Awal tahun 2020 ini, dunia dihebohkan dengan munculnya virus corona yang melanda negeri Cina. Virus yang telah memakan banyak jiwa ini berdampak pada semua sektor. Dampak merebaknya virus corona berpengaruh pada sektor sosial, politik, pariwisata dan sektor ekonomi. Bahkan perkembangan ekonomi belakangan ini disinyalir ikut menurun. Lalu bagaimana dengan lini bisnis di tahun ini? Bagaimana caranya menghadapi tantangan bisnis di tahun 2020 nanti?

Perlukah para pelaku usaha bersinergi dengan praktisi akademi dan pemerintah untuk berbincang bersama mengenai solusi untuk menghadapi tantangan bisnis di tahun ini?


Diskusi Menghadapi Tantangan Bisnis di Tahun 2020

Sabtu, 15 Februari 2020 saya mendapat kesempatan untuk menghadiri perhelatan InsighTDAy dari TDA Jawa Barat. Komunitas TDA itu merupakan kumpulan para pengusaha yang bersinergi dan saling mendukung dalam menjalankan bisnis mereka

cara menghadapi tantangan bisnis 2020
Kehadiran saya di sana sebenarnya mewakili Joeragan Artikel yang menjadi media partner di acara InsighTDAy. Alhamdulillah saya bisa hadir di acara yang bertema Menghadapi Tantangan Bisnis 2020 tersebut. Banyak ilmu baru tentang bisnis dan mendapatkan banyak cerita dari pengalaman narasumber.
Acara yang banyak dihadiri oleh para pelaku usaha muda tersebut menghadirkan keynote speaker yang memiliki banyak pengalaman yang berhubungan dengan kewirausahaan. Pembicara yang hadir yaitu :

* Riza Zacharias (Founder Syamil Qur'an)
* Gigin Saepudin (Owner Oribelle dan Ketua TDA wilayah Jabar)
* Dwi Indra Purnomo (Founder The Local Enablers)
* Drs. Kusmana Hartadji. MM (Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Jawa Barat)



Adapun tujuan diadakannya acara InsighTDAy yaitu agar anggotanya bisa mendapatkan insight dan diharapkan bisa langsung mempraktekkan ilmu yang telah di-sharing oleh narasumber. Talkshow dan seminar yang dipandu duo MC kocak, Kang Deden Delicous dan Kang Wildan Halwa mengupas tuntas bagaimana menghadapi tantangan bisnis 2020. Diskusi yang sarat ilmu disajikan dengan santai dan penuh humor berkat kepiawaian duo MC tersebut.

cara menghadapi tantangan bisnis 2020
Pemandu acara bersama Aa Gyn (Gigin Saepudin),  Dwi Indra Purnomo dan  Drs. Kusmana Hartadji

Acara InsighTDAy diawali sesi diskusi oleh Kang Gigin Saepudin, Pak Dwi Indra Purnomo dan Pak Drs. Kusmana Hartadji yang duduk bersama dalam satu meja. Mereka berdiskusi dan memberikan sharing seputar cara menghadapi tantangan bisnis saat ini.

Pentingnya Personal Approach
Pembicara pertama yang mengisi acara diskusi InsighTDAy adalah Aa Gyn. Merupakan owner dari brand Oribelle sekaligus Ketua Wilayah Jabar 1, Aa Gyn menceritakan pengalamannya saat membangun bisnis fashion. Pengusaha asal Soreang ini memiliki falsafah "show me the money, show me the order" memberikan mindset sekaligus menularkan semangat yang diperlukan untuk menghadapi era disrupsi yang sudah memakan korban pebisnis besar.

Sebelum memulai bisnis di bidang fashion, Aa Gyn sempat bekerja di sebuah perusahaan BUMN. Setelah memutuskan resign dari tempatnya bekerja, dia fokus berbisnis bersama istrinya. Couplepreuner, begitu kata pembawa acara yang disambut tawa meriah dari peserta yang hadir, setelah disinggung untuk tidak iri karena banyak yang belum memiliki pasangan alias jomblo :)).

Dalam menjalankan bisnisnya, Aa Gyn menekankan pada Personal Approach. Mindset para pebisnis yang selalu ingin mengeluarkan biaya produksi sekecil-kecilnya untuk bisa mendatangkan laba besar, haruslah diubah.
Misalnya menekan bagian produksi (dalam bidang fashion adalah penjahit) dengan membayar semurah-murahnya untuk bisa menjual produknya dengan harga tinggi.

Sudah bukan zamannya lagi kita mementingkan diri sendiri. Ingin memperkaya diri sendiri. Sekarang zamannya bekerja sama, berkolaborasi. Untuk itu, miliki tujuan untuk sama-sama makmur, sejahtera. Baik itu dari lini produksi (penjahit) hingga reseller. Usahakan untuk bisa makmur bersama-sama.

Selain itu, Aa Gyn juga mengingatkan para peserta yang hadir untuk bisa memiliki ketrampilan berkomunikasi yang baik. Kita harus bisa melakukan komunikasi dengan pihak produsen, distributor ataupun reseller. Dengan komunikasi yang baik, bisa melancarkan jalannya sebuah bisnis.

Make Your Definition of Happiness
Selain Aa Gyn, hadir pula Pak Dwi Indra Purnomo selaku Wakil Dekan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran. Pak Dwi dikenal juga sebagai pendiri The Local Enablers, yaitu komunitas mahasiswa-pengusaha dengan kaidah social-entreprise, bisnis yang berbasiskan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Komunitas yang didirikan Pak Dwi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, sosial, dan lingkungan masyarakat sekitar. Beliau sering melakukan inisiasi kepada mahasiswanya agar terjun ke masyarakat desa dan memberdayakan sosial ekonomi warga dengan membuat pelatihan maupun inkubasi bisnis yang relevan dengan keahlian dan sumber daya yang ada di desa tersebut.

Menurut Pak Dwi, sebelum kita memulai sebuah bisnis perlu diketahui dahulu apa yang membuat kita bahagia. Karena hakikatnya arti bahagia bagi setiap orang itu berbeda-beda. Misalnya saja, si A yang ingin memiliki bisnis dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pokok saja. Si B membangun sebuah bisnis dengan tujuan untuk membiayai sekolah yang tinggi untuk anak-anaknya. Lain lagi dengan C yang membangun bisnis dengan tujuan ingin memiliki kekayaan yang melimpah.

Dengan tujuan pencapaian kebahagiaan yang berbeda, tentu saja cara mengelola bisnis mereka pun pastinya berbeda. Disesuaikan dengan definisi bahagia untuk masing-masing.

Sejalan dengan pendapat Aa Gyn, Pak Dwi juga menekankan bahwa pondasi yang kuat untuk membangun sebuah bisnis adalah komunikasi. Sebuah aset bisnis digambarkan dari berapa banyak kita sudah bertemu dengan orang, seberapa banyak komunikasi yang telah terjalin dan berapa ahli yang sudah kita temui untuk diambil ilmunya.

Pak Dwi sangat menyakini mengenai pentingnya the power of silaturahim, karena kedekatan dengan seseorang itu tidak bisa instan. Perlu pendekatan yang dilakukan dan ini bisa terwujud dengan cara bergabung dalam sebuah komunitas.

Sebagai praktisi akademi, Pak Dwi sedikit menyinggung mengenai sistem pendidikan di Indonesia saat ini. Kondisi saat ini, lembaga pendidikan hanya belajar pada teori-teori masa lampau yang tidak adaptif dengan keadaan masa kini dan masa depan. Hal tersebut menjadi tantangan yang harus dihadapi.

Menurut Pak Dwi, angka kesuksesan di universitas itu hanya 3% dari populasi mahasiswanya. Sedangkan 97% lagi, merupakan mahasiswa yang bahagia jika lulus cepat dengan IPK tinggi, tetapi tidak bisa apa-apa. Dan ini merupakan challenge terbesar yang dihadapi pihak akademisi. Pak Dwi berharap dengan bergabung bersama komunitas seperti TDA, mahasiswa bisa mencari makna kebahagiaan dan memacu tingkat kesuksesan mereka.

cara menghadapi tantangan bisnis 2020


Peran Pemerintah dalam Menghadapi Tantangan Bisnis 2020
Di kesempatan yang sama, Drs. Kusmana Hartadji. MM  selaku Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Jawa Barat mengatakan jika kondisi saat ini merupakan momentum yang sangat baik. Ketika pasar di luar negeri sedang heboh karena virus corona, sebaiknya UMKM atau pengusaha yang ada di dalam negeri bisa menggenjot usahanya hingga bisa lebih maju lagi.

Pemerintah sendiri tidak membedakan pelaku UMKM dengan pengusaha besar. Pemerintah selalu mendorong semua praktisi baik industri, perdagangan ataupun praktisi lain untuk bisa meningkatkan kualitas produknya. Sehingga masyarakat tidak dihadapkan dengan pilihan barang import lebih baik daripada barang di dalam negeri. Tingkatkan kualitas produk untuk menyaingi kualitas barang dari luar.

Di akhir diskusi Aa Gym berpesan kepada peserta yang hadir agar dalam berbisnis itu kita jangan bergerak sendiri. Kita harus bisa bersatu dalam satu komunitas agar bisa saling membantu meskipun memiliki bisnis yang berbeda. Disarankan untuk mencari lingkungan yang positif, agar bisa saling berbagi dan membantu satu sama lain. Sehingga suatu saat nanti bisa berkolaborasi.

Fundamental Bisnis (Dari UMKM Menuju Korporasi)

Setelah diskusi menarik dari pihak praktisi akademis, pengusaha dan pemerintah, di bagian berikutnya ada Bapak Riza Zacharias yang mengulas seputar bisnis dan tantangannya. Pak Riza adalah pendiri dari Syamil Qur'an, salah satu penerbit Al-Qur'an terbaik di Indonesia. Awalnya perusahaan yang dipimpin beliau hanya penerbit rumahan yang mencetak buletin Jum'at, dari satu mesjid ke mesjid yang lain.

Selain sebagai owner Syamil Qur'an, Pak Riza juga seorang penulis buku. Buku yang dibuat beliau merupakan kisah nyata beliau yang bertema seputar cara membangun bisnis dari minus milyaran hingga menjadi skala nasional yang sudah berdiri selama 20 tahun lebih.

cara menghadapi tantangan bisnis 2020

Mengawali sharing-nya, Pak Riza menyodorkan data tentang keadaan pebisnis yang ada di Amerika. Menurut beliau dari 100 bisnis yang tumbuh terdapat fakta bahwa:
  • 50 bisnis jatuh pada tahun ke-2
  • 30 bisnisnya kemudian bangkrut pada tahun ke-5
  • 4 saja yang bisa bertahan hingga di tahun ke-10
Fakta yang mengejutkan, karena berada di negara yang pemerintahnya sangat support. Sedangkan di Indonesia sendiri angka pebisnis yang mengalami kebangkrutan lebih tinggi. Hal ini salah satunya juga disebabkan karena belum adanya support yang baik dari pemerintah. 

Mengapa banyak yang gagal? Karena pebisnis gagal memahami fundamental dan bahasa bisnis. 

Miliki Pondasi yang Kuat
Sebelum memulai sebuah bisnis, pelaku usaha sebaiknya mengetahui dengan baik apa niatnya untuk berbisnis? Apa motivasinya? Dan apa tujuan saat mempunyai sebuah bisnis. Temukan motivasi yang membuat kita tak terhentikan dan membuat kita "merasa bertugas" saat menjalani bisnis. 
 
Mindset
Perbedaan mindset UMKM dan Korporasi ada pada engine-nya (tenaganya). Lalu bagaimana caranya memberikan tenaga pada mindset?
  • Passion (bisa berangkat dari hobi/kesukaan yang kemudian dibarengi dengan skill)
  • Ambisi (bisa berangkat dari sebab hal positif/negatif)
  • Motif (yang melandasi seseorang melakukan hal tersebut. Motif akan sangat kuat jika seseorang merasa bertugas)
Pak Riza memberikan kunci khusus dalam menghadapi tantangan bisnis di tahun 2020 yaitu meakukan inovasi dan kolaborasi
Kita bisa melihat contoh bisnis yang dilakukan oleh Blue Bird. Pengusaha taksi konvesional itu kini harus bersaing dengan taksi online yang sudah semakin familiar dengan masyarakat. Apa yang dilakukan oleh Blue Bird?

Jadikan Kompetitor Sebagai Peluang
Blue Bird lebih memilih menjalin kerjasama dengan kompetitor dibanding bersaing head to head.
Lini Usaha Beragam.
Kini Blue Bird mendirikan lini usaha yang beragam seperti transportasi konsumen, logistik, industri dan pariwisata. Lini usaha yang beragam dapat membangun pendapatan yang stabil.
Inovasi dan Adaptif
Blue Bird memberi bukti sebagai usaha yang terbuka terhadap perubahan dan inovasi. Salah satu buktinya dengan mengembangkan armada Taksi Elektrik di tahun 2019 lalu.

Dari pemaparan yang disampaikan oleh Pak Riza, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam menghadapi tantangan bisnis di tahun 2020, pelaku bisnis harus mampu berinovasi, berkolaborasi dan adaptif. Intinya jika ingin membangun sebuah bisnis ketahui terlebih dahulu pondasi dan tujuan kita membangun sebuah usaha.
 
cara menghadapi tantangan bisnis 2020

Well, bagaimana? Sudah siapkah kita membangun pondasi usaha yang kokoh untuk menghadapi tantangan bisnis di tahun 2020 ini?

                   Salam takzim