Tuesday, 19 March 2019

Full Time Mom? Kenapa Tidak? Produktiflah dari Rumah


"There is no way to be a perfect mother, and a million ways to be a good one"
(Jill Churchill)

Perempuan bisa lebih produktif. Menjalani peran sebagai seorang perempuan tidaklah mudah. Terutama ketika memasuki gerbang pernikahan dan dikaruniai seorang anak. Kita dituntut bisa memainkan beberapa peran sekaligus.
full time mom produktif dari rumah

Boleh dibilang, peran kita banyak. Mulai jadi seorang istri, ibu, guru, dokter, tukang bersih-bersih, tukang masak, tukang cuci, sampai menjadi juru keuangan. Itu semua belum termasuk peran yang lain bagi perempuan berbisnis atau wanita karir.

Working Mom or Full Time Mom?

Setelah menikah, kadang kala perempuan dihadapkan oleh dua pilihan. Menjadi ibu rumah tangga atau tetap bekerja. Saya sendiri pernah mengalami masa penuh dilema. Dihadapkan oleh dua pilihan, tetap bekerja atau resign untuk menjadi full time mom.

Saat itu saya telah dikaruniai dua orang buah hati. Si bungsu masih berusia 2,5 tahun saat kami memutuskan untuk pindah ke daerah yang mendekati pusat kota. Tujuannya agar rumah kami dekat dengan sekolah si sulung. Namun tinggal di pusat kota membuat kami kesulitan mencari pengasuh untuk anak-anak kami jika dibandingkan saat kami tinggal di pinggiran.

Tidak ada yang bisa menemani anak-anak di saat saya dan suami bekerja. Masih teringat bagaimana si sulung kami titipkan pada seorang teman dan yang kecil kami titipkan di penitipan anak. Saya sempat pontang-panting mengatur waktu. Tempat penitipan anak tutup pada jam 4 sore, dan saya pun baru keluar dari tempat kerja pada jam 4 sore. Akhirnya anak saya dijemput oleh ayahnya dan dibawa ke tempat kerja.

Saya sadar, kegamangan saya untuk tetap bekerja atau menjadi ibu rumah tangga bukan lagi untuk kepentingan pribadi semata. Namun sudah menyangkut kehidupan keluarga. Terlebih lagi bisa berpengaruh pada keharmonisan hubungan suami istri jika masalahnya tidak segera didiskusikan. 

Anak yang terpaksa kami bawa ke sana ke mari membuat saya lelah. Anak pun tidak bisa beristirahat dengan tenang. Sulung kami pun merasa lelah, karena sepulang sekolah tidak bisa langsung beristirahat. Dia harus menunggu di rumah kerabat hingga sore dan dijemput oleh orang tuanya.

Setelah berdiskusi cukup panjang akhirnya saya memutuskan untuk resign. Saya pikir menjadi ibu rumah tangga atau tetap bekerja sama saja, sama-sama untuk kepentingan keluarga.

Sulitnya mencari pengasuh yang melatarbelakangi saya untuk resign dan menjadi ibu rumah tangga. Ada juga  yang memilih untuk resign karena pernikahan dan harus turut suami ke perantauan seperti halnya Mbak Dian Restu. Atau ingin totalitas menjadi seorang ibu dan fokus mendidik anak seperti Mbak Yeni Sovia. Apa pun alasannya, menjadi ibu rumah tangga atau bekerja, pastilah ada konsekuensinya masing-masing. Semua ada kelebihan dan kekurangannya.

Bagi saya, menjadi full time mom memberi kesempatan pada saya untuk bisa melihat tumbuh kembang si kecil. Saya orang pertama yang melihat saat dia bisa mengucapkan kata pertamanya. Menjadi saksi saat dia mulai merangkak, berjalan dan perkembangan lainnya.

Seperti kita ketahui, masa tumbuh kembang anak tidak akan terulang lagi. Membersamai anak saat dia butuh seseorang yang bisa menstimulasi perkembangannya, merupakan alasan utama saya untuk resign. Ingin selalu berusaha agar bisa menjadi ibu yang menyenangkan bagi buah hati saya. 

full time mom produktif dari rumah

Namun bagi ibu bekerja, bukan berarti tidak menyayangi keluarga. Justru dengan tetap bekerja, bisa membantu suami menjaga agar dapur tetap ngebul dan menambah tabungan keluarga untuk urusan pendidikan anak dan kebutuhan lainnya. Karena kondisi setiap rumah tangga berbeda, dan kita tidak bisa menyamaratakan semuanya.

Yup, tidak ada yang mudah di antara kedua peran tersebut. Keduanya sama-sama berat. Rasanya waktu 24 jam terasa enggak cukup untuk melakukan semua tugas yang seakan tidak ada habisnya.

Menjadi Perempuan Yang Produktif dari Rumah

Setelah memutuskan menjadi full time mom, saya mulai beradaptasi dengan ritme keseharian yang tentu saja tidak sama dengan saat saya bekerja.

Waktu saya sebagian besar selalu ada di dalam rumah. Saya menikmati saat mengurus kebutuhan suami dan anak-anak, juga saat menemani si kecil bermain. Namun ada beberapa waktu, ketika kakak sudah pergi sekolah dan adik tidur, saya mulai merasa kesepian.

"Being a full time mother is one of the highest salaried jobs in my field, since the payment is pure love." (Mildred B. Vermont)

Aktivitas keseharian saya yang biasanya padat saat kerja di kantor, terasa banyak waktu kosong ketika semua pekerjaan rumah telah selesai. Tidak ada yang dilakukan selain nonton televisi. Sayang sekali kalau banyak waktu luang, terbuang percuma.

Nah, untuk menghindari kejenuhan dan waktu yang terbuang percuma, saya memutuskan untuk tetap bisa produktif dari rumah. 


Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti kita tidak bisa berkarier atau berkarya. Ya, memang benar, saya sudah mengakhiri karier di luar rumah. Namun sebetulnya, inilah saatnya saya berkarier di dalam rumah. Berkarya dari dalam rumah. Sesungguhnya banyak yang dapat dilakukan di dalam rumah. 

Bisa dikatakan berkarya dari dalam rumah memiliki banyak tantangan. Di rumah, ada anak-anak yang selalu ingin bermain. Meskipun kita sudah menyediakan space khusus tempat mereka bermain, tetapi kadang kala mereka "menjelajahi" setiap sudut ruangan di rumah.

Eits, anak-anak jangan dijadikan alasan untuk tidak bisa berkarya dari rumah ya ... 😅
Jadikan sebuah tantangan, bahwa mendidik anak menjadi sholeh dan sukses dalam pendidikannya adalah suatu karir yang mulia. Tidak mudah mendidik anak agar berprestasi dunia dan akhiratnya.

Dengan terus menyemangati diri untuk bisa terus berkarya tanpa mengeluhkan soal anak, dapat memicu kita untuk bisa produktif dari rumah. Banyak yang bisa kita lakukan untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang berfaedah.

Produktif Menjalani Aktivitas di Rumah

Siapa yang pernah merasakan jika waktu 24 jam terasa singkat dan tidak cukup untuk menyelesaikan semua tugas rumah? Seakan tidak ada waktu untuk istirahat? Well, bagaimanapun kita bukan robot, loh! Kita juga perlu istirahat meskipun hanya lima menit.

Agar waktu kita bisa lebih produktif, sebaiknya kita buat jadwal kegiatan sebelum tidur sembari mengevaluasi aktivitas yang telah kita lakukan hari itu. Rencanakan dan tuliskan apa yang akan dilakukan besok hari. Bisa juga menuliskan masakan apa yang akan kita buat. Untuk menunya, lebih baik didiskusikan dengan suami dan anak-anak. Jadi enggak perlu bingung hendak membeli apa saat di warung, ya, kan?

Selain soal masakan, kita juga bisa menjadwalkan waktu untuk mengubah tata letak perabotan dalam rumah. Bisa juga mengatur waktu yang tepat untuk menata tanaman di pekarangan dan menjadwalkan pekerjaan lainnya.

Buatlah setiap hari itu, menjadi hari yang produktif, baik dalam mengurus rumah, memasak atau melakukan hobi kita. Meskipun kita bukan pebisnis, tetapi kita tetap harus bisa berinovasi dari dalam rumah. Ibu rumah tangga pun dapat berinovasi menjadikan tempat tinggalnya sebagai rumah idaman, bukan?

Produktif yang Menghasilkan

Yang namanya produktivitas, pasti menghasilkan hal yang positif, dong! Iya, ya jadi maksudnya begini .... selain bisa menciptakan rumah idaman, produktivitas seorang ibu juga bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah, begitu!

Kita ingin kan, memiliki penghasilan seperti dulu saat kita bekerja? Sebenarnya banyak sumber penghasilan yang bisa dikerjakan dari rumah. Bekerja tanpa meninggalkan rumah, tetapi menghasilkan uang asyik sekali, kan? Bagaimana caranya?

Apapun bisa dilakukan, salah satunya mengembangkan hobi dan membuatnya menjadi sebuah bisnis. Bagaimanapun banyak cara merintis bisnis untuk ibu rumah tangga.

Mungkin sebelum menikah ada di antara kita yang tidak bisa memasak. Jangankan memasak, memegang peralatan dapur pun tidak pernah hehehe...
Setelah menikah, pasti kita ingin menyenangkan suami, bukan? Terlebih setelah mengetahui makanan kesukaannya, pasti sesekali kita ingin, dong, masak untuk belahan jiwa. 

Suami pasti senang menyantap makanan hasil masakan istrinya. Apalagi masakan kita sesuai dengan seleranya. Wah, pasti suami senang. Dengan begitu, kita memiliki skill tambahan setelah menikah, terampil memasak!

Nah, dengan ketrampilan memasak, seorang ibu rumah tangga bisa memiliki penghasilan dari ketrampilannya itu. Misalnya saja dengan membuka jasa katering atau membuka rumah makan.

Saya sendiri, memilih untuk produktif menulis. Sejak masa sekolah dulu, saya senang membuat cerpen, meskipun yaah, cerpen ala-ala anak muda dulu. Masih sekitar roman picisan hihihi.

Untuk mengoptimalkan hobi tersebut, saya memutuskan untuk belajar lagi. Menggali hal seputar kepenulisan. Mempelajari hal-hal yang baru.
Di era internet seperti sekarang, segala sesuatu bisa dipelajari secara otodidak dan gratis. Asal ada kemauan, kita bisa mempelajari semua hal.

Langkah pertama yang saya lakukan yaitu berkumpul dengan orang-orang yang memiliki hobi sama. Berkomunitas. Di kesempatan pertama, saya lebih memilih berkomunitas melalui dunia maya. Saya bisa berkenalan sekaligus belajar banyak seputar kepenulisan bersama teman-teman di komunitas. Bahkan saya menemukan beberapa mentor pun dari dunia maya.

Meskipun di rumah, ibu-ibu tetap harus bisa gaul, ya, kan? Melalu internet kita pasti bisa lebih maju dan produktif.  Banyak hal baru yang bisa kita pelajari dan banyak teman yang bisa kita jadikan teman berdiskusi.

Dari komunitas pulalah saya akhirnya bisa membisniskan hobi menulis. Dari menulis artikel, menulis di blog hingga menulis buku. Semua kegiatan itu bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. 
Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bisa berkarya atau berpenghasilan dari dalam rumah.

Dengan bekerja dari rumah, setidaknya ada titel baru yang bisa kita sandang, yaitu mompreneur! #Kibas jilbab 😂😂
Tahukah teman, pekerjaan ini bukanlah hal yang baru. Dulu, Siti Khadijah istri Rasulullah juga merupakan mompreneur sejati. Kesuksesan beliau bahkan melebihi kaum pria pada zamannya, loh!

So ... being full time mom? Kenapa tidak? Kita masih bisa produktif dari rumah, bukan? Memiliki penghasilan, sambil membersamai tumbuh kembang anak-anak di rumah.
full time mom produktif dari rumah

20 comments:

  1. Menjadi full time mother menurut sy adlh pekerjaan yg luar biasa. Ada banyak hal yg harus dipelajari dan digeluti setiap hari. Ditambah jika ingin menjadi mompreneur. Semakin kerenlah mak-mak zaman sekarang.

    ReplyDelete
  2. Benaaar sekali, dari pada misal nih kerja di luar dan belum bisa nyeimbangkan, kenapa ga produktif aja dari rumah. Tentunya kalo dari aku sih yg penting ada space buat ruang produktif itu jadi nggak nyampur sama keseharian. Semangat kakak :3

    ReplyDelete
  3. Di Zaman milenial dan kemajuan era teknologi, sudah banyak hal produktif yang bisa dilakukan dari rumah dan kita bisa terhubung dengan siapa saja tanpa batas. Selama bisa membagi waktu dan mengerjakan sesuai jadwal pasti optimal produktifitas

    ReplyDelete
  4. Saya termasuk pendukung ibu-ibu full time in house. Toh, dirumah juga gak berarti tanpa penghasilan, jaman now kan banyak kerjaan yang bisa duet sama kehidupan dirumah. Ngeblog misalnya.

    ReplyDelete
  5. aku kini sedang galau masalah ini juga mbak
    sama kayaknya seperti mbak dulu
    aku sebenarnya kepengen kerja dari rumah
    tapi belum berani resign hmmmm

    ReplyDelete
  6. Jadi Ibu rumah tangga emang kudu tetap gaul biar pengetahuannya makin bertambah. Kalau cuma usrek aja di rumah dan bersih2 doang, ya lama2 jenuh. Kudu produktif juga deh

    ReplyDelete
  7. Aku setuju sih sama gagasan bahwa menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tuh sangat berat dan sangat challenging. Tapi aku agak risih sama penggunaan kata "full time mom" di sini. Kayak gimana ya, apakah working mom gak bisa jadi full time mom sepenuhnya? Soalnya mama saya seorang pekerja, tapi juga 100% ada buat kami. Jadi yaa hehehehe mungkin penggunaan katanya aja yang kurang tepat :')

    ReplyDelete
  8. MasyAllah ikh teteh aku jadi ngebayangin dulu perjuangan teteh ke sana kemari jemput anak dan anterin anak. Itu pasti capek banget dan anak juga capek. Pasti cerita itu jadi salah satu cerita tersulit teteh ya waktu itu. Allhamdulillah episode itu udah terlalui ya teh 😍

    ReplyDelete
  9. Mungkinkah saat sudah menikah nanti aku juga bakalan dihinggapi dilema antara bekerja atau jadi fulltime mom yah? Kadang pengen ya biarin aja lah, nanti bisa diputuskan saat nikah. Etapi ya tetep udah simpen pilihan yang mungkin akan dihadapi saat masa itu tiba ehehee
    Walau jadi fulltime mom, tetap lah harus produktif yah mbak
    Terima kasih sharingnya mbak Nurul ^_^

    ReplyDelete
  10. Subhanallah tulisan ini menjadi penyemangat buat saya untuk produktif berkarya dari rumah, saya setuju Teh baik working mom atau working at home mom sama-sama menantang banget ya tapi sejak nikah saya emang gamau kerja klo punya anak, kecuali klo anak udah gede n mandiri kali ya hehe

    ReplyDelete
  11. Keren mbak! Aku masih setia jadi working mom. Pernah nyobain jadi full time at home mom, enggak kerja apa2 (yg menghasilkan uang) cuma full ngurusin anak & rumah. Duh, kok malah stres ya.. Wkwkwk.. Mungkin tiap ibu beda2. Jadi sekarang sedang berjuang untuk mewujudkan work at home mom, biar lebih fleksibel.

    ReplyDelete
  12. Setuju, teh..
    Jadi Ibu yang bekerja di ranah domestik bukan berarti berhenti berkarya.
    Go EmakLyfe yang penuh warna dan perjuangan.

    ReplyDelete
  13. Aku sudah berencana jadi full mother, aamiin. Sejak dini aku coba belajar sebisa mungkin punya penghasilan biar nggak tergantung pada suami.

    ReplyDelete
  14. Kalau saya, berhenti kerja pas melahirkan anak pertama, awalnya judulnya cuti, tapi akhirnya malah resign... Walau di rumah, yg penting tetap produktif ya teh :)

    ReplyDelete
  15. Setuju banget sama isi tulisan sini teh. Dan satu hal yang pasti semua ibu luar biasa lho bisa melakukan banyak hal yang sebelumnya malah kita gak duga bisa :)

    ReplyDelete
  16. Kalau anak-anak sudah bersekolah semua, sudah ada waktu luang saat mereka di sekolah ya, Mbak. Kalau saya 2 anak sudah sekolah, yang 2 lagi masih batita. Jadi emang 24 jam benar-benar terasa tidak cukup untuk melakukan pekerjaan rumah. Hehehe. Tapi saya yakin nanti masa-masa yang lebih luang itu ada. Atau mungkin malah terlampau luang? ☺️

    ReplyDelete
  17. Aku kalau bisa nih nanti pas berkerluarga pengennya masih tetap kerja teh, cuma ya tergantung diizinkan or nggak sama suaminya haha. Apapun keputusannya, nggak ada yang salah ya teh, produktif dari rumah juga bisa sukses. :D

    ReplyDelete
  18. pilihan sih menurut saya jadi working mom sama full time mom juga sama sama mulia sama sama hebat. terimakasih untuk sharing

    ReplyDelete
  19. Jadi full time Mom juga perlu effort dan perjuangan, ya. Ku salut sama oara emak yang tetap produktif walau sudah tidak kerja lagi

    ReplyDelete
  20. Aku masih jadi working mom, yang kadang agalau pengen juga jadi full mom. Full mom nya pengen kaya teh nurul gini, masih punya kegiatan produktif dirumah, itung-itung bisa buat jajan anak dan menyenangkan diri sendiri :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf, untuk menghindari SPAM, komentarnya dimoderasi dulu, yaa ^~^