Tuesday, 18 February 2020

Mengenalkan Aneka Pangan dari Hutan Untuk Menumbuhkan Kecintaan Generasi Muda Terhadap Hutan

Masa kecil adalah masa yang paling indah. Saya cukup beruntung karena memiliki masa kecil yang indah dan masih berbekas hingga sekarang. Momen istimewa yang paling berkesan bagi saya yaitu ketika ikut orang tua mudik ke rumah simbah dan menikmati aneka pangan khas di sana. Setiap satu tahun sekali, kami sekeluarga mengunjungi simbah untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Antusias, senang dan tidak sabar ingin segera pergi rasanya ketika orang tua mengabarkan kami akan bersilaturahim ke rumah simbah. Selain untuk melepas kangen, pergi ke rumah simbah di Salatiga berarti bisa menikmati hidangan istimewa khas daerah Salatiga.

Masih teringat jelas kenangan masa kecil ketika berkunjung ke rumah simbah. Usai sholat shubuh, saya dan adik-adik biasa duduk di depan tungku. Menghangatkan badan sambil sesekali membolak-balik daun kering dari pohon kelapa dan memasukkan sabut kelapa agar api tetap menyala. Adik bapak yang kami panggil bulik, selalu sibuk menyiapkan sarapan. Sedangkan paklik sibuk mengupas sabut kelapa menggunakan alat sejenis linggis. Tumpukan buah kelapa yang diambil paklik dari hutan itu menggunung di sudut dapur rumah simbah.

Semua aktivitas pagi yang menjadi rutinitas dan selalu kami nanti-nantikan. Sangat menyenangkan mengikuti kegiatan pagi di rumah simbah. Kalau di rumah bapak dan ibu, kami tidak pernah bisa bermain bara api di tungku. Di rumah simbah, kami dengan leluasa memainkan bara api. Meskipun sesekali diingatkan untuk berhati-hati oleh bulik, yang sedang memasak makanan pagi untuk kami, hehehe.
Bau asap yang keluar dari tungku bercampur dengan semerbak masakan bulik, membuat perut kecil kami keroncongan dan tidak sabar ingin menikmati masakan khas di rumah simbah.

Menikmati Aneka Pangan dari Hutan

Makanan di rumah simbah tidak jauh dari olahan buah kelapa dan hasil hutan. Bisa dibilang bulik tidak pernah beli bahan makanan untuk dimasak. Semua aneka pangan yang tersedia merupakan hasil dari hutan. Desa simbah dikelilingi hutan yang berisi beraneka ragam tanaman yang berguna untuk meningkatkan kesehatan dan diet masyarakat sekitar. Pohon kelapa, tanaman bambu hingga tanaman pakis hutan ada di sana. Oleh karena itu, menu makanan di rumah simbah tidak jauh dari olahan tanaman yang ada di hutan.

Meskipun berasal dari hutan, pangan yang disajikan oleh simbah dan bulik merupakan hasil tanaman yang sehat, bergizi dan memenuhi nutrisi. Bahkan saya lihat masyarakat yang ada di desa, sehat-sehat dan tumbuh kembang anak-anaknya pun normal. Hasil hutan yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat yang ada di desa simbah adalah buah kelapa. Selain itu pakis hutan dan juga bambu muda yang biasanya kita sebut rebung diolah menjadi makanan yang lezat. Semuanya merupakan tanaman yang memiliki manfaat dan khasiat yang baik bagi tubuh.

Buah Kelapa, komoditi hasil hutan

Saya dan adik-adik sampai hapal dengan menu yang akan disajikan oleh bulik. Hidangan yang tersaji biasanya terdiri dari olahan buah kelapa. Lauk pauk yang tersedia begitu sederhana tetapi rasanya luar biasa nikmatnya. Bulik senang membuat gulai daging ayam atau sapi. Santannya asli buatan sendiri. Paklik yang memarutnya setelah membuka sabut dan tempurung kelapa. Karena kelapa yang ada di rumah simbah cukup melimpah, santan yang disajikan pun cukup kental. Gurih dan enaak! :P



Selain gulai, bulik juga senang memasak urap, yaitu sayuran hijau yang sudah direbus dicampur dengan parutan kelapa. Sebagai penyuka sayur-sayuran, saya senang sekali dengan masakan bulik tersebut. Parutan kelapanya diberi bumbu hingga menghasilkan rasa yang begitu pas saat dicampur dengan sayurannya.


Tidak hanya pelengkap menu utama, olahan buah kelapa juga sering digunakan untuk membuat makanan ringan dan minuman. Parutan buah kelapa dibuat sebagai pelengkap untuk makanan kecil hingga bisa menambah gurih dan lebih bercita rasa. Ada awug yang ditabur kelapa parut, singkong yang diolah menjadi colenak dengan toping kelapa bercampur gula merah dan juga es campur yang dilengkapi irisan kelapa muda. Semua panganan itu begitu nikmat dan gurih.

Awug, colenak, es campur merupakan makanan dan minuman yang menggunakan parutan buah kelapa sebagai pelengkap cita rasa.

Selain memanfaatkan daging buah kelapa sebagai panganan sehat untuk keluarga, bulik juga suka memasak pucuk daun pakis dan tanaman bambu muda yang sering disebut rebung. Saya lihat banyak tanaman bambu yang tumbuh di sekitar desa itu. Kalau daun pakis, paklik mengambilnya dari dalam hutan. Karena pakis lebih banyak tumbuh di daerah yang lembab.

Sayur rebung buatan bulik sangat enak. Jenis makanan yang jarang sekali saya dapatkan di kota tempat tinggal kami. Dan kalau menurut saya, olahan bambu muda ini rasanya unik. Di lidah rasanya ada kesat-kesat begitu. Teksturnya renyah, rasanya manis dan ada aroma khas yang dimilikinya.

Olahan bambu muda/rebung. (credit foto : cookpad dot com)

Semua makanan hasil hutan yang disajikan oleh bulik, masih sering diberikan pada kami ketika berkunjung ke Salatiga. Hingga saya sudah berkeluarga dan memiliki anak pun, bulik dan paklik senantiasa menyajikan makanan olahan hasil hutan. Anak-anak saya yang terbiasa hidup dengan kebiasaan orang kota, bisa mengenal lebih jauh mengenai berbagai makanan hasil olahan hutan.

Alhamdulillah, hasil hutan selalu tersedia untuk dikonsumsi oleh masyarakat sekitar. Sehingga mereka tidak perlu susah mencari atau membeli bahan makanan.

Bagi keluarga adik bapak, hutan yang ada di sekitar rumah mereka berperan sangat penting dalam menyediakan pangan dan nutrisi. Penduduk yang tinggal di desa mereka memanfaatkan hasil hutan untuk meningkatkan kesehatan dan diet masyarakat. Saya lihat tingkat kesehatan para penduduk sangat baik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh CIFOR bahwa masyarakat yang tinggal dekat hutan memiliki diet lebih baik daripada penduduk lain. 

Tidak terbantahkan lagi jika hutan memiliki fungsi dan peran penting bagi masyarakat serta pelestarian bumi. Fungsinya yang sedemikian penting membuat Perserikatan Bangsa-bangsa menetapkan tanggal 21 Maret sebagai Hari Hutan International. Penetapan Hari Hutan International merupakan upaya global untuk mengkampanyekan pentingnya fungsi dan peran hutan bagi keberlangsungan hidup manusia.


Ada beberapa fungsi dan peran penting hutan bagi manusia dan lingkungan secara umum yaitu :
  • Sebagai sumber oksigen. Hutan membantu manusia dan makhluk hidup lainnya untuk bernapas. Hutan yang terdiri dari pohon-pohon berfungsi menyediakan oksigen dan menyerap karbondioksida yang dikeluarkan oleh manusia.
  • Sumber pangan. Hutan menyediakan berbagai tanaman dan hewan yang bisa dimanfaatkan oleh manusia. Bahkan banyak msyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hasil hutan.
  • Pelindung dari angin. Kelompok pepohonan yang ada di hutan dapat berfungsi sebagai penahan angin. Hutan juga menyediakan penyangga bagi tanaman yang rentan terhadap angin.
  • Mencegah banjir. Keberadaan hutan di sekitar tempat tinggal bisa membantu mencegah banjir. Akar pohon di hutan berfungsi menahan air ketika hujan lebat. Akar-akar tersebut membantu tanah menyerap laju air yang berpotensi menimbulkan banjir bandang. Selain itu, hutan juga mengurangi resiko kehilangan tanah, seperti tanah longsor.
Mengingat pentingnya fungsi serta peranan hutan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, ekosistem hutan perlu dilestarikan. Untuk itu dibutuhkan inovasi teknologi, pelaksanaan pemanfaatan lahan yang lebih efektif dan efisien, dukungan restorasi hutan dan dukungan kebijakan pemerintah.


Dukungan terhadap pelestarian kekayaan hutan juga dilakukan oleh organisasi lingkungan hidup, WALHI. Sebuah organisasi yang memiliki visi mewujudkan suatu tatanan sosial, ekonomi dan politik yang adil dan demokratis yang bisa menjamin hak-hak masyarakat atas sumber kehidupan dan lingkungan hidup yang sehat.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)

Organisasi WALHI merupakan organisasi lingkungan hidup yang independen non-profit terkemuka di Indonesia. Tujuan utama dibentuknya organisasi tersebut adalah mengawasi pembangunan yang sedang berjalan saat ini dengan mengkampanyekan solusi untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan serta menjunjung tinggi keadilan sosial masyarakat.

Keberadaan WALHI saat ini sudah tersebar di 28 provinsi di Indonesia.Organisasi WALHI melakukan kampanye secara international melalui Friends of the Earth Internasional yang telah menjaring sebanyak 71 anggota di 70 negara, 15 organisasi afiliasi, dan lebih dari 2 juta anggota individu serta pendukungnya di seluruh dunia.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) secara resmi didirikan pada tanggal 15 Oktober 1980. Hingga saat ini aktivitas WALHI mengkampanyekan isu-isu terkait dengan lingkungan hidup kepada masyarakat. Secara perlahan kini WALHI mendapat peran di masyarakat dan turut serta dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Lingkungan Hidup di DPR.

Pada tahun 1982 bersama dengan beberapa lembaga swadaya masyarakat lainnya membahas Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup/Undang-undang No.4 Tahun 1982 yang kemudian diadopsi dalam pasal 6. Selanjutnya pada tanggal  27 Oktober  1983 didirikan lembaga pendanaan program lingkungan hidup dengan nama Yayasan Dana Mitra Lingkungan (DML).

Intinya kegiatan utama WALHI yaitu solusi dalam penyelamatan lingkungan hidup serta menjadi sebuah gerakan publik yang transparan, bertanggung jawab dan selalu menggalang dukungan dari berbagai elemen masyarakat serta fokus dalam kampanye tentang isu air, pangan dan kelestarian hutan, perkebunan, energi dan tambang, pesisir laut, keadilan iklim dan isu-isu lingkungan lainnya.


Menumbuhkan Kecintaan Generasi Muda Terhadap Hutan

Sebagai masyarakat yang bisa menikmati hasil hutan, saya sekeluarga juga harus bisa ikut melestarikan hutan. Sayang sekali jika tidak bisa menikmati aneka pangan dari hutan. Saya dan suami sepakat untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian pada anak kami sebagai generasi muda agar selalu mencintai hutan. Mengajak generasi muda mencintai hutan sekaligus bisa menjaga kelestarian lingkungan bumi tempat kita hidup.

Kami menyadari jika banyak generasi muda yang mengetahui tentang hutan, tetapi belum memahami lebih jauh keadaan di dalam hutan sebagai sumber makanan. Oleh karena itu, saya dan suami selaku orang tua ingin selalu mengajak anak-anak kami untuk bersahabat dengan alam dan mencintai lingkungan. Kami ajak anak-anak untuk mengenal lebih dekat keadaan yang ada di hutan dan tanaman apa saja yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan serta belajar bertahan di alam bebas.

Salah satunya ketika kami sekeluarga mendaki Gunung Ciremai, di dalam hutan kami mengenalkan tanaman pakis yang biasa diolah menjadi sayur. Saat menyusuri hutan, saya juga menunjukkan kepada anak-anak tunas muda bambu. Bagian bawah pohon bambu yang bisa diolah menjadi sayur rebung.
Pohon pakis di hutan (dokumen pribadi)

Berbeda lagi saat kami menyusuri hutan yang ada di Gunung Puntang, anak-anak kami kenalkan dengan tanaman kopi. Hutan Indonesia memiliki iklim yang ideal untuk tanaman kopi. Jadi wajar saja jika kita bisa menemukan banyak tanaman kopi yang ada di hutan Indonesia. Suami saya menerangkan bahwa negara kita merupakan penghasil kopi yang sudah terkenal hingga mancanegara.
Kondisi yang sangat membanggakan bagi kita masyarakat yang tinggal di Indonesia.

Kelestarian hutan merupakan tanggung jawab bersama. Semua lapisan masyarakat harus menjaga keberlangsungan kehidupan yang ada di hutan, agar fungsi hutan sebagai sumber makanan bisa terus terjaga. Tidak terkecuali generasi muda yang kelak juga sangat membutuhkan kehadiran hutan. Jika hutan banyak yang rusak, tentunya sumber makanan tidak akan tersedia. Tidak ada makanan berarti bisa mengancam keberlangsungan hidup manusia.


Selamatkan hutan dengan menjaga kebersihannya, menanam pohon sebagai investasi untuk masa depan dan menghindari semua kegiatan yang bisa merusak hutan. Hindari semua kegiatan yang bisa merusak atau menimbulkan kebakaran hutan. Rusaknya hutan bisa berakibat buruk bagi keberlangsungan bumi kita. Mari selalu menjaga lingkungan dan melestarikan hutan sebagai sumber pangan.

                 Salam takzim




Sumber : https ://forestsnews.cifor.org/50557/hutan-sebagai-sumber-pangan

78 comments:

  1. Hutan sangat penting bagi keseimbangan ekosistem juga ya Mbak. Kalau tidak dijaga, maka lingkungan jadi tidak seimbang. Bicara masalah sumber pangan dari hutan, banyak sekali jenisnya ya. Saya paling suka makanan tradisional yang memanfaatkan hasil hutan sebagai bahan dasarnya. Seperti yang Mbak Nurul sebutkan di atas. Wah enak-rnak semua itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata di dalam hutan banyak juga bahan dasar makanan yang enak -enak ya, Mbak

      Delete
  2. Sayur urap juga salah satu makanan penuh kenangan jaman kecil dulu Mba Nurul. Kebetulan saya lahir di desa kecil di provinsi lampung timur. Sama dengan daerah simbahnya Mba, untuk kebutuhan pangan sehari hari jarang sekali beli, tinggal ngambil dari ladang. Ladang : kawasan hutan yang di kelola jadi lahan pertanian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senangnya yang tinggal di desa ya, bisa ngambil bahan makanan dari hutan. Gak perlu ngeluarin uang untuk beli bahan makanan hihihi

      Delete
  3. Setuju banget kalau generasi muda ini harus semakin tinggi kesadarannya untuk jaga lingkungan khususnya hutan. Daerah aku yang gunung ini banyak banget reboisasi sekarang program dari desa setelah kejadian longsor karena gada pohon pada ditebang. Semoga semakin lestari ya hutan - hutan di Indonesia. Pangan dari hutan juga banyak banget ragamnya ya, sehat lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah sayang sekali kalau pohon banyak yang ditebang. Bisa banjir atau longsor. Untungnya saja sekarang sudah ada reboisasi ya, Teh

      Delete
  4. Wah serunya pergi ke butan bersama keluarga. Pengenalan dini cinta hutan ya mbak. Kebayang kalau hutan tidak lestari, hasil pangan dari hutan sulit akan ditemukan. Sayangi hutan untuk generasi penerus kita ya mbak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agar anak-anak mencintai hutan, memang sebaiknya dibawa langsung ke dalamnya. Supaya tau kalau banyak tanaman di hutan yang bisa dimakan

      Delete
  5. Semoga semakin banyak yang cinta dan peduli dengan hutan ya teh... Anak Dewi paling keinget kalau bicara hutan itu "coconut" kalau bundanya bilang, enak nih bisa buat masak. Hihihi...

    ReplyDelete
  6. Teteh ... Ternyata ada darah Jawa juga, toh? Hihihi ... Saya kira orang Sunda asli.

    Jadi ingat masa-masa kecil waktu tinggal sama Mbah Kakung dulu. Beliau juga selalu pakai minyak kelapa buatan sendiri untuk memasak. Dapurnya luasss, tapi isinya penuh sama kelapa dari pohon.

    Kalau hasil hutan yang dulu sering kami nikmati di sini tuh lamtoro alias petai China. Dibuat bothok, pakai kelapa parut lalu dibungkus daun pisang. Nikmaaat, banget. Apalagi ditambah teri medan. Wuih, kangeeen ...

    Setuju banget untuk selalu menjaga hutan kita. Jangan pernah merasa sombong bisa hidup tanpa hutan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya khas orang Jawa, rumahnya besar dan dapurnya juga luas ya. Isinya bahan makanan seperti kelapa. Kalau mau masak tinggal ambil aja, asyik sekali hihihi

      Delete
  7. Aku juga paling sukaaakkk kalo Lebaran, trus mudik ke rumah Nenek di Pacitan
    Pohon Kelapanya banyaaaakkk, biasanya ada Pakde yg naik pohon kelapa (jagoan banget beliau!) trus kami nungguin di bawah :)
    Abis gitu, dikupas bareng, suegeerrrr ga perlu pakai gula atau es batu, udah seger bgt!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebayang enaak dan segernya minum air kelapa yang baru diambil dari pohonnya. Mantaap, deh!

      Delete
  8. suka banget makan sayur rebung tapi aku belum pernah masak sendiri hihihi. Bener banget hutan perlu dijaga nih biar ga rusak dan habitat yang ada di dalamnya juga gak terganggu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga belum pernah masak sendiri Mbak. Biasanya dibikinin, tinggal makan aja wkwkwk

      Delete
  9. Wah baru tahu lho kalo Teh Nurul ada turunan Jawa juga hehehe. Di Jawa mah emang buanyak banget pohon kelapa Teh. Makanya banyak masakan asli Jawa yang berbahan dasar kelapa atau santan. Ibukku juga paling suka ngelodeh. Tapi belakangan agak ngurangin santan mengingat kondisi udah sepuh dan harus ngurangin santan dan minyak. BTW itu poto colenaknya bikin kangen Nyunda euy.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, di Jawa banyak pohon kelapa ya. Jadi makanannya juga gak jauh dari olahan buah kelapa. Enaak sekali!

      Delete
  10. Dulu waktu ikut pramuka, kata kakak pembinanya, pohon kelapa itu dari akar hingga pucuknya bisa dimanfaatkan, baik utk makanan atau pelengkap kebutuhan manusia. Makanya pramuka memilih tunas kelapa sebagai lambangnya, karena multi fungsi dan juga berasal dari alam dan hutan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, Mbak. Pohon kelapa itu sangat bermanfaat sekali. Bisa dimanfaatkan dari akar hingga pucuknya.

      Delete
  11. Hutan itu sumber makanan kita ya harusnya dipelihara dan bukannya dirusak :(

    ReplyDelete
  12. Betul, mengenalkan anak dengan beragam pangan alternatif membuat anak2 bisa survive tinggal dimanapun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, Mbak. Dengan mengajak mereka dekat dengan alam, semoga anak-anak bisa survive tinggal di manapun

      Delete
  13. Tidak dimana pun paling suka jika mudik ke rumah keluarga dari ayah atau ibu ya. Yuni juga begitu sih. Enak aja merasakan masakan khas yang jarang kita temukan di daerah tempat kita tinggal. Rumah simbah yuni jauh dari hutan sih, tapi kalau pakis sih masih bisa ditemukan lah. HEhehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Paling menyenangkan kalau bisa mudik ke rumah keluarga nenek ya, bisa menikmati kulinernya hehehe

      Delete
  14. Mengenalkan anak pada berbagai sumber pangan hayati dari hutan memang penting, biar mereka nggak teriak "nggak ada lauk" padahal di meja makan ada singkong atau talas. Anak jaman now cenderung terbatas pengetahuannya terkait sumber pangan. Padahal itu salah satu ilmu biar bisa survive lho. Penting banget untuk dipelajari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya Mbak. Sudah saatnya anak sekarang dikenalkan dan didekatkan ke alam. Biar mereka tahu sebenarnya penting banget menjaga hutan. Karena di dalamnya banyak sumber pangan

      Delete
    2. Betul. Dan mungkin juga malah jadi terobosan inovasi. Anak jaman now kan kreatif-kreatif, siapa tahu mereka bisa mengolahnya menjadi sesuatu yang berbeda.

      Delete
  15. Beruntunglah kita tinggal di Indonesia yang kaya akan hasil hutannya. Tapi sayangnya sekarang hutan lebih banyak dirusak daripada dimanfaatkan dengan dalih pembukaan lahan untuk perkebunan dan pemukiman.

    ReplyDelete
  16. Hutan memang penjaga kita dan pemberi aneka bahan pangan abadi. Sayangnya kita yang kurang bijaksana dalam mengelolanya, sehingga malah banyak penebangan dan terjadi banjir dimana-mana. Semoga dengan mengajarkan cinta alam pada anak sejak kecil, nantinya akan tumbuh generasi muda yang peduli pada hutan dan alam sekitarnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Miris sekali dengan banyaknya kebakaran hutan di negeri ini ya, Mbak. Padahal fungsi hutan itu penting banget.

      Delete
  17. Hasil hutan yg disebut teteh memang akrab dengan kehidupan kita, ya. Bersyukur banget masih melimpah sampai sekarang. Tapi harus ada usaha juga agar hasilnya tetap baik sampai anak cucu ya, apalagi yg berkaitan dengan pangan. Aih, jadi kangen sayur rebung. Sudah lama sekali tidak makan itu ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mengajak anak untuk mencintai lingkungan dan hutan agar mereka peduli dan bisa melestarikan hutan

      Delete
  18. Aku juga aneka masakan dari kelapa. Dulu kalo ada orang mau menikah, selain menyembelih sapi, mereka akan menebang pohon kelapa. Semua bagian kelapa di pakai. Sayur bunga kelapa yang paling aku suka. Sekarang masih ada nggak, yaa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayur bunga kelapa? Wah saya baru tau, Mbak. Masaknya pakai bumbu apa?

      Delete
  19. aih seru teh, ajak anak2 main ke hutan. waktu kecil dulu, inna mainnya ke hutan belakang rumah. benar2 pengalaman berkesan yg ga terlupakan sampai skr :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa kecil saya juga blusukan ke hutan, Na. Memang jadi pengalaman yang mengesankan ya. Bisa main ke hutan

      Delete
  20. Gulai kalau santannya kental emang jadi enaaak gurih gituu yak :3 selama ini kalau denger hutan ya pohon2 aja, tapi bisa untuk sumber pangan ya, kudu bener dijaga dan dilestarikan krn manfaatnya luar biasa banyak

    ReplyDelete
  21. Mba Nurul tulisannya lengkap banget dan detail :) Banyak ya mba hasil hutan yang bermanfaat buat kita sebagai sumber pangan ya

    ReplyDelete
  22. Kalo kita sayang sama hutan dan alam, insya Allah Sang Penciptanya-pun akan sayang kepada kita...

    Bener banget kita harus bisa melestarikan hutan, karena manfaaatnya banyaaakk, dan yang paling penting, mnfaat ini juga turun ke anak cucu kita kelak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, semoga ya, Mas.
      Kita sayang sama alam dan hutan, semoga kita juga disayang oleh Allah

      Delete
  23. Udha 2 hari ini saya masak menggunakan santan terus. Masak gulai dan kalio. Kelapa memang enak sih diapain juga. Dari makanan gurih hingga manis. Gak heran kalau saat Ramadan dna Idul Fitri, kelapa termasuk bahan pangan yang jadi primadona, ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keluarga saya juga mengandalkan buah kelapa sebagai bahan utama mempersiapkan hidangan di hari raya. Bisa membuat makanan tambah enak dan gurih ya, Mbak

      Delete
  24. Katanya ada yang bilang kalo tinggal di kampung bisa hidup dari hasil perkebunan, itu benar adanya ya, karena emang jaman dulu juga gitu ya.

    ReplyDelete
  25. Sebenarnya bisa saja ya survive di hutan karena kalau kita kreatif dan pintar bisa mengolah hasil hutan jadi makanan hari-hari soalnya. Sama seperti dengan kelapa ini, banyak sekali digunakan untuk aneka makanan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak, sebenarnya kita bisa survive di dalam hutan kalau tahu jenis tanaman apa saja yang bisa dimakan

      Delete
  26. Memang kelapa tuh pohon serbaguna mulai dr akar sampai ke pelepah daun dan buahnya. Semua berguna. Dan tumbuhnya juga bukan cuma di pesisir ya, Mba. Tapi di hutan pun dia bs tumbuh. Makanya memang perlu organisasi yang bs merawat hutan dan lingkungan macam Walhi ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untung ada Walhi yang bisa menggerakkan masyarakat untuk mencintai lingkungan dan hutan ya, Mbak

      Delete
  27. Memang hutan itu banyak manfaatnya ya, Mbak. Mulai sumber pangan hingga menjaga kelestarian bumi. Btw kalau pohon kelapa sih semua bagian pohonnya bermanfaat, ya. Dari akar sampai buahnya bermanfaat semua terutama untuk kepentingan manusia. Saya juga suka berbagai olahan masakan dan cemilan berbahan buah kelapa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pohon kelapa itu banyak sekali manfaatnya ya, Mbak. Maka sebaiknya kita jaga kelestariannya

      Delete
  28. Tanpa disadari manfaat hutan dalam kehidupan manusia dan lingkungan, sehingga perlu kita bersama jaga keberlangsungannya. Syukurlah ada organisasi yang peduli pada keberlangsungan hutan dan lingkungan, seperti WALHI.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kampanye yang terus digaungkan oleh WALHI bisa mengingatkan semua lapisan masyarakat untuk melestarikan lingkungan

      Delete
  29. Hutan memang salah satu sumber kehidupan bagi manusia. Pangan dan oksigen yang dihasilkannya sangat dibutuhkan oleh manusia. Tidak terbayang bagaimana seandainya hutan habis. Semoga kita semua termasuk generasi keturunan kita mampu menjaga hutan seperti orang2 di masa lalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pastinya sedih sekali ya, Mbak kalau sampai hutan habis. Tidak ada lagi sumber pangan dari hutan yang bisa dimanfaatkan.

      Delete
  30. Pakis yang dimasak...aku pernah mbaca tentang masakan dr pakis ini pada sebuah tulisan tentang anak2 pecinta alam yang nge camp di hutan.

    Setelah itu penasaran..dan smpe sekarang blm kesampaian ngrasian lezatnya sayur pakis

    Di bebatuan itu aku sering nemu pohon pakis mba, tp nggak tau yang kayak gitu apa bukan yang dimasak.. tkt salah metik๐Ÿ˜€

    ReplyDelete
    Replies
    1. Daun yang bisa dimasak itu daun pakis yang masih muda, Mbak

      Delete
  31. Wah.. Ternyata banyak sekali ya jenis makanan yang berbahan dasar kelapa. Pasti enak makanan itu..

    ReplyDelete
  32. Pohon kelapa kalau di kampung saya nggak cocok karena udaranya dingin, tapi kalau di Batam dan pulau-pulau sekitarnya tumbuh subur dan baik terutama di pesisir. Alhamdullilah jadi sering minum air kelapa yang fresh dari hasil metik langsung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebayang segernyaa kalau bisa minum air kelapa, hasil metik langsung ya..

      Delete
  33. Aku liat rebung itu jd kangen nyabut rebung di kampung halaman ART waktu kecil. Langsung dimasak2. Duh, enak bingits. Dibikin sayur santan sm kelapa yg baru diparut. Jd lapar kalo inget. Hihi

    ReplyDelete
  34. Kelapa itu di hutan toh yo? Kirain di pinggir pantai nyiur melambai. *tepok jidat

    Banyak banget manfaat bahan sumber daya alam hutan ya. Kelapa salah satunya yang seting digunakan emak-emak di dapur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kelapa bisa tumbuh dimana-mana, Mbak. Bisa di hutan dan di pantai

      Delete
  35. Yang namanya hutan emang banyak manfaatnya ya mbak, gak cuma mebghasilkan kayu tapi juga sebagai paru2 dunia dan penghasil sumber daya pangan :D
    Mbak aku jd kepengen makan urap2 abis liat poto urapmu haha lama tak makan urap eui

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayur urap itu salah satu masakan favorit saya , Mbak. Kriuk-kriuk segeer

      Delete
  36. Kalau ada rebung, jadi ingat lunpia semarang yaa..
    Itutu bikin ketagihan loo...karena aku gabisa masak sendiri. Jadi kalau dimasakin kaya gini, uda deeh...makan sayurnya aja sampai kenyaangs.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Teh, sayur rebung itu bikin saya ketagihan juga. Rasa dan aromanya khas banget ya...

      Delete
  37. Waah kelapa mah banyak pisan ya manfaatnya yang bisa bikin enak dan gurih makanan, masakan dan minuman pula. Sumber pangan dari hutan yang wajib dilestarikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak hanya buahnya Teh, dari pucuk sampai akar pohon kelapa banyak manfaatnya, alhamdulillah ya..

      Delete
  38. jadi inget alm mbah, suka bikinin serundeng kelapa kalau lagi balik kampung, kelapa emang banyak manfaatnya ya, dari akar ampe atas, makanya mungkin jadi lambang pramuka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa...karena banyak manfaatnya, maka buah kelapa dijadikan lambang pramuka

      Delete
  39. Pohon kelapa itu bermanfaat dari akar sampai daunnya. Daging buahnya enak. Air kelapanya juga bisa dijadikan obat. Bapak saya, mewajibkan diri sendiri untuk menanam pohon kelapa. Sayangnya saya belum bisa mengikuti jejak beliau, karena saya tinggal di perumahan yang mana halamannya sangat sempit.

    Tapi insya Allah, meski halaman rumah saya sempit, saya tanam beberapa tanaman di pot juga, supaya di rumah saya ada penghasil oksigennya. Ya, walaupun apa yang saya lakukan belum sebanding dengan jumlah oksigen yang dihasilkan hutan kita. Semoga ke depannya tidak ada lagi kebakaran-kebakaran hutan, agar bumi kita tetap jadi tempat ternyaman untuk ditinggali.

    ReplyDelete
  40. Lihat irisan sayur rebungnya jadi ingat pernah debat sama suami gara-gara bentuk irisan rebung. Kalau di Jawa Tengah memang irisannya gitu, melebar. Bentuk irisan melebar gini yang saya kenal sedari kecil. Nah, kalau di jawa timur ini, irisannya kecil-kecil, jadi kayak irisan kentang goreng gitu bentuknya.

    ReplyDelete
  41. Rebung itu makanan yang enak banget. Tapi... Ngga mudah ngolahnya ya Mak. Kalo ga tau malah bisa jadi tambah parah bau pesingnya. Terus, dulu pernah pas ibuku lagi baru banget belajar nyiangin rebung. Abis makan itu serumah pada pusing sama muntah x)) ternyataa karena salah nyiangin

    ReplyDelete
  42. Aku jadi inget waktu kecil juga, waktu alm. Aki dan Nin masih ada di kampung. Beliau2 ini sering banget bikin masakan dari kelapa.
    Bener ya, orang di desa tuh kaya ga pernah kehabisan bahan makanan. Apa2 tinggal panen atau petik dari hutan langsung. Harus dilestarikan nih hutan kita, jangan ada yang ngerusakin lagi.

    ReplyDelete
  43. Pagi-pagi emang paling asyik menghangatkan badan di depan tungku, mendekatkan telapak tangan ke arah bara.

    ReplyDelete
  44. Hutan memang sumber pangan yang luar biasa. Makanya kadang suka sedih kalo ada berita alih lahan hutan jadi perumahan, jadi lahan sawit, dll. Harusnya hutan dijaga kelestariannya.

    Btw kalo ngomong2 soal kepala aku suka kelapa dari daerah gunungkidul. rasa santannya jauh lebih manis dan kental. Ini apa karena efek tanahnya yg berkapur ya? Soalnya beda banget sama kelapa di kota asalku wonosobo.

    ReplyDelete
  45. yang jadi favorit ini rebung sih! ituu wah enak banget lah kalo udh dimasak santen

    ReplyDelete
  46. Hutan memang luar biasa meski kadang serem juga kalo pas kemping di dalamnya. Yang saya ingat ttg sumber pangan dari hutan ada daun edelweis. Dulu waktu naik Lawu, kami merebus daunnya untuk disantap dengan sambal pecel. Rasanya? Enak, kayak daun lalapan lainnya ๐Ÿ˜‹

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf, untuk menghindari SPAM, komentarnya dimoderasi dulu, yaa ^~^