Saturday, 2 November 2019

Reposisi Koperasi di Era Generasi Milenial

reposisi koperasi di era generasi milenial
sumber : .instagram praja.misgroup

"Bu, ini hasil analisis penilaian karir berdasarkan kepribadian punya kakak," kata anak sulung saya sambil menyerahkan selembar kertas yang menampilkan sebuah diagram batang.
Tulisan di kertas itu menginformasikan jika anak saya memiliki kecenderungan memilih karir dengan prioritas Tipe Enterprising, Tipe Artistic dan Tipe Investigative. Selaku orang tua, saya semestinya melakukan follow up terkait pilihan profesi yang akan dipilih oleh anak. Tidak hanya sekedar menanggapi dan memberi perhatian, tetapi juga harus bisa mengarahkan dan membimbing hingga cita-cita anak bisa tercapai.

Tidak mudah membersamai anak yang sudah mulai beranjak dewasa tersebut. Di usia belasan dia pasti punya keinginan untuk menjadi "diri sendiri", padahal dia sendiri belum yakin dengan dirinya. Memiliki anak remaja, mengharuskan saya untuk bisa membimbingnya melalui komunikasi yang sehat. Komunikasi yang membuat saya dan anak saling merasa nyaman menyampaikan isi hati, baik yang manis ataupun yang pedas.

Terutama mengenai pilihan karir untuk masa depannya. Ketika anak saya memilih untuk bisa jadi seorang enterpreneur, saya dan suami dengan senang hati mendukungnya. Anak perempuan saya itu berpendapat jika menjadi pebisnis, dia tidak perlu mencari-cari pekerjaan tetapi justru menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain.
Oh, oke! Keinginannya itu memang sama dengan pilihan ayahnya sendiri. Jadi wajar saja, jika ada istilah "buah apel tidak akan jatuh jauh dari pohonnya".

Namun, kondisi dan permasalahan yang akan dihadapi oleh sulung saya itu, tentu saja tidak sama dengan apa yang dihadapi oleh ayahnya. Kini zaman sudah bergerak dengan cepat. Semua serba digital. Jika boleh membandingkan, hidup di zaman dulu rasanya lebih mudah. Sedangkan anak remaja saya hari ini akan mengalami masalah yang kompleks, karena kini dia hidup di tengah serbuan berbagai media sosial, gadget, dan arus informasi yang masif dan nyaris tak terbatas. Yes, dia merupakan bagian dari generasi milenial.

Milenial merupakan generasi yang lahir pada kisaran tahun 1980-2000 atau disebut juga dengan istilah generasi Y. Milenial memiliki populasi mencapai 90 juta orang atau lebih dari sepertiga jumlah penduduk Indonesia. Generasi ini identik dengan kelompok melek teknologi, sangat tergantung pada internet, suka dengan petualangan, cerdas dan kerja keras, bebas dan tidak terikat, suka berbagi tetapi juga identik dengan boros alias konsumtif.

Anak saya yang termasuk generasi milenial juga menghadapi masalah pengangguran yang lebih tinggi, krisis ekonomi yang masih berlangsung dan pendapatan yang tidak setara. Sayangnya dalam kondisi seperti itu, generasi milenial justru terjebak dalam gaya hidup konsumtif dan haus dengan pengalaman. Nah, tugas saya sebagai orang tua harus bisa memberikan pengertian pada anak agar tidak ikut arus gaya hidup konsumtif, bukan?

reposisi koperasi di era generasi milenial

Oleh karena itu, ketika anak saya memilih untuk menjadi enterpreneur alias sebagai pelaku usaha, saya sangat mendukung. Terlebih di era ini pemerintah sedang konsen pada percepatan pelaksanaan sasaran dan prioritas pembangunan yang salah satunya fokus pada dimensi pembangunan, strategi pemerataan dan kewilayahan yang meliputi penyediaan tenaga kerja, peningkatan produktivitas usaha mikro dan kecil, penguatan koperasi serta pengembangan kewirausahaan.

Untuk mendorong pertumbuhan wirausaha di Indonesia, pemerintah berusaha menstimulasi dan memberi kemudahan bagi generasi milenial untuk membuat dan membangun bisnis atau usaha. Langkah yang diambil pemerintah yaitu membantu mengembangkan usaha milenial yang sudah ada, dengan cara membantu dalam usaha pemasaran dan memberikan pinjaman sebagai tambahan modal.

"Kakak udah kebayang sih, mau usaha apa. Tapi perlu modal yang enggak sedikit, deh!" kata anak sulung saya.
"Kabarnya sekarang salah satu fokus pemerintah mendorong pembentukan usaha baru, loh," ujar saya.
Putri saya terdiam menunggu kelanjutannya.
"Iya, pemerintah sedang giat-giatnya mendukung wirausaha baru dengan memberikan pelatihan dan ketrampilan usaha, memudahkan dalam pemberian izin usaha baru dan juga memberikan pinjaman sebagai modal dengan bunga ringan," lanjut saya.
"Oh, asyik juga ya," katanya dengan nada riang. "Eh, gimana caranya, Bu?"
Saya memberikan beberapa alternatif yang bisa dilakukan untuk bisa mendapatkan pelatihan sekaligus pinjaman modal, salah satunya bisa didapatkan di badan usaha pemerintah yang kegiatannya mendukung usaha masyarakat, seperti koperasi. Mendengar kata koperasi, kening dia mendadak berkerut, ada sesuatu yang dipikirkannya.

Sejurus kemudian anak perempuan itu mengutarakan sedikit pengetahuannya tentang koperasi. Yang diketahui oleh anak saya, koperasi merupakan tempat simpan pinjam uang dan tempat jual beli alat tulis kantor saja. Duuh ... pengetahuannya tentang koperasi ternyata sesempit itu. #emak elus dada.


Terlepas dari sedikitnya pengetahuan tentang koperasi, sebagai bagian dari generasi milenial, anak saya sangat menyambut baik kebijakan dan aturan pemerintah yang mendukung generasi muda untuk mau membuka usaha di Indonesia.


Keberadaan badan usaha asli Indonesia yaitu koperasi, menunjukan peningkatan kualitas dalam 5 tahun terakhir. Pada tahun 2014 kontribusi koperasi hanya sebesar 1,71% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional dan pada tahun 2018 meningkat menjadi 5,1%

Koperasi merupakan badan usaha yang memiliki peranan penting untuk kesejateraan anggotanya dan semaksimal mungkin memberikan kontribusi bagi masyarakat di sekitarnya. Ada pun peranan koperasi bagi masyarakat diantaranya:
  1. Mengembangkan Kegiatan Usaha Masyarakat
  2. Meningkatkan Pendapatan Anggota
  3. Mengurangi Tingkat Pengangguran.
Selain itu, peran koperasi dalam mengembangkan kegiatan usaha masyarakat, mendatangkan manfaat juga bagi pelaku usaha termasuk yang baru memulai usaha. Ada 3 manfaat yang bisa diperoleh bagi pelaku usaha yang bergabung dengan koperasi. Pertama, akses memperoleh modal usaha. Kedua, kesempatan mendapatkan pelatihan dan yang ketiga bisa menumbuhkan semangat serta etos kerja.


reposisi koperasi di era generasi milenial
sumber : .instagram praja.misgroup

Sebagai badan usaha pemerintah yang bisa mendukung kegiatan usaha masyarakat, koperasi kini dalam fase menghadapi tantangan reposisi.
Well, memang seharusnya bisa menyesuaikan dengan zaman, bukan?
Rully Indrawan selaku Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM mengatakan bahwa memanfaatkan teknologi digital merupakan model bisnis kekinian yang banyak dilakukan oleh kalangan milenial. Jadi, salah satu terobosan koperasi di Industri 4.0 yaitu menyediakan layanan online dengan teknologi digital.

Agar bersinergi dengan tepat bersama generasi milenial, fungsi koperasi tidak bisa seperti dulu. Koperasi harus mampu eksis menjawab tantangan di era digital, zamannya generasi milenial berperan aktif di dalamnya. Kini fungsi koperasi harus mampu memenuhi kebutuhan generasi milenial secara cepat. Kebutuhan seperti pembelian barang, peminjaman modal, dan pelayanan kepada anggota yang dilakukan secara online.

reposisi koperasi di era generasi milenial
Namun untuk menjadi badan usaha yang tetap eksis mengikuti zaman, bisa diterima oleh kalangan milenial, dan memajukan perekonomian Indonesia, koperasi menghadapi 3 tantangan besar. Tantangan koperasi di era digital yaitu:
  • Meminimalisir stigma negatif tentang koperasi
  • Mempersiapkan koperasi berbasis teknologi
  • Mendukung jalannya bisnis online dengan sistem koperasi.
Untuk mengatasi ketiga tantangan tersebut ada berbagai cara yang bisa dilakukan antara lain memperbanyak berita positif yang edukatif dan informatif mengenai koperasi di media digital agar bisa meminimalisir pandangan negatif terhadap koperasi.
Selain itu, memanfaatkan teknologi digital sebagai model bisnis kekinian yang digemari oleh generasi milenial menjadi salah satu cara agar koperasi bisa tetap eksis. Sedangkan pengembangan usaha koperasi berbasis teknologi untuk mendukung jalannya berbagai macam bisnis online dengan sistem koperasi juga merupakan cara untuk menghadapi tantangan di era digital.


Nah, agar bisa bertahan dan tetap eksis di era Industri 4.0 ini, koperasi harus memiliki website atau aplikasi yang bisa melancarkan semua transaksi dan memudahkan anggotanya berinteraksi. Dan hadirnya Sistem Digital Transaksi Indonesia menjadi solusi bagi koperasi di Indonesia untuk menghadapi berbagai tantangan yang ada.

Apa sih, Sistem Digital Transaksi Indonesia (SDTI) itu?

SDTI merupakan aplikasi koperasi yang akan memudahkan dan melakukan transaksi online di mana saja dan kapan saja. Teknologi ini dapat mendukung koperasi agar berkembang dan memiliki potensi untuk maju serta mempermudah pengelola dan anggotanya melakukan pencatatan atas segala transaksi. SDTI juga mampu memberikan kemudahan fasilitas bagi para anggotanya untuk mengakses akun simpanan dan pinjaman yang dimiliki dan melakukan transaksi atas simpanan atau pinjaman anggotanya.
reposisi koperasi di era generasi milenial
sumber : .instagram praja.misgroup

Hadirnya Digital Cooperative sebagai produk SDTI, bisa menjadi solusi yang tepat untuk membuat koperasi bisa terus eksis dan digandrungi generasi milenial. Aplikasi Digital Cooperative ini sangat mudah, aman, hemat, cepat, terpercaya dan tidak ribet digunakan. Apalagi semua transaksi yang ada di Digital Cooperative bisa diproses pada hari yang sama. Cocok sekali dengan kepribadian para milenial ya, kan? Termasuk anak saya, tentunya hehehe

Penggunaan sistem serba digital membuat golongan milenial lebih familiar dengan koperasi, mengingat generasi milenial suka dengan yang serba cepat dan instan. Koperasi pun bisa menjadi badan usaha yang digandrungi oleh kaum milenial. Dan anak muda pun bisa dengan leluasa memulai usaha dan mengembangkan bisnisnya bersama koperasi.
 
Sehingga dengan bermunculannya usaha-usaha baru maka sumber pertumbuhan ekonomi pun akan mampu menyumbang pendapatan nasional atau Produk Domestik Bruto (PDB) negara kita.
Jadi, masyarakat sejahtera dan negara pun makmur sentosa.
      
                 Salam takzim




Sumber: 

https://www.kemenpppa.go.id/lib/uploads/list/9acde-buku-profil-generasi-milenia.pdf
https://multiinti.com/sistim-digital-transaksi-indonesia

61 comments:

  1. Hebat banget kakak udah mantap sama passionnya di dunia pengusaha, ya. Moga sukses, deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya niiih, keren buangettt!
      Banggaaa pastinya kalo punya anak seperti ini yaaa
      https://bukanbocahbiasa(dot)com

      Delete
    2. Aamiin Ya Rabbal'allaamiin. Terima kasih doa dan dukungannya Tantee...☺

      Delete
  2. Sama. Saya juga punya anak yang sudah mulai remaja. Jadi suka berdiskusi tentang hal ini. Menarik nih kalau kemudian ada generasi milenial yang membangun koperasi menyesuaikan dnegan zamannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya jadi pengen nanya ke anak saya pendapat dia tentang koperasi. Sepertinya bakal jadi diskusi yang menarik

      Delete
    2. Coba tanyakan Mbak, barangkali pengetahuannya lebih luas dari anak saya hehehe

      Delete
  3. Wah, Maaakk, keren buangeett filosofi parenting for teens yg dikau terapkan!
    Bismillah, aku mau coba juga, anakku juga fase remaja nih, mau mencontoh gaya komunikasi ala dirimu. InsyaAllah keren banget kalo anak2 kita jd pengusaha yaaa
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, doakan bisa tercapai cita-cita anak-anak kita ya, Mbak :)

      Delete
  4. Lengkap banget ih teh info tentang koperasi nya mudah-mudahan jadi info penting buat millennial yang sudah pada kreatif bidang industri nya ya gak ketinggalan sama koperasi nya juga. Wish you luck

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Teh, semoga reposisi koperasi bisa membantu generasi milenial untuk mengembangkan usaha barunya

      Delete
  5. Anak milenial di kota beruntung sudah melek teknologi dan pemikiran ke masa depan sudah lebih jauh. Ini bagaimana dengan anak milenial di desa?

    Anak milenial di kampung saya saja masih jauh dari pemikiran itu. Melek teknologi sih cuma mayoritas disalahgunakan ke hal negatif. Jangankan orang tua mengarahkan anak, memberikan solusi atas kewajiban seorang anak saja, masyarakat/orang tua lebih banyak sudah tidak mampu/ cuci tangan ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah saatnya ada yang turun untuk mengeduksi, Teh. Bagaimana pun juga, anak-anak itu masih punya kesempatan untuk bisa terus maju.

      Delete
  6. Koperasi itu dari zaman dulu itu dangat membantu sekali ya, teh. Padahal zaman sekarang juga bisa lebih dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman dan digital ya. teh :)
    SUpaya banyak lagi anak2 muda yang bisa berkarya dan membuka usaha dari koperasi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Teh, jika sudah memakai sistem digitalisasi, semoga semakin banyak anak muda yang bisa berkarya dan punya usaha baru bekerja sama dengan koperasi

      Delete
  7. Anak.sekarang memang kecenderungan nya beda sama zaman kita dulu lulus kuliah market oriented nyari kerjaan skrg mikirnya usaha ya..keren lah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nyata bener bedanya dengan generasi sebelumnya ya, Teh

      Delete
  8. Emang sih harus diakui koprasi ini kurang menarik minat. Termasuk aku. Aku ikut koprasj krna dot imung2 klo lebaran dapat parcell lumayan. Huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi...semoga dengan kampanye ini, bisa lebih banyak informasi yang didapat tentang koperasi ya, Mbak

      Delete
  9. Ponakanku tahunya masih Koperasi yang lama. Nanti kalau udah agak gedhean, baru deh kasih info bahwa koperasi sekarang lebih kekinian dan bermanfaat lebih pastinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah jadi tanggung jawab tante untuk mengedukasi keponakannya ya, Mbak hehehe

      Delete
  10. Milenial jaman sekarang harus belajar juga tenyang koperasi ya, jadi mereka bisa ikut mengembangkannya. Dari koperasi mudah-mudahan banyak anak muda yang makin kreatif dan sukses

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, semoga semakin banyak anak muda yang kreatif dan sukses

      Delete
  11. Seneng banget bisa baca tulisan tentang koperasi saat ini, karena sudah lama sekali tidak mendengar tentang koperasi.. semoga dengan keterlibatan generasi millenial dalam koperasi bisa membangkitkan kejayaan koperasi sesuai dengan harapan para pendiri koperasi ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak, semoga bisa meneruskan harapan para pendiri koperasi untuk bisa menyejahterakan seluruh masyarakat

      Delete
  12. Syukurlah ya Koperasi mengikuti zaman dan semoga banyak generasi milenial yang ikut koperasi ini. Jujur aja aku ikut koperasi yaitu pas jaman sekolah hehe.

    ReplyDelete
  13. Keren banget teh Nurul, anaknya udah tahu apa yang dimau dan karir apa yang akan ditempuh, tinggal ortu mengarahkan ya, apalagi sekarang udah zaman digital, koperasi pun ikut digital untuk kaum milenial tentunya

    ReplyDelete
  14. Kayaknya stigma negatif koperasi nih mba kudu segera diberesin. Dengan berbagai sentuhan milenial, koperasi siap bersaing juga kok untuk menyejahterakan masyarakat.

    ReplyDelete
  15. infonya lengkap sekali mba nurul. aku jadi dapet banyak insight seputar didik anak yang sebentar lagi remaja, plus dapet wawasan seputar koperasi. maaci ya

    ReplyDelete
  16. Siap-siap menantikan gebrakan baru dari Koperasi zaman now
    pasti banyak konspe yang diusung, udah kenal koperasi sejak SMA bangga deh dengan koperasi Indonesia

    ReplyDelete
  17. Pengetahuan saya tentang koperasi juga masih sesempit itu Mbak..cuma tahunya sebagai tempat pinjam saja. Padahal udah pernah pelajari di sekolah juga dulu tapi rada-rada lupa. Tapi bagus kali ya ada inovasi digital dari koperasi sendiri agar bisa lebih dikenal terutama di kalangan milenial.

    ReplyDelete
  18. Koperasi yang sekarang makin bagus dan kekinian. Semoga makin banyak yang terbantu dan pastinya milenial makin tahu soal koperasi

    ReplyDelete
  19. wooww, keren niih. koperasi berbenah menjadi lebih baik, bakalan oke sip nih kalau udah berbasis teknologi, emang harus sih mengikuti perkembangan jaman biar gak tertinggal dan ditinggalkan :)

    ReplyDelete
  20. Jadi tak sabar nih menunggu gebrakan dan inovasi baru koperasi. Memang udah seharusnya koperasi digalakkan kembali, mengingat di masa lalu peran koperasi ini cukup banyak membantu masyarakat, termasuk saya lho.

    ReplyDelete
  21. Wah keren banget nih mba koperasi sudah semakin memberikan inovasi mengikui berbagai perkembangan jaman ya mba. Smoga slalu maju dan sukses :)

    ReplyDelete
  22. Saya pun sebenarnya sampai saat ini masih negative thinking sama koperasi. Hehe.. Soalnya koperasi yang berkembang di lingkungan tempat saya tinggal tuh kebanyakan cuma kedok ngga sih? Mereka sebenarnya rentenir karena bunga pinjamannya jauh banget dari bank. Semoga yang begini-begini dirapikan lagi deh...

    ReplyDelete
  23. wah hebat teh, udah ketahuan minatnya untuk jadi entreupreuner. moga sukses yaa buat kakak

    kalo anaku si aa masih belum pasti pilihan studinya, mudah2an bisa dapat jurusan kuliah yg tepat nanti :)

    ReplyDelete
  24. Saya setuju kalau koperasi itu masih melekat dengan stigma negatif. Tapi, di sisi lain banyak juga yang membutuhkan. Senang banget tau koperasi sudah mengikuti zaman, apalagi hadirnya SDTI ini. Memudahkan orang memahami juga mengakses.

    ReplyDelete
  25. akad yang terjadi di dalam koperasi banyak yang bias mba, meski koperasi bisa sangat membantu ekonomi rakyat ya

    ReplyDelete
  26. Iya teh, koperasi masih dengan stigma negatif nya nih, jadi orang beranggapan nabung ke koperasi itu malah jadinya tar rugi huhuh padahal sekarang koperasi sudah mengalami banyak inovasi yah. Perlu edukasi kayaknya teh biar masyarakat menghilangkan stigma negatif.

    ReplyDelete
  27. Generasi milenial yang identik dengan kelompok melek teknologi, sangat tergantung pada internet, suka dengan petualangan, cerdas dan kerja keras, bebas dan tidak terikat ini cocok dengan semboyan KOPERASI loh.

    hanya saja memang karena gaungnya koperasi identik dengan utang piutang, idih males banget yaaa... untung ada gebrakan baru dari pemerintah!

    ReplyDelete
  28. Keren mbak, anaknya udah punya visi misi untuk masa depan, apalagi dukungan ortunya yang keren..koperasi bisa jadi alternatif pembiayaan dan modal usaha ya..

    ReplyDelete
  29. Begitulah seharusnya, di era digital, koperasi kudu reposisi di era milenial, agar tidak terpental!

    Reposisi koperasi, kata yang dalam dan nendang!

    ReplyDelete
  30. Keren tulisan ini saya jadi teringat tak pernah henti menyampaikan kepada generasi muda yang katanya milenial, kalau cara berpikir dan tindakannya justru tidak milenial he he

    ReplyDelete
  31. good job buat koperasi, karena udah merambah ke digital juga. keren banget sih ini menurutku karena anak zaman sekarang juga biar tahu tentang koperasi dan peranannya buat masyarakat

    ReplyDelete
  32. Anak milenial emang beda ya? Pola pikirnya udah melesat jauh ke depan. Hmm..

    By the way, semoga tercapai ya cita-citanya untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Koperasi sekarang pun memang harus siap memasuki industri 4.0

    ReplyDelete
  33. Zaman udah digital, koperasi memang harus mengimbangi untuk merambah lebih luas dan lebih baik lagi. Terutama menghilangkan stigma negatif tentang koperasi yang masih mengakar di masyarakat luas. Di desa saya saja, ada beberapa koperasi, tapi ada juga yang beranggapan negatif, "Ngapain sih nabung di koperasi, mending ke bank aja," "Lah, untung seberapa sih gabung sama koperasi, mending buka usaha lainnya yang lebih jelas," dll.

    ReplyDelete
  34. Bagus sekali programnya Mbak. Sekarang koperasi sudah semakin oke. Beda sama zaman kita dulu ya. Jadi pembelajaran juga buat anak2 zaman now, biar lebih tahu tentang koperasi.

    ReplyDelete
  35. Koperasi merupakan salah satu unit usaha mikro yang cenderung tahan banting terhadap krisis global. Jadi cocok jika ke depan lebih diperhatikan agar semakin berkembang.

    ReplyDelete
  36. Bener mba' anak sekarang ada yg masih beranggapan koperasi itu ya koperasi sekolah. Jual makanan kecil dan alat tulis :)
    Ada juga sih yg beranggapan koperasi itu tempat ibunya bisa pinjam sedikit uang untuk nambahi biaya piknik.
    Ternyata sekarang koperasi juga sudah mulai terlihat sekeren bank, pakai sistem digital pula.
    Semoga dng makin kuatnya brand koperasi, semakin banyak tercipta wirausahawan muda yg sukses bahkan sampai pelosok desa

    ReplyDelete
  37. Semoga tercapai keinginan Kakak untuk menjadi pengusaha. Masyaa Allah hebat sekali cita-citanya. Koperasi di kalangan milenial masih agak asing. Koperasi digital ini bisa enjadim terobosan baru yang diminati kaum milenial.

    ReplyDelete
  38. Wah jiwa wirausaha anaknya dah nampak ya mbak tinggal dikasi fasilitas hehe. Terus terang blm paham ttg koperasi di era digital skrng tapi kyknya sih emang kalau mau bertahan koperasi pun harus memakai teknologi buat jadi salah satu daya tariknya ya mbak krn milenial suka akan kemudahan :D

    ReplyDelete
  39. Koperasi digital dengan sasaran kaum milenial. Hm...ide cemerlang dan sepertinya bakalan mengubah total perkoperasian Indonesia yang selama ini kesannya jadul. Dari beberapa konsep koperasi digial yang sempat kubaca, sistemnya juga sangat mudah, tidak terlalu prosedural seperti koperasi di jamanku (((jamanku))). Semoga milenial benar-benar bisa memanfaatkannya ya.

    ReplyDelete
  40. Beda banget yaa, teh...antara koperasi zaman old sama zaman now.
    Semoga semakin banyak yang memanfaatkan koperasi sebagai media perputaran uang.
    Karena inget program pemerintah zama dulu mengenai koperasi yang membantu rakyat kecil dan menengah dengan program-program luar biasanya.

    ReplyDelete
  41. Tantangan besar yang pertama itu penting sekali menurutku, Teh. Stigma negatif mengenai koperasi. Aku ingat, dulu punya teman yang mempunyai usaha berupa koperasi. Dia selalu kesulitan mencari karyawan sebagai collector profesi dianggap sebagai profesi menyeramkan. Menyakiti peminjam atau disakiti sama peminjam.

    Semoga stigma seperti itu sudah nggak ada lagi ya, Teh. Jadi koperasi siap mendukung anak-anak muda dalam menjalankan perannya sebagai enterpreneur. Aamiin.

    Eh, koperasi itu di bawah pengawasan siapa, ya? OJK juga kah?

    ReplyDelete
  42. Wah koperasi keren ya kini. Adaptif dengan generasi milenial yang maunya praktis, krestif pun penuh inisiatif. Jadi saya rasa Aplikasi Digital Cooperative pas sekali buat anak muda yang ingin mengembangkan potensi dan berusaha mandiri.

    ReplyDelete
  43. Anakku juga pengen jadi pengusaha mba, ya akusih sebagai ortu cuma bisa dukung, fasilitasi dan mendoakan. Kalau mengenai koperasi jaman now gini kayaknya oke banget ya, selain melestarikan nilai-nilai luhur warisan bapak bangsa, juga untu mendukung bisnis di tanah air.

    ReplyDelete
  44. Wah, Kaka keren nih... semoga terwujud cita-citanya, ya. Semoga jadi entrepreneur sukses

    ReplyDelete
  45. Koperasi digital untuk generasi milenial. Ini keren deh! Koperasi mengedepankan kerjasama yang saling menguntungkan bagi tiap anggota

    ReplyDelete
  46. Jarang banget..dengar koperasi, apalagi kalo yg bahas Anak millenial..keren banget lah..

    Sebagian masyarakat banyak memahami koperasi ..gak jauh2 dari rentenir berjalan..ada didaerah ku gitu .katanya koperasi..terus minjemin uang ke orang 2 gak jelas banget..

    ReplyDelete
  47. Koperasi ga cuma tempat buat ngutang yaa. hihi... udah makin bagus dan berkembang nih mengikuti tuntutan zaman digital. Anak muda sekarang perlu tahu lapangan kerja yang berhubungan dengan dunia koperasi.

    ReplyDelete
  48. Emang pendekatan koprasi ke anak millenial kudu diubah ya, aku aja mikir koperasi itu udah ga ada loh ternyata diperbarui konsepnya lebih digital. Kalo gini bisa dikenalkan ke anak2 muda, btw keren juga cita2nya mau jadi penusaha hehe semoga terwujud

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf, untuk menghindari SPAM, komentarnya dimoderasi dulu, yaa ^~^