Thursday, 5 September 2019

Menjadi Ibu Bijak dengan Mengelola Keuangan Yang Baik

Keluarga itu layaknya sebuah perusahaan. Supaya perusahaan tidak terancam bangkrut, manager keuangannya haruslah bijak dalam mengelola keuangan. Artinya dalam mengatur keuangan keluarga, diperlukan orang yang mengerti tentang manajemen keuangan. Jangan sampai uang dipegang oleh orang yang boros, karena akan menyebabkan keuangan keluarga menjadi tidak teratur.

menjadi ibu bijak dengan mengelola keuangan dengan baik

Dalam masyarakat Indonesia, biasanya yang berperan sebagai manager keuangan adalah ibu. Sebagai manager keuangan, ibulah yang akan mengurus semua pemasukan dan pengeluaran keluarga. Mengatur agar bisa menghemat uang yang ada. Eh tapi menghemat itu bukan berarti pelit, loh! 😅😂

Layaknya perusahaan, keluarga dengan manager keuangan yang kurang mampu bisa mengakibatkan kebangkrutan. Sayangnya banyak keluarga seperti itu di kalangan masyarakat kita. Ketika memiliki uang, mereka bergaya hidup mewah. Seakan hidup hanya untuk hari itu saja, uang dihabiskan untuk sesaat. Hari esok tidak dipikirkan. Fyuh ... jangan sampai deh, keluarga kita seperti itu.

Nah, sebagai seorang ibu yang berperan mengatur keuangan keluarga, saya pun harus belajar terus untuk meningkatkan kemampuan diri. Boleh dikatakan saya cukup beruntung bisa ikut serta dalam workshop yang dipersembahkan oleh Visa. Workshop yang diadakan di Noah's Barn Jl. Dayang Sumbi - Bandung menghadirkan Mbak Prita Hapsari Ghozie seorang pakar keuangan yang sudah sangat dikenal di bumi pertiwi ini.

menjadi ibu bijak dengan mengelola keuangan dengan baik

PT. Visa meluncurkan program Ibu Berbagi Bijak yang menggandeng komunitas perempuan. Cara kerja Ibu Bijak Berbagi yaitu dengan memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan informasi mengenai pentingnya literasi keuangan. Saya menjadi bagian dari acara tersebut bersama teman-teman dari Komunitas Emak Blogger. Selain kami hadir pula anggota komunitas perempuan lainnya seperti Urban Mama dan juga anggota dari Benua Balantik.

Mengatasi Kesenjangan Literasi Keuangan

Workshop bertema "Pengelolaan Keuangan untuk UMKM" tidak hanya menghadirkan Mbak Prita sebagai pemateri. Hadir juga beberapa perwakilan dari PT. Visa, Benua Balantik serta dari pihak OJK.

Setelah acara mulai dipandu oleh MC, pertemuan di Hari Rabu tanggal 28 Agustus 2019 itu dibuka oleh Bapak Riko Abdurrahman, sebagai Presiden PT Visa Worldwide Indonesia. Beliau membahas mengenai pentingnya mengatasi kesenjangan literasi keuangan di Indonesia.
menjadi ibu bijak dengan mengelola keuangan dengan baik
Bapak Riko Abdurrahman, Presiden PT Visa Worldwide Indonesia

Selama ini tingkat literasi keuangan di Indonesia telah meningkat dari 21,8% di tahun 2013 menjadi 29,6% di tahun 2016. Sayangnya iterasi keuangan perempuan lebih rendah. Menurut survei dari OJK literasi keuangan pria 33, 2% sedangkan wanita 25,5%, padahal peran perempuan di bidang literasi keuangan sangatlah penting, bukan?

Data yang dihasilkan survei tersebut menjadi perhatian dari PT Visa Worlwide Indonesia sejak tahun 2017 yang melibatkan banyak komunitas perempuan dengan mengusung konsep “train the trainers”. Tujuannya untuk mengedukasi dan memicu perempuan agar dapat membagi pengetahuan yang dimilikinya kepada keluarga, kerabat dan tetangganya. Karena seorang ibu dikenal sebagai agen perubahan.
Nah, berdasarkan alasan itulah, kami semua yang hadir perlu mendapatkan edukasi literasi keuangan.

Percepatan Bisnis UMKM dengan Pengelolaan Keuangan yang Tepat

Setelah sambutan dari pihak PT Visa, ada juga perwakilan dari Benua Balantik yang menyapa kami para emak di sana. Bapak Muhammad Fadli selaku ketua Benua Balantik memperkenalkan komunitas dengan anggota sekitar 80% berisi perempuan yang mempunyai usaha UMKM.

menjadi ibu bijak dengan mengelola keuangan dengan baik
Bapak Muhammad Fadli, ketua Benua Balantik

Tahun ini Ibu Berbagi Bijak yang merupakan inisiatif dari PT. Visa bekerja sama dengan Benua Balantik mengadakan pelatihan bagi para ibu. Tujuannya supaya lebih banyak perempuan yang bijak dalam mengelolah keuangan.

Perputaran bisnis UMKM yang cepat membutuhkan pengelolaan keuangan yang baik. Menurut Bapak Muhammad Fadli untuk menciptakan keuangan yang baik, keuangan antara hasil bisnis dan keuangan keluarga haruslah terpisah. Lalu bagaimana caranya?
Lebih lanjut penjelasan mengenai bagaimana mengelola keuangan yang baik bagi pelaku bisnis akan dipaparkan oleh Mbak Prita sebagai ahlinya.

Cara Bijak Mengelola Keuangan bagi Pemilik Usaha

Peserta workshop yang kemarin hadir di Noah's Barn sebagian besar adalah womenpreneur. Perempuan yang memiliki usaha. Oleh karena itu, Mbak Prita pun membahas mengenai cara mengelola keuangan bagi para pengusaha. Di awal penyampaian materi, perempuan dengan 2 orang anak itu mengajak semua yang hadir untuk menilik tantangan apa saja yang dimiliki oleh pemilik usaha?

Tantangan dalam Usaha
Tantangan untuk memiliki sebuah usaha dimulai dengan pertanyaan mau usaha apa? Apakah usaha yang berhubungan dengan hobi atau kesukaan? Perlu diteliti pula, adakah pasar untuk hasil usaha kita? Serta jam kerja yang disukai.
Selanjutnya tantangan yang perlu diperlukan untuk memiliki usaha adalah mengetahui untung atau rugi, memisahkan keuangan bisnis dengan pribadi, memiliki catatan arus kas dan modal.
menjadi ibu bijak dengan mengelola keuangan dengan baik
Prita Hapsari Ghozie, pakar keuangan
Setelah memahami berbagai tantangan serta mempersiapkan pemecahan masalah dalam usaha, Mbak Prita juga menyarankan untuk membuat rencana usaha. Sebuah usaha jika tidak direncanakan tentu saja tidak akan ada bahan acuannya, bukan? Takutnya malah berjalan tanpa tujuan yang pasti. 

Kepada para ibu yang sebagian besar memiliki bisnis sendiri, Mbak Prita juga mengingatkan saat sebelum memulai usaha kita harus memahami banyak hal. Yang terpenting adalah modal.
  •  Pahami modal dan Kebutuhan Dasar 
  •  Modal Investasi awal : properti, fasilitas pendukung, pelatihan tenaga kerja 
  •  Modal kerja operasional : barang dagangan, barang pendukung
Apabila masih membutuhkan modal dengan jumlah besar, perempuan lulusan Fakultas Ekonomi UI  memperbolehkan pelaku usaha untuk mendapatkan modal dengan jalan meminjam. Namun sebelumnya perlu pertimbangan yang matang ketika mau melakukan pijaman, Beberapa hal yang perlu dijadikan pertimbangan yaitu:
  • Hitung kebutuhan pendanaan
  • Menambahkan 10% dari kalkulasi 
  • Pertimbangan alternatif sumber pendanaan : Bank, lembaga keuangan, P2P lending ( Pinjaman online)
Mbak Prita menekankan agar kami para perempuan yang memiliki usaha untuk memperhatikan apa yang telah dibahas agar bisa menciptakan keuangan yang baik bagi usahanya.

Mencapai Keuangan Ideal

Siapa yang tidak ingin keuangannya ideal? Tentu saja semua orang ingin memiliki keuangan yang sehat. Dalam acara workshop kemarin, Mbak Prita mengungkapkan ada 3 komponen yang mesti diperhatikan agar tercapai keuangan yang ideal.

A. Financial Check Up
Sudah amankah keuangan kita? Ada 4 pilar yang perlu dipelajari untuk dijadikan indikator aman atau tidaknya keuangan yang kita miliki.

Pertama, apakah kita memiliki utang? Utang tersebut merupakan pinjaman produktif atau bukan? Lalu bagaimana dengan cicilannya? Cicilan di bawah 30%?

Kedua, apakah biaya hidup kita lebih besar dari penghasilan? Keuangan yang sehat memiliki biaya pengeluaran sebesar 50% dari total penghasilan dan memahami betul prioritas pengeluaran. Hal ini menghindari pengeluaran yang tidak terkendali.

Ketiga, sudahkah kita memiliki dana darurat? Besarnya dana darurat yang dianjurkan oleh Mbak Prita yaitu minimal 3 kali pengeluaran rutin. Dan sebaiknya dalam bentuk kas.

Keempat, miliki tabungan. Besarnya tabungan pun disesuaikan dengan rencana yang sudah dibuat sebelumnya. Seperti rencana untuk pergi berlibur atau rencana melakukan renovasi rumah. Tabungan ini juga berfungsi sebagai investasi untuk masa depan.

B. Mengelola Arus Kas
"It’s not how much you make, but it’s how much you spend” 
Begitulah ungkapan yang disampaikan Mbak Prita sebelum memaparkan penjelasan lebih lanjut mengenai pengelolaan arus kas. Menurutnya, kesejahteraan tidak tergantung dari sebesar apapun gaji yang didapatkan. Mengapa demikian? Karena pemasukan bersifat given (diberikan pihak lain), sementara pengeluaran bergantung pada pengendalian masing-masing individu. Untuk mengelola arus kas, pelaku usaha mesti bisa mengalokasikan pos-pos pengeluaran berdasarkan tips dari Mbak Prita seperti pemaparannya berikut ini:

5% persen zakat
10% assurance (dana darurat dan asuransi)
30% biaya hidup
30% cicilan atau pinjaman
15% investasi
10% gaya hidup

Lebih lanjut Mbak Prita juga membahas mengenai hal penting yang perlu diketahui saat menghitung arus kas usaha yaitu:
  • Modal kerja
  • Omzet (pendapatan), 
  • Operasional usaha
  • Pembayaran pinjaman, serta
  • pembelian barang modal
C. Merencanakan Keuangan
Membuat perencanaan keuangan berguna untuk mengetahui dengan pasti apa yang kita butuhkan dan apa saja impian yang ingin diwujudkan serta bagaimana untuk mencapainya. Salah satu hal yang dapat membuat rancana keuangan kita bisa terwujud yaitu dengan cara menambah penghasilan. Sebagai perempuan pemilik bisnis juga merupakan salah satu usaha.
menjadi ibu bijak dengan mengelola keuangan dengan baik

Ibu Bijak, Keuangan Sehat

Menjadi pelaku usaha bukan hanya sekedar berbisnis atau berjualan barang saja. Freelance pun bisa menjadi usaha yang menghasilkan. Seperti kami emak-emak blogger yang hadir. Sebagai tenaga lepas kami pun perlu memiliki keuangan yang sehat. Mbak Prita mengingatkan agar kami bisa memisahkan keuangan hasil dari kegiatan ngeblog dan keuangan pribadi atau keluarga.

Dengan nada bercanda, Mbak Prita mengingatkan jika sebagian besar ibu tidak bisa memisahkan arus kas usaha dan arus kas keluarga. Padahal hal itu wajib dilakukan. Kalau sampai bercampur bisa menimbulkan arus kas yang tidak sehat.

Sayangnya, perempuan suka luput menghitung modal usaha hingga masalah cicilan utang mereka. Semua alur pemasukan dan pengeluaran hanya sebatas di angan-angan saja. Tidak dicatat secara terperinci. Nah, hal ini berbahaya, loh!

Para ibu biasanya jika masih ada saldo di rekening, dianggap sudah cukup. Mudah sekali tergiur untuk mencicil atau berutang untuk hal-hal yang sifatnya konsumtif. Padahal kebiasaan tersebut bisa merusak cashflow. Boleh saja berutang, tapi harus yang berproduktif. Begitu. Cateeet!

Alhamdulillah, setelah mengikuti workshop mengelola keuangan dari Mbak Prita bisa mencerahkan pemikiran kami yang hadir. Banyak hal yang sering dianggap sepele ternyata harus mendapat perhatian penting. Kami peserta workshop disarankan untuk selalu mencatatkan semua alur kas secara terperinci. Hindari konsep MBA (manajemen by Allah) saat mengelola keuangan kita hehehe. Kalau bukan kita perempuan sebagai agen perubahan yang bijak mengelola keuangan, siapa lagi bukan?

Bagaimana dengan teman-teman, sudahkah berusaha untuk bijak mengelola keuangan bisnis dan keluarga? Sharing, yuuk!
              Salam takzim

26 comments:

  1. Aku mencoba konsisten untuk mencatat setiap detail [engeluaran, mba. Dan ini sungguh tak mudah. Hahhaa. Tapi bismillah ya mba karena kita berusaha untuk mengeloka keuangan keluarga jadi lebih baik

    ReplyDelete
  2. Betul juga ya keuangan bisnis dan keuangan pribadi harus dipisahkan biar nggak campur aduk. Kalo dicampur-campur dan keuangan bisnis dipakai untuk urusan pribadi, bisa gawat ya, apalagi kalo tidak dicatat secara rinci. Bisnis kita untung atau rugi jadi nggak jelas :D

    ReplyDelete
  3. Kalau di saya, suami yang mengatur cashflow keuangan. Bukan karena saya gak boleh, tetapi saya yang gak mau hehehe. Tetapi, dia fleksible mengaturnya. Saya sebagai istri tentunya harus belajar untuk bijak. Jangan mentang-mentang suami gak perhitungan trus minta ini itu untuk hal-hal yang bersifat konsumtif :)

    ReplyDelete
  4. saya nih termasuk yang masih susah kalau menjalankan peran sebagai pengatur keuangan di rumah. Emang harus bijak dan cermat ya mbak, biar pengeluaran tak melebihi pendapatan

    ReplyDelete
  5. Aku sueneeeenggg bgt dgn prinsip yg dikemukakan mba Prita Ghozie related dgn financial planning. Karena selalu seimbang utk kebutuhan dunia akherat juga ya Mbaaaa
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  6. Aku sudah menulis keuangan secara rinci, awalnya terkesan perhitungan... Lama-lama suami paham bahwa istrinya jeli mengatur keuangan, hihihi...

    ReplyDelete
  7. Saya setuju untuk memisahkan keuangan pribadi dan bisnis.

    Its a big No buat mencampurkan semua keuangan karena pasti ujung-ujungnya kepake

    ReplyDelete
  8. Menjadi ibu bijak itu memang harus yah mba, tp mesti dibekali dgn pengetahuan khususnya ttg Literasi keuangan. Q pengen banget ikut kegiatan kayak gini

    ReplyDelete
  9. Waw saya pernah nih ikutan workshopnya Mbak Prita Ghozie. Sampai sekarang mesti sering buka catatan sih apa yang beliau sampaikan tentang mengatur keuangan keluarga. Biar ingat terus dan pengeluaran tetap berada pada jalur yang benar. Hahaha. Tulisan ini kembali mengingatkan saya, deh. Terima kasih, yaaaa.

    ReplyDelete
  10. Kalau acara bareng mbak Prita Ghozie ini berasa suka ketampol deh, apalagi dalam hal pengelolaan keungan. Dimana keuangan keluarga biasanya dikelola oleh menteri keuangan alias ibu.

    ReplyDelete
  11. Godaannya adaaa aja kalo mengelola bisnis bagi ibu-ibu. Aku pernah sih, keuangan nyampur jadi nggak ketahuan berapa keuntungannya. Memang harus ada rekening khusus untuk usaha dan jangan dicampur, trus juga ada catatan sendiri

    ReplyDelete
  12. Kalau aku paling susah nyisihin dana darurat ini mbak. Abis terus sih ya
    .paling nabung biasa tapi bukan dana darurat.

    ReplyDelete
  13. Memisahkan kas usaha dengan kas pribadi emmang penting banget. pengalaman saya pernah punya usaha dan uangnya kecampur ketika usaha berhenti jadinya malah tekor.

    ReplyDelete
  14. Jadi ibu masa kini memang kudu multitalent. Apalagi sebagai jabtan menteri keuangan di keluarga harus dan wajib banget mengetahui dan memahami pengelolaan keuangan supaya nggak bankrut. Hehe.

    ReplyDelete
  15. Apa yang disampaikan Mba Pritha itu bener banget. Kebanyakan ibu memang sulit memisahkan kas keluarga dengan kas usaha. Padahal kalau udah nyampur, duh duuuhh... mencari awal benang ruwetnya ampun deeh.

    ReplyDelete
  16. Aku sekarang sekarang belajar.nijak tapi juga komitmen. Sebab kebutuhan anak dan ibadah makin hari makin mahal. Nabung harus bisa yah

    ReplyDelete
  17. Bener ya biarpun jadi ibu rumah tangga harus bener2 bisa mengatur keuangan sesuai dgn post yg yfh dianggarkan

    ReplyDelete
  18. Seru ya mb acara ini kemarin di Jogja juga ada. Seneng saya bisa ikut serta juga. .

    ReplyDelete
  19. Mencatat semua alur kas secara terperinci. Noted mbak
    Banyak banget ilmunya acara ini ya..beneran penting belajar jadi ibu bijak terutama dalam hal keuangan

    ReplyDelete
  20. Bener banget jadi ibu harus bisa pintar dan bijak untuk atur dan kelola keuangan

    ReplyDelete
  21. Iya banget nih. Para ibu memang kudu bijak ngatur keuangan. Kalo gak, ludes terus uangnya. Gak punya investasi

    ReplyDelete
  22. Menjadi orang yang pinter keuangan itu susah2 gampang ya. Aku seneng mb prita kalau sharing, becanda2 tapi ttep susah bener aku aplikasikan ke dunia nyata *loh curhat. Moga bisa bener2 bijak

    ReplyDelete
  23. Ibu Bijak jadi andalan keluarga ya mbak. Ibu bijak nan bahagia bikin keluarga bahagia

    ReplyDelete
  24. Jadi ibu wajib banget ya teh harus bisa ngatur keuangan. Aku aja sekarang belum jadi ibu masih berantakan, ngga pernah sama sekali catat pemasukan dan pengeluaran. Harus dibenahi nih sebelum jadi ibu beneran hehe

    ReplyDelete
  25. Mantap bund ,memang seharusnya seperti itu :D

    ReplyDelete
  26. Setuju. Kalau ibu bijak mengelola keuangan, insya Allah keuangan keluarga juga sehat ya, Teh

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf, untuk menghindari SPAM, komentarnya dimoderasi dulu, yaa ^~^