Gangguan bipolar sering dikatakan sebagai gangguan perasaan. Bipolar sendiri terdiri dari dua kata, yaitu bi yang artinya dua, dan polar yang berarti kutub. Jadi yang dikatakan bipolar adalah 2 kutub perasaan yang berbeda dan mengalami perubahan yang sangat cepat. Perubahan perasaan tersebut, bisa tanpa sebab atau karena letupan sebab yang luar biasa.

http://www.nurulfitri.com/2017/11/menulis-sebagai-terapi-gangguan-bipolar.html

Saya baru mendengar gangguan bipolar ketika salah satu artis tanah air, yaitu Marshanda mengakui jika dirinya mengidap penyakit psikis bipolar disorder. Pada mulanya, Marshanda atau yang lebih akrab dipanggil Caca ini, menolak apabila dirinya disebut mengalami gangguan bipolar. Dan banyak kalangan yang meragukan jika gangguan ini bisa disembuhkan. 
Padahal menurut dokter yang merawat Caca, gangguan ini bisa disembuhkan dengan menggunakan terapi yang disiplin dan mengosumsi obat. Untuk meminimalisir gangguan tersebut, pasien bipolar harus menggunakan semacam suplemen yang berfungsi mengatur hormon dan menyeimbangkan neutrotransmitter. 

Ternyata selain melakukan pengobatan medis, menjalani terapi dan rutin mengonsumsi obat, Caca juga berusaha mengontrol gangguan bipolarnya dengan cara mendisiplinkan diri dan menata kehidupan pribadinya. Dengan menuliskan semua kejadian penting yang dialaminya dalam buku diary-nya. Caca menamakan buku diary-nya tersebut dengan nama "diary kesyukuran".

Menurut informasi yang beredar, menulis merupakan salah satu terapi bagi orang yang mengalami gangguan bipolar. Proses mencatatkan segala hal yang dirasakan dan menuliskan setiap kejadian yang bisa dijadikan pengalaman dan pembelajaran, bisa membantu proses penyembuhan gangguan psikologis, termasuk bipolar. 

Tidak jauh berbeda dengan Caca, ada seorang perempuan pengidap bipolar yang berusaha mengontrol emosinya melalui kegiatan menulis. Sebut saja namanya Sendy Hadiat. Perempuan kelahiran Jakarta yang dengan senang hati membagikan pengalamannya menghadapi gangguan bipolar saat ada sesi sharing di sebuah grup WhatsApp. 


http://www.nurulfitri.com/2017/11/menulis-sebagai-terapi-gangguan-bipolar.html

Terus terang ketika mendengar kisah perjalanan hidup seorang Sendy, membuat perasaan saya bercampur aduk. Ternyata di luar sana, ada orang yang begitu kuat berjuang untuk melawan gangguan perasaan yang dialaminya. Di sela-sela scrolling membaca perbincangan di grup tersebut, berulang kali saya menarik napas panjang. Serasa ada yang menghimpit di dada ini dan membuat saya lebih banyak istighfar sekaligus mengucapkan syukur pada keadaan saya sekarang ini. 

Baiklah, kita kembali pada kisah Sendy Hadiat yang berjuang melawan gangguan bipolarnya, ya ... Gangguan yang dialami Sendy ternyata ada pemicunya. Pengalaman masa kecil yang masih melekat dalam ingatannya, membuat perasaan perempuan berkulit bersih itu turun naik. Semua itu berpusat pada otak. Perubahan perasaannya dapat berubah seratus delapan puluh derajat. Tiba-tiba dia bisa merasa begitu bahagia, tapi tiba-tiba dia juga bisa merasa sangat sedih dan super sensitif.

Ketika masih kecil, orangtuanya tidak memberikan perhatian yang cukup. Orangtuanya terkesan tidak peduli dengan pelecehan seksual yang dialaminya pada masa kanak-kanak. Tidak jarang dia di-bully, diejek tanpa ada yang membelanya. Hal tersebut menimbulkan efek yang luar biasa dahsyatnya.

Lalu, bagaimana caranya mengetahui dan menyadari jika kita mengalami gangguan bipolar? Menurut Sendy, dengan cara mengenali seberapa dalam depresi dan mania kita dalam episode waktu. 

Fase depresi adalah saat sedih yang dirasakan tidak jelas dan berkepanjangan hingga sampai ingin bunuh diri. 
Sedangkan mania yaitu saat seseorang gila dengan kerjaannya, tidak pernah merasa lelah, rasa ego yang melambung tinggi ketika dicaci dan biasanya tidak bisa tidur berhari-hari.

Dalam petualangannya berdamai dengan bipolar, ibu dari 5 orang anak ini, masih suka menangis, menulis merupakan pelarian yang dipilih olehnya. Mencoba berdamai dengan masalah, menerima setiap episode dalam kehidupannya dengan ikhlas dan sering berdoa berharap Allah yang akan memberikan solusinya.

Bagi Sendy, yang terpenting adalah menemukan sumber stress kemudian menemukan cara mengatasinya. Setelah mengetahui sumber stress, ibu muda ini pun berusaha menghindari pemicunya tersebut.

Menulis merupakan terapi yang terbaik. Dengan menulis, seakan telah membuang sampah yang ada. Karena ingatan itu, sangat melekat dalam pikirannya. Dan saat ini Sendy sedang dalam tahap menulis buku. Buku tersebut merupakan terapi gangguan bipolar baginya, untuk melupakan masa lalu yang masih terekam dengan kuat dalam ingatannya.

Sebuah buku yang menceritakan semua tentang gangguan bipolar yang dialaminya diberi judul "Menemukan-Mu dan Menemukannya." Sendy berharap dengan terbitnya buku tersebut, akan semakin banyak penderita gangguan bipolar yang mau berdamai dengan bipolar.