Sikap Orangtua Pada Tingkah Laku Anak. Sudah hampir sebulan ini, saya sibuk pindah dari kota yang telah hampir 14 tahun keluarga saya tinggali. Pindah ke kota kelahiran, meninggalkan teman-teman dekat yang bisa dibilang sudah klik ketika membahas sesuatu. Yup, teman boleh banyak, namun yang bisa sepemikiran dan sepaham dengan pendapat kita, belum tentu banyak, bukan?

Jadi ceritanya, ketika ada kesempatan (anak-anak libur sekolah), saya datang kembali untuk bertemu para sahabat. Anak-anak saya juga tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Mereka juga bertemu dengan kawan-kawan mereka.
 
http://www.nurulfitri.com/2017/08/sikap-orangtua-pada-tingkah-laku-anak.html


Padahal baru sebulan loh, kami meninggalkan Kota Subang, tapi sepertinya kami belum bisa move on, pergi meninggalkan kepingan hati di kota penghasil nanas tersebut. Kami sudah tinggal lebih dari sepuluh tahun, jadi wajar saja kami masih ingin kembali berkunjung ke tempat lama kami.

Setelah mendengar kedatangan saya kembali ke Kota Subang, saya dan ketiga sahabat saya pun berencana untuk bertemu di sebuah rumah makan yang terbilang masih baru. Kami pun berjanji bertemu di Rumah Makan UpNormal, yang ada di Jalan Otto Iskandar Dinata Subang.

Yang namanya emak-emak, begitu ketemu, langsung heboh cerita-cerita, dong! Tak ketinggalan seloroh dan gelak tawa menghiasi pertemuan kami. 

http://www.nurulfitri.com/2017/08/sikap-orangtua-pada-tingkah-laku-anak.html

Di setiap pertemuan, yang paling pertama ditanyakan pastilah kabar kawan kita, bukan? Gimana kabar anak-anak atau suaminya? 
Karena selama ini, kami suka bertukar cerita, mengenai kondisi tempat kerja suami, pekerjaan suami, tingkah laku anak-anak sewaktu di rumah dan cerita keseharian kami lainnya.

Karena anak-anak bersekolah di tempat yang sama, pembahasan selanjutnya pun berkembang membicarakan keadaan sekolah. Ternyata, di sekolah lama anak saya itu, ada ekstrakulikuler baru yaitu eskul sains. 

Wah ... perkembangan yang bagus, menurut saya. Seandainya adek masih di sana, barangkali saya akan menawarkan dia untuk bergabung di eskul sains. Tapi tetap saja, semua tergantung adek. Saya bukan tipe orang tua yang memaksakan anak untuk mengikuti kegiatan tertentu.

Kami bersahabat merupakan para emak, yang bisa dibilang memiliki pola asuh yang sama. Sama-sama ingin mengembangkan potensi anak dari bakat mereka. Masalah pergaulan anak-anak di sekolah mereka pun, menjadi perbincangan kami. Terutama cerita seputar sesama wali murid, yang memiliki perbedaan cara pandang dengan kami.

Teman adek ada yang menjadi anak tunggal di keluarganya, sebut saja si A. Memiliki anak satu-satunya, membuat bundanya terlihat over protektif. Anaknya terluka sedikit saja, ibu itu akan berkoar-koar di grup whatsapp. Meminta gurunya untuk lebih banyak memberi perhatian pada anak-anak yang lainnya. Dia tidak ingin putranya mengalami hal yang tidak diinginkan.

Padahal, menurut anak-anak kami, si A justru biasanya yang memulai duluan. Contohnya, saat anak tunggal itu dipukul tangannya, ternyata sebelumnya dia memang mengejek anak lainnya. Jadi, tindakan memukul tersebut merupakan bentuk perlawanan karena dia sudah dicemooh.

Dan anehnya kawan kami itu, tidak mau terima dengan berbagai alasan yang dikemukakan oleh anak-anak serta wali kelasnya. Ibu si A tetap bersikukuh, bahwa anaknya mengalami pemukulan yang bisa membahayakan putranya.

Menurut kami, seharusnya kawan kami itu juga mengarahkan anaknya. Jika tidak ingin basah, jangan main air. Dan bila tidak ingin terbakar, jangan bermain api. Itu, sudah jelas, bukan? Jika tidak mau dipukul atau diperlakukan tidak baik oleh temannya, jangan mengganggu teman yang lain. 

Anak yang memukul tersebut, padahal masih teman sepermainan si A. Namun, sepertinya kesabaran anak itu mulai habis, ketika teman dekatnya justru malah mengejeknya berulangkali.

Bercermin dari hubungan anak dan ibunya itu, kami pun berjanji tidak akan bersikap seperti itu. Bagaimana pun ketika anak salah, kami harus mengarahkan anak pada sikap yang benar. Sudah menjadi tugas kita sebagai orangtua untuk mendidik anak berprilaku yang baik, betul?

Semua orang tua berharap pergaulan anak-anaknya akan berdampak baik-baik saja. Agar tumbuh kembang kepribadian mereka bisa lebih optimal. Semoga.

Tanpa terasa asyik sekali kami berbincang, sambil sesekali menikmati makanan dan minuman yang tersaji di Rumah Makan UpNormal. Sampai enggak kerasa, matahari sudah semakin terik. Suasana Kota Subang yang berhawa panas itu pun menjadi semakin panas. Untung saja, di dalam ruangan sangat adem, dengan fasilitas AC-nya. Jadi makin betah berlama-lama ngobrol bareng ^_^

Deuuh ... asyiknya emak-emak yang pada ngobrol bareng, lalu...bagaimana kabar keluarganya?
Eits, jangan salah! Kami kalau kemana-mana itu, selalu satu paket. Enggak hanya sendirian, buntut kami selalu setia menyertai, dong! He he he

Asyiknya ngumpul di Rumah Makan UpNormal itu, di sana ada fasilitas yang bisa membuat anak-anak lebih tenang dan asyik bermain. Ketika kami berbincang-bincang, anak-anak asyik sendiri menikmati permainan yang ada.

http://www.nurulfitri.com/2017/08/sikap-orangtua-pada-tingkah-laku-anak.html

Di tengah ruangan terdapat meja kecil tempat bermain boneka sepak bola. Barangkali ada namanya, ya? Saya kurang tau, apa nama permainan itu.
Tidak hanya permainan tersebut, UpNormal juga menyediakan ruangan khusus untuk anak-anak bermain.

http://www.nurulfitri.com/2017/08/sikap-orangtua-pada-tingkah-laku-anak.html
 
Namun sayangnya, menurut anak saya, ruangan tersebut berbau tidak sedap. Barangkali karena ruangan tertutup, hawa yang ada di ruangan tetap sama tidak berganti dengan udara segar, sehingga menimbulkan bau pengap.
Anak-anak juga bisa tetap berada di samping emaknya yang asyik mengobrol sambil bermain permainan UNO. Tidak hanya UNO, Rumah makan UpNormal juga menyediakan permainan catur, congklak dan permainan yang bisa dilakukan di atas meja lainnya. Asyik, deh!
 
http://www.nurulfitri.com/2017/08/sikap-orangtua-pada-tingkah-laku-anak.html

Alhamdulillah, pertemuan itu membuat kami semua senang. Anak-anak bertemu dengan kawan lamanya, bermain di tempat yang menyenangkan, begitu juga dengan emaknya yang kangen-kangenan satu sama lain.

Semoga di lain waktu, kami bisa berjumpa lagi dengan keseruan yang tidak kalah dari pertemuan kemarin.

Artikel Lainnya :
Rambu-rambu Yang Harus Diperhatikan Ketika Memberikan Gawai Pada Anak
Melejitkan Potensi Anak Bersama Neno Warisman Parenting
Mendidik Anak Agar Berprestasi