sd mah bener ya, main aja bolo2nan. Hihi pdhl itu bs jadi menyakiti teman kita. Ah masakecil itu....

    ReplyDelete
  16. Aku pernah di bully waktu SD, gak ada salah apa2 dimusuhinya..di ejek.., pas berani ngelawan..gak ada lagi yg berani ngejek. Senjata aku cuma satu.
    Kejar dan gigit..hahahaha..

    ReplyDelete
  17. Ya ampun.. Masih kecil udah dibully dan membully. Penting banget ya mbak ngajarin anak tentang efek buruk membully dan apa yang harus dia lakukan bila dia atau temannya dibully.

    ReplyDelete
  18. Jadi orangtua banyak banget PRnya yaa.. Selama ini yang kutakutkan itu bullying fisik. Padahal bullying verbal dan psikis itu juga sangat bahaya.

    Tapi untuk kasus anaknya Mba Nurul, zaman aku kecil juga sering banget begitu. Geng-geng-an. Kalo main sama geng lain, trus dimusuhin sama temen. Kesel sih... Tpi gedean lagi masa yg begituan uda hilang sendiri.

    ReplyDelete
  19. Agak serem sama kehidupan anak sekarang yaa, mba..
    Bully nya uda kelas berat.

    Jadi gemeess..
    Kadang aku jadi mikir, ini orangtuanya siapa siih...jadi punya anak dengan mental "berkuasa" gitu.
    Huuh!
    Meresahkan.

    ReplyDelete
  20. Anakku pas baru seminggu di kelas 7 sudah kena bullying. Tiap pulang sekolah sedih, cerita kalau nggak nyaman, dinakalin teman dll. Saya langsung ke sekolah dan diarahkan ke guru BK, langsung ditangani. Saya juga share ke grup, mohon bantuan ibu-ibu OTM untuk merapatkan barisan menolak segala bentuk bully di sekolah..Alhamdulillah jalan sebulan lebih kini, anaknya merasa nyaman lagi..

    Btw, TFS Mbak..ulasan yang lengkap:)

    ReplyDelete
  21. anak saya yg nomor dua, sering sekali diusilin temannya, kadang di dolak, atau kadang dipukul.. geram juga lihat anak yang suka membully.. sy sering katakan agar membalas, dan jangan mau tertindas
    thank infonya mba nurul

    ReplyDelete
  22. Anakku tuh kadang kalo ducubitin atau dihalang2i jalan sama temennya suka diem aja. Padahal udah srg aku bilangin lawan aja atau lapor gurunya. Btw, TFS ya mba :)

    ReplyDelete
  23. Point berani itu saya suka, sebab saya bnyak menemukan semakin korban bullying menangis atau tertekan maka pembullyan akan terus tjdi. Itu yg saya temukan di sekolah mba..

    ReplyDelete
  24. Berani melawan pembully sejak Dini itu penting yaa Mbak Nurul...saya ajarkan pelan-pelan Mbak, supaya berani. noted banget nich Mbak

    ReplyDelete
  25. mengajarkan menyelesaikan konflik, itu yang kadang terlewat mak. kita biasa membantu menyelesaikan masalah anak, dan tidak mengajari mereka mnenyelesaikan sendiri.....

    ReplyDelete
  26. 'Perundungan' bahasa daerah mana ini Dek?😊
    Kalau lihat anak-anak berantem atau dibully saya selalu membayangkan jika itu anak saya...ngeri..😕

    ReplyDelete
  27. 'Berhenti jadi penonton' suka banget dengan point ini. Saatnya untuk mengajarkan anak peka dan peduli dengan lingkungan. Jangan hanya menghindar dan diam ketika melihat teman dibully!
    Smg kita bisa mendidik anak-anak menjadi agen perdamaian di lingkungannya ya mak!

    ReplyDelete
  28. Langkah mengatasi bullying berawal dari rumah... Anak harus diajarkan berani

    ReplyDelete
  29. Sedihnya anak yang di rumah diajari tidak memukul, tidak berkata kotor, justru sering jadi sasaran bullying. Banyak yang terjadi seperti ini.

    ReplyDelete
  30. Bermanfaat sekali ini mbak Nurul. Para orangtua harus baca artikel ini. Biar tahu bagaimana menumbuhkan keberanian anak ketika dibully.

    ReplyDelete
  31. Kasus bullying ini yang paling saya cemaskan. Karena sebagai orang tua oita tidak bisa mengontrol anak saat berada di sekolah.

    ReplyDelete
  32. Pelajaran banget ini ... terima kasih buat sharingnya

    ReplyDelete
  33. Setuju banget dengan tulisannya, Mak. Aku banyak belajar hal ini. Susah banget menumbuhkan keberanian ini. Terutama ke anakku yang ketiga. Anaku yg kedua yang pernah dibully itu, sekarang udah berani. Yang ketiga nih yang masih susah. Semangaaaaat. :D

    ReplyDelete
  34. Mba Nurul, poin2 ini memang penting. Tapi paling awal adalah memang menjadikan sahabat anak sehingga bisa saling ngobrol apa adanya dan ajarkan anak untuk berani bersikap. Makasih tulisannya

    ReplyDelete

.comment-content a {display: none;}