Ketika Tuhan Menentukan Lain

Tuhan memang yang menentukan segalanya. Kita sebagai manusia tidak pernah tahu, apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Ketika kita meyakini akan terjadi suatu hal yang telah diperkirakan, tetapi ternyata Tuhan menentukan lain. Yakinlah, Tuhan tahu yang terbaik bagi setiap manusia.


http://www.nurulfitri.com/2018/01/ketika-tuhan-menentukan-lain.html

Seperti halnya, ketika saya mengetahui jalan hidup seorang ibu yang benar-benar di luar dugaan kita, sebagai makhluk lemah dan bukan siapa-siapa dibandingkan dengan Yang Maha Berkehendak. 

Bermula ketika saya hendak membeli lontong sayur yang akan disuguhkan untuk sarapan keluarga saya di suatu pagi yang cerah. Kebetulan di depan perumahan, ada seorang ibu pedagang lontong sayur yang mangkal setiap pagi, sebut saja namanya Bu Ipah. Ibu bertubuh kurus itu ketika melayani pembeli, selalu bersikap ramah. Sambil melayani, beliau sering mengajak pelanggannya bercakap-cakap.

Begitu pula ketika saya hendak memesan lontong sayur, Bu Ipah dengan ramah mengajak saya berbincang. Saat sedang meracik lontong sayur, datang seorang ibu paruh baya berperawakan tinggi besar dengan sepeda motornya. Setelah menyapa Bu Ipah, ibu muda itu kemudian mengambil sebungkus gorengan yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh Bu Ipah. Tidak berapa lama, ibu muda itu pun pamit, menerobos dinginnya pagi, menggunakan motornya pergi ke suatu tempat. Entah ke mana.

Baca juga : Mengapa harus sempurna?

"Itu adik saya, badannya tinggi besar ya ... enggak seperti saya, hehehe ..." kata Bu Ipah sambil memotong lontong yang dibungkus daun pisang.
"Padahal dulu, dia dilahirkan dengan berat hanya 8 ons, loh? Ibu mah, udah pasrah aja. Kayaknya kemungkinannya kecil sekali, mengharapkan adik saya itu bisa bertahan hidup." sambung Bu Ipah.

"Wah kecil sekali, ya, Bu? Pasti membutuhkan perawatan yang intensif dan  biasanya musti dimasukkan ke dalam inkubator, ya, Bu?" tanya saya, penasaran.
"Iya, Neng, adik Ibu itu seharusnya dirawat di rumah sakit, sampai berat badannya naik dan bisa beradaptasi dengan keadaan di lingkungan sekitarnya." jawab Bu Ipah dengan wajah murung.

"Tapi, karena keterbatasan biaya, ibu harus membawa adik ibu, pulang ke rumah, Apalagi Emaknya udah enggak ada lagi." lanjut Bu Ipah terdengar lirih.

"Emaknya, enggak ada? Maksud, Ibu?" dengan hati-hati saya bertanya.
Bu Ipah menghela napas, kemudian berkata, "Emak saya meninggal, beberapa saat setelah melahirkan adik saya, Neng. Emak punya riwayat tekanan darah tinggi. Dan kondisi itu yang menyebabkan Emak enggak kuat dan akhirnya meninggal dunia."

Mendengar itu, saya hanya diam. Bingung hendak mengomentari apa. 

Baca juga : Mulia dengan menjaga lisan

"Setelah Emak meninggal, saya membawa adik bayi yang masih memiliki berat badan yang minim itu, untuk dirawat di rumah. Sebenarnya, dokter sudah angkat tangan, ketika keluarga kami memaksa untuk merawat adik Ibu di rumah. Dokter hanya berpesan pada ibu, agar memperhatikan makanan dan minumannya untuk memacu kenaikan berat badan adik Ibu." cerita Bu Ipah sambil membungkus lontong sayur.
http://www.nurulfitri.com/2018/01/ketika-tuhan-menentukan-lain.html
Sambil membungkus kerupuk, Bu Ipah melanjutkan ceritanya. Ketika adiknya lahir, Bu Ipah seharusnya masih belajar di kelas 3 SD. Namun karena faktor ekonomi, ibu berwajah tirus itu, tidak bisa meneruskan sekolah.

Mendengar cerita Bu Ipah, membuat saya termenung. Membayangkan kejadian berpuluh-puluh tahun silam. Memperkirakan apa yang terjadi, bagaimana tingkah seorang anak kelas 3 SD, harus merawat adiknya yang masih bayi. 

Seakan membaca pikiran saya, Bu Ipah pun melanjutkan ceritanya.
"Ibu dulu yang ngurus adik ibu itu. Dari mulai mandiin, ganti popok sampai ngasih susu formula, Ibu yang urus." kata Bu Ipah. "Alhamdulillah, adik ibu berat badannya terus beranjak naik. Bahkan dokter juga kaget waktu melihat adik ibu yang terlihat montok."

Menurut pedagang lontong sayur itu, dokter sangat mengapresiasi keberhasilan Bu Ipah yang bisa membuat adiknya menjadi bayi montok dan sehat. Karena biasanya, bayi dengan berat badan rendah, apabila tidak ditangani secara intensif, dapat mengakibatkan kematian. Itulah sebabnya, Bu Ipah mendapat acungan jempol dari sang dokter.

Semua tidak ada yang tahu, apa rencana Tuhan dibalik semua peristiwa yang sudah terjadi. Secara medis, kondisi adiknya Bu Ipah sangat mengkhawatirkan, bahkan dokter pun sudah angkat tangan ketika keluarganya membawa paksa pulang bayi dengan berat badan kecil itu. Namun, Tuhan berkehendak lain, adik Bu Ipah bisa tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria hingga saat ini.

Tidak hanya sewaktu dilahirkan, ketika sudah menikah pun, adik Bu Ipah sempat mengalami peristiwa yang membuat Bu Ipah berucap syukur berulangkali.

Setelah menikah dan memiliki buah hati, adik Bu Ipah menderita penyakit yang cukup parah. Sekali lagi, kondisi yang dialaminya cukup berat dan para tenaga medis menyatakan tidak sanggup lagi menanganinya. Keluarga besar Bu Ipah tentu saja sangat sedih. Namun, mereka tetap berharap. Berkeinginan anggota keluarga mereka bisa kembali sehat.

Baca juga : Benarkah cara berdoa kita?

Berbagai usaha telah mereka jalani. Mendatangi "orang pintar", tetua suku di kampung halaman dan berharap pada tokoh agama di sana. Semua permintaan aneh, yang diluar nalar, mereka lakoni asalkan ibu muda itu bisa segera pulih.

"Sebenarnya, kami semua sudah mau menyerah aja, Neng. Ibu juga sempat berpikir, mungkin memang ini saatnya. Dulu Ibu sudah berusaha agar adik Ibu tetap sehat dan akhirnya bisa selamat, tapi mungkin memang ini sudah jalannya. Mungkin ini memang sudah saatnya." kata Bu Ipah sambil menerima uang dari saya.

"Kami semua sudah pasrah, Neng. Sampai suatu hari, Ibu enggak tau, apa penyebabnya, tiba-tiba adik ibu itu bisa duduk, bangun dari tidurnya. Dia terlihat segar, jauh lebih baik dari kondisi sebelumnya." Bu Ipah bercerita dengan bersemangat.

Menurut Bu Ipah, melihat kondisi adik perempuannya itu, semua anggota keluarga menangis bahagia. Merasa bersyukur dengan ketentuan yang diberikan Tuhan. Di saat semua usaha yang dilakukan tidak membawa hasil yang berarti, ketika asa sudah mulai punah, Tuhan hadir dengan kekuasaan-Nya.

Bu Ipah mengakhiri ceritanya, sambil berulangkali mengucapkan kata syukur. Alhamdulillah ... alhamdulillah ... katanya berulangkali.

Sekali lagi, adik Bu Ipah bisa keluar dari kondisi yang menurut nalar manusia, tidak mungkin terjadi. Semua perkiraan tenaga medis atau sangkaan keluarga, tidak ada artinya ketika Tuhan menentukan yang lain. 

Pagi itu, saya pulang membawa 4 bungkus lontong sayur, dengan membawa keyakinan. Apabila Tuhan sudah berkehendak, maka terjadilah. Meskipun itu, merupakan hal yang tidak masuk nalar kita sebagai manusia. 

Well ... Yang penting, kita harus terus berusaha, hasil akhir, biarlah Tuhan yang menentukan, bukan?

Baca juga : Tak perlu menunggu menjadi kaya

29 comments:

  1. Kagum banget, aku kelas 3 juga adek ku baru lahir tp aku sm sekali ga bisa ngurus adek, ga tau apa2. Beliau hebat sekali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga sampai kagun loh, waktu beliau bercerita

      Delete
  2. Benar-benar kisah yang inspiratif sekali, Mbak! Memang benar sih, kita memang hanya bisa merencana dan memperkirakan. Tapi, kembali lagi, Allah juga yang akan menentukan apa yang di akhir buat kita. Tadi, aku baru saja bicara dengan seorang mentorku tentang jodoh, kesimpulannya adalah dekati Allah dan kemudian kita akan dapat bocoran tentang apa yang terjadi kelak.

    Aduh, makasih Kak Nurul, telah ikut membagikan link ini di kala aku sedang merasa depresi karena selalu gagal dalam urusan percintaan dan melihat teman-temanku sudah mulai menemukan pendamping hidup. Sempat ada pikiran muncul untuk mengakhiri hidup ketika itu. Namun, atas bantuan mentorku dan dipertegas dengan tulisan ini, perlahan-lahan semuanya sirna. Meski, mungkin masih ada sisa. Tapi, semoga semuanya berubah ke arah yang lebih baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak perlu depresi karena soal jodoh, Kak Farhan, semua sudah ada ketentuan dari-Nya. Yakinlah suatu hari nanti, di saat yang tepat akan dipertemukan dengan seseorang yang tepat.

      Delete
  3. Tuhan selalu memberikan kepada kita yang terbaik yang kita butuhkan
    tapi terkadang persepsi kita adalah yang kita inginkan adalah yang kita butuhkan Tuhan, kabulkanlah!
    ternyata Dia melihat yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan
    inilah kehendak lain dariNya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Tuhan Maha Tahu apa yang terbaik bagi kita.

      Delete
  4. kun fa yakun, begitu firman Allah ya mbak, apa yang Dia kehendaki maka itu yang akan terjadi. subhanallah sekali cerita tentang adiknya bu ipah dan menunjukkan betama Maha Kuasanya sang ilahi rabbi

    ReplyDelete
  5. Kisah hidup ibu IPah dan adiknya luar biasa yah, kalau sekarang kisahnya pasti sudh viral nih, seorsang anak SD merawat adiknya yang BB-nya hanya 8 ons. Hikmah kisahnya banyak yah, terutama tentangvkepasrahan, saat kita sudah pasrah maka ALlah Swt. menunjukkan kuasa-Nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bakalan banyak yang salut dengan perjuangan anak SD ya..

      Delete
  6. ceritanya luar biasa ya
    intinya semua atas pertolongan Allah

    kadang kita saat menghadapi masalah atau musibah berasa dunia runtuh
    padahal ada Allah tempat mengadu
    tempat bergantung
    ketika berpasrah padaNYA semua akan lapang dan mudah ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Membuat kita harus tetap bergantung pada Allah ya..

      Delete
  7. Hanya Tuhan yang tahu mbak tentang hidup kita, kadang emmang kita merasa 'kok gini" tapi di lain hari pasti ada hikmah yang membawa kebaikan untuk kita.

    ReplyDelete
  8. Wah... Sebuah keajaiban Allah yang sangat luar biasa thd hambanya. Semoga kita2 juga dalm lindungan Allah semua. Aminnn

    ReplyDelete
  9. istilah terkenal dari itu semua mungkin semboyan Kun Fayakun dan Man Jadda Wa Jada ya mba.

    ReplyDelete
  10. Apabila Tuhan sudah berkehendak, maka terjadilah. Jadi optimis lagi setelah baca tulisan Mbak Nurul, insyaallah ada jalan, insyaallah ada jalan.

    Terima kasih sudah sharing yaa Mbak... Aku ingat ingat lagi.

    ReplyDelete
  11. Apabila Tuhan sudah berkehendak, maka terjadilah. Jadi optimis lagi setelah baca tulisan Mbak Nurul, insyaallah ada jalan, insyaallah ada jalan.

    Terima kasih sudah sharing yaa Mbak... Aku ingat ingat lagi.

    ReplyDelete
  12. Bener ya mba allah itu memang maha kuasa, kita sebagai manusia gak bisa memprediksi qodo dan qodar dari allah, yang terpenting kita harus tetap menjaga keimanan sampai akhir hayat.. amiiin

    ReplyDelete
  13. MashaAllah...
    Tabarakallahu teh...atas kisah inspiratifnya.

    Memang kita hanya boleh bergantung pada Allah semata yaa..
    Sudahlah kita maksimal ikhtiar, maka masalah hasil, biar Allah yang berikan.

    ReplyDelete
  14. Tuhan maha tahu apa yang terbaik, dan Tuhan tak menguji hambanya diluar kemampuan..

    ReplyDelete
  15. Liar bisa Mbok Ipah ini hahj
    Memang Mbak hal kecil seperti ini yang buat kita bersyukurr...
    Tuhan adalah sutradara kehidupan terbaikk. Terima kasih untuk tulisannya

    ReplyDelete
  16. terkadang hal hal diluar nalar manusia bisa untuk mengobati penyakit yang kalo dipikir nalar ga bakal bisa disembuhkan. tetapi, kalo memang tuhan sudah berkehendak sembuh dari orang yang dibilang "pintar" sembuh ya alhamdullilah banget.

    ReplyDelete
  17. Karena semuanya berjalan sesuai kehendak-Nya, kita sebagai hamba hanya bisa berusaha sekuat tenaga lalu memasrahkan semuanya kepada Sang Pemilik Kehidupan. Kita juga harus yakin bahwa Dia yang paling tahu yang terbaik untuk kita dan orang yang kita sayangi. Cerita yang menyentuh ❤️💕

    ReplyDelete
  18. Terkadang banyak kisah amazing tersaji di sekitar kita ya mbak, dan semuanya tergantung dari kuasa Allah SWT. Sungguh kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan bertawakal

    ReplyDelete
  19. Perjuangan seorang ibu ya. Kuyakin sepeninggal ibunya pasti dia tetap menjaganya dari tempat lain. Dih kok jadi mewek ngebacanya yak. Rencana Tuhan selalu indah pada waktunya. Sarat makna juga

    ReplyDelete
  20. Sodaraku juga gitu, menurut cerita ibu dan nenek. Dia lahir cuma berapa ons. Sebesar botol akua 600ml katanya. Tapi bisa hidup. Malah sekarang anaknya 4. Emang Allah itu Maha Kuasa

    ReplyDelete
  21. Benar Mbak, tetap ingat Kun Fayakun. Betapa mudah nya Allah bila menghendaki sesuatu apapun.
    Cuma terkadang, ada juga yang malah begitu dikasih masalah malah nyerah gitu aja.
    Semangat dan kegigihan Bu Ipah patut kita tiru, Jangan menyerah pada keadaan. :D

    ReplyDelete
  22. Masya Allah... Terasa bergetar membaca ini, mbak.
    Memang kalau Allah sudah berkehendak, tidak akan ada yang mampu menghalangi ya :)

    ReplyDelete
  23. Kadang ya kalo kita manusia ngoyo malah gak dikasih, ketika sudah di titik pasrah biasanya mukjizat seketika menghampiri.. Jadi inget harus banyak bersyukur :)

    Cheers,
    Dee - heydeerahma.com

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf, untuk menghindari SPAM, maka komentarnya dimoderasi dulu, yaa ^~^

.comment-content a {display: none;}