Di beberapa grup pertemanan dan media sosial, akhir-akhir ini sering berseliweran postingan tentang indahnya masa kecil orang-orang di tahun 1990-an. Mereka bernostalgia dengan masa yang serba manual tanpa dicampuri oleh kecanggihan teknologi, tapi asyik untuk di kenang. Zaman serunya permainan kala itu, alat musik yang digunakan, makanan favorit masa kecil, dan cerita tentang tenangnya saat itu karena bisa bepergian tanpa takut dengan gangguan kriminalitas dan keasyikan lainnya yang bisa dinikmati anak-anak generasi Y.

Dan saya bersyukur karena termasuk salah satunya. Yup, saya bagian dari anak Generasi Y. Hohoho ....kelihatan tuir ya?? 😂😂

Kalau ditanya pengalaman tentang masa kecil, sepertinya hampir semua orang sangat mencintai masa kanak-kanaknya. Masa yang penuh dengan keceriaan, bebas tanpa beban pikiran yang membuat muka merengut bak benang kusut. Masa yang dipenuhi oleh keingintahuan, proses belajar dan berjalan mulai mengenal dunia.


Mengenang masa kecil, kadang membuat saya tersenyum sendiri. Geli bila mengingat kekonyolan yang kerap dilakukan karena belum memiliki banyak pengetahuan. Kangen apabila ingat kenangan yang indah dan sepertinya sulit untuk dilupakan.

Berperan sebagai detektif
Dulu, saya suka sekali membaca buku fiksi Lima Sekawan. Senang aja, membayangkan keseruan lima orang anak yang selalu terlibat kasus misterius dan membawa mereka berpetualang untuk memecahkannya. Tidak hanya saya, teman-teman sepermainan pun senang membaca buku tersebut dan menyukai aktivitas para pemerannya.

Hal ini membuat saya dan teman-teman berangan-angan bisa menjadi mereka. Iya, kami yang kala itu kebetulan berjumlah 4 orang, akhirnya membuat kelompok mirip dengan Lima Sekawan. Untuk melengkapi peran seperti Lima Sekawan, salah seorang dari kami pun mengikutsertakan anjing peliharaannya. Hihihi ... pokoknya kami benar-benar mencontoh tokoh fiksi kesukaan kami, deh!

Salah satu kegiatan yang kami lakukan agar mirip dengan idola kami, yaitu berpetualang. Berusaha mencari kasus untuk dipecahkan. Mau tau apa yang kami lakukan? 

Saya dan teman-teman hidup di perumahan AURI, yang kala itu masih berbatasan dengan pesawahan. Jadi tempat bermain kami, jika tidak di lapangan depan perumahan, kami bermain ke sawah. Di sanalah kami, bermain bak para detektif cilik yang ada di buku.

Menyusuri pematang sawah menuju kebun yang ada ujung pesawahan. Berjalan bersama dengan tidak lupa membawa serta anjing milik salah seorang teman.  Dan kegiatan di luar rumah yang lainnya. Kegiatan seperti itu, sering kami lakukan sambil menikmati keindahan hamparan padi yang sangat memanjakan mata.

Hingga suatu ketika, kami melihat ada beberapa anak muda, usianya terpaut sekitar 5-6 tahun di atas kami, sedang bergerombol menuju perkebunan yang sepi. Dengan berbekal jiwa detektif, kami bermaksud memuaskan rasa penasaran dengan mengikuti mereka. Kami mulai bertanya-tanya, mengapa muda-mudi itu menuju ke dalam perkebunan? Apa yang mereka lakukan? Mungkinkah mereka terlibat dalam suatu sindikat?

Kami pun mengendap-endap mengikuti para remaja tadi. Namun, anjing yang menyertai kami, bukanlah anjing pintar seperti Timmy yang ada di buku Lima Sekawan. Karena nyatanya, dia malah menyalak dengan keras, seolah memberitahukan keberadaan kami. 

Sontak muda mudi itu, melihat ke arah kami dan merasa terganggu. Mata mereka melotot dan meneriakkan beberapa kata yang tidak bisa terdengar dengan jelas oleh kami. Kami hanya dapat menangkap kemarahan mereka dari cara mereka melambaikan tangan, meminta kami untuk pergi menjauh. Sayang sekali, misi kami kala itu, gagal total!! Hahaha.....

Beberapa tahun kemudian, saya baru ngeh dan menduga-duga, para remaja itu tentu saja bukan anggota sindikat yang akan merampok atau berbuat kejahatan. Bisa saja mereka mau memadu kasih, bukan? lol 

Liburan di rumah nenek
Hal lain yang paling berkesan kala saya masih kecil, yaitu saat keluarga besar berkumpul bersama di rumah nenek. Di acara hajatan atau pada hari raya kumpul semuanya di kota kecil yang ada di ujung Jawa Tengah.
Ibu memiliki 5 orang kakak dan tiga orang adik. Namun yang ada tinggal 7 bersaudara kala itu.

https://www.nurulfitri.com/2018/02/indahnya-masa-kecil.html


Saat hari raya, semua keluarga kumpul bersama di rumah nenek. Rumah Mbah Putri, begitu kami biasa memanggil beliau, ramai dipenuhi anak dan cucu beliau. Kami terbiasa melakukan sesuatu secara bersama-sama. Saat makan, kami berkumpul bersama di ruang makan. Duduk mengitari meja kayu berbentuk oval  dengan ukuran besar. Didahului dengan doa makan bersama-sama, kami pun terbiasa makan bersama sambil sekedar saling bercerita tentang keseharian kami.

Selain kebiasaan makan bersama, kami juga selalu diajak salat berjamaah. Begitu memasuki waktu salat, Mbah Kakung pasti akan mengarahkan anak cucunya untuk berkumpul di ruang musala. Kami semua salat berjamaah di musala yang ada di samping rumah. Beliau selalu berpesan pada kami, para cucunya, untuk tidak meninggalkan sholat.

Pada saat siang hari, kami biasa menikmati teriknya siang hari di kota kecil yang ada di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah ini, dengan menggelar tikar di bawah pohon sawo yang ada di samping rumah. Kami berkumpul di sana sambil berbincang seru. Segar rasanya, tiduran di bawah pohon sawo, sambil perpayung langit.

https://www.nurulfitri.com/2018/02/indahnya-masa-kecil.html

Kebersamaan yang masih selalu terkenang oleh saya hingga kini. Meskipun kini Mbah Putri dan Mbah Kakung sudah berpulang, tapi kebersamaan kami, tetap selalu kami jaga.

Sekarang apabila berkumpul, cerita masa lalu kami, selalu hadir untuk menyemarakkan suasana. Mengenang peritiwa-peristiwa lucu dan menggemaskan yang terjadi saat itu. Seandainya keindahan masa kecil kami, masih bisa dinikmati terus, ... duuh ... betapa bahagianya :))