Memiliki hobi menonton film? Jika ada pertanyaan semacam itu, tentu ada beragam tanggapan yang disesuaikan dengan minatnya masing-masing.

Terlepas dari itu, sebenarnya kita bisa mengambil manfaat dari kegiatan menonton. Ada yang memanfaatkan kegiatan ini untuk melepas penat setelah melakukan aktivitas sehari-hari, ada yang bertujuan ingin melihat akting aktor/aktris kesayangannya atau ada juga yang menonton untuk mengambil inspirasi dari film tersebut.
http://www.nurulfitri.com/2016/09/mengambil-manfaat-dari-sebuah-tontonan.html

Sebagai seorang ibu, kini tontonan saya lebih banyak seputar film anak. Bukannya tidak menyukai tontonan untuk orang dewasa, tapi kini tontonan kami di dominasi oleh film anak. Terus terang saja, saya masih menyukai film anak-anak. Iya, film anak! Hmm ... temen-temen pasti pada senyum-senyum, deh! ^_^ 

It's oke, kalau saya dianggap kekanak-kanakkan atau apa itu ya, istilah.. oh ya,  'masa kecil kurang bahagia'.
Tapi beneran, saya suka berulang kali menonton film animasi yang berkualitas, bersama anak-anak, loh! Banyak kisah, tingkah laku atau peristiwa yang bisa saya jadikan bahan untuk pengasuhan anak-anak saya.

Contohnya saja, Cars, Finding Nemo, Toy Story, Kungfu Panda, Frozen, Up, dan film sejenisnya, saya tidak bosan untuk terus mengulangnya. Oh, iya, satu lagi, transformers dari bagian pertama hingga yang keempat, saya suka menontonnya bersama anak laki-laki saya. Suka amazing aja, dengan kecanggihan yang diperlihatkan di film tersebut. Eh, kalau transformer itu film anak-anak atau dewasa, ya? He he he

Oke, kembali lagi pada pembahasan manfaat dari sebuah tontonan. Dari semua animasi yang telah saya sebutkan tadi, banyak sisi positif yang dapat diambil untuk mendampingi tumbuh kembang anak. Terselip pesan moral yang bisa saya contohkan pada anak-anak.

Misalnya saja, dalam menyikapi permasalahan yang dihadapi anak-anak baru-baru ini. Beberapa hari yang lalu, anak saya yang besar mengeluh tidak mengerti pelajaran yang diberikan di sekolah.

Dia mengeluh pada saya, "Aduh, nggak ngerti harus diapain PR-nya. Temen-teman nggak ada yang bisa jelasin, juga."
"Loh, kenapa kakak sampai gak ngerti, gurunya kurang jelas mengajarnya." tanya saya kemudian.
"Bukan, Bu. Senin yang lalu, kan kakak nggak masuk, sakit. Nah, jadi kakak ketinggalan materi pelajaran hari itu. Kakak ketinggalan Matematika 3 jam pelajaran, Bahasa Sunda, 2 jam pelajaran," jelasnya panjang lebar kali tinggi. "Sekarang ada PR, tapi nggak tau harus gimana? Teman-teman nggak bisa bantu!" sambungnya kemudian.

Itu cerita anak pertama saya, beda lagi dengan cerita adiknya. Anak lelaki saya, di sekolahnya harus menghadapi teman yang selalu ingin menguasai. Dia kerap mengajak teman-temannya untuk berbuat yang tidak baik. Pernah anak saya, diajak untuk memusuhi temannya yang lain. Dan di lain waktu, temannya mengajak si bungsu, untuk membolos. 

Temannya yang terkesan seperti preman itu, bahkan berani meminta uang kepada beberapa temannya. Tidak hanya untuk jajan, uang tersebut juga digunakan untuk bermain game online. Akibatnya, anak lelaki saya merasa kurang nyaman dan malas untuk sekolah. Ketika datang waktunya sekolah, adik selalu berubah menjadi rewel, enggan untuk pergi.

Menghadapi anak yang rewel seperti itu, tidak terjadi sekali atau dua kali saja. Sebagai orang tua, memang harus lebih santai menghadapinya. Kalau nggak, malah jadi stres sendiri. Karena memang sudah sewajarnya, anak akan merasa resah jika menghadapi suatu masalah. Lalu, bagaimana saya harus menyikapinya?

Tentu saya harus bisa mendukung mereka tanpa harus menanggapi dengan  'kritikan pedas'. Membangun sikap menerima dan memahami dunia anak, dapat membuat kita menjadi orang tua yang lebih sabar, loh!

Saya harus membantu mereka keluar dari situasi yang tidak menyenangkan itu. Caranya dengan memberikan contoh yang ada di film animasi yang sering kami nikmati. Kali ini, saya mengambil contoh dari Film Zootopia. Film ini menceritakan seekor kelinci yang pantang menyerah, demi untuk mencapai cita-citanya sebagai petugas kepolisian.

http://www.nurulfitri.com/2016/09/mengambil-manfaat-dari-sebuah-tontonan.html
Hops mampu berlari kencang mendahului seekor badak yang ada di depannya.

Banyak rintangan yang dihadapi oleh hewan berbulu ini, untuk bisa memiliki profesi sebagai polisi. Bahkan orang tuanya sendiri, lebih memilih anaknya sebagai petani wortel dibandingkan menjadi polisi. Mereka khawatir, dengan banyaknya rintangan yang akan dihadapi putrinya tersebut.

Karena di Zootopia, hanya hewan-hewan berbadan besar yang bisa memiliki profesi tersebut. Namun tekad kelinci bernama Hops ini sangat kuat. Dia bisa membuktikan jika rintangan yang ada dihadapannya, tidak akan bisa menghalangi cita-citanya.

Terbukti, di akademi kepolisian dia bisa menjadi lulusan terbaik, mengalahkan harimau, badak, beruang dan hewan besar lainnya. Satu keyakinan yang selalu dia pegang, adalah :
"Satu-satunya hal yang perlu kita takuti adalah ketakutan itu sendiri."
Apakah setelah lulus akademi, Hops bisa dengan mudah menjalani profesinya? Tentu saja, tidak! Setelah lulus dan diberi kepercayaan untuk bertugas di pusat Kota Zootopia pun, dia tetap menghadapi rintangan. Namun, lagi-lagi dia membuktikan, dengan semangatnya yang tinggi bisa memecahkan misteri hilangnya beberapa hewan predator, dalam jangka waktu 2 X 24 jam saja.

Sungguh usaha yang luar biasa dari seekor kelinci. Pantang menyerah dan siap menghadapi segala persoalan. Contoh ini, berulang kali saya tekankan pada kedua anak saya. Jika seekor kelinci yang mungil saja, bisa melewati rintangan untuk menggapai cita-citanya, mengapa kita sebagai manusia, tidak bisa?
  
http://www.nurulfitri.com/2016/09/mengambil-manfaat-dari-sebuah-tontonan.html
Mengalahkan Badak ketika bertarung tinju dengan menggunakan kecerdikannya

Seperti Hops, anak-anak akan menghadapi beragam rintangan di sekolah, yang mau tidak mau harus dihadapi. Dengan kecerdikan dan ketekunannya, bisa mengalahkan cemoohan bahkan intimidasi yang menyarankan Hops untuk melepaskan cita-citanya.

Namun, kelinci kecil itu ternyata malah sanggup memecahkan masalah dan rintangan yang dihadapinya. Kemauan dan tekad yang kuat bisa membuatnya menjadi polisi yang disegani, di kesatuannya.

Selain kegigihan seekor kelinci dalam meraih cita-citanya, saya juga menggunakan soundtrack film tersebut untuk memotivasi anak-anak saya.

Lagu Try Everything, selalu saya dendangkan ketika anak-anak menghadapi persoalan. Mau tau, bagaimana respon mereka? Mereka akan langsung tersenyum bila saya menyanyikan lagu tersebut.

Eh, tunggu, tersenyum karena liriknya yang membuat mereka jadi semangat, atau mentertawakan suara ibunya yang terdengar 'aneh' ya...? Entahlah... ^_^


Try Everything (Shakira)


I won't give up, no I won't give in
Til I reach the end and then I'll start again

No I won't leave, I wanna try everything
I wanna try even though I could fail

I won't give up, no I won't give in
Til I reach the end and then I'll start again

No I won't leave, I wanna try everything
I wanna try even though I could fail


Setidaknya saya berusaha untuk belajar dari sekitar. Jika ada bahan yang bisa dijadikan untuk mengasuh anak-anak, maka akan saya gunakan. Bisa saja dengan mengambil manfaat dari sebuah tontonan, melihat peristiwa yang terjadi di sekitar atau melakukan sesuatu agar anak bisa belajar secara aktif.

Bagaimana dengan teman-teman, jika menghadapi anak yang membutuhkan dorongan dari kita? Cerita, dong...!
Boleh dibaca juga :  Belajar dengan Metode Active Learning