Tuesday, 1 September 2020

Adik Kakak Bertengkar Melulu? Wajar, Itu Merupakan Proses Bersosialisasi

Sebenarnya wajar saja, jika kakak dan adik sering bertengkar. Bisa dipastikan hampir setiap kakak dan adik pernah bertengkar. Meskipun memiliki umur yang cukup jauh dan memiliki jenis kelamin yang tidak sama. Hal ini juga terjadi di keluarga saya. Usia kedua anak saya terpaut cukup jauh yaitu 5 tahun. Mereka memiliki jenis kelamin berbeda. Namun hingga besar, mereka tetap masih suka bertengkar. Bagaimana kita selaku orang tua menyikapi hal tersebut?

adik-kakak-bertengkar
Ketika masih kecil, anak-anak belum mengerti bagaimana caranya menyelesaikan masalah.

Seperti diungkapkan sebelumnya, hampir tidak ada kakak adik yang tidak pernah berantem. Ada yang itensitasnya tinggi tetapi ada juga yang jarang berantem atau ada juga yang hanya sekedar berselisih paham saja. Oh iya, katanya yang menentukan sering tidaknya adik kakak bertengkar ini, terutama adalah orang tuanya sendiri, loh!

Pertengkaran adik kakak di sebuah keluarga besar kemungkinan dipengaruhi dari kehidupan orang tuanya. Jika orang tua hidup dalam suasana serba "panas" maka besar kemungkinan pertengkaran adik kakak akan sering muncul. Sebaliknya jika suasana dalam keluarga kondusif dan selalu demokrasi dalam membahas sesuatu masalah, biasanya pertengkaran antara adik dan kakak akan lebih jarang muncul.

Perseteruan yang muncul lebih disebabkan karena belum berkembangnya kemampuan bersosialisasi pada anak. Contohnya anak kurang memahami perasaan orang lain, bagaimana sikap mengalah atau cara berkompromi dengan saudaranya atau orang lain. Ketika social skill anak belum terasah, dia akan memiliki angggapan jika semua masalah hanya bisa diselesaikan dengan cara bertengkar.

Itulah alasan yang perlu diperhatikan oleh orang tua, untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasi buah hati. Orang tua bertugas untuk mengajarkan atau mengasah social skill anak dengan membuka wawasan pada anak bahwa ada banyak pilihan alternatif dalam menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, seiring pertambahan usia anak, pertengkaran akan berkurang dan mereda dengan sendirinya. 

Serupa dengan yang terjadi di keluarga saya, ketika anak-anak masih kecil, hampir setiap hari mereka bertengkar. Sejak pagi hari saat bangun tidur hingga malam menjelang mereka hendak tidur. Hak yang diributkan sebenarnya hal yang sepele. Wait ... wait ... sepelee? Nah, itu anggapan kita yang sudah jadi orang tua. Belum tentu sepemahaman dengan anak, bukan?

Keriuhan di pagi hari yang kerap terjadi ketika anak-anak masih kecil yaitu saat mereka hendak mandi pagi. Kedua anak saya berebutan ingin mandi terlebih dahulu. Ujung-ujungnya mereka ribut di depan kamar mandi. Selalu ramai menjelang waktunya mandi.

Seiring dengan waktu, mereka mulai bisa mengatur waktu dan situasi. Muncul kesepakatan di antara keduanya. Yang pertama bangun, dialah yang berhak untuk mandi duluan. Atau jika salah satu dari mereka memiliki alasan penting untuk mandi duluan, saudaranya akan mengalah untuk mandi belakangan.

Peran Orang Tua Melerai Adik Kakak Bertengkar

Semua orang tentunya tidak akan merasa nyaman jika di dalam keluarganya selalu ribut, ada yang bertengkar. Adik kakak bertengkar melulu, bisa membuat anggota keluarga yang lain merasa kurang nyaman. Bahkan bisa saja mengganggu produktivitas di dalam keluarga. Jadi, adik kakak bertengkar itu, tetap harus diatasi, dong! Setuju?

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk melerai adik kakak yang bersiteru. Namun sebelumnya sebagai orang tua, kita juga mesti intropeksi diri dulu. Jangan-jangan justru sikap orang tua yang menjadi faktor pemicu pertengkaran adik dan kakak. Misalnya saja orang tua suka menyalahkan orang lain termasuk pada pasangannya sendiri. Kebiasaan menyalahkan orang lain itulah yang bisa ditiru oleh anak-anak. Meski kebiasaan tersebut dilakukan tanpa sengaja.


Anak memang memiliki kecenderungan untuk selalu meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Termasuk kebiasaan orang tuanya. Setiap kali bertengkar, anak jadi suka menyalahkan orang lain. 

Ketika adik kakak bertengkar, orang tua hendaknya menjadi penengah yang adil dan bijaksana. Seperti dalam beberapa bacaan yang pernah saya pelajari, ada yang perlu dilakukan orang tua, yaitu:

  • Minta anak-anak untuk duduk tenang. Beri anak kesempatan untuk meredakan emosinya. Lalu kemudian tanyakan pada anak-anak, apa yang terjadi dan alasan yang menyebabkan mereka bertengkar.
  • Beri kesempatan pada anak untuk memutuskan siapa yang hendak berbicara duluan. Sebaiknya tidak meminta kakak yang duluan berbicara, nanti adik akan merasa "mentang-mentang dia kakak, dia yang harus duluan" atau sebaliknya. Si kecil merasa yang harus mengalah.
  • Arahkan anak untuk menjadi pendengar yang baik. Hindari kebiasaan memotong pembicaraan orang lain. Jangan izinkan kakak memotong pembicaraan adik, begitu juga sebaliknya.
  • Selain mengajari agar anak tidak memotong pembicaraan pihak lain, orang tua juga tidak boleh memotong pembicaraan anak-anaknya. Lebih baik ingatkan mereka dengan suara lembut, supaya anak-anak juga bisa menjaga volume dan nada suaranya setip kali mulai melibatkan emosi.
  • Bantu anak untuk memperhatikan dan mencatat setiap pokok-pokok pertengkaran sehingga mereka tidak saling menyalahkan.
  • Minta anak belajar mengungkapkan perasaannya atau mencatat setiap hal yang bisa jadi pemicu pertengkaran agar mereka tidak saling menyalahkan.
  • Setelahnya, minta adik kakak untuk mengemukakan apa saja yang mereka inginkan. Hal tersebut bisa membantu mereka memecahkan masalah.
  • Dorong anak untuk memilih pemecahan yang terbaik bagi mereka. Lakukan dengan cara berkompromi.
  • Bila sudah mencapai kata sepakat, bantu anak untuk bisa saling memaafkan dengan jiwa besar, biarkan mereka melakukannya secara spontan.

Pada dasarnya setiap individu termasuk anak-anak memiliki kebutuhan untuk mendapat kekuasaan. Sebentar ... sebentar, tapi bukan kekuasaan yang sesungguhnya yak :) Kekuasaan di sini artinya lebih ingin memperlihatkan posisinya sebagai kakak, berlindung sebagai di balik usianya yang lebih tua. 

Selain itu, anak juga butuh perhatian orang tua. Mereka akan berusaha untuk mendapatkan perhatian orang tua meski harus dilakukan melalui pertengkaran. Ada beberapa anak yang berusaha keras mendapatkan perhatian dengan membuat keonaran berharap mendapat perhatian dari orang tuanya. Mereka hendak menunjukkan, melalui pertengkaran adik kakak, orang tua menyadari kehadiran anak-anaknya di rumah. Bukan malah sibuk dengan pekerjaan rumah.

Semakin besar, anak-anak mengerti bagaimana menyelesaikan suatu masalah.

Meski bagaimanapun, pertengkaran adik kakak masih dianggap wajar selama tidak membahayakan. Dianggap wajar karena merupakan proses bersosialisasi di antara mereka. Bimbing anak untuk sama-sama belajar bersosialisasi, mengerti keadaan orang lain, belajar menghargai dan dari pihak orang tua juga mesti terus melakukan intropeksi agar bisa menjadi contoh yang baik bagi anak mereka.

Lalu bagaimana dengan ayah bunda semua, apakah anak-anak juga sering bertengkar?

                 Salam takzim

40 comments:

  1. Bertengkar sih gak, cuma jail kakaknya ke adiknya jadi berisik aja di rumah maklum cowo.
    Namaya adik kakak wajr sih ya ada perbedaan yang menjadi perselisihan asal gak lama & berat aja jangan sampai kaya di sinetron :)

    ReplyDelete
  2. Betul banget mbak kadang dari pertemgkaran mereka jadi belajar asal masih dalam tahap wajar gak masalah tinggal diberikan pengertian aja anak-anak

    ReplyDelete
  3. Pentingnya kita sebagai orangtua untuk membimbing mereka untuk bersosialisasi dengan cara yang baik, jangan selalu menyalahkan sang kakak adalah point penting juga. Kita harus mendengarkan dulu duduk permasalahannya dari dua kepala. Sehingga mereka tidak merasa ada kecemburuan untuk hal itu ya.

    ReplyDelete
  4. Benar, pertengkaran sebenarnya bagian dari "pendidikan sosialisasi" bagi anak kita. Kalau di antara saudaranya mereka bisa mengatasi konflik, diharapkan kalau sudah di dunia sesungguhnya mereka bisa mengatasi konflik dengan orang lain.

    ReplyDelete
  5. Iyaaaa, justru bertengkar itu sarana mendewasakan diri.
    Kalo ga ada "partner in crime" *halah* malah bingung ntar sosialisasi di luaran.
    Semangaattt Buibu semuanyaaaa

    ReplyDelete
  6. saya dengan adik yang selisih setahu, dulu seriiing banget bertengkar sampai tonjok2an tapi alhamdulillah lepas masa itu .... lepas SMA hehe, kami jadi seperti sahabat, sampai sekarang. Masya Allah. Memang pertengkaran-pertengkaran itu menjadi proses sosialisasi.

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah anak-anak jarang bertengkar. Kalau bertengkar biasanya saya tanyain satu per satu agar tahu sumber masalahnya trus kasih nasihat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aihhh serunya kalau akur gini..kalau anakanak di rumah nih, lebih sering berantem dibanding akurnya. Hahahaha..

      Delete
  8. Anak saya selisih 7 tahun, ampuuunnn kepala senut-senut hahahaha.
    Si kakak nggak bisa diam juga, kalau adiknya tenang nonton TV dicuil-cuil, giliran adiknya balas, kakaknya marah.
    Begituuuuu aja setiap hari.
    Nggak pernah berantemin satu barang sih, karena si kakak selalu ngalah, meskipun saya selalu berusaha adil buat keduanya, nggak memakai si kakak kudu ngalah karena dia lahir duluan hehehe

    ReplyDelete
  9. Jadi inget masa kecil, aku sulung kalo 2 adeknya bertengkar selalu si sulung yang disalahin, ga pernah bener hahahaa. Sekarang jadi ngikik, kangen bertengkar.

    Makasih loh penjelasannya, pertengkaran2 yang ternyata adalah proses sosialisasi.

    ReplyDelete
  10. heuheuheu..gitu toh..
    ini dua anak perempuan di rumah, tiada hari tanpa berantem wkwkwk..
    si kakak usia 9 tahun, si adek 3 tahun.

    ReplyDelete
  11. Huaa anak2ku nih sering bertengkar. Mungkin krn ortunya juga suka berantem ya hiks. Sampai saya pusing harus gimana. Soalnya ada bayi juga di rumah. Perhatian jelas terbagi bagi

    ReplyDelete
  12. aku sama adek juga sering berantem loh mbak meski udah sama2 dewasa. klo pas kecil jgn ditanya. beda 8 tahun, adekku cowok jahill bgt soalnya :/

    ReplyDelete
  13. Iya, Mbak. Pertengkaran kakak dan adik bisa jadi positif atau negatif. Ada bagusnya juga sesekali bertengkar biar mereka juga belajar problem solving. Tetapi, orang tua juga harus bisa mengajarkan. Jangan sampai malah sesama kakak beradik jadi slaing benci

    ReplyDelete
    Replies
    1. Butuh perlakuan adil juga ya tidak membela salah satu. Bawaan ortu kan biasanya ngebelain yang lebih muda nih. Malah bikin yang kakaknya makin emosi kalau kayak gini.

      Delete
  14. Pertengkaran saat kecil, sudah besar dan dewasa justru jadi kenangan indah ya. Tapi saya tidak akan lupa ketika adik saya berantem saat kami sudah dibilang dewasa lah. Semoga itu terakhir dan ga kejadian lagi

    ReplyDelete
  15. Duh mbak, ini sih sama banget dengan anak anakku.. keduanya sering banget bertengkar dan tak jarang juga mereka akur banget hehe.. bener banget melalui pertengkaran justu bagian dari proses mereka bersosialisasi ya mbak

    ReplyDelete
  16. Seingat saya, waktu kecil kami kakak beradik jarang bertengkar beneran sih..paling saling ejek atau jahil, Gege.. Tapi itu juga yg bikin kangen saat sdh dewasa begini..hehe..

    ReplyDelete
  17. Adik kakak bertengkar emang mbak pas kecil aku suka berantem sama kakak cowok karena ibu lebih memberikan porsi lebih besar dibandingkan saya hahah dasar masa kecil tapi suka ngakak kalau diingat-ingat.

    ReplyDelete
  18. Iyaaa bener juga, yang sepele menurut orang tua bisa jadi hal yang besar menurut anak. Emang harus sabar-sabarnya orang tua yang harus mendampingi anak saat bertengkar biar fase ini nggak berlanjut sampai dewasa.

    ReplyDelete
  19. Aku baca sambil cengar-cengir. Anak saya jarak usianya 3,5 tahun. Tiap hari dari bangun tidur sampai mau tidur ada aja yang bikin ramai. Rasanya sering bikin pusing dan stres takut ganggu tetangga juga apalagi kami tinggal di rumah petak.

    ReplyDelete
  20. hahahaha kalau inget jaman kecil sering bangeeet deh mba beranteeem hehehehe..yah, biasa laaah namanya juga anak - anak yaaa

    ReplyDelete
  21. Punya 2 anak, adik dan kakak membuat kegaduhan sepanjang hari. Hal ini kadang buat saya tertawa sendiri mbak. Ternyata mereka berproses untuk bersosialisasi dan mengenal satu dengan yang lain.

    ReplyDelete
  22. Hihihi jadi ingat kalau berantem sama adik, 5 menit berantem, semenit kemudian rukun, 5 menit lagi berantem lagi hihihi.... Seruuuuu!!!!

    ReplyDelete
  23. Haha...benull. Proses belajar. Dulu waktu anak2ku kecil mreka berantam, aku esmosi. Skrg kalau mereka berantam dan ribut banget, AKu cukup datangi. Ayo silakan keluar rumah dulu, sana selesaikan di teras. WKwkwk.

    ReplyDelete
  24. Huaa kadang ya anak-anakku ini ya suka bertengkar itu pun jarena klo ga jahil salah satunya atau rebutan tapi menurutku memang fase ini harus mereka lalui sih agar mengenal juga meski harus ada pertengkaran wkwkk

    ReplyDelete
  25. hehhe.. aku yang emosi kalo anak anakku bertengkar mulu.. huhubu ternyata gitu toh...

    *Noorma

    ReplyDelete
  26. Jadi ingat dulu sering berantem ama kakakku mba Nurul eheheh
    sekarang belum ada ank, belum bisa melerai perjuangan banget mendidik anak anak itu ya mba Nurul semangat

    ReplyDelete
  27. Duh jadi inget anak-anak di rumah. Terutama yang kecil. Tiada hari tanpa bertengkar. Sampe pusing deh emaknya. Tapi iya sih, itu salah satu tahapan bersosialisasi untuk lebih dekat ya. Toh sama yang gak deket mah gak berani berantem. Dan lagian, berantem kakak adik mah gak lama. Emaknya masih ngomel, eh udah pada baikan lagi. Tapi 10 menit kemudian berantem lagi. Gitu aja berulang-ulang. Wkwkwkwk

    ReplyDelete
  28. berantem juga sebenarnya bagian dari belajar menata ego, hubungan intrapersonal dan interpersonal ya. Jadi bentuk pembelajaran juga sebenernya. Emang wajar sih, asalkan jangan keterusan aja ya.

    ReplyDelete
  29. Fyuuhh...iya banget niih...
    Anak-anak belajar untuk bisa saling memahami.
    Dan karena pandemi dirumahaja, jadi temen satu-satunya ya...saudaranya sendiri.
    Makiinn seru.
    Hihii~

    ReplyDelete
  30. hhh, as like Athifah and Annasya, after that to take care, hug, cry and playing again. Learning from them, they have not
    revenge

    ReplyDelete
  31. Begitulah kalau skrg masih sebatas mainan aja rebutan remote gt. Nambah umur nambah pinter berpendapat ya mak

    ReplyDelete
  32. Yup, pertengkaran adik kakak itu bisa jadi bahan belajar anak juga... Belajar mendengar, menghargai, menyelesaikan masalah, dan lain-lain...

    ReplyDelete
  33. Iya nih, anak-anakku kalau pas kumpul ya tetaaap aja bertengkar. Padahal ya udah gede-gede. Mungkin malah kangen keributan kalik ya karena mereka hanya bisa ketemu beberapa kali saja dalam setahun. :)

    ReplyDelete
  34. Sedih bnget anak-anak ku bertengkar nya sampai fisik. Bingung aku gimana ngasih pengertiannya. Baru mau dari awal lagi dikasih tahu agar bertengkar lebih lembut

    ReplyDelete
  35. Anak2ku nih adaa aja tiap hari yg diributin kadang hanya perkara sepele sholat mau sebelah kiri apa kanan. Haduuh kesel jadinya kadang kubiarkan aja aku bilang silakan selesaikan sendiri. Nanti kalo udah adem mereka dibilangin kenapa sih hal2 kaya gt bs bikin berantem.

    ReplyDelete
  36. Iya bener, klo ga kayak tom jerry itu malah aneh. Biasanya karena kurang dekat atau kurang perduli. Asyik sama gadget jadi lupa interaksi adek kakak

    ReplyDelete
  37. Ternyata sama aja yaa mau pasangan siblings beda jenis kelamin mau sama emang seneng bgt bikin tantangan buat emaknya yah, meski nanti klo pas lagi jauh2an seringnya saling nyariin malah

    ReplyDelete
  38. noted mba, makasiiih banget. Tipsnya bakalan aku gunain dan pakai nanti pas Julio udah punya adek. yang penting bertengkar mah hal biasa tinggal bagaimana peran kita sebagai orang tua ya Mba

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf, untuk menghindari SPAM, komentarnya dimoderasi dulu, yaa ^~^