Inilah 4 Gaya Asuh Ibu Dalam Perkembangan Anak

Sudah hampir dua bulan, kegiatan saya setiap Hari Sabtu pagi, mengantarkan si kecil mengikuti ekstrakulikuler renang. Kegiatan di luar jam pelajaran ini, dilaksanakan sesuai dengan anjuran Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk mengimbangi kegiatan intrakulikuler di sekolah. 

http://www.nurulfitri.com/2017/09/4-gaya-asuh-ibu.html
Inilah 4 Gaya Asuh Ibu Dalam Perkembangan Anak


Tidak hanya untuk mengimbangi pelajaran akademik, kegiatan ekstrakulikuler juga bertujuan untuk membina karakter anak. Menurut saya, kegiatan ini sangat baik dan mendukung tumbuh kembang anak saya. Oleh karenanya, apapun yang dipilih oleh anak lelaki itu, saya akan berusaha menurutinya.

Dulu ketika duduk di kelas 4, adek ikut eskul futsal karena dia lagi senang-senangnya bermain futsal. Selain ikut ekstrakulikuler futsal di sekolah, adek ikut berlatih di klub futsal yang ada di kota kami, sebanyak tiga kali dalam seminggu.
Saya mah gitu, saat adek lagi senang-senangnya main futsal, terus dia minta les futsal, ya ... saya ikuti. Karena saya pikir, anak akan lebih optimal menjalani kegiatan apa pun yang disukai olehnya. 


http://www.nurulfitri.com/2017/09/4-gaya-asuh-ibu.html
Berlatih dengan Robby Darwis, salah satu pemain Persib Bandung.
Sampai akhirnya ketika naik ke kelas 5 dan pindah ke sekolah yang baru, dia ingin mencoba kegiatan lain dengan memilih ekstrakulikuler renang. Lagi-lagi, saya menuruti kemauannya. Toh, selama kegiatan yang diinginkan bermanfaat dan tidak membahayakan dirinya, maka saya cenderung mengikuti kemauan anak.

Bukan tanpa alasan, saya membebaskan keinginan anak untuk mencoba berbagai macam kegiatan. Saya hanya berharap, anak memiliki pengalaman yang lebih banyak dan semoga saja ... ada salah satu kegiatan yang benar-benar sesuai dengan minat dan bakatnya.


http://www.nurulfitri.com/2017/09/4-gaya-asuh-ibu.html
Berlatih Renang setiap Sabtu pagi
Bisa dibilang gaya pengasuhan saya terhadap anak, termasuk gaya naturing, yaitu tipe ibu yang cenderung mementingkan kenyamanan anak. 
Sebenarnya sikap saya terhadap anak lelaki saya, tidak berbeda dengan saat saya mengasuh kakaknya. Dulu, saya juga membebaskan kakak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang diminatinya.

Hasilnya memang tidak mengecewakan. Karena menekuni bidang yang disukainya, anak saya memiliki beberapa prestasi non akademik yang bisa menghantarkannya masuk ke SMP dan SMA favorit di kota tempat tinggal kami. See ... Prestasi non akademis, enggak kalah dengan prestasi akademis, bukan?
Nah, sekarang giliran adeknya untuk mencari kegiatan sesuai minat dan bakatnya.

Teman ... Mau tahu cara saya mengasuh anak saya hingga bisa memiliki prestasi non akademis? Semua sudah saya ceritakan di postingan Mendidik Anak Agar Berprestasi. Monggo mampir, ya... he he he ...

Oh, ya, dari tadi saya selalu berbicara tentang gaya asuh, bukan? Dari mana saya bisa menyimpulkan jika saya termasuk ibu yang memiliki gaya asuh naturing?

Sebenarnya pengetahuan tentang gaya asuh seorang ibu, saya dapatkan saat anak-anak mengikuti sidik jari cerdas dari salah satu produk susu. Ternyata di sana, selain anak-anak, sidik jari saya juga ikut diperiksa, loh! Tujuannya untuk mengetahui gaya asuh saya dalam perkembangan anak-anak. Dan ada 4 gaya asuh ibu dalam perkembangan anak yang saya ketahui dari kegiatan sidik jari tersebut. Gaya asuh apa sajakah itu?

Alamiah (Naturing)
Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, gaya asuh saya lebih dominan dengan gaya asuh alamiah (naturing). Ciri gaya asuh ini, ibu biasanya mengikuti alur perkembangan anak secara natural, apa adanya. Kenyamanan anak merupakan bagian yang paling penting untuk diikuti, selama tidak membahayakan keselamatan anak.


Selain itu, ibu biasanya memberi kesempatan pada anak belajar dari pengalaman, ketika menggali apa yang ingin diketahui. Prestasi anak dinilai dari proses yang dijalankan, bukan hanya fokus pada hasilnya. Ibu dengan gaya alamiah, tidak mementingkan nilai. Selama anak bersungguh-sungguh berusaha, ibu lebih menghargainya.

Untuk urusan akademis, saya memang tidak begitu mementingkan hasil nilai mereka. Saya lebih menghargai ketika mereka berusaha belajar dengan sungguh-sungguh. Bahkan saya lebih tertarik mengembangkan aspek non akademis mereka. Ini berdasarkan pengalaman anak pertama, yang bisa masuk ke sekolah lanjutan lewat jalur prestasi. Makanya, kini giliran anak kedua yang saya kawal untuk mencari minat dan bakatnya. Salah satunya dengan mengizinkan dia untuk ikut ekstrakulikuler yang disukainya seperti futsal atau renang.

http://www.nurulfitri.com/2017/09/4-gaya-asuh-ibu.html
Pemenang Medali Perak Lomba Penelitian Siswa SMP Tingkat Nasional

Membimbing (Nurturing)
Ibu dengan gaya asuh membimbing, kerap mengarahkan anak pada pencapaian prestasi yang tinggi dan berjuang bersama anak untuk mencapai hasil yang baik. Prestasi anak merupakan tolak ukur keberhasilan.

Berusaha menumbuhkan sikap bersaing dengan mendaftarkan anak pada lomba-lomba juga menjadi prioritas ibu dengan gaya nurturing. Tujuannya agar anak mengerti pentingnya persaingan, apalagi menghadapi zaman seperti sekarang ini. Dan ibu dengan gaya asuh nurturing, akan merasa berhasil ketika anak menjadi juara, atau turut dalam kelas akselerasi di sekolahnya.

Responsif (Responsive)
Gaya asuh yang ketiga, sebenarnya juga ada dalam tipe pengasuhan saya sebagai seorang ibu. Cirinya, yaitu mudah menerima saran yang diberikan oleh orang lain. Ketika ada yang menyarankan sebuah barang yang berkaitan dengan edukasi, kadang langsung membeli. Sampai lupa memperhatikan, apakah barang itu cocok atau tidak dengan anak.

Ibu dengan gaya responsif juga sering mementingkan segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan anak, bahkan sering tanpa berpikir dua kali. Dan suka mengikuti tren yang sedang terjadi, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan anak. Misalnya, mendaftarkan anak untuk ikut les yang sedang tren.

Saya masih ingat, ketika teman-teman sekolah adek beramai-ramai les matematika, saya daftarkan anak saya untuk les matematika. Tentu saja, saya menanyakan anaknya terlebih dahulu. Kalau dia tidak suka, saya tidak akan mengikutsertakan dia untuk les. Tapi ... untuk hal ini, suami saya yang suka protes he he he ... Kata beliau, jangan sampai anak-anak terlalu banyak kegiatan yang melibatkan pikirannya. 

Analitis (Analytical)
Sedangkan ciri gaya asuh ibu dalam perkembangan anak yang berikutnya ini, selalu mempertimbangkan masak-masak segala sesuatu yang berkaitan dengan anak. Selalu memikirkan baik buruknya, dampaknya dan lain-lain. Dari anak masih dalam kandungan hingga kebutuhannya ketika sudah besar.
 
Apa yang perlu dipertimbangkan saat anak masih dalam kandungan? Banyak, loh! Contohnya, memilih dokter kandungan yang bagus, mencari tempat terbaik untuk melahirkan anaknya, atau mencarikan nama bayi yang paling baik, dimana dia akan sekolah nanti, dan pertimbangan lainnya.

Karena ingin memberikan yang terbaik, kadang ibu dengan gaya analitis memiliki kekhawatiran yang cukup tinggi sehingga memerlukan waktu yang lama untuk memutuskan. Selain itu, memiliki kecenderungan untuk melihat segala sesuatunya secara detail. Misalnya, ketika anak menggunakan pakaian, ibu ingin yang dikenakan oleh anak harus pas dan sempurna.

Dari keempat gaya asuh ibu yang telah saya ketahui saat mengikuti acara di sebuah mall di Bandung ini, sebenarnya tidak ada yang salah atau paling benar. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Setidaknya dengan mengetahui tipe gaya asuh tersebut, bisa membantu kita sebagai orangtua menyesuaikan gaya asuh kita dengan kebutuhan anak.

Saya yang cenderung sering mengikuti keinginan anak, harus bisa selalu mengontrol kebiasaan saya agar tidak kebablasan. Terutama ketika ada yang menawarkan barang edukasi, sepertinya saya harus berpikir ulang, apakah barang tersebut ada yang serupa dengan yang ada di rumah? Apakah barang tersebut memang cocok dengan perkembangan anak saya? Dan hal-hal yang perlu dipertimbangkan lainnya.

Kesimpulannya, setiap ibu pasti memiliki keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya. Dan biasanya harapan setiap ibu pada anaknya berbeda-beda. Jadi wajar saja, bila pendekatannya pun berbeda. Oleh karena itu, gaya asuh ibu dalam perkembangan anak pun beragam. Jadi, tidak ada yang salah dalam perbedaan gaya asuh seorang ibu. Karena setiap ibu akan menyesuaikan gaya pengasuhannya dengan kebutuhan anak mereka masing-masing. 

Teman-teman ... itulah gaya saya ketika mengasuh anak. Bagaimana dengan teman-teman dalam mendidik buah hati, termasuk gaya pengasuhan yang mana? Sharing, yuk!

Bacaan Terkait :
Cara Menumbuhkan Kemandirian Anak
Tahap Pengasuhan Anak Yang Positif

29 comments:

  1. Saya kayaknya naturing deh mbak
    Yang penting anaknya semangat dan seneng.
    Tapi tetap harus saya arahkan juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, Mbak. Yang penting anak-anak senang dan semangat melakukan aktivitas

      Delete
  2. Saya masih proses mencari jati diri dalam mengasuh anak mbak. Pengennya yang anturing tapi tetap bisa mengarahkan mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga memang yang terbaik untuk anaknya ya...karena semua gaya asuh tidak ada yang salah

      Delete
  3. saya belum menemukan yang klop banget, tapi pengennya naturing tapi tetap bisa mengarahkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Temukan yang paling klop dan terbaik untuk anak, Mbak hehehe

      Delete
  4. Awalnya saya Analitis, Mbak..mungkin karena anak pertama meninggal dunia, jadi anak kedua saya hati-hati banget saat ambil keputusan itu ini..Tapi semakin lama saya Alamiah saja..lebih santai dan mengutamakan kenyamanan anak..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Turut berduka mbak ... jadi belajar dari pengalaman ya, Mbak. Semoga gaya asuh kita, memang yang terbaik untuk anak-anak.

      Delete
  5. Saya banget itu naturing, yang penting anak suka selama tidak membahayakan ya saya dukung saja dan doakan.

    ReplyDelete
  6. Aku termasuk gaya santai. Eh gak ada optionnya di atas ya, teh. hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Santai tapi menyenangkan, pasti bakalan disukai oleh anak, ya, Teh

      Delete
  7. Saya perpaduan antara analitis sama nurturing deh agaknya.... Dibimbing tapi mikir lama juga untuk ambil keputusan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apapun itu, semoga yang terbaik untuk anak ya, Mbak

      Delete
  8. Istri saya harus baca artikel ini, biar nyambung hehe .. makasiih teh Nurul yg sdh dengan bernas dan jelas menjelaskannya ...

    ReplyDelete
  9. Saya juga naturing. Tapi, kita juga harus melihat karakter anak. Semua anak istimewa, punya kecerdasan yang tidak sama dan rizkinya sudah ditentukan. Sebagai orang tua, tugas saya adalah memberikan kesempatan, arahan dan juga tuntunan. Saya bukan tipe yang menuntut prestasi, tetapi anak harus memiliki attitude yang baik. Karena dengan soft skill atau attitude yang baik, dia akan dapat bertahan saat dewasa kelak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, dengan soft skill atau attitude yag baik,anak-anak semoga bisa bertahan hingga dewasa kelak.

      Delete
  10. Saya terus belajar menjadi ibu. Ke4 style diatas pastinya saya gunakan dalam waktu dan kondisi yang diperlukan anak. Ini ulasannya berguna banget untuk jadi masukan positif untuk para orang tua. Makasih ya mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga masih terus belajar, Mbak. Kita memang harus bisa melihat situsi dan kondisi yang diperlukan oleh anak kita. Berikan yang terbaik untuk anak, ya...

      Delete
  11. lihat mbak nurul yang udah pengalaman, dan anak-anaknya berprestasi jadi pengen tiru pola asuh yang di terapkan mbak nuru.. thank infonya ya mbak

    ReplyDelete
  12. Saya termasuk ga punya gaya, Teh. Punya anak juga belum hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi.. ari Teteh... nanti pasti punya gaya asuh sendiri, kalau udah punya anak, deh!

      Delete
  13. Aku yang mana, ya? Kayaknya sih, mungkin lebih ke Naturing. Ikut perkembangan anak-anak aja. Tapi, yang analytical kurang nih. Kudu mulai diasah nih.

    ReplyDelete
  14. wah artikelnya bermanfaat banget nih, mbak. kebetulan anak saya masih umur 8 bulan jadi saya masih belum tahu bakal punya gaya apa dalam membesarkannya nanti

    ReplyDelete
  15. Keren teh, langsung disave buat bekal ngasuh anak-anakku nanti hehe

    ReplyDelete

.comment-content a {display: none;}