Menuntaskan Masalah Kemiskinan dengan Mengurangi Prevelansi Merokok di kalangan Masyarakat Miskin

Rasanya miris dan prihatin, deh, waktu saya lihat sekelompok anak sekolah sedang merokok di pinggir lapangan. Mereka masih sangat muda. Dan anak seusia mereka pastilah tidak diperbolehkan merokok, baik oleh orang tua atau pun guru mereka. Buktinya begitu melihat saya, mereka langsung berlari menyembunyikan diri seakan takut diketahui sedang merokok.

Saya yakin mereka masih menggunakan seragam putih biru ketika bersekolah. Usia yang sangat muda sekali. Mungkinkah mereka hanya coba-coba? Meskipun mereka sebatas mencoba, tetap harus menjadi bahan perhatian. Karena bukankah semua orang yang kecanduan merokok, berawal dari coba-coba?

tuntaskan masalah kemiskinan dengan mengurangi prevelansi merokok di kalangan masyarakat miskin

Banyak faktor yang memicu anak-anak sekolah seperti mereka, mencoba merokok, diantaranya:

Mereka melihat dari lingkungan
Dari dalam rumah, anak-anak bisa saja melihat ayah mereka terbiasa merokok. Jika di rumah tidak ada yang merokok, anak-anak juga bisa melihat perokok yang ada di sekitar rumahnya. Baik itu tetangganya atau pun orang yang kebetulan melintas.

Selain di lingkungan sekitar rumahnya, anak-anak sekolah juga kerap melihat guru, satpam, atau penjaga sekolah yang sedang merokok. Begitu banyak orang yang merokok, membuat mereka berpendapat jika merokok itu tidak dilarang.


Melihat iklan rokok
90% anak muda pernah melihat iklan rokok bahkan apal dengan jingle dari iklan tersebut. Iklan yang ditayangkan terus menerus bisa menimbulkan rasa penasaran anak-anak yang berada dalam masa selalu ingin tahu.
 
Padahal seperti kita ketahui, mereka bukanlah generasi produktif. Anak-anak belum memiliki penghasilan sendiri. Lalu dari mana biaya yang mereka gunakan untuk membeli rokok?
Apakah dari uang jajan mereka, minta pada orang lain atau dengan cara memalak?
Duh ... benar-benar kondisi yang sangat memprihatinkan, bukan?

Tidak hanya anak sekolah, saya juga kerap melihat pemulung yang sedang mengumpulkan barang bekas sambil merokok. Ketika ditanya penghasilannya dari memulung barang bekas, lelaki tua yang mengenakan topi lusuh tersebut hanya menghela napas. Menurutnya hasilnya terkadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok saja.

Agak bingung juga dengan jawaban bapak itu. Bukankah penghasilannya masih belum cukup untuk membeli kebutuhan pokok, bahkan kadang terasa kurang, tetapi kenapa masih bisa membeli rokok? Bukankah lebih baik dibelikan barang yang lebih penting, yang dibutuhkan oleh keluarganya?

"Tidak apa-apa, Neng. Bapak masih bisa beli, kok!" begitu katanya ketika ditanyakan kenapa lebih memilih membeli beberapa batang rokok.

Mengapa bapak tersebut bisa membelinya? Karena harga rokok, MURAH! Toh, bapak pemulung yang berpenghasilan minim pun menyatakan sanggup membelinya.

Oleh karena itu, #Rokokharus mahal! Dengan harga rokok mahal, diharapkan rokok menjadi barang yang tidak lagi terjangkau oleh kelompok miskin dan dapat mengurangi prevalansi perokok di kalangan kelompok tersebut. 

Dengan #rokok50ribu, diharapkan kelompok miskin lebih memilih mengalokasikan dana yang dimilikinya untuk kebutuhan pokok dibandingkan dengan membeli rokok.

Sejalan dengan tujuan pembangunan untuk menuntaskan kemiskinan, melalui Aksi Nasional Rokok Harus Mahal, Program Radio Ruang Publik KBR membahas pentingnya pengendalian tembakau dalan SDGs pada Hari Rabu lalu, tanggal 6 Juni 2018, pukul 09.00 - 10.00 WIB

Apakah SDGs itu? 

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Sustainable Development Goals disingkat dengan SDGs adalah 17 tujuan dengan 169 capaian yang terukur dan tenggat yang telah ditentukan oleh PBB sebagai agenda dunia pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi.
Atau tujuan pembangunan berkelanjutan 2015-2030, termasuk poin pertamanya yaitu masalah kemiskinan dalam bentuk apapun.


tuntaskan masalah kemiskinan dengan mengurangi prevelansi merokok di kalangan masyarakat miskin

Sudah menjadi kesepakatan dunia, jika isu pengendalian tembakau menjadi salah satu indikator yang mesti dicapai yaitu mengurangi prevalansi merokok, terutama penduduk usia di bawah 15 tahun dan 18 tahun.

Hal Yang Melatarbelakangi Rokok Harus Mahal

Apa hubungan turunnya prevalansi perokok di kalangan miskin dengan pencapaian SDGs di bidang kemiskinan?

Pertama, penduduk miskin yang menggunakan uangnya untuk membeli rokok, menyebabkan tingkat pendapatan yang seharusnya digunakan memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi semakin berkurang.

Yang kedua, penduduk yang merokok, memiliki resiko gangguan kesehatan yang cukup tinggi. Jika kemudian dia sakit, akan dibutuhkan biaya yang banyak. Selain itu, produktifitasnya untuk bekerja pun akan turun. Akhirnya menimbulkan siklus kemiskinan. Kondisi rang yang tidak produktif karena sakit, akan lebih banyak mengeluarkan biaya dibandingkan menghasilkan pendapatan. Dan ini merupakan salah satu siklus kemiskinan.

Dalam acara live interaktif yang diadakan oleh Ruang Publik di Radio Power FM Jakarta tersebut, dikemukakan fakta berdasarkan data 7 tahun terakhir, sebenarnya kelompok miskin yang merokok itu, proporsinya meningkat.
Menurut Mas Jalal, dari Koalisi Bersatu Melawan Kebohongan Industri Rokok, proporsi paling besar mendominasi kelompok perokok adalah mereka yang berprofesi sebagai buruh, petani dan nelayan.

Jika kalangan berpendapatan minim itu tetap terus mengonsumsi rokok, mereka bisa sakit. Produktivitasnya turun dan membutuhkan biaya yang tinggi untuk melakukan perawatan. 
Atau jika kelompok tersebut tidak sakit, untuk membeli rokok, mereka sudah menggeser pengeluaran yang lebih penting seperti dana pendidikan, dana kesehatan, dan pemenuhan gizi untuk keluarga.

Semua itu saling berkaitan erat. Jika ingin masalah kemiskinan diselesaikan dengan tuntas, penggunaan rokok haruslah benar-benar dikendalikan.

Aksi Nasional Rokok Harus Mahal harus direalisasikan dengan serius. Karena di Indonesia harga rokok masih tergolong termurah di dunia dan bisa dijual secara eceran. Hal ini memudahkan kalangan manapun untuk mengakses rokok.

Semua orang sangat familiar dengan rokok.

Hal ini dapat berbahaya bagi dua kelompok, yaitu pertama kelompok anak-anak dan remaja serta yang kedua kelompok perokok miskin atau rumah tangga miskin.

Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) di acara Program Radio Ruang Publik memaparkan alasan keluarga miskin cenderung mengabaikan kebutuhan lain, seperti dana pendidikan, pemenuhan gizi dan biaya kesehatan, ketika membelanjakan rokok.

Menurut Mas Tulus, kandungan dalam rokok yaitu nikotin yang bersifat adiksi dapat membuat orang yang mengonsumsinya menjadi kecanduan. Di tambah murahnya harga rokok, membuat mereka tetap berusaha agar bisa membeli rokok.
Nah, inilah yang menjadi alasan kuat, mengapa harga rokok harus mahal. Agar tidak terjangkau oleh kelompok anak-anak dan rumah tangga miskin.

Rokok dan Permasalahannya di Masyarakat

Acara yang membahas tema Kemiskinan, Dampak Rokok Murah dan Capaian SDGs ini, disiarkan secara langsung di 100 radio jaringan KBR. Program yang diadakan secara live interaktif tersebut, membuka peluang pada masyarakat untuk menanyakan atau memberikan pernyataan seputar tema yang dibahas.

Dari Kota Cirebon, ada Pak Jurah yang mempertanyakan iklan rokok yang isinya memaparkan bahaya rokok, tetapi dalam kenyataannya terlihat tidak memberikan dampak yang signifikan bagi perokok.

Mas Tulus tidak menyangkal pernyataan Pak Jurah. Mas Tulus sepakat, jka iklan bahaya merokok, memang tidak begitu berpengaruh pada perokok. Karena semuanya berhubungan dengan karakter individu itu sendiri. Seperti seseorang yang sudah kecanduan, tidak akan terpengaruh oleh apapun termasuk iklan bahaya merokok.

Yang memprihatinkan, dampak iklan rokok justru berpengaruh bagi kalangan non perokok, seperti anak-anak. Hampir 90 persen anak sekolah melihat iklan rokok di berbagai lini. Baik dari media luar ruang, televisi atau tempat lainnya, sehingga dapat mempengaruhi anak-anak. Bahkan anak kecil pun sekarang bisa hapal dengan jingle-jingle iklan rokok. Kondisi yang memprihatinkan, deh!

Di sesi berikutnya, ada pendengar lainnya yaitu Pak Jojo yang mempertanyakan apakah ada kemungkinan  masalah yang ditimbulkan oleh rokok ini, penyelesaiannya dikendalikan dari hulunya? Yaitu dari pabriknya?

Menanggapi pertanyaan dari Pak Jojo, Pak Arum Atmawikarta, MPH, selaku Manager Pilar Pembangunan Sosial Sekretariat SDGs Bappenas mengatakan bahwa masalah rokok memang cukup kompleks, karena ada beberapa bidang terkait.

Seperti yang berkaitan dengan bidang perdagangan. Ada yang mengatakan, jika rokok dilarang atau peredarannya di batasi, yang selalu dikaitkan adalah kesejahteraan petani tembakau. Padahal dalam kenyataannya jumlah petani tembakau hanya sedikit. Bahan bakunya justru lebih banyak diimpor dari luar negeri. Kenyataan tersebut membantah opini yang menyatakan, jika rokok merupakan sumber komoditas Indonesia.

Selain berkaitan dengan bidang perdagangan, masalah rokok juga melibatkan bidang kesehatan, bidang kesejahteraan dan masih banyak bidang terkait lainnya. Hal ini memerlukan  kebijakan lintas bidang dan perhatian yang terus menerus untuk menyelesaikan masalah rokok. Jangan hanya satu bidang saja yang menggarap masalah ini, semua bidang perlu bersinergi.

Adapun harga yang diajukan  oleh Aksi Nasional Rokok Harus Mahal yaitu sekitar 50 ribu perbungkus. 
Lalu, cukup efektifkah rokok dengan harga 50 ribu? 

Dalam prakteknya, selama rokok masih bisa dijual secara ketengan atau diecer, maka masyarakat kelompok miskin atau anak-anak masih bisa menjangkaunya, bukan?
Oleh karenanya, agar prevelansi merokok di kalangan masyarakat miskin berkurang, sebaiknya rokok tidak dijual ketengan.

Begitu kompleknya penyelesaian masalah yang ditimbulkan oleh rokok ini, membutuhkan kerjasama yang baik dari semua pihak. Tidak hanya dari masyarakat, pemerintah, tenaga pendidik, pedagang, dan semua lapisan masyarakat, juga dituntut bisa bersinergi menyelesaikan masalah kemiskinan yang disebabkan tingginya prevalansi rokok di kalangan rumah tangga miskin.

Dengan turut menandatangani petisi #RokokHarusMahal pun, kita semua bisa  membantu aksi nasional ini, loh!
Caranya dengan ikut petisi sebagai salah satu bentuk desakan pada pemerintah untuk lebih peduli dengan penggunaan rokok. 
Yuk, mari ikut petisi dengan mengaksesnya melalui change.org/rokokharus mahal!

Kebijakan yang ketat terhadap penggunaan rokok, dapat mengurangi pengguna rokok. Kesejahteraan masyarakat akan meningkat dan masyarakat pun bisa menjadi lebih makmur.

Mari sukseskan Aksi Nasional #RokokHarusMahal, agar tingkat kemiskinan di negeri ini bisa tuntas.

6 comments:

  1. Setuju mba, rokok harus mahal dan jangan diizinkan untuk dijual ketengan, soalnya kalau begitu kan mereka bisa nyicil. Kalau dr lubuk hati yang paling dalam sih dilarang aja sekalian lha wong gak ada manfaatnya.

    ReplyDelete
  2. Terkadang aku tu suka lucu teteh, ngeliat seorang bapak melarang anak laki-lakinya merokok. Sedangkan dianya sendiri ngerokok. Hadeuhhh. Terus ya aku tu juga kesel ngeliat iklan-iklan rokok di TV yang kesannya itu klo ngerokok itu artinya cwo banget. Gimana masyarakat kita nggak makin tertarik juga

    ReplyDelete
  3. Rokok harus mahal! Setuju Teh Nurul, supaya masyarakat berpikir ribuan kali untuk membelinya.

    ReplyDelete
  4. Setuju banget mbak dengan programnya. Semoga dengan mahalnya harga rokok membuat para pecandu rokok berpikir dua kali untuk membelinya

    ReplyDelete
  5. Setuju! Mahalkan harga rokok, murahkan biaya pendidikan! 😊😊

    ReplyDelete
  6. Rokok harus mahal!

    Supaya anak-anak sekolah yang modalnya hanya uang jajan saja tidak bisa beli rokok
    Supaya orang-oarng yang miskin lebih memilih beli beras daripada beli rokok
    Supaya orang-orang berduit mikir 1000x sebelum beli rokok
    Supaya masyarakat Indonesia tidak miskin dan selalu sehat.

    Setuju!

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf, karena banyaknya SPAM, maka komentarnya saya moderasi dulu. ^~^

.comment-content a {display: none;}